Wednesday, February 12, 2025

Bab 17: Salju di Padang Pasir

 Huge Land benar-benar dalam keadaan panas, masyarakat memberontak. Pemerintah mengerahkan seluruh pasukannya untuk megendalikan warga sipil hingga warga elite ilmuwan yang memberontak, mereka mulai merajalela turun ke jalanan dan bersorak 'lebih baik mati dari pada hidup jadi binatang dikandangkan di tanah asing.' Kini bagi warga Huge Land dunia bukan lagi berpusat di Zyo S tetapi di diri mereka sendiri. Wabah unjuk rasa ini melesat di berbagai daerah di Zyo S. Warga mulai meretas sistem pertahanan nasional dan membobol siaran TV.

Banyak warga yang meninggal oleh bom dan tembakan dari jet tempur namun segera warga mengambil alih kesadaran pihak militer setelah warga berhasil membobol masuk markas militer. Kini petinggi-petinggi dalam militer dan kepolisian sedang ditawan oleh elite ilmuwan yang mengerahkan warga sipil dan segera setelah itu terjadi, Lim kembali muncul dengan maskernya di seluruh monitor dengan menampilkan matanya dan suaranya yang khas.

"Apa itu tuhan komputer?

Untuk apa kamu menjadi pelindung Zyo S?

Apa yang kamu dapat setelah kematianmu?

Apa kamu yakin lahir sebagai abdi setia Zyo S?

Apa itu Zyo S?

Apa itu surga duniawi?

Coba lah berpikir dan jawab!

Kenapa kalian tidak rebut tanah ini dan mengubah Zyo S menjadi sesuai keinginan kalian?

Semua manusia lahir dengan naluri dan kamu lahir untuk memimpin dunia, bukan dijadikan binatang yang ditusuk ancaman orang lain!

Kamu kuat dan mereka hanya menakut-nakutimu!

Mereka menakut-nakutimu karena tidak ingin kekuatanmu terbangun!

Runtuhkan!"

Ucapan Lim itu langsung disusul dengan matinya seluruh monitor di berbagai daerah, beberapa anggota aparat pun mulai terputus hubungan pikiran alam bawah sadarnya dari hipnotis yang disampaikan oleh pemerintah Zyo S sebelumnya.

Di saat itu lah kondisi di luar sana semakin kacau, ada dua blok antara aparat bebas dengan aparat abdi Zyo S yang membuat kubu wilayah pertahanan.

Semenjak kekacauan sebelumnya dari siaran Lim yang pertama, Martin dan Lim hidup normal di tempat pipa, mandi dan mendapat makanan dengan leluasa keluar masuk kantor stasiun TV yang mereka jadikan sarang persembunyian. Namun sekarang mereka harus keluar dari tempat itu untuk menjalankan misi selanjutnya. Yaitu men-take down pemerintah secara langsung untuk memerdekakakan Zyo S.

Teror yang diciptakan Lim benar-benar menggemparkan markas elite klan Lux Minerval Zyo S. Mereka ingin membunuh Lim dan mengirim pasukan penyusup dan penyamar paling handal ke seluruh Zyo S.

"Mereka sudah mengetahui kita dan akan ke sini!" Insting Martin sambil mengemudikan mobil Revo selama tiga jam untuk pergi ke pusat kota.

"Kenapa kita ke Neo Viva? Itu pusat kota!" Lim terkejut melihat pintu gerbang pusat kota.

"Insting saja..." Martin singkat.

"Jangan bilang kau sudah tidak ada ide lagi?" Lim panik melihat ke belakang jaga-jaga ada yang mengikuti.

"Jangan khawatir, kau bisa telepati dengan Furen, kau bisa bilang minta tolong jemput dengan teleportasinya!" Martin menambah gas.

"Mustahil terlalu jauh!" Lim mendesak matanya terbelalak.

"Sudah kubilang jangan panik! Fokus!" Martin mendesak juga.

Akhirnya mau tak mau Lim memejamkan matanya untuk mencapai gelombang hening di pikirannya.

