Wednesday, February 12, 2025

Bab 2: Key Fordann si Albino Bermata Ungu

 “Aku senang jika ternyata akhirnya aku bisa bekerjasama dengan nona Rhyno dalam masalah ini... aku merasa hutang budiku kepada nona terbalaskan.” Furen tersenyum sambil mengambil lembaran-lembaran yang tadi pagi Riff berikan padanya.

Furen menyodorkannya ke Rhyno. Dan Rhyno mengambilnya.

“Beberapa anak militer bersekolah disini, artinya pengidap penyakit sepertiku ada juga, karena kau adalah anak mendiang Jendral dan aku anak dari cicit seorang Chamazello... maka pasti  Robert Jullio adalah target yang harus kita tanyai selanjutnya…” Furen menjelaskan sementara Rhyno menganalisa.

“Kau selangkah lebih gesit ternyata.. Furen…”

Rhyno tersenyum ringan.

Furen tersipu.

“Sayangnya hanya kau dan aku... bisa aku pastikan…” Rhyno tersenyum yakin.

“Euh?...”

“Karena Jullio bukan keturunan pahlawan seperti kakek buyut kita berdua..." Jelas Rhyno.

“!!..

Begitu ternyata… nona Rhyno bisa langsung tepat sasaran..” Furen tersipu kembali.

“Kau bisa mengutus anak buahmu ke rumahku, akan kukurirkan pesanku padamu... via online terlalu berbahaya..” Rhyno bangkit dari duduknya.

Key yang ada di luar langsung balik badan membelakangi pintu.

“Kirimkan yang paling setia padaku…” Tambah Rhyno saat melewati Furen.

“Baik..!..” Furen tersenyum.

Rhyno berjalan menjauhi tempat itu dan menuju ke gedung sekolahan yang mereka tempati untuk belajar. Mata Key mengekori punggung Rhyno.

“Key... aku ada urusan dengan dia, pergilah ke rumah nona Rhyno setelah sekolah... ada pesan darinya yang harus kamu antar kepadaku, perlakukan semua darinya secara khusus ya!...”

Furen datang menepuk bahu Key.

Key mengangguk.

Raick dan Traven tenggelam dalam fikirannya masing-masing melewati sosok Key. Riff melongo ke dalam ruangan.

“Wah snack-nya masih belum habis semua…” Sahutnya dari dalam ruangan.

“Habiskaan!!...”  Nick ikutan masuk.

Key berjalan di belakang Raick dan Traven.

“Kenapa orang seperti tuan muda bisa memiliki kemistri pada nona Rhyno? Apakah mereka saling terikat? Dan apakah pemerintah sudah merencanakan kelahiran sampai kematian mereka berdua?” Desis Key.

“Apa Key?...” Raick menoleh.

“Tidak ada…” Key menjawab dengan pelan.

“Oh.. Jadi kau yang namanya Key yach...” Rhyno membuka pintu hotelnya.

“…” Key mengangguk.

“Ayo cepat masuk!”  Rhyno memasang muka sangat bersemangat dan ramah.

“…” Key mengedarkan pandangan ke kamar hotel.

“Key! Duduklah!..” Raut ekspresi Rhyno tiba-tiba berubah.

“Di luar banyak CCTV dan sebentar lagi tempat tinggalku akan dipindahkan ke mansion milik ayahku, ini sangat mendadak, aku sudah menyalin foto album yang aku rasa harus dilihat Furen secepatnya... bisa saja apapun terjadi padaku, kapan saja…”

Rhyno menusuk mata Key dengan serius dia menyodorkan berkas yang teramplopi dan diterima Key.

“…” Key mengangguk. Matanya menyelami pandangan Rhyno.

“Apa kau bisa bermimpi dan berimajinasi?.. Key..” Rhyno melemaskan bahunya.

“Tidak.” Key singkat.

“!!!...” Rhyno agak tercengang.

“Ah.. kamu punya sejarah sebagai cucu pahlawan Negara ini?...” Rhyno.

“Tidak.” Muka Key sangat datar.

“Hmhm….”

Rhyno mengisyaratkan Key untuk mendekat padanya.

Key mendekatkan diri padanya, entah mengapa ada perasaan agak canggung. Biasanya Key tidak pernah memiliki hal seperti itu.

Rhyno memeluk Key agak lama. Key sedikit shocked, dan ikut penasaran dengan hal apa yang akan terjadi.

“Furen benar…”

“...?"

“Aku juga bisa merasakan hanya sebatas perasaan dan tak tergambarkan oleh satu kata pun… tapi.. aku merasakan koneksi denganmuKey!" Rhyno menganalisa.

“!!!

Nona?...” Key tercengang.

“Aneh juga jika orang seperti Furen membiayai sekolahmu, aku sudah dengar hal itu..” Rhyno tersenyum tipis.

“Itu karena Furen merasakan koneksi darimu…” Tambahnya.

“….?.” Key tidak melepaskan pandangannya dari Rhyno.

“Kau akan segera tahu saat terus bersama kami…”

“…” Key mengangguk.

“Key.. apa kau kadang merasakan hal menyakitkan pada dirimu? Seperti tiba-tiba gempa bumi besar sedang terjadi sehingga tubuhmu ketakutan dan bergemetar dengan sendirinya...” Rhyno masih penasaran.

“Tidak.” Key menggeleng dengan tatapan heran.

“Ah?...” Rhyno heran.

“Aku tidak sama dengan kalian jika tentang penderitaan itu...” Key.

“Yah... kau benar... kau tidak menderita... tapi kau tidak bermimpi, aku masih bisa merasakan emosi mengalir dalam darahku... tetapi itu hanya terjadi jika berkaitan dengan Gia..” Rhyno duduk di sofa.

"Aku juga tidak punya emosi seperti suka atau benci, aku tidak punya rasa takut" aku Key.

"?..."

“….” Key memandangi Rhyno.

“Serangan sakit itu mungkin yang dialami oleh Furen karena itu dia ingin agar Traven dan Raick baik-baik saja…” tambah Key.

“Kau dan Gia.

Mungkin karena mereka adalah penyayang kalian, mereka yang membantu kalian menenangkan diri selama ini.

Perasaan mereka yang terhubung pada kalian…” Key mencoba menawarkan kesimpulan pribadinya.

“Kau benar…” Rhyno memegangi dagunya.

“Bagaimana denganmu Key?...” Rhyno memandang ke Key.

“Aku tidak pernah punya emosi kepada siapapun tapi punya keinginan untuk bertemu seseorang yang kurindukan dan aku yakin dia akan menemuiku...” Key membuang muka.

“!!!... kau kenapa?...” Rhyno menerka.

“Percaya lah nona.. orang yang aku anggap berharga hanya adikku dan dia tidak pernah mentransferkan perasaannya padaku.” Key menusuk mata Rhyno dengan sinis.

“Hm..” Rhyno berdiri menghampiri Key.

“Jika kau butuh aku, datanglah dan jika kau ingin mengabariku sesuatu datang lah!" Rhyno mendorong Key keluar kamar hotelnya.

Lalu cepat menutup pintu setelah Key keluar.

“….”

Key melihat pintu kemudian berjalan cepat menuju lift untuk cepat berangkat ke kediaman Chamazello.

ヾ( ・`⌓´・)ノ゙

Di kediaman Chamazello, akhirnya Key sudah tiba. Furen menyambutnya dengan hangat di ruang belajar bersama para saudaranya.

“Nona Rhyno sangat cerdas..”

Furen tersenyum melihat copy foto yang di tangannya.

“Aku bisa merasakan energinya dari menyentuh kertas ini” Gumamnya.

“Apa itu Furen?...” Raick penasaran.

“Dia memberikan nomor para setiap figure dan kemudian menerakan nomor telfon selularnya di lembaran ini," Furen tersenyum tipis.

“Benarkah?...” Raick antusias.

Traven duduk di sofa, menenangkan pikirannya. Masih belum terima kenyataan tadi di sekolah. Malam ini semakin dingin baginya jika memikirkan tadi siang.

“Nomor tiga..” Furen merespon Raick dengan senyum tipis.

“Kau bisa pulang Key, terima kasih yach..!.” Furen tersenyum hangat.

“…”

Key mengangguk lalu pulang, adiknya bernama Helena pasti sudah menunggu kepulangan Key sedari tadi sore sepulang sekolah bersama kakeknya di rumah.

Sementara itu di kamar hotel, Rhyno menerima SMS dari Furen.

“Nomor tiga yach… Itu badan pengembangan intuisi negara.. mereka pelakunya.. mereka yang menyuntikkan cairan kimia tersebut ke anak-anak sepertiku dan Furen?!” Mata Rhyno tercengang.

“Eh.. nyonya Rhyno!! Dia bekerja di lembaga itu bersama ibu dan ayahku kan nona?...”

Gia menjambak lengan baju piyama Rhyno.

“...?”

Rhyno mengangguk, matanya tidak bergeming membaca SMS Furen.

“Itu tandanya orang tuaku sendiri yang justru juga menjadikanku tikus mereka, nasibku sama dengan Furen…” pikir Rhyno.

“Nona harus ber-positive thinking! Pasti ada maksud dibalik ini semua!...” Gia mulai cemas pada kesadaran Rhyno lalu sigap memeluk Rhyno.

“Aku ada selalu  untuk nona Rhyno dimana pun dan kemana pun…” Gia mengelus lengan Rhyno.

“….?” Rhyno berpikiran kacau dia tidak bisa melakukan apa pun.

ヽ(≧Д≦)ノ

“Bip bip bip……..” Dering ponsel Furen terdengar lagi.

‘Aku ingin tahu dimana alamat rumah Key!’ Isi pesan pendek elektronik itu dari Rhyno.

‘St. Erbegy dua belas, Blok tujuh, Nomor rumah delapan belas nona : - )’ Balas Furain tak lama kemudian.

ヽ(≧Д≦)ノ

“Jalan ini… perkampungan bawah?...” Rhyno mengeratkan giginya.

“Euh…” Gia hampir pulas dipangkuan Rhyno.

“Gia ayo kita pergi!...” Rhyno mengangkat bahu Gia.

“Iya….”

Gia yang sedang mengenakan kemeja tipis tanpa pakaian dalam itu mengucek matanya dengan malas.

Rhyno berdiri sigap memakai jaket kulitnya, Gia kelabakan memakai pakaian dalam dan  jaket hangatnya.

“Nona Rhyno! Tunggu!...” Gia berlari membuka pintu sebelum Rhyno menguncinya dari luar.

Rhyno tidak paham kenapa muncul keinginan bertemu Key sekarang juga. Karena pikirannya sudah sesak, dia memutuskan ke rumah Key secepat mungkin.

┗(`皿´)┛

Setelah mobil Rhyno sampai di depan halaman rumah Key. Rhyno agak kaget saat melihat banyak mobil hitam terparkir.

“Siapa Key ini?...” Rhyno menuruni mobil.

“Aargh! Jangaan!!!” Suara teriakan dari dalam rumah, sepertinya suara perempuan muda.

Rhyno shocked mendapati itu kemudian berlari ke  dalam rumah.

“Gia kau tunggu saja di mobil!" Teriak Rhyno sambil bergegas masuk rumah.

“…?”

Gia mengangguk lalu memejamkan mata sambil bersandar di seat samping sopir untuk melanjutkan malas-malasan, dia merasakan sesuatu dari dalam dadanya. Gia menggigit bibir dan mendesah pelan.

‘Nanti dech di dalam rumah… aduh jangan sekarang… ngga lucu deh’ Gia merasa semakin hangat.

Sementara itu di dalam rumah Key.

“!!!...”

Mata Rhyno terbelalak melihat seorang kakek tua tengah di lantai dipeluk seorang gadis muda dan Key berusaha menahan pistol yang akan ditodongkan ke kakek tua itu.

Key melihat Rhyno sambil terus melakukan perlawanan.

“ADA APA INI?!” Bentak Rhyno.

“Hergh!!... Siapa lagi datang ini?!” Orang berkacamata hitam menodongkan pistol yang ditahan Key menyeringai.

“Hutangmu bukan kepada majikanku saja yach! Kakek bau tanah!.. Hahaha! Nyawamu kini di tangan kami!!!" Lanjutnya.

Dua orang lainnya yang tersungkur ke lantai kembali bangkit untuk menahan lengan Key. Key menendangnya sekuat tenaga, mereka terjatuh.

“Pergilah nona! Pria tua Bangka ini tidak akan memberikanmu sepeser pun! Kali ini kami akan menghabisinya segera di tempat ini! Hahaha!” Orang itu menarik pelatuknya.

“Hutang?!” Rhyno merasakan amarah di dadanya tiba-tiba bisa meledak tanpa ia sadari.

“Ya… dia berhutang delapan ratus Paz Efron ke tuan Sinner!.. Kau kenal pada mafia itu kan?!!" Ledeknya semena-mena.

Rhyno melangkah ke arah pria itu, Key melihat dengan tatapan tajam. Rhyno memukul pipi pria itu sampai terjungkal, “Jduakk!!!!..”

“….?.” Key tertegun.

“Kalau kau ingin uang datang padaku! Akan aku berikan cek senilai hutang orang ini!!!..”

“Dasar anak ingusan tak tahu diri..” Pria itu mengelap bibirnya yang sobek.

Rhyno merogoh saku celananya untuk mengambil sebuah kartu elektronik untuk cek. Dia dengan cepat menulis dengan pulpen elektronik.

“Berapa hutangnya?!" Rhyno melirik tajam ke Key.

"?!” Key terbata.

“Key!!!”

“Ah!!... Seribu tujuh ratus Paz Efron.. itu bersih beserta bunganya..” Key masih shocked.

Rhyno menulis senilai itu dan melemparkan kartu cek elektronik ke muka orang itu.

“Enyah kalian dari sini!...” Rhyno mengatur nafas dengan penuh aura panas.

“Siapa kau ini?!...” Pria itu bangkit setelah mengambil kartu itu.

“Katakan pada majikanmu!... Hutang dia ditanggung anak dari jendral Xavier!!!..” Mata Rhyno menusuk pandangan dingin ke mata pria itu.

“?!!!...” Pria itu shocked.

“Ba.. baiklah... maafkan kami!...”

Pria itu secara profesional berubah ekspresi kemudian membungkukkan badan diikuti dua orang yang tadi menghajar Key lalu bersigap pergi dari rumah itu.

“Kakek!!!....”

Teriak Helena melihati kondisi dari kakeknya yang muntah darah tergeletak dilantai.

Gadis lebih muda dari Key beberapa tahun itu mengenakan baju berasesoris serba butterfly dengan rambut berwarna emasnya yang cantik.

“Terima kasih.. nona besar…”

Mata pria tua berbadan gemuk berambut putih itu melihat mata Rhyno yang tajam.

“Kakek! Bertahanlah sedikit lagi!..” Rhyno masih berdiri tegak.

Dalam militer, anak-anak dididik untuk tega saat melihat seseorang sekarat agar tidak meninggalkan misi. Ini yang membuat Rhyno menjadi angkuh saat ini meskipun kenyataannya Rhyno menahan emosi aneh di dadanya yang menguap kuat dari dalam sanubarinya.

“Aku sudah tidak sanggup lagi.. aku terkena ….. serangan.. jantung!...” kakek Key bertahan pada nafas terakhir.

“!!!...

Kakek… bertahanlah!!!” Key menopang punggung Kakeknya.

“Eugh!...” Kakek itu terbatuk.

“Bertahanlah untuk menyampaikan satu informasi rahasia terakhir kepadaku komandan!" Rhyno.

“!!!...”

Key melempar perhatian pada Rhyno, Helena tetap menangisi kakeknya.

“Siap Komandan….”

Pria tua itu tersenyum. Key tercengang melihat  ekspresi kakeknya pada Rhyno.

“Siapa kah kakek Key yang sebenarnya?..”

Rhyno menenangkan diri dengan menghunuskan pandangan matanya pada kakek itu.

Kakek itu memegangi dadanya yang semakin sakit. Tangannya yang satunya menunjuk ke muka Key. Key shocked setengah mati.

“Dia.. keturunan … dari…”

“!!!...” Key tidak bisa berkutik, dia menahan nafas.

“Mendiang…”

“….!?.” Rhyno berdebar-debar.

“Letnan…”

“!!!....” Key menahan nafas, matanya kaku melihat muka kakeknya.

“Josevic Fordann…. Hh….” Kemudian kata terakhir itu melepas nafas terakhir kakek itu.

“Kakek!!!...”  Helena berteriak sejadi-jadinya.

“!!!...

???..."

Key berdiri dan shocked matanya tidak bisa dia kendalikan, menyaksikan kenyataan yang selama ini pasti akan dia tolak.

“Dia berhasil melindungi identitasmu seumur hidupnya!...” Rhyno turut shocked.

“…”

Key meratapi keadaan kakeknya, nafasnya tersengal-sengal.

“Akhirnya misi terakhirnya akan aku teruskan Key!...” Rhyno meletakkan tangannya dengan lembut ke bahu Key.

“?!...”

Key sigap berlutut di depan Rhyno.

“Nona Rhyno!!!”

“?!.. Key!" Rhyno dan Helena terkejut.

“Aku ingin mengabdikan hidup padamu!”

“?!...”

“Atas semua yang telah kau selesaikan di ujung hidup kakekku malam ini!...”

“Ka.. kakak…?...”

Helena meneteskan air mata lalu melepaskan kakeknya dan ikut membungkukkan diri di lantai.

“KALIAN!?...”

“Aku masih terlalu kecil.. aku mohon…” Helena terisak-isak.

“Key bangun! Perintah!...” Rhyno menghela nafas.

Key berdiri diikuti Helena.

“Ada apa ini?!!....” Suara Furen terdengar.

“!!!...”

“???!!!...”

“WAH KACAU SEKALI INI!!!" Furen tercengang.

“Furen?!...” Rhyno balik badan melihat siapa yang datang.

“Aku bermaksud menjemput Key untuk ke arena dan bertarung.. dia bekerja sebagai pegulat.. tapi…”

Furen memegangi bibirnya saat melihat kakek Key yang tergeletak di lantai tak berdaya.

“Orang jahat melakukan ini pada mereka... aku akan mengurus pemakamannya secara militer... kalian siapkan saja hal lain.…” Rhyno  beranjak pergi.

“Militer?!...” Furen terkaget.

“Kakek itu adalah keluarga mendiang letnan Josevic Fordann!! Dia berhak dikebumikan secara terhormat.. itu layak.” Rhyno keluar rumah.

“Itu layak... dia sudah menyembunyikan Key selama ini.. aku harus pelajari siapa Key ini…” Rhyno masuk ke dalam mobilnya.

“Dasar kerbau…” Rhyno tersenyum melihat Gia sudah pulas.

((ヾ(≧皿≦;)ノ_))

“Tidak aku sangka.. jika ternyata Key adalah jenis lain dari kita berdua…”

Bisik Furen pada Rhyno, mereka berdiri mengenakan busana hitam di acara pemakaman formal kakek Key.

“Dugaanku benar, pasti kakeknya mantan personil militer.. hihi… keluarga Fordann memang para ksatria…”

Rhyno tersenyum puas atas kerjanya semalaman tadi tanpa istirahat untuk menghubungi markas militer dan pengabdi pemakaman masyarakat untuk merawat jasat kakek Key yang akan dikebumikan pagi ini juga, meskipun tidak ada satu pun pihak keluarga yang datang karena mereka hidup sebatang kara.

Pagi ini langit mendung memberikan pemandangan indah, cahaya emas menembus di sela-selanya.

Gravicwalken sepertinya terdiri dari beberapa jenis.. tapi aku menyimpulkan mungkin saja Key adalah hasil desain yang sudah disempurnakan…” Rhyno berdiri tegap dan berbisik tegas.

“Ah!.. bagaimana bisa?..” Furen terkedip mendengarnya.

“Karena Key tidak pernah menderita seperti kita.. entah apa kah otaknya tidak pernah bermimpi secara tak sengaja atau tiba-tiba.. atau kah.. entah karena Key berbakat imajinasi rendah…” Rhyno mengernyitkan alisnya.

“Atau saat otaknya akan bermimpi.. tapi tidak terasa indikasi sakit seperti gejala kejang yang kita alami… karena formula kimia yang disuntikkan padanya sudah disempurnakan...” Rhyno semakin menerka.

“….!" Furen tersenyum tipis.

“Albino kan? Dia bisa saja berdarah tipe negatif AB bukan? Resus istimewa...”

Rhyno melirik ke arah Key yang ada di kejauhan, berdiri dengan membawa karangan bunga putih, mukanya masih saja tanpa ekspresi yang seharusnya terlihat iba.

“Iya.. tapi Helena tidak..”

Furen melirik Helena yang berdiri di kejauhan bersama Key di hadapan banyak barisan pasukan militer yang berupacara.

“Mungkin beda ayah atau beda ibu….” Rhyno menyahut.

“…” Furen mengangguk.

“Key sejak awal memang menarik bukan... dia pun tidak punya emosi dan ekspresi normal..” Tambah Rhyno.

“Hmmhmhm…” Furen tertawa halus.

“Dia mengatakan sendiri akan mengabdikan hidupnya untukku tadi malam..” Rhyno tersenyum tipis.

“Dia memang tidak jahat Nona.. aku bisa merasakannya..” Furen tersenyum hangat.

“Sepertinya kau punya peliharaan tambahan..” Traven yang berdiri di belakang Rhyno menyindir pelan.

“Peliharaan?...”

Rhyno tidak menoleh dan mengalihkan pandangan ke depan sebelum gugup karena Traven yang berdekatan dengannya sejak tadi.

“Ada Rubah Furen dan Serigala salju Key..” Traven nyengir kuda.

“Hihihihi..” Rhyno tertawa lirih.

“…..”

Gia berdiri memegang karangan bunga putih di sisi kiri Rhyno dengan penuh rasa iba dan prihatin, menguping.

“….” Raick berdiri di belakang Furen dengan mengingat saat keluarga mereka dimakamkan dengan cara yang sama seperti ini di masalalu dan Furen belum tahu memori fakta ini.

Traven melirik ke arah Raick, dia mengusap punggung adiknya itu supaya tenang.

“Kita sudah berubah dewasa…”

Traven menenangkan. Raick mengangguk pelan membendung air mata dan uap panas di dadanya.

ヽ(`⌒´)ノ

Rhyno berdiri di atas jembatan kecil taman dekat mansion keluarga mereka malam ini. Jembatan itu dekat sebuah tiang lampu taman. Akhirnya mereka pindah ke mansion sendiri milik ayah Rhyno. Gadis itu jalan-jalan sendiri untuk mencari ketenangan karena Gia agak berisik malam ini.

“Rhyno…” terdengar suara lembut yang tegas dari arah belakang Rhyno.

“?!...” Rhyno sigap berbalik badan.

“Sedang apa kau disini Cantik?...”

Itu Qio, dia memegang sebuah payung yang masih kuncup. Dilihatnya Rhyno memakai dress piyama sendirian ditengah malam seperti ini di tempat yang berbahaya.

“Kau…” Rhyno menghadapkan diri ke arah Qio.

“Rhyno? Kau selalu ada di dekatku..” Qio menatap Rhyno dengan penuh iba karena khawatir.

“Aku juga tidak tahu, kami baru pindahan dari hotel yang kemarin karena mansion ayahku sudah selesai direnovasi...” Rhyno melihati ikan-ikan hias mahal yang berenang-renang di danau dangkal jernih buatan pemerintah.

“Rhyno…”

Qio mendekati gadis itu dan menangggalkan jaketnya kemudian menenggerkannya ke bahu Rhyno.

“Kau bisa demam... sekarang semakin dingin dan akan turun hujan lagi...” Qio dengan nada perhatian.

“Terima kasih...” Rhyno tersenyum hangat.

“Sama-sama…” Qio tersenyum tipis.

Rhyno berjalan ke sebuah bangku taman putih dan Qio mengikutinya.

“Jika kau pulang, akan aku kawal sampai depan gerbang rumahmu..” Tawar Qio.

“Belum, aku masih ingin merenung di sini... aku merasa tenang mendengarkan gemericik air….” Rhyno duduk.

“Ada gerangan apa sich?...” Qio pun meletakkan dirinya di samping Rhyno.

“Aku damai di sisimu…”

Qio tersenyum hangat, melihati bunga di hadapan mereka.

Rhyno membalasnya dengan senyum dan anggukan.

“Kenapa kau ingin menjadi seorang detektif? Kenapa tidak tentara?...” Rhyno membuka percakapan.

“Hm.. Ayahku adalah inspektur…” Qio tersenyum bangga dengan tenang.

“Selain itu.. apakah kau tidak punya urusan dan tujuan pribadi rahasia di balik itu semua?…”

Rhyno menyandarkan diri di punggung kursi panjang berwarna putih itu.

“Ada sich..” Qio menopang satu kakinya ke atas lututnya.

“Apa itu…?” Rhyno menyambut topik itu.

“Aku ingin meneliti mengapa banyak anggota kepolisian hilang dan dihilangkan kabar kematiannya…” Qio memelankan suaranya.

“….?!

Oh… begitu…”

Rhyno tersenyum tipis, sambil melirik CCTV diatas tiang lampu taman dekat beberapa pohon dari mereka.

“Aku akan bisa membantu Save mencari kenyataan tentang kematian ayahnya bahkan ibunya jika aku bisa mendapatkan posisi terpercaya di penyelidikan nantinya…” lanjut Qio.

“Hm… Karena itu kalian dekat?... ayah dan ibu Save sudah meninggal dunia?...” Rhyno tersenyum iba.

“Iya.. begitulah… masih belum ditemukan kabar apa pun mengenai ibu dan ayahnya... aku turut prihatin mengenai kisah hidup keluarganya…”

Qio mengusap keningnya turut memutar otak untuk sahabatnya itu.

“Aku rasa itu tidak akan terlalu berat jika kalian bekerja sama... aku yakin pasti bisa...” Rhyno menyemangati dengan senyum tipis.

Tiba-tiba rintik air berjatuhan dari langit.

“Ah!! Hujan!"

Qio berdiri membuka payungnya dan meneduhkannya di atas Rhyno yang terikut berdiri.

“Sudah aku bilang, pasti hujan!...” Senyum Qio.

“Hihihi antar aku pulang!...” Rhyno tersenyum ramah.

“!!!...”

Qio tersenyum  sambil mengangguk lalu memeluk Rhyno.

“!!!...”

Senyuman Rhyno bersemi dan  membalas pelukan  Qio.

ヾ(`⌒´メ)ノ″

Pagi hari di gedung parkir kendaraan siswa...

“Kakak yang payah! Selalu bangun siang!” Savy melemparkan sisir ke muka Save.

“Kau hanya bisa mengomel! Aku lapar!...” Save mematikan mesin mobil.

Kedua saudara kembar itu turun dari mobil.

Savy sengaja mewarnai rambutnya menjadi ungu agar tidak terlihat kembar dengan kakaknya sementara Save berambut cokelat emas membiarkan rambut alaminya tumbuh dengan ideal.

“Hay kalian…!!”

“!?...”

Save terkejut melihat ada yang datang tiba-tiba menghampiri depan mobil mereka.

“?!... Rhyno…?!” Save mengenali sosok itu.

“Aku punya ini untuk kalian…” Rhyno menyodorkan beberapa berkas dan Koran.

Savy mengambilnya dari tangan Rhyno dan membacanya.

“Ugh!!..” Nafas Savy tersengal. Save melirik kertas yang dibaca oleh adiknya yang sexy itu.

“Ah aku sudah tahu!..”

Save menanggapi dengan ekspresi biasa, tapi raut Savy berbeda.

“Kau sudah tahu?....” Savy shocked.

“Sekarang kau percaya padaku kan.. ayah belum meninggal.. aku yakin itu!...”

Save menunjuk ke beberapa kalimat agar savy baca ulang.

“Aku sudah baca berita ini.. Rhyno…”

Save menusuk mata Rhyno yang tenang.

“Bagaimana bisa ayah masih hidup…”

Savy menutup mulutnya dengan tangan.

“Karena itulah aku sering keluar rumah untuk memastikan! Dan tidak pulang berhari-hari... karena aku ke kota bawah, disana banyak sekali penghalang dan untuk itu tidak mudah…” Save melipat lengan.

“Kakak…” Savy menenangkan diri.

“Dari mana kau bisa tahu jika kami membutuhkan informasi ini?...” Save dengan tenang menatap Rhyno.

“Aku dan Qio memihakmu... aku punya kasus dan tiba-tiba saja aku yakin itu terkait kehilangannya ayahmu…” Rhyno berkata dengan serius.

“Uhm?…” Save mulai tertarik.

“Kasus apa yang terakhir ayahmu tangani sebenarnya?...”

“Mungkin kasus Alien…” Muka Save manyun sambil berfikir.

“$%^&*!!!!!!!!? Tolol…” Meh face Rhyno.

“Pokoknya kasus yang aneh... berkaitan dengan kematian seorang anak muda yang penyebabnya sangat misterius... itu yang terakhir aku dengar dari mantan polisi di kota bawah yang sudah tidak mau menampakkan dirinya... dia teman baik ayahku…” Save menurunkan lengannya.

“Kau… sejauh itu mencari tahu..” Mata Savy berkaca-kaca tidak menyangka, kakaknya yang sangat berandalan ternyata begitu peduli pada ayah mereka.

“Anehnya...” Suara Save barusan membuat bulu kuduk Rhyno berdiri.

“Polisi pun memburu paman itu..” Bisik Save ke udara.

“!!!...” Rhyno merinding sejadi-jadinya.

“Save!!!...” Rhyno  bisa merasakan emosi asing secara tiba-tiba.

“Ada apa Rhyno?...”

Save melihat perubahan cuaca di muka Rhyno Nampak menghawatirkan.

“Kau harus membawa aku ke tempat paman itu sebelum dia terbunuh..”

Rhyno berkata lirih sambil menggosok-gosok lengannya yang merinding.

“Aku mengerti… kau juga meneliti kasus itu bukan?... kita bekerja sama...”

Save melihati Rhyno yang semakin bermuka pucat.

“Kau baik-baik saja?"

Savy menelengkan kepala mengamati muka Rhyno.

“Aku merasakan atmosfer aneh dari cerita Save barusan…”

Rhyno menggosok-gosok lengannya lebih cepat.

“Kau… sebaiknya kita ke kelas.. mungkin disini ada hantunya..” Save meraih lengan Rhyno lalu menggelandangnya pergi. Savy mengekori Save.

"Apa itu hantu?" Gumam Rhyno.

\(~_____~)/

“Akhir-akhir ini kau tidak pernah punya waktu untukku yach, Honey..”

Gina merajuk kain seragam di punggung Furen.

Mereka berdua berdiri di atap gedung sekolah yang datar, tempat itu digunakan untuk belajar sains sesekali, ada deretan tempat duduk beton di sana.

“Maafkan aku, kesibukan yang memaksaku…” Furen bernada pelan.

“Aku sangat kesepian…” Gina memeluk pinggang Furen.

Furen menyentuh tangan Gina yang melingkarinya dari belakang, sambil menikmati pemandangan luas halaman sekolah di hadapannya.

“Sayang... percaya lah padaku.. aku hanya butuh waktu untuk menyelesaikan ini semua sebelum hal fatal menimpaku…”

Furen melepaskan pelukan Gina lalu berbalik badan untuk mencium keningnya, dia mempelajari sebutan dan gerakan ini semua dari opera sabun yang sering ditontong Demi. Furen bahkan tidak tahu perasaannya sendiri terhadap Gina. Dia menerima kehadiran Gina di hidupnya karena tidak mau melihat seorang perempuan yang menyukainya berwajah pundung. Furen ingin terlihat wajar atau normal di hadapan orang lain.

Artis muda baru yang langsung naik daun setelah membintangi sebuah drama romantis itu mengangguk dengan pipi yang memerah.

“Kau tidak selingkuh kan?...” Mata Gina berkaca-kaca.

“Aku malas untuk melakukan hal murahan seperti itu..” Furen tersenyum hangat.

“Iya…” Gina memeluk Furen.

“Aku melihatmu akhir-akhir ini sibuk dengan Rhyno.. kenapa bukan dengan aku?...”

Gina mempererat pelukannya.

“Dia menyelamatkanku berkali-kali... aku harus melakukan penyelesaian suatu hal bekerjasama dengannya... karena itu menyangkut aku juga... tapi hubunganku dan dia hanya sebatas seperti senior dengan junior koq…”

Furen meyakinkan hati tunangannya itu agar tidak curiga pada Rhyno lagi.

“Aku pegang kata-kata pangeranku…” Gina meneteskan air mata.

“Aku tidak akan menghianatimu...”

Furen menghapus air mata itu dengan tangannya, Furen tidak suka melihat orang menangis dan menjadikan dia sebagai alasannya.

“Rhyno mungkin punya banyak informasi untuk membantumu karena dia suka berkeliaran... tapi aku juga bisa membantumu jika kamu mau…”

Gina memaksakan diri untuk tersenyum.

“…” Furen tersenyum tipis lalu mencium kening Gina dengan lembut.

“…” Gina menenangkan diri.

“Ayo kita kembali ke kelas…” Furen merangkul bahu Gina dan mengawalnya menuruni tangga.

(●´ω`●)

Di kelas seusai jam pelajaran umum adalah subjek jurusan profesional. Peserta didik berpisah dari ruangan umum menuju ke kelas jurusan profesi masing-masing.

Kebetulan, Rhