Wednesday, February 12, 2025

Bab 1: Furen Chamazello si Rubah Kecil Ayah

Flash back memori lama Furen yang terlihat kabur...

“Kemarilah, Furen…” Suara lirih Noa memanggil adikknya dengan senyuman lembut.

Furen mendekatkan dirinya kepada pemuda itu dengan sedikit takut, hari itu tidak ada siapapun di dalam rumah mansion mereka.

“Ya…”

Furen memberikan Noa minuman mineral bening dalam gelas kaca sambil tersenyum ramah, menyembunyikan ketakutannya sembari duduk dekat Noa yang terbaring lemah diatas kasurnya yang empuk.

Furen memandangi kakaknya yang rupawan itu tengah meminum mineralnya, tanpa disadari Noa, Furen menelan ludah.

Tiba-tiba Noa menarik kerah baju Furen dan mencium bibir Furen. Hal ini terus terjadi dalam hidup Furen sejak kecil, kakaknya sudah terus-terusan secara diam-diam mempermainkan tubuh dan mental pemuda pemalu dan manja itu. Kali ini Furen tidak bisa menolak karena Noa mencengkram leher Furen dengan lengannya.

“Terima kasih…” Noa tersenyum kemudian melepas badan Furen dan bersandar kembali ke tempat tidur.

Noa sedang sakit, dia mengalami kecelakaan mobil saat hendak berangkat bermain golf dengan ayahnya. Pemuda berusia 20 tahun itu terjatuh dalam pulasnya seketika. Furen bangkit dari duduknya dan berjalan pelan-pelan. Menjauh dengan sangat pelan kemudian keluar dari kamar Noa. Furen merogoh sesuatu dari kantong kemejanya, ternyata kunci kamar Noa. Furen mengunci pintu kamar Noa lalu dia terjatuh ke lantai.

“Sial….” Rintih Furen berusaha membangunkan diri.

Furen berusaha menuruni tangga besar dekat kamar Noa dan berjalan keluar rumah menuju taman dengan sempoyongan. Kepalanya sangat berat dan badannya bergetar. Remaja berusia tiga belas tahun itu tertatih-tatih menelusuri halaman belakang menuju pintu keluar kebun yang sudah terkunci dengan gembok besar.

Remaja kurus itu meraih gembok dan membukanya dengan kunci yang dia keluarkan dari kantong celananya kemudian berjalan keluar dan mengunci gerbang itu kembali.

Kediaman keluarga besar Chamazello tidak seperti rumah masyarakat pada umumnya. Jika seorang pebisnis akan memasang CCTV di setiap sudut ruangan, maka berbeda dengan rumahnya yang hampir tidak memiliki system keamanan. Karena didalam kediamannya sering terjadi penyiksaan, yang tak lain dilakukan oleh ayah Furen sendiri ke beberapa pembantu dan keluarganya jika membangkang. Itu melanggar moralitas, rumah Chamazello family hanya diamankan oleh para anjing militer yang kini tengah diperiksa di departemen kesehatan. Chamazello Mansion juga sangat sepi karena hari ini adalah hari cuti nasional.

Furen sudah tidak sanggup lagi, racun yang dia campurkan ke minuman Noa mulai menyerang dirinya. Ini semua karena Noa mencium Furen untuk memastikan bahwa minuman yang diberikan Furen tidak beracun.

Noa adalah sosok kakak yang sangat menyayangi Furen, tetapi selalu memperlakukan Furen sebagai Sex Toy pribadinya. Hal itu ditolak oleh tubuh dan mental Furen, dan hari ini dia tidak ingin memberi Noa kesempatan.

Noa yang tidak terlalu besar ukuran badannya itu akan lebih kuat setelah sembuh dari sakit karena ayah mereka akan memasukkannya ke sekolah militer. Itu akan mengancam keselamatan Furen sebagai adik yang terus dia lecehkan. Akhirnya Furen berfikiran pendek untuk membunuh kakak kandungnya sendiri.

Tak lama kemudian terjadi ledakan sangat besar dari dalam Chamazello mansion. Furen terpelanting karena kaget, kemudian badannya yang melemah terguling ke jurang yang tertutup semak-semak.

Di belakang rumah remaja manja dan terkenal pemalu saat dibawa orang tuanya di setiap pesta itu terdapat kebun pemerintah yang tidak terlalu diurus dan tanaman liar dibiarkan tumbuh untuk memelihara kesuburan tanahnya. Namun siapa sangka jika disana terdapat jurang. Dan ternyata dibawahnya ada sungai dangkal yang sedang banjir dan berarus deras karena hujan akhir-akhir ini. Furen yang sudah pingsang karena terbentur batang kayu itu pun hanyut dimakan arus sungai.

⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙

“E..euh…” Mata Furen sedikit demi sedikit bisa dibuka.

“Dimana aku… h…” Rintih remaja tidak berdaya itu.

Furen mencoba membangunkan diri dan berdiri, meskipun tidak tegap kemudian kepalanya terasa sangat berat seperti diikat sesuatu agar jatuh. Furen pun pingsan setelah berdiri.

“BUK!!!!!..” Badan Furen terbanting ke tanah.

“Kakak!!!!... ada anak yang pingsan kak!!!”

Seorang anak laki-laki tiba-tiba berteriak dan menunjuk ke arah Furen.

Furen masih bisa melihat dengan samar saat anak itu menunjuknya tapi kemudian Furen memutuskan untuk menutup matanya lagi.

“Tap tap tap!!..” Terdengar suara langkah kaki menghampiri anak itu.

“Kau kenal dia?..”

“Tidak kak!!..”

“Ayo kita bawa saja ke tempat kita!!..”

“Ba.. baik!!..”

Kemudian Furen merasa tubuhnya terangkat dan dibopong dua orang yang tingginya hampir sama dengannya.

⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙

Mata Furen seperti ditusuk cahaya laser.

“Aduh!!..” Furen membuka matanya dan terduduk.

Furen shocked, dia sudah berada di tempat asing yang belum pernah dia datangi. Furen mengedarkan pandangannya: ada meja yang kakinya patah kemudian disambung dengan tongkat besi yang diikatkan pada kaki meja yang patah agar meja itu bisa berdiri, di atasnya ada toples bekas yang terbuat dari kaca berisikan beberapa biscuit, ada banyak tumpukan Koran bekas, pintu dari papan bekas.

Furen terbelalak sambil terus mengedarkan pandangannya, mulut anak orang kaya itu ternganga. Di sebelah kirinya ada jendela dengan gorden bekas yang disibakkan. Furen melihat keluar jendela, betapa terkejutnya dia bahwa disekitar gubuk tempat dia beristirahat dikelilingi oleh bukit sampah, tidak ada rerumputan pun tumbuh, bahkan tanah tertutupi oleh sampah.

“Tidaak!!!...” Furen memegangi kepalanya.

“Braak!!”

“!!!!??..” Furen terkejut, tiba-tiba pintu di depan tempat tidurnya terbuka, ada dua anak laki-laki yang kira-kira seusianya dengan mengenakan baju lusuh tengah memandanginya dengan panik.

“Kau tidak apa-apa kan?..” Salah satu dari mereka bertanya, sepertinya lebih tua dari usia Furen dan seorang anak disampingnya.

"Ka.. Kalian siapa?!!..” Furen menunjuk kedua anak itu.

“Hey! Berterimakasih lah sedikit! Kami sudah membantumu tahu!!..” Salah satunya menggerutu.

“Sudah tenang Raick.. baginya kita masih asing!..” Salah satu lainya menenangkan sambil merentangkan tangan agar tidak terjadi keributan.

“Raick..” Gumam Furen.

“Aku Traven.. kakaknya.. dia Raick .. Adikku..”

Remaja yang ternyata bernama Traven menjelaskan diri dengan nada flat dan tatapan mata yang datar juga.

“Aku.. Aku.. Furen..” Furen membuang muka ke arah lantai papan bekas yang tersusun rapi.

“Tempat ini memang tidak bagus tapi cukup untuk melindungi diri dari badai yang akan datang malam ini..” Jelas Traven dengan nada datar tanpa intonasi.

“Ba!! Badai???...” Muka Furen memucat.

Muka Raick langsung melongo melihat ekspresi Furen yang sespontan itu.

Traven mendekatkan diri ke Furen dan menyentuh jidat Furen. Furen yang awalnya kalang kabut akhirnya berusaha meyakinkan diri bahwa mereka pasti orang baik.

“Demammu sudah turun, kau tidur selama 3 hari tiga malam tanpa makan dan minum.. sekarang kau makanlah..”

“!!??..”

Furen melihat Traven mengeluarkan sebungkus roti gandum bersih dari tas bekas yang dia kalungkan ke bahunya.

“Apa?!...” Raick mendekati Traven.

“Kita sudah bekerja keras untuk makan.. kita sudah dua hari dua malam belum makan, roti gandum ini sangat mahal!!..” Lanjut Raick.

“!!!??..” Furen tidak berkutik melihat muka Raick yang memarahi Traven.

“Tidak apa.. nanti akan kubelikan satu lagi untukmu besok..”

Traven dengan mata datar dan cara bicaranya yang tanpa ekspresi pada Raick mencoba menenangkan intonasi Raick yang menggelegar kemana-mana.

“Aku maunya makan dari hasil kerja bersama!”

“Diam lah.. nanti tempat ini bisa runtuh gara-gara kau asyik berteriak seperti kerbau mengamuk begitu..”

“!!!!!? Ergh!!!!”

“!!!? Hmhmhmhm…” Furain tertawa kecil.

“….”

“Eergh!! Kau malah ketawa!!! Dasar anak orang kaya!!!.”

“…?!! Orang kaya?...” Furen terbengong.

Raick menunjuk ke arah busana yang Furen kenakan. Furen melihati pakaiannya kemudian tersenyum tipis.

Raick menurunkan alisnya yang mengkerut karena jengkel. Sementara Furen meraih roti yang masih dipegang Traven dan membuka bungkusnya. Kali ini Raick tidak mengkritik. Furen membelah roti itu menjadi tiga sisi.

“Hari ini kalian yang mentraktirku.. aku akan traktir kalian selanjutnya nanti… aku janji.. terima kasih..” Furen melahap roti jatahnya sambil tersenyum hangat.

Raick terperangah melihat wajah Furen yang manis meskipun dibalut abu akibat terguling-guling di tanah beberapa hari lalu dan badannya masih bau.

“Djuaaarr!!!!”

Suara petir menyambar ganas, menyakiti pendengaran mereka bertiga.

“Aaargh!...”

“!!!!!!!!?....”

“%^&*^!!!?....”

Raick semakin tertegun saat melihat respon Furen yang mendadak memeluk Traven dengan sangat erat.

“Aku.. takut…” Gumam Furen.

“Hahaa.. dasar kau anak mama yach…” Raick duduk disamping Furen.

Traven tersenyum dan memeluk Furen.

“…?.”

Raick melihati muka Traven yang sebenarnya jarang tersenyum bahkan Raick sudah lama tidak melihat kakaknya tersenyum.

Hujan turun, langit sore berubah menjadi gelap seketika seperti sudah malam. Dan guyuran air langit deras, hujan semakin lebat. Air mulai membasahi tanah bahkan hampir banjir. Pondok pulungan yang mereka tempati berada diatas tumpukan-tumpukan mobil bekas yang sudah dipadatkan menjadi box-box logam dan disusun sedemikian rupa hingga tinggi membentuk pondasi, maka mereka bisa aman dari banjir yang sudah sering terjadi seperti itu.

“Sudah kau tenang saja…” Traven melepaskan pelukan Furen dan berdiri.

“Dwaaarr!!!!!!!!..”

“Aaaargh!!..”

Furen mendekap Raick yang ada disampingnya hingga Raick terbaring ke kasur bekas tempat Furen berbaring tadi.

“Wee??...”

Raick bisa merasakan debaran jantung Furen yang menggebu-gebu.

“Se..Sebenarnya…” Raick merasakan hentakan nafas Furen yang tidak beraturan.

“Kenapa kau begitu takut.. bahkan jika kau pobia.. aku belum pernah melihat orang setakut itu pada petir sebelumnya yang sepertimu..” Raick akhirnya bisa beradabtasi dengan keberadaan Furen dan mendekapkan tangannya ke punggung Furen.

Sementara Traven menyalakan lilin dan meminggirkan meja satu-satunya di tempat sempit itu ke sudut ruangan.

“Ayahku…”

“!!!?...”

“…?” Traven menyimak sambil mengikat pintu dengan tali karet ban agar tidak diterpa angin.

“Dia sering mencambukku…”

“!!?...”

“…!?.” Traven kemudian mengikat pintu jendela, gorden jendela beterbangan keluar, sudah basah sebagian oleh air hujan.

“Jadi suara petir itu seperti cambuk ya?..” Traven dengan nada datar.

“Iya….” Furen menenangkan diri.

Raick turun dan menata plastik lebar di lantai bersama Traven, Furen melihati mereka berdua.

Kemudian di atasnya, Traven membentangkan karpet tebal bekas dibantu oleh Raick.

“Ka.. Kalian tidur di bawah?..” Muka Furen merona.

“Beginilah seharusnya anak laki-laki.. bisa jaga diri dan harga diri..” Raick mengacungkan jempolnya.

Furen tersipu, lalu duduk di karpet yang ada di bawah.

“Eh.. Kamu di atas saja..” Nada Traven sedikit berkelok naik untuk pertama kali.

“Euh?...” Furen tertegun.

“Kalau kita semua tidur di lantai ngga akan muat..” Tambah Raick, pipinya memerah karena mengingat akan pelukan Furen tadi.

Pipi Furen makin merona, lalu dia berdiri dan membaringkan diri ke kasur tanpa selimut. Badai semakin besar dan Guntur mulai berdatangan, Furen menahan nafas. Mukanya sangat pucat sambil memandangi Raick dan Traven. Sementara itu  Raick dan Traven melihati Furen yang sepertinya tidak baik-baik saja.

“Aku pasti bisa…” Senyum Furen dengan pipinya yang merekah merah.

“Hihihi!! Kau benar-benar anak laki-laki!!..” Raick mengacungkan jempol ke depan muka Furen.

Furen membalasnya dengan simpul peace. Melihatnya, Traven tersenyum tenang.

Malam ini Furen bisa tidur dengan pulas hingga sebuah tetesan air mengenai kelopak matanya.

“Auch!!..” Furen mengucek matanya.

“!!!!!!!???........”

Begitu terbelalaknya Furen saat melihat atap tempat yang tadi malam dia tiduri sudah hilang, dan langit masih mendung meskipun terlihat terang. Furen mencari sosok Traven dan Raick. Ternyata mereka masih pulas diatas karpet.

Furen bangkit dan duduk di lantai menggoyah badan mereka berdua, angin dingin berhembus dan sesekali tubuh Furen menggigil karena tusukan suhunya.

“Traven..! Raick…!.. Traven…. Raick….”

Pipi Furen merona, untuk pertama kalinya dia bisa punya teman.

Anak rumahan ini benar-benar tidak pernah keluar untuk bermain dengan anak seusianya karena selalu ikut orang tuanya ke tempat yang dipenuhi orang dewasa.

Jantungnya berdebar-debar, kedua anak itu tidak juga terbangun. Nafas Furen mulai tersengal-sengal dan menggoyah badan mereka lebih keras.

“Tarven!!!.. Raick!!!!...”

Furain tidak sanggup lagi mengeluarkan suaranya, air matanya menetes.

Furen berdiri, dia menoleh ke segara arah: bukit sampah elektronik dekat tempat mereka sudah berantakan dan beberapa benda bekas terbanting hancur ke tanah.

Entah kapan atap mereka bisa terlepas, Furen bahkan tidak menyadarinya.

“Ah.. dinginnya…” Traven memeluk dirinya dengan gigilan kecil, dingin itu membangunkan Traven.

“Mrrrr!!” Raick pun bangun.

Angin pagi yang menusuk sampai ke tulang.

Furen tersenyum, kedua teman barunya masih hidup.

“Ka.. kalian baik-baik saja kan!!?...” Furen duduk kembali.

“K.. Kau.. Kenapa kau begitu senang sich.. tempat kita sudah rusak begini.. kayaknya mau ada badai lagi..” Raick melihati langit yang bergemuruh, Traven pun mendongak disusul Furen.

“Kita ke kediamanku!!!” Suara Furen mantab.

“!!!?...”

“*&#$!!!?..”

Kedua kakak beradik itu terpucatkan wajahnya dengan semangat dari Furen.

“Akan kuangkat kalian sebagai saudaraku!!!.” Furen tersenyum yakin.

“Ah…?..” Traven terbengong.

“K.. Kau…?...” Raick mengernyitkan alisnya.

“Kita tidak punya banyak waktu lagi, sebaiknya kita pergi..!! ayo!!.” Furen berdiri menggandeng tangan Raick dan Traven.

Tetapi Traven dan Raick hanya memandangi Furen dengan tidak yakin akan keseriusannya.

“Kalian menolakku?...” Furen tersenyum hangat.

“Tidak…” Traven tersenyum kecil.

Raick mengangguk melihat wajah Traven. Kemudian tersenyum lebar pada Furen.

“Aku.. takut pada keluargamu!.. orang dewasa pasti akan menolak..” Tiba-tiba Raick menjadi murung dengan cepat.

“Aku adalah anak Chamazello..”

“Haaaaaahh!!!?...”

“Anak.. Chamazello?....”

“Keluarga pahlawan yang berjuang mendirikan negara ini..” Furen tersenyum yakin.

Kedua anak itu akhirnya menurunkan keraguannya dan mulai berangkat dengan telanjang kaki mengikuti Furen yang mengenakan sepatu menuruni tempat mereka.

Jalanan yang becek, kaki telanjang Traven dan Raick beberapa kali menginjak kerikil dan kubangan air hingga pucat. Tetapi mereka sudah terbiasa akan hal itu.

Kulit telapak kaki Traven dan Raick halus, susah menerka sebenarnya anak siapakah mereka dulu. Jika telapak kaki dan kulit badan mereka kasar, sudah pasti keluarga miskin sejak kecil tetapi tidak, kulit mereka kenyataannya halus dan berseri.

“Aku tidak tahu kita dimana.. dan jalan keluar dari sini..”

“Aku bisa memandumu tuan muda!!.” Raick tersenyum lebar kembali dan berjalan memimpin.

Hingga akhirnya tiba di jalanan, mereka berjalan di depan pertokoan dan melihat pamphlet diatas pintu toko-toko.

“St. Mayor Fingers VIII.. Wah itu dekat dengan rumahku.. beberapa blok lagi.. aku tau jalan ini, ikuti aku!!!..” Itu adalah jalan keluar kota bawah.

Furen pernah ke kota bawah saat melewati pelabuhan masuk negara ini, ketika datang pertama kalinya untuk pindah rumah ke negara tempat dia berada sekarang.

Furen bergantian memimpin perjalanan, Raick dan Traven mengawal dibelakang Furen.

Tiba-tiba sebuah mobil Mercy hitam berhenti di dekat mereka. Ketiga anak laki-laki itu terhenti dan melihat siapa yang akan turun. Ternyata para pria berjas hitam dengan kacamata hitam.

“Tuan muda!!!...”Teriak salah satu dari mereka yang turun.

“!!!?...”

“…?!”

“Ka.. kau.. John!..”

Ternyata itu adalah pasukan pengawal Furen sehari-hari yang sedang melintas, mereka sedang mencari Furen sejak beberapa hari terakhir setelah hilangnya Furen pasca ledakan besar menghanguskan kediaman Chamazello. Ledakan listrik itu sangat tidak terduga siapapun dan tidak diketahui penyebabnya hingga beritanya diviralkan ke mana pun oleh para fanatik keluarga ini maupun pembenci keluarga tersebut, tetapi kabar itu belum sampai ke telinga Furen, termasuk mengenai kepindahan keluarga Chamazello dari Chamazello Mansion ke Silver Ghe Mansion karena tragedi itu.

“Kami sudah lama mencari tuan muda..”

“Baiklah, bawa aku dan kedua teman baikku yang telah berjasa menolongku ini pulang..” Furen tanpa basa-basi.

“Baik!!..”

Lalu pria itu membuka pintu mobil untuk Furen dan kedua remaja itu.

⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙

“Kemana saja kau.. Davis!!!!!...”

Bentak ayah Furen setiba melihat anaknya sampai menginjak lantai ruangan tengah kosong di depan tangga besar menuju kamar-kamar di lantai atas yang mengitar, ruangan itu berbentuk kubah besar yang tinggi dengan plafon berlukiskan gambar langit yang bercahaya karena hiasan Kristal dan gantung lampu-lampu kecil yang berwarna ungu dan biru.

“Ayah.. aku.. aku.. diculik orang..”

Furen terbata-bata memandang mata merah ayahnya dengan tatapan patuh yang tertekan. Sepertinya ayah Furain tidak tidur mermalam-malam ini, ada guratan menumpuk di bawah kantong matanya.

“Diculik?!...”

Ayah Furen yang tinggi berbadan ramping dengan rambutnya yang panjang diikat pita merah dan mengenakan kemeja berwarna ungu tua itu membidik anaknya dengan tatapan mata yang tajam.

“Aku.. diselamatkan oleh mereka berdua.. mereka juga merawatku.. aku demam selama tiga hari.. karena racun yang aku telan.. yang diberikan orang jahat padaku…” Furen menunduk dan berusaha berbicara dengan lancar meski intonasinya tidak karuan.

Raick dan Traven hanya tertunduk canggung dengan setengah membungkuk.

Ayah Furen yang bergelar Guarden Chamazello II itu tidak memberi komentar, terlebih mengenai penampilan compang-camping, lusuh dan aroma kurang sedap menyengat dari diri mereka dan busana yang mereka kenakan, di lantai ada jejak kaki mereka yang meninggalkan kotoran.

“Ayah, mereka anak yatim piatu.. berikanlah mereka pekerjaan agar bisa bersekolah..” Furen tidak bisa menuntut lebih untuk permulaan.

Traven menahan nafasnya. Raick berkeringat dingin membayangkan suara ayah Furain yang menyeramkan tadi.

“Baiklah…” Ayah Furen berdiri dari duduknya setelah lama menimba pikiran.

Furen mengangkat wajahnya pelan-pelan.

“Bawa mereka ke kamarmu.. dan bersihkan diri kalian..!!.” Ayah Furen menunjuknya lalu menunjuk Traven dan Raick dengan garang.

“Baik Pak!...”

Furen tersenyum tipis dan memberi isyarat Traven dan Raick untuk ikut dengannya.

“Te.. terima kasih, tuan besar…”

“Terima kasih… tuan besar…”

Ayah Furen berdiri kemudian menuju ke ruangan di sisi sebelah. Furen menuju tangga tanpa menoleh ke arah teman-temannya itu, dan Traven sigap menganggapinya dengan mengikuti Furain disusul oleh Raick.

“Kau jangan melihat kemana-mana.. biasa saja.. nanti dikira kau pencuri pasar..” Bisik Traven.

“Iya kak..” Raick mengangguk ketakutan.

Furen membuka pintu kamarnya dan masuk diikuti Traven dan Raick lalu menutupnya dan menguncinya dari dalam.

“Huuufthh..”

Furen bersandar lemas di pintu dan menghembuskan nafas panjang.

“Haaaaahft..” Disusul Raick dan Traven.

“Tak ku sangka.. ayahmu benar-benar disiplin, Furen..”

“Iya.. tapi bagiku dia bukan ayahku..” Furen tersenyum menahan perasaan sakit.

“…..” Traven menyentuh bahu Furen.

“Ayo kita mandi!

Kita hanya punya tiga belas menit!!..”

Furen tiba-tiba berlari sambil membuka bajunya memasuki sebuah ruangan di samping bednya yang lebar.

“A… apa?...” Raick tercengang.

“Jam makan siang sebentar lagi saat jam dua belas.. Kita mandi bertiga saja…” Usul Furen memasuki kamar mandi.

“???!!.” Raick melihati anak itu dan melempar pandangan ke mata Traven. Tapi kakaknya itu hanya cekikikan.

“Turuti saja.. dari pada celaka..”

Furen membuka matanya dan baru saja tersadar dari mimpinya, ia sedang duduk di seat mobil depan di samping kemudi sopir yang diisi Raick.

"Barusan aku bermimpi tentang masa lalu kita..." Furen memegangi kepalanya yanh berkunang-kunang.

"Masa lalu kita?" Raick menyopir.

"Terasa sangat panjang seolah aku benar-benar mengalaminya... Sejujurnya aku ini tidak ingat apa-apa..." Furen meneteskan air mata sambil tersenyum.

“Saat itu tidak ku sangka.. kita benar-benar bisa menjadi saudara angkat.. itu semua berkat perjuangan keras dari Furen….” Raick menoleh ke Furen yang kini berusia enam belas tahun, bermaksud mengalihkan pembicaraan.

“Kau teringat lagi dengan kenangan itu ya?.... ”

Traven  duduk di jok belakang, melihati gedung sekolahan yang akan mereka singgahi untuk belajar.

“Jangan terlalu kau pikirkan, kemudikan saja mobil ini dengan benar….” Furen menyela sambil tersenyum hangat.

“Tadi pagi Furen memelukku erat sekali.. tulangku seperti hampir remuk!!!.. aku jadi semakin takut sama dia.. sial…!!” Raick menutupi mulutnya.

“Hmhmhmhm… habisnya kepalaku sakit sekali, tidak tertahankan….” Furen terkikik kalem.

Mata Furen yang tajam tetapi selalu memasang senyum lembut kemanapun dia menghadap.

“Untungnya aku sudah kabur ke kamar mandi.. aku sudah bisa menghitung kapan Furen akan kumat-kumatan…”Traven memasang cengirannya.

“EEh.. Traven.. kau tahu sesuatu kenapa tidak membaginya padaku..?”

Furen menoleh ke belakang, Traven menjulurkan lidah, mengejek.

“Awalnya aku pikir ini hanya perspektifku saja.. tapi ternyata benar… aku berencana untuk memberitahukanmu tapi aku menunggu saat yang tepat… mengertilah….”

Traven menjelaskan saat muka Furen mengerut masam, sementara Raick kini sudah memarkirkan mobil pemberian ibu Furen itu.

“Katakanlah.. Traven….”

Furen menerawang ke arah depan sambil menyimak dengan serius.

“Baiklah... ini adalah hari ke dua belas setelah Furen kumat... setelah ini kita tunggu empat belas hari ke depan... lalu enam belas hari... lalu akan kumat empat belas hari setelahnya dan jeda itu akan jadi dua belas hari setelahnya...” Jelas Traven.

“!!!!!?...”

“….”

“Baiklah aku mengerti.. terima kasih….”

Furen membuka pintu mobil, disusul Raick dan kemudian Traven.

Ketiga pemuda tersebut kemudian keluar dari gedung parkir yang bertingkat itu dengan gagah, kini mereka sudah tumbuh dengan sangat keren dan rupawan.

Furen berjalan di depan sementara mereka berdua mengawal di belakang. Siapa sangka kini Traven menjadi kakak Furen dan Raick menjadi adik Furen. Prestasi mereka setelah disekolahkan keluarga Chamazello mendapati banyak pernghargaan dan pengabdian mereka pada Furen membuat ayah Furen menyetujui usulan Furen yang menginginkan mereka menjadi anak angkat Chamazello. Meskipun dengan alasan untuk memperbanyak tentakel gurita bisnis keluarga.

“Tuan muda!!..”

Seorang remaja memakai seragam sekolah yang sama dengan mereka tiba-tiba berlari menuju Furen.

“Ya… Riff….”

“Ini.. daftar nama murid yang akan sekelas dengan kita….” Riff, anak buah Furen.

Furen memiliki gaya bergaul bebas untuk bisa melatih keberanian dan mengolah mentalnya. Dengan bantuan Raick yang memiliki teman masa kecil di dunia jalanan akhirnya bisa membuat Furen bertemu dengan Riff yang bekerja sebagai manager perusahaan gulat milik ayahnya.

Disanalah Furen sering melihat petarung jalanan unjuk gigi. Dan Riff selalu menerima upah dari Furen jika pertunjukan pertarungan yang dia kelola cukup menghibur. Untuk itulah, di sekolah tempat Riff belajar ini, Riff menghargai Furen.

Furen menerima beberapa lembaran yang Riff sodorkan dan membacanya sambil berjalan, Riff mengawal di depan. Lalu Nick datang ikut mengawal di sisi Riff. Nick adalah sama sebagai anak buah Furen di sekolah ini. Dia bertemu dengan Furen melalui cara yang sama. Nick memiliki ayah yang mengelola gedung olahraga, sehingga itu lah mengapa Nick suka melatih dirinya agar tidak mempermalukan keluarganya. Dia sering mengadu nyali ditempat gulat yang diolah Riff dan mendapat banyak uang sponsor dari Furen karena sering menang di pertarungan.

“Wah.. Menarik sekali anak-anak di sekolah ini yach….” Furen tersenyum.

“Boss harus hati-hati sama ana-anak orang militer.. siapa tahu mereka sombong dan tidak mau didominasi..”Sindir Riff.

Key pun datang dari arah samping dan berjalan di belakang Raick dan Traven. Key adalah remaja albino oriental yang bekerja sebagai petarung unggulan di perusahaan adu gulat yang dikelola Riff.

Furen menjadikannya anak buah karena terkesan dengan sosok Key yang selalu menang dengan jurus-jurusnya yang sadis. Remaja berbadan kecil itu seperti memiliki aura magis. Tatapan matanya yang tajam dan tidak pernah banyak bicara apalagi tersenyum itu seperti sebuah hiasan yang menarik perhatian Furen.

Furen dan Key memiliki ikatan lebih dekat dibandingkan pada Riff dan Nick, karena itu Key mengetuai Nick dan Riff. Disamping itu, Key juga lebih kuat dibanding mereka berdua meskipun Key hanya anak yatim piatu dan keturunan masyarakat menengah ke bawah. Bagaimana bisa dia bersekolah disini? Furen menanggung biayanya. Termasuk biaya sekolah adik Key yang bernama Helena. Ikatan khusus ini lah yang membuat Key seolah berhutang budi pada Furen.

Furen membuka lembaran selanjutnya, disana terdapat foto seorang gadis yang tegap bernama Rhyno Xavier, mata Furen tertarik ke mata gadis ini.

“Setajam mata pisau… hmhmhm menarik..” Furen tersenyum.

Traven mengamati dari jauh nama gadis itu.

“Rhyno Xavier…”

Tiba-tiba ada perasaan aneh dari dalam dadanya muncul tetapi tidak bisa tergambarkan.

Raick hanya mengunyah permen karetnya sambil mendengarkan MP3 di headsetnya. Traven menoleh ke Key yang memandang jalanan sekitar.

“Key..” Traven berbisik.

“…?”

Key medekatkan diri ke Traven yang memelankan langkahnya.

“Cari informasi tentang Rhyno Xavier untukku..” Bisik Traven.

Key hanya mengangguk lalu tetap berjalan mengikuti mereka semua.

“Eh.. Furen..!.” Traven menggapai pundak Furen.

“Ya?...”

Furen tersenyum tipis.

“Aku mau pergi sebentar… ada informasi yang harus aku dapatkan…”

“Hm…. Terserah kau saja…”

Furen melambaikan tangan dengan nada ramah.

Traven bergegas pergi dengan setengah berlari mendahului mereka semua. Mata Key mengekori punggung Traven.

“Apa dia mengatakan sesuatu padamu, Key?”

Tanya Furen tanpa menoleh ke belakang, indra Furen sangat tajam baik penciuman, penglihatan maupun pendengaran, gerakan kaki dan tangannya saat bermain anggar sangat lincah sehingga dia dijuluki Rubah kecil Chamazello oleh ayahnya maka tak heran jika bisikan Traven bisa terdengar barusan.

“Rhyno Xavier.. dia tertarik mencari informasi tentangnya..”

Key tidak akan menyembunyikan sesuatu pun dari Furen.

“Hmm… Good boy..”

Furen tersenyum tipis kembali, memuji kesetiaan Key.

Sekali pun dia tahu  kehendak dan kegiatan Traven di belakangnya, dia tidak akan menghalangi dan mencampuri urusan Traven karena percaya bahwa tidak ada penghianat didalam keluarga Chamazello selain Furen sendiri.

⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙

"Buk!!”

Traven sepertinya menabrak seseorang.

“Aduh…!!!”

Suara perempuan yang sepertinya dia tabrak dari arah depan tadi.

“Ma.. Maafkan aku nona…”

Traven segera berdiri dan mengulurkan tangannya pada perempuan berambut biru yang tengah duduk membersihkan seragamnya di atas lantai koridor sekolah.

“Aku bisa berdiri sendiri, terima kasih..”

Kemudian menegapkan badan menghadap muka Traven.

“!!!?...

Theresa!!!???...”

“!!!???...”

Traven tercengang dengan sosok didepannya kali ini. Dia sampai tidak sadar hingga memegang kedua bahu perempuan itu.

“Aku Casn Traven...

Aku Fredic kecil!!!

Kau ingat padaku kan?? Kau Theresa kan?!...”

Traven mengguncangkan tubuh prempuan tegap itu.

Sementara perempuan itu terbata-bata.

“A…Ku bukan Theresa!... Siapa Theresa!...”

Perempuan itu kemudian berlari sangat cepat ke bilik administrasi.

Traven melihati kedua tangan yang sudah menyentuh kedua lengan atas perempuan itu.

“Theresa… kau Theresa… Kau.. tidak bisa menipuku….” Traven menitikkan airmata dari sudut mata kirinya.

“Theresa…….” Traven memeluk tubuhnya sendiri.

Traven mengatur nafasnya beberapa saat lalu pergi dari loby itu. Pagi ini masih saja berkabut, sehingga upacara penerimaan siswa baru dibatalkan di halaman depan gedung sekolah dan diganti dengan perkenalan di aula sekolah.

                      ⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙

“Kau jangan pernah dekati orang-orang yang dekat dengan orang itu…”

Rhyno menunjuk ke punggung Traven yang sedang berdiri di depan kelas menghadap Robert, Gia mengangguk.

“Ada apa nona Rhyno?..”

Gia, gadis bermuka innocent dengan buah dada proposional tengah melekatkan diri ke tubuh Rhyno yang tegap dan lebih tinggi darinya untuk berbisik.

“Dia mengetahui jati diri di masa kecilku saat masih dilingkungan militer... dia bernama Casn Traven yang dijuluki Fredic kecil, putra seorang pilot yang tewas karena ditugaskan mengantar bahan kimia ke laboratorium ibuku... dia sahabatku sejak kecil..” Rhyno berbisik dan Gia menutupinya dengan sampul buku.

Rhyno berbadan tegap dengan otot lengan yang bagus, sedikit tomboy tetapi parasnya sangat cantik layaknya orang Yunani.

“Iya nona Rhyno..”

Gia yang berbeda sekali dengan Rhyno, sangat lembut merangkul lengan kanan Rhyno dengan penuh rasa malu karena tidak terbiasa di keramaian seperti ini.

Sementara Rhyno tidak terlalu memperhatikan Gia, mata tajamnya mengerdarkan pandangan ke segala arah, terlihat para siswa berdatangan memasuki ruangan aula ini satu persatu.

“Aku tidak menyangka bisa bertemu Fredic kecil di tempat seperti ini, bagaimana bisa, aku pikir dia tewas dalam insiden pembantaian itu.” Gumam Rhyno.

Kemudian matanya dengan lesat menuju ke sosok Key yang duduk diam di sudut, Key langsung pura-pura tidak melihatnya.

“Anak itu dari tadi terus saja memandangiku…” Desis Rhyno.

“Siapa?...” Suara Gia lembut.

“Anak albino di pojokan itu…”

“Eum…” Gia melirik saat menunduk dibalik helaian rambutnya dia mengintip.

“…”

“Oh.. dia itu albino terakhir keturunan keluarga Fordann yang terkenal sebagai keluarga pasukan elit terbaik... gosipnya sih begitu, hihihi…”

Bisik  Gia setelah mendapati sosok pemuda berkulit putih pucat sedang duduk di bangku belajar paling pojok di samping Raick.

“Tahu dari mana gadis pemalu sepertimu? Sudah berani bergosip yach?”

“Ah tidak nonaku sayang..” Gia mempererat rangkulannya.

“…” Rhyno mengedarkan pandangannya kembali.

“Dengarlah, kau akan masuk ke kelas profesional jurusan farmasi… aku akan masuk ke sosial kenegaraan, formulir akan segera dibagikan OSIS selagi kita memperkenalkan diri nanti, aku harap kamu tidak ragu memilih langkah itu…”

“Uem!”

Gia mengangguk mantap sambil tersenyum, pipinya memerah karena merasa sedang diandalkan Rhyno yang sudah selalu dia anggap sebagai pahlawannya.  Gadis berambut hijau pastel itu semakin sayang pada kakak angkatnya itu.

Hingga akhirnya saat perkenalan para peserta didik baru dimulai. Satu persatu memperkenalkan diri diatas panggung. Dan tibalah saat seorang pemuda menaiki podium, pipi Rhyno menghangat dan jantungnya berdebar.

                       ⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙

Flash back...

Di sebuah sore yang tenang saat Rhyno dan Gia baru saja datang dari luar negeri, mereka tiba di sebuah penginapan dan saat mereka berjalan, koper yang dibawa Gia terjatuh karena terlalu berat.

“Eh!!!...”

Seorang pemuda baik hati berambut merah darah membantu mengangkat koper itu.

“Kalau berat pakai saja troli…” Sahut laki-laki itu.

Rhyno melihati pemuda tegap berlengan bagus dibungkus kemeja itu, wajahnya begitu menarik bagi Rhyno.

“…” Pemuda itu tersenyum pada Rhyno, dan gadis itu membalas dengan hangat.

Tibalah di depan pintu kamar penginapan mereka, pemuda itu mengantar sampai depan pintu.

“Kopernya berat banget nich, isinya misil ya? haha”

“Hahaha… terima kasih…”

“Qio…” Pemuda itu mengulurkan salaman tangan.

“Rhyno…” Rhyno tersenyum menjabat.

Keesokan paginya bel pintu berbunyi, Rhyno terbangun karena suara itu.

“Apa itu ajudan Alex, pagi sekali… euhmh.. Gia.. coba pastikan dulu…” Rhyno memeluk kembali gulingnya.

Gia yang menggunakan piyama dress tembus pandang tanpa memakai pakaian dalam itu masih memeluk pinggang kakak angkatnya dengan nyaman.

“Gia!!!..” Bentak Rhyno.

“Euhmh… ehmh.. iyaaaa…”

Gia membangkitkan diri dengan lunglai lalu mengintip dari lubang pintu.

“Ada troli hidangan… ada kopi.. ada surat… ada bunga mawar!" Katanya agak keras setelah mengintip.

Rhyno terbelalak kemudian bangkit dan berjalan ke arah pintu, mendorong Gia ke arah belakang pintu sebab pakaian Gia sangat rawan memancing mata penjahat.

Rhyno menarik troli itu masuk dan segera mengunci pintu setelah menutup pintu.

‘Untuk gadis bermata berlian yang membuatku jatuh hati pada pandangan pertama kemarin pagi di jam yang sama aku menyuguhkan harumnya mawar dan secangkir kopi ini.. untuk nona Rhyno…’ Rhyno membaca surat itu.

“Coba kau minum kopi ini, Gia!”

Rhyno mengangkat mug berukuran sedang itu kepada Gia.

“Wah ciuman pagi hari secara tidak langsung dengan nona Rhyno…”

Gia tersenyum meraih mug itu  lalu menyruput sedikit kopi.

“Hmmmm… Latte-nya enak sekali… aku masih hidup nona.. tidak ada reaksi kimia, perutku juga tidak kembung..” Gia meyakinkan.

“Tunggu lima menit…” Judes Rhyno.

“Minum saja… Ini pasti dari Qio yang kemarin ya…”

Gia meletakkan mug itu ke tempat hidangannya semula kemudian mengambil bunga mawar yang sudah dirangkai bagus berbungkuskan kertas tipis berwarna pink.

“Harumnya...”

Gia pergi untuk meletakkannya di vas meja tamu.

“Qio…”

Pipi Rhyno memerah, akhirnya karena melihat Gia masih baik-baik saja kini Rhyno berani untuk menikmati kopi itu dan menyibakan gorden jendela kamarnya.

“!!!.....” Mata Rhyno tercengang.

Qio berada di kamar dihadapan jendelanya, pipi Rhyno semakin merona dan matanya yang tajam menukar balik tatapan Qio yang juga tajam itu.

“Sialan kau Qio…”

Pemuda itu lalu pergi meninggalkan tempat itu. Begitu pula Rhyno.

Dan siapa sangka jika kini pemuda itu sudah ada di atas podium dan memperkenalkan diri di hadapan semua peserta didik baru angkatan tahun dua ribu enam puluh lima.

“Namaku Qio. Panggil saja begitu, lengkapnya Qio Matsuyama. Aku ingin mengambil kelas profesional jurusan kepolisian, karena aku ingin menjadi seorang detektif atau peneliti forensik kasus pembunuhan, bagiku mencari tahu pelaku pembunuhan dan perampokan adalah petualangan yang menarik, minat ini sudah terwariskan dalam darahku sebagai anak dari seorang abdi masyarakat yaitu polisi... tapi maaf.. jika aku sering nakal nanti”

“Hahaha…” Beberapa yang mendengarnya pun tertawa.

“Karena aku punya pribadi lain yaitu suka mengusili orang lain, terima kasih...”

“Hmhmhm…” Rhyno tertawa kecil.

“Qio Matsuyama yang waktu itu…” Bisik Gia.

“…” Rhyno mengangguk tegas.

“Nomor absen dua puluh tuju!...” Reva Wang selaku wakil ketua kelas yang dipilih ketua OSIS meneriakkan panggilan untuk siswa yang akan maju.

Organisasi Siswa di sekolah ini merupakan siswa khusus yang lolos seleksi akademi khusus dan sudah dipastikan akan diperkerjakan di kepemerintahan, sebuah kebanggaan bagi siapa pun yang bisa masuk ke circle mereka. Karena itu Reva berlaga angkuh.

Rhyno menaiki pentas, semua mata tertuju pada gadis tegap dan tinggi dengan bentuk tubuh yang proposional itu. Rhyno berdiri di podium dan mengedarkan mata ke seluruh siswa, tidak ada mata yang mencuekkannya.

“Namaku Rhyno…”

Mendengarnya Traven tercengang dan menelan ludah. Furain semakin tertarik dengan tatapan tajam gadis bertopi seragam itu.

“Rhyno Xavier...

Akan mencoba kelas profesional jurusan Sosial Kenegaraan...

Hobi sih menjatuhkan orang...”

“Hahaha…” Semua orang tertawa.

“Hahaha…” Entah kenapa kali ini Furen pun tertawa, untuk pertama kalinya.

“Dan tolong jangan ganggu adik saya, Gia.. aku suka gatal telinga jika dia mengeluh setelah dijahili…”

“……”

“Saya… serius…” Kemudian dia menuruni panggung itu.

“Wah.. Gia diproteksi kakaknya ya…” Goda siswa bernama Revo yang tadi sudah memperkenalkan diri.

Revo seperti menangkap muka takut di raut Gia, kemudian berjalan menjauhinya.

“Gia itu aneh ya…” Bisik Revo pada Qio yang sudah akrab sejak sebelum menjadi siswa di situ.

“Kau harus menghargainya atau aku akan menghajarmu!..” Qio nyengir kuda.

“Eeeh… kau naksir sama dia ya?..”

“Hmhmhm..” Qio tertawa kecil, "aku suka sama kakaknya..”

“”Et... sialan kamu!…”

“Hahaha…”

“Uhm…” Revo melirik ke Gia lagi, gadis itu merangkul lengan Rhyno.

“Selamat ya Gia…”

Sindir Reva kepada Gia saat menyerahkan formulir yang sudah distempel oleh bagian administrasi sekolah.

“Uemh…?.”

Gia menerima lembaran itu dari tangan Reva dengan memberanikan diri, baginya suara Reva agak galak terdengar.

“Kau satu kelas dengan Raick Chamazello.

Tidak aku sangka siswi sepengecut sosial sepertimu mendapatkan kehormatan untuk bisa sepertinya di masa depan.” Reva berlalu.

“Kau jangan dengarkan dia!..”

Savy dari belakang Gia melempar pembelaan.

Gia berbalik badan sambil tersenyum ramah.

“Aku sudah terbiasa mendengar celotehan kasar dari siapapun koq, itu tandanya ada kecemburuan sosial bukan.”

Diluar dugaan Savy, ternyata Gia tahan banting.

“Sebaiknya kita jauhi nona sok boss itu, dia mungkin agak sedikit panas disini karena dia bersaing dengan Gina..” Susul Trixie.

“Gina?...” Polosnya muka Gia.

“Gina itu selebriti yang lagi naik daun, membintangi banyak iklan juga di TV, kudengar mau main film juga, tunangannya Furen Chamazello.” Tambah May.

“Uh... Itu ya..” Tunjuk Gia pakai pulpen diam-diam.

“Dia itu sainganku…” Savy nyengir kuda.

“Kau pasti bisa merebut prestasinya koq, Savy..!.” Trixie menyemangati.

“Hmhmhm…” Gia tertawa kecil.

“Aku juga akan sekelas denganmu, Gia…” Trixie.

“Mohon kerjasamanya ya..” Gia tersenyum ramah.

“Sepertinya kau pandai bergaul juga…”

Savy berambut bob ungu dengan warna lipstick merah padam memuji Gia.

“Aku hanya agak pendiam bukan berarti terlalu culun kan.. hihi..”

Sementara itu di tempat lain Furen mendekati Rhyno yang tengah berdiri melihat pemandangan di balkon.

“Nona Rhyno Xavier…” Panggil Furen dengan nada sangat merendahkan hati.

“Tuan muda Chamazello..” Rhyno berbalik badan menanggapi suara Furen.

“Sudi kiranya kita makan malam bersama kapan-kapan?...”

“Hm…?.”

Rhyno melihat senyuman tipis Furen dan tatapan matanya yang penuh keyakinan.

“Kau…”

“…?!.” Furen menghilangkan senyumnya tanpa sadar.

“…?.”

Rhyno agak terkejut, ternyata Furen saat tidak tersenyum terlihat begitu mengerikan.

“Eh!...”

Furen menyadari gelagat Rhyno kemudian kembali memasang senyuman di wajahnya.

“Baiklah!.. aku mengerti tuan muda… hari ini juga tidak keberatan koq…”

Rhyno mengangkat senyum lebarnya sambil menganalisa makna senyuman  pemuda tersebut.

“Aku tunggu di belakang gedung sekolahan tua, disana ada ruangan kosong dengan banyak buku dan tanaman hias yang masih terus dirawat, ruangan yang cukup aneh tapi lumayan indah untuk melahap makanan ringan bersama,” ajak Furen.

“Aku bersedia..” Rhyno tersenyum sambil berbalik ke arah pemandangan halaman lagi.

“Terima kasih…”

Furen pun meninggalkan Rhyno, sementara dari kejauhan Qio mengamati gerak gerik Furen dengan Rhyno dengan kecemburuan.

‘Apa yang kau inginkan dariku, Chamazello… matamu menyimpan suatu rencana.’

Batin Rhyno.

                     ⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙

”Ayah tidak mungkin tidak mengetahui siapa yang membunuh Noa…”

Furen teringat saat dirinya berdiri di hadapan kuburan Noa kakaknya setelah pulang ke rumah bersama Traven dan Raick.

“Kau tidak usah khawatir.. semua akan baik-baik saja..” Raick melepas sebelah headset-nya.

“Mungkin saja ayahmu memang sejak awal sudah merencanakan untuk melenyapkan Noa karena ingin mewariskan hartanya kepadamu,” komen Traven.

“E..!!?...”

“Bisa jadi…” Respon Furen dengan senyuman tipis.

Kini mereka ada di ruangan yang Furen minta untuk Rhyno datangi. Mereka bertiga menantinya disana, sementara Key dan lainnya menunggu di luar ruangan itu sambil makan snack yang baru ditraktir oleh Furen bersaudara.

“Ditambah lagi Noa itu anak istri pertama ayahmu dan kamu anak istrinya yang ke dua, sementara kakak tirimu si Demi, dia seorang perempuan..”

“….” Furen tersenyum.

“Tidak ada halangan bagi perempuan untuk mewarisi harta..” Nada Traven datar.

“Iya.. Traven benar.. tetapi nama marga Chamazello diwariskan ke laki-laki saja itu maksud Raick…” Furen tersenyum hangat.

“Umh… aku baru dengar itu…” Traven menghela nafas lega.

“Demi adalah anak istri pertama ayahku, tidak mungkin bibi tua itu tidak berencana membunuh ibuku dan menganggap ibuku yang merencanakan pembunuhan putera sulungnya” Gagas Furen menghilangkan senyumnya.

“Kami akan selalu ada mendukungmu...  tersenyumlah..” Raick mencubit pipi Furen.

“Hmhm..” Furen tersenyum manis.

“Minggu depan giliran Traven yang harus kau peluk keras yach! Ingat itu hahaha…” Usil Raick. Traven menggaruk kepala merasa konyol.

“Ketua... Rhyno sudah datang…” Nick masuk ke dalam ruangan.

“Baiklah.. tamu kehormatan, siapkan makanannya..” Furen dan Traven berdebar-debar.

Furen tidak mengerti apa-apa tentang hubungan Traven dengan Rhyno di masalalu, sepertinya kali ini Traven belum bisa mengungkapkannya pada Furen.

“Baik..”

Nick keluar ruangan beratap kaca tersebut.

Sementara di luar, Rhyno dipandang lekat-lekat oleh Key. Karena merasa tertantang, gadis itu menusuk balik penglihatan Key dengan tajam dan dalam.

“Kamu, iya silahkan masuk, maaf membuat menunggu.” Mendengar Nick, Rhyno pun melangkah masuk.

Rhyno melangkahkan kaki kedalam ruangan itu, dilihatnya para pemuda tampan tengah menunggunya.

“Kalian tidak akan mengahiri nyawaku kan?...” Rhyno tersenyum dingin.

“Hahaha.. tentu saja tidak nona Rhyno..” Raick tersenyum lebar.

“Katakanlah..!”

Rhyno duduk menyilangkan kaki dan lengannya di depan tempat duduk Furen.

“Jangan sungkan dengan makanannya, semoga suka”

Furen mempersilahkan, kue-kue lezat dengan variasi rasa krim.

“Ngomong-ngomong markasmu bagus…” Rhyno mengambil kue krim Strawberry.

“Sebenarnya aku sudah menahan dari tadi pagi…”

Furen bangkit dari duduknya.

Membuat Raick dan Traven ikut bangkit dan mencurigai gelagat aneh Furen.

“Furen kau?!...”

Teriakan Traven terdengar oleh Key yang ada di luar sementara Nick dan Riff asyik menyantap snack-nya di bawah pohon dengan jarak agak jauh dari pintu ruangan.

“Aku hanya ingin melakukan eksperimen kecil…” Furen tersenyum hangat.

“…?.” Rhyno menelan gigitannya.

Dengan sigap Furen menerkam Rhyno, dia memegang belakang kepala Rhyno dan memeluknya.

“!!!” Rhyno terperangah.

“^&*(&^%$#@?!...”

Muka Traven pun pucat melihat orang yang dia cari selama ini diperlakukan aneh oleh orang yang dia jaga selama ini secara mendadak.

“...?!” Sementara Raick jadi semakin bertanda Tanya.

“Hhh… hhh.. hhh…” Furain melepaskan diri dari Rhyno.

Rhyno memandangi Furen dengan kejam, dia mengelap keringat Furain yang menempel di mukanya.

“Nona Rhyno…” Nafas Furen tersengal-sengal.

“…?!” Mata Rhyno memburu gelagat muka Furen.

“Kau.. mengidap penyakit yang sama denganku!...” Furen

“!!!” Rhyno terkaget seperti ada pukulan menghentak di dadanya sampai ngilu.

“!!!” Traven merasa seperti sedang dicekik sesuatu.

“???!” Raick  semakin penasaran.

“Kau.. Ah.. Penyakit apa itu…”

Rhyno memasang senyum lebar dan matanya masih tercengang, dia berusaha meyakinkan diri bahwa Furen tidak berbahaya baginya.

“Kau.. memiliki trauma pada penyakit Gravicwalken… Sepertiku, aku bisa merasakan... getaran perasaanmu yang tidak beraturan!...” Furen memandangi kedua tangannya.

“?!...” Rhyno belum bisa mengendalikan shocked-nya.

“Aku sedikit bisa merasakan hal yang tak bisa kugambarkan dengan akalku…” Lanjut Furen.

“!!!!...”

“Kita memiliki koneksi, jantungku berdegup lebih cepat jika aku merasakan auramu… Siapa kau Rhyno?... itu kah.. identitas aslimu?!!...”

Furen pun turut tercengan kalimat itu terlontar begitu saja dari mulutnya, Rhyno mulai yakin bahwa Furen tidak berbahaya baginya.

“Aku begitu sakit jika aku tidak bisa melakukan apa yang perasaanku katakan"

Senyuman Furen memudar, mukanya berubah memasang ekspresi mengerikan tetapi kedua matanya meneteskan banyak air mata.

“Aku tidak mengerti... kau... Rhyno!... sejak tadi pagi!...”

“…”

Rhyno menarik lengan Furain dan memeluknya.

Traven tidak percaya dengan semua yang telah dia saksikan, Key mengintip dari lubang kunci pintu ruangan itu.

“Bagaimana sekarang…?.”

Rhyno menanyai Furen dengan nada yang sama penasarannya dengan  isi kepala Raick.

“Aku merasa damai dan syaraf di kepalaku berhenti mengejang... tubuhku sudah tidak gemetar lagi…” Furen memeluk Rhyno lebih erat.

“Aku bahkan tidak mengenalmu… aku juga tidak mencintaimu.. tapi koneksi energy yang kau miliki... menahlukkan penderitaanku…”

Furain memejamkan mata meresapi ketenangan tubuhnya, ada getaran tersalurkan sedang terasa jelas baginya dari Rhyno.

“Ceritakan padaku soal penyakitmu!"

Rhyno tidak ingin menahan rasa penasarannya.

“Aku akan melakukan apapun... asalkan kau memperlakukanku seperti ini setiap Gravicwalken-ku kembali menyiksaku...” Furen tidak ingin melepaskan pelukannya.

“Aku berjanji…” Rhyno pun masih ingin tahu yang sesungguhnya.

Gravicwalken... aku tidak tahu hal lebih soal itu.. saat usiaku masih kanak-kanak.. ayahku membawaku entah kemana... di sebuah ruangan penuh lampu... aku dilumpuhkan dengan bius dan pingsan setelah itu... tapi sebelum aku pulang ke rumah aku sempat melihat luka bekas suntikan di lengan kiriku... anehnya beberapa jam kemudian bekas luka itu hilang, sampai sekarang aku tidak bisa berimajinasi dan bermimpi seperti sebelumnya..” Papar Furen.

“!!!” Rhyno semakin shocked.

“Nona….”

Furen melepaskan pelukannya setelah sepertinya puas menenangkan dirinya yang tadi tersiksa.

Rhyno tidak melepaskan pandanganya dari muka Furen yang tidak tersenyum.

“Apa kau menyadari bahwa selama ini kau tidak bisa berimajinasi, berhayal, bermimpi di malam hari?" Furen.

“E.. Aku.. aku tidak .. eh..” Rhyno menunduk.

“Iya.. aku baru menyadarinya…” Rhyno menghela nafas.

“Aku menyadarinya baru-baru ini, mungkin saja dulu aku dibawa ke gedung lembaga pemerintah dan aku berfikir secara menduga saja, bahwa aku dijadikan tikus laboratorium…” Tutur Furen lagi.

“?!” Rhyno tercengang.

“Mereka menghentikan otakku agar aku tidak bisa bermimpi.” Ungkap Furen.

“!!!...”

"!!!" Raick menahan nafas sejenak.

"...." Key menguping.

"Tapi sangat aneh aku memimpikan tentang masalalu baru baru ini..." Furen.

“Seperti yang kau tahu, aku peka terhadap energi dan perasaan orang, hewan, tumbuhan, bahkan redusi perasaan yang tertinggal pada barang dan tempat yang kusentuh... tetapi aku tidak bisa melukiskannya dalam pikiranku, bahkan untuk sekedar menyusun gambaran lewat kata-kata, aku hanya bisa menjelaskan lewat firasat perasaanku saja... Antara sakit, takut, bahagia, suka atau benci" jelas Furen.

“….?!”

“Kimia itu meracuniku... aku jadi zombie... karena itu aku terus tersenyum... padahal kehampaan menyelubungiku..." Tambah Furen.

“!!!...”

“Mungkin akan ku katakan padamu semuanya mulai sekarang…” Simpul Furen.

“Kau!!!...” Raick menyela tetapi dihentikan Traven, Key masih mengintip.

“Aku baru ini menyadari bahwa mungkin Noa berusaha membuatku bahagia dengan mencium atau meniduriku... dia berusaha membuatku bisa merasakan perasaan kasih sayangnya kepadaku... tetapi aku yang dalam pengaruh obat itu... tidak pernah menangkap kesimpulan apa pun... Hanya punya ketakutan, aku pikir dia berbahaya bagiku, hingga aku menewaskannya dalam kebakaran yang aku rencanakan…” ungkap Furen sesuai mimpinya akhir-akhir ini.

“Furen….” Rhyno tercengang.

“Ayahku seharusnya tahu jika aku pelakunya, tapi mungkin dia mencium gerakan Noa yang ingin membantuku... dia tidak pernah menunjukkan upaya penelitian siapa sebenarnya pembunuh Noa..." Furen.

“Te..ternyata begitu!..” Raick ikut shocked.

“Ayahku…..” Rhyno mendesis.

“Mungkin Noa berusaha berkomunikasi padaku! Selama ini! Di setiap tidurku lewat mimpi! Tapi yang ku dapati! Setiap malam aku kesakitan setiap otakku akan memproduksi proyeksi tertentu..!" Furen meraih busana Rhyno.

“Furen…”

“Kutukan ini hanya bisa tertenangkan oleh ciuman atau pelukan... dengan perasaan... harus dilakukan bersama orang yang menyayangi kita... aku baru menyadari itu saat pertama kali Traven mencuim keningku... waktu itu aku hampir mati  menahan sakit ini... sejak itu aku bisa sedikit menggambarkan imajinasi dengan emosi lagi... dan aku kini hampir bisa mendapatkan imajinasi dari emosi lain... saat aku memelukmu...”

Furen menjatuhkan lututnya dan meletakkan  kepalanya di pangkuan Rhyno.

“Aku.. punya potongan informasi yang kau butuhkan…” tutur Rhyno.

“?....”

“Aku punya daftar album foto berisikan pasukan militer... logo ruangan itu apa kau ingat?...”

Furen mengangguk merespon pertanyaan Rhyno.

“Baiklah.. kau bisa ke rumahku setelah ini..”

“Maaf aku tidak bisa… aku tidak bisa kemana-mana atau Traven dan Raick akan dihukum ayahku…”

“….”

“Kau menggunakan penetralan melalui Gia kan selama ini?...” Furen tersenyum.

“Iya.. aku juga menyadari hal itu saat Gia memelukku...” Rhyno memegangi bahunya.

“Sebenarnya..” Furen berdiri sambil tersenyum.

“Kota ini dulunya adalah laboratorium pemerintah... di sini juga ada banyak keturunan militer... mungkin bukan kita berdua saja yang mengidap penyakit buatan pemerintah di kota ini...”

Tambah Furen.

“Ta.. tapi apa misi pemerintah sebenarnya melakukan ini?...”

“Agar tidak ada penghianat negara.. itu sich dugaanku..”

“Uh…?” Rhyno mengangguk.

No comments:

Post a Comment

Bab 22: Tidak Banyak Bicara

 Rhyno akhirnya merenung setelah perkumpulan di kediaman Aman selesai. Semua pemuda Zyo S akhirnya berkumpul untuk merundingkan rencana. Mer...