"Furen! Aku memanggilmu, Furen!" Batin Lim.

Sementara itu, kini Furen tengah tidur pulas akibat  kelelahan berlatih pedang, dia tidur dengan memeluk Casn yang juga masih lelap.

"Lim?" Furen membuka matanya pelan, dia merasa ada yang terdengar di dalam hatinya.

"Ajak aku bersamamu sekarang, aku dan Martin dalam bahaya besar!" Seru Lim dalam hati.

"DWAR!" Tembakan besar meledak di depan jalur Martin.

Ada jet menembak dari langit mengejar mobil yang dipacu oleh Martin.

"Sial!" Martin mengelak dan terus melaju.

Martin tau bahwasanya Neo Viva adalah tempat metro politan dengan jalur berkendara yang memiliki banyak terowongan dan jembatan yang berkelok-kelok memasuki lajur lain karena di tata sedemikian rupa sebagai tempat hiburan warga kaya.

Karena itu Martin sengaja mengulur waktu, tapi jika dihadang dari lawan arah maka tamat lah riwayat mereka. Selain kini nyawa mereka bergantung kepada bahan bakar mobil dan kekuatan mobil, Martin juga pasang taruhan bahwa warga dan aparat Neo Viva sekarang kemungkinan besar lebih banyak yang memberontak, dengan kata lain tidak akan ada aparat yang mengejar mereka tepat waktu. Pemerintah harus memanggil bawahan dari luar jika ingin menangkap Martin.

Martin sepertinya sekarang mendapatkan ide, dia menuju sebuah terowongan bawah tanah tempat biasanya para anak orang kaya berkumpul untuk bersenang-senang di malam hari. Martin segera melaju ke alamat itu. Sementara jet di langit berputar-putar mencari personil yang bisa diarahkan oleh pemerintah. Dan sesuai dugaan Martin, tempat itu sunyi. Yang tersisa hanya warga pemberontak dan justru jet itu mendapatkan oleh-oleh bazoka dari warga sipil dan aparat pemberontah di jalan atas.

Martin mulai memelankan lajunya saat hampir sampai hingga akhirnya deru suara bising knalpot mobil beristirahat dengan dipadamkannya mesin mobil. Martib keluar dari mobil disusul Lim.

"Martin! Ini berbahaya!" Lim berdebar-debar.

"Apa kata Furen? Kau mencapai frekuensinya tidak?" Martin menyalakan rokok dan menghisapnya dalam-dalam dengan tenang namun sambil waspada melihat seluruh area jalan di terowongan bawah tanah itu.

"Katanya dia menuju ke mari..." Hela Lim.

"Eum!" Angguk Martin mantap.

"Aku datang..." Suara lembut Furen.

Lim mengembangkan senyum lebar dan berlari memeluk Furen yang tiba-tiba muncul. Martin berjalan tenang menuju Furen.

"Awas!" Teriak Furen.

Terlihat di depan mata Furen, di belakang Martin sedang melesat roket bom yang meluncur menuju mereka. Martin menoleh ke belakang dan berlari menuju Furen. Furen dengan tenang mengulurkan tangannya kepada Martin dan...

"Pshyuu...!!" Roket itu meluncur mendekati Martin.

Sensornya merasakan bahwa adanya radius target yang sudah mencapai titik hampir nol dan...

"Darr!!!" Meledak dasyat sampai terowongan itu pecah hebat.

Dalam detik itu Martin telah menyentuh jari Furen dan langsung terhisap ke dalam dimensi beku.

"Kau baik saja?" Furen terbelalak sambil menahan nafas.

"..." Martin mengangguk, mulutnya menganga sampai rokoknya jatuh ke tanah berumput di bawahnya, matanya tak mau melepaskan pandangan Furen.

"Itu tadi hampir saja.." Furen tersenyum tipis.

"Oh astaga..." Lutut Martin jatuh ke tanah berkarpetkan rumput basah oleh embun.

Martin bernafas sedalam mungkin mengusap wajahnya dan meraih tangan Furen untuk berdiri.

Lim menangis dalam pelukan Furen yang belum dilepaskannya karena trauma.

"Ikut aku dan jangan lepaskan aku, jangan menoleh kemana pun dan jangan memejamkan mata, jangan mengeluarkan suara... Lihat saja aku..." Furen berbalik badan.

Lim dan Martin berpegangan tangan sementara tangan yang lain memegang  baju bagian belakang milik Furen.

Furen berjalan pelan, dan di sekitar mulai terasa aneh.

Tempat yang awalnya terang menjadi semakin gelap dan menghitam sampai tak bisa melihat apa-apa. Baju putih Furen pun sampai tak terlihat lagi, benar-benar gelap bahkan semakin tidak ada oksigen untuk bernafas.

Mulai terdengar suara-suara aneh dan mengerikan, teriakan-teriakan yang menyayat hati.

"Tolong! Jangan tinggalkan aku di sini!"

"Hentikan!"

"Aku disiksa di sini, tolong aku!"

"Tidak!"

"Ampuni aku!"

"Tolong aku!"

"Hahahaha!"

"Manusia terkutuk!"

"Kalian akan mati dan akan kembali ke sini!"

"Kalian manusia laknat!"

"Hatimu sudah penuh dosa! Hahaaha!"

Suara-suara penyiksaan seperti suara cemeti yang menyambuk-nyambuk mulai terdengar. Kadang ada suara bantingan besi berat disusul erangan dasyat seperti ada yang menderita olehnya. Bersahut-sahutan suara rantai terkibar dan bunyi-bunyian ledakan seperti daging yang terlalu lama dipanaskan. Suara-suara mendidih air-air kental mulai ikut berbunyi.

Suara kobaran api mulai terdengar disusul semakin panasnya suhu udara. Kini Furen berjalan pelan menyusuri kobaran api. Di mana-mana ada api. Yang awalnya api itu berwarna masih jingga, menjadi merah kehitaman kemudian menjadi ungu sampai menjadi nila dan hanya tersisa rasa panas yang luar biasa.

Lim dan Martin hampir menyerah namun karena memegang baju Furen mereka masih bisa tahan dengan ujian itu semua.

Hingga akhirnya mereka melewati tempat gelap dan hitam tanpa ada penerangan, sedikit agak lama mereka akhirnya menyusuri titik terang dan semakin terang dan benderang, ternyata mereka kini melewati gunung salju yang tengah badai. Tempat terlampau sejuk itu seperti hampa tidak ada apa pun selain rasa dingin yang menusuk tulang.

Dingin sekali sampai menggigil, Lim dan Martin tidak berani melirik satu sama lain, mereka terus bergandegan tangan saling menguatkan hingga Furen berjalan membawa mereka kembali ke tempat remang dan sampai lah ke tempat hitam kembali. Di sana kembali mereka sulit untuk bernafas dan akhirnya sampai lah mereka di tempat lain.

Kaki Lim dan Martin menginjak pasir yang digenangi oleh air sejuk. Mereka menggigil dan sempat beberapa kali kesulitan untuk bertahan memegang baju Furen. Hingga mereka melepaskan gandengannya untuk kedua tangan agar bisa memegang baju Furen dengan kesulitan bernafas.

Maka sampai lah mereka ke sebuah tempat gelap lagi dan disusul hitam pekat yang mencekik paru-paru mereka. Di sana agak lama akhirnya ada angin berhembus namun masih gelap.

Maka sampai lah mereka di depan sebuah penjara besar. Di balik penjara itu ada sosok raksasa mengerikan. Darah mengucur dari taring-taring tajam mahluk itu. Lim dan Martin tidak berani melirik mahluk itu, mereka tetap melihat belakang kepala Furen.

Martin kembali menggandeng Lim. Mereka tau selama mereka menyentuh baju Furen mereka akan aman. Seolah mahluk itu hanya akan melihat Furen.

Furen membuka gerbang penjara raksasa itu dan berjalan memasuki penjara itu, seketika besi jeruji penjara itu terbanting dasyat.

"Krang!"

Furen kembali berjalan ke tempat gelap dan baunya busuk sekali, sangat anyir. Lim dan Martin sampai pusing menahannya. Namun tiba-tiba tangan Furen menyentuh tangan Martin dan Lim degan melingkarkan lengannya ke belakang karena tahu bahwa kedua temannya itu sudah tidak sanggup.

"Tetap di belakangku!" Bisik Furen.

Lim dan Martin mengangguk.

mereka melewati jasad-jasad bayi yang berserakan di mana-mana. Ada yang kepalanya putus, ada yang berurai ususnya dan lain-lain. Ada yang bayi ditusukkan ke tombak bahkan dirantai digantung. Lim mulai meneteskan air mata.

Sebab bagaimana pun juga pemandangan itu tetap terlihat dari arah depan Furen meski matanya tetap melihat kepala bagian belakang pemuda pirang bermata hijau dan biru itu.

Dan akhirnya terowongan penuh api dan darah juga alat-alat penyiksaan bayi itu terlewati, mereka menuju sebuah tempat aneh lain yang penuh dengan tikus busuk. Di depan mereka ada pintu kayu besar.

Furen melepas tangan Martin dan Lim, sementara kedua teman Furen itu tetap memegang baju Furen. Furen mendorong pintu itu dan membawa mereka keluar. Kini mereka ada di tengah keramaian kota Mecca.

"Kalian bebas!" Kata Furen santai.

Lim dan Martin akhirnya bisa saling melirik lalu pelan-pelan mengedarkan pandangan ke sekeliling mereka.

"Lepaskan aku.." Furen berkata ramah.

Lim dan Martin seolah trauma, mereka melepaskan baju Furen pelan-pelan dengan penuh keraguan.

Furen berbalik badan dan tersenyum hangat, ia melihat wajah dua temannya itu sudah sangat pucat seperti mayat.

Dengan masih tersenyum, dia merangkul bahu mereka.

"Yang aku heran, kau tadi berambut pirang sekarang kau berambut hitam dan kau memakai baju panjang seperti gaun ini..." Martin membenahi kaca matanya.

"Aku sekarang menjadi tuan di Arab. Kalian akan menyusul... Ayo kita ke toko pakaian, selamat datang di Arab..." Furen mengajak mereka berjalan.

"Perjalanan yang sangat menakutkan, Furen.." Bisik Lim.

"Yah, itu lah tempat kita kelak setelah mati..." Furen berbicara seolah itu bukan masalah.

Martin merinding begitu pula Lim.

Mereka pun berbelanja sesampainya di toko pakaian, Lim berbusana dengan tabir hijabnya dan Martin berbusana seperti Furen.

"Tutup kepala ini perlu kah?" Kata Martin yang sudah fitting.

"Itu keren di sini, sorban!" Jawab Furen.

"Aku terlihat lebih cantik" Lim mengaca dan masih heran dengan parasnya sendiri.

"Ya, selalu gunakan itu di sini!" Pesan Furen, Lim mengangguk pelan tanpa berkedip melihat dirinya sendiri yang menurutnya menjadi lebih feminin.

Setelah bergegas ke kasir dan membayar, mereka menuju tempat Furen memarkir mobilnya dan menuju rumah kediaman Aman.

Di sana Rhyno menyambut mereka bertiga dengan perasaan lega. Sementara Aman menyimak sambil menjamukan makanan dibantu para pelayan. Kini Aman di berikan rumah yang nyaman untuk ditinggali, raja Arab memberikannya perlakuan khusus.

"Rhyno!" Peluk Lim menangis.

"Saudaraku!" Revo memeluk Martin erat disusul Save, Ben dan Qio.

"Bro! Aku hampir tamat, bukan oleh orang Zyo S tapi akibat berjalan dengan Furen, astaga!" Martin menangis untuk pertama kalinya.

"Semengerikan itu kah berteleportasi?" Rhyno jadi penasaran, Martin hanya bisa mengangguk.

Ketika Rhyno memandang wajah Furen, pemuda sultan itu hanya terkekeh sambil membuang muka dan berjalan menuju Raick dan Traven.

"Salam... Semoga kalian selamat!" Adam menyambut.

"Ah.. salam..." Jawab Martin dan Lim membenarkan duduk mereka seperti yang lain.

"Mereka ini seangkat perjuangan dengan kami dan kami tinggalkan di Zyo S..." Jelas Rhyno.

Martin membenarkan kacamatanya, "saya Martin"

"Dan saya Lim" susul mata tajam yang kini berhijab.

"Saya Adam" ramah sang tuan rumah yang sudah hidup bersama remaja Zyo S selama sebulan untuk bersiap adu pedang dengan Eden yang hebat sambil menunggul Messiah muncul ketika bulan purnama esok.

"Jadi bagaimana sekarang kondisi di Zyo S?" Rhyno mempersilahkan Martin dan Lim untuk duduk dan minum apa yang di hadapan mereka.

"Kacau sekali... Kami berhasil menyadarkan pikiran alam bawah sadar penduduk Zyo S dan akhirnya mereka rata-rata memerangi pemerintah..." Jelas Martin setelah meneguk jamuan.

"Kini kami buronan sebab mereka sudah mengetahui wajah kami..." Lim pun lepas meneguk minumannya.

"Kalian tadi itu bersamaku sedang melewati dimensi waktu beku.." jelas Furen.

Yang lain menyimak penjelasan Furen karena pasti ada hubungannya dengan topik kali ini.

"Namun berjalan plot mundur, itu lah masa depan yang akan terjadi di sini, dimulai dari sekarang!" Furen serius.

Lim dan Martin terbelalak. Semua orang menyimak.

"Di Arab ini akan segera turun salju dan saat itu terjadi akan banyak penumbalan bayi untuk seekor mahluk mematikan yang punya kekuatan sihir dasyat untuk melawan ilmu putih yang ada di sini..." Furen menoleh kepada Aman.

Lim menutup mulutnya dengan tangan karena syok.

"Kalian harus tahu bahwa mahluk ini memakan jiwa anak-anak agar bisa memperoleh kekuatan jiwa yang luar biasa... Seolah bisa menghidupkan mayat dan membuat fatamorgana yang dasyat!" Jelas Furen dengan pandangan mata tajam.

"Dan aku ditunjuk untuk membunuhnya," sambung Adam, Furen mengangguk.

"Kita akan melawan orang-orang yang akan membawa pedang untuk memakan jantung kita karena itu kita berlatih pedang di sini selama sebulan sebelum menghadap Eden..." Furen memandang Martin dan Lim dengan tegas.

"Aku akan bantu kalian agar punya identitas baru di Arab, tunggu!" Ben mengambil laptop untuk menghubungi kru milik Cethoper Ali di Luksemburg agar mengganti identitas Martin dan Lim setelah mendengar penjelasan Furen. Furen mengangguk menyetujui langkah inisiatif Ben.

Mata Rhyno menerawang dia berusaha mencari titik cacat dalam langkah mereka supaya bisa mengantisipasi di masa depan.

"Aku merasa janggal tapi apa ya?" Gumam Rhyno.

"Bloom?" Furen menoleh kepada ketua timnya.

"Bloom" sambut Rhyno si ketua tim.

"Ya, Bloom seharusnya sekarang sedang sudah di hadapan Eden, dan membawanya ke anti christ!" Furen mengangkat kedua alisnya.

"Bukannya Eden itu si anti christ?" Helena heran.

"Bukan! Dia wadah yang akan dirasukinya..." Papar Furen singkat.

"Dan hanya Bloom yang tahu karena dia adalah tumbal yang harus dimakan si dajjal itu supaya kekuatan sihir the one eye sempurna seratus persen..." Furen memasang muka sangat serius.

No comments:

Post a Comment

Bab 22: Tidak Banyak Bicara

 Rhyno akhirnya merenung setelah perkumpulan di kediaman Aman selesai. Semua pemuda Zyo S akhirnya berkumpul untuk merundingkan rencana. Mer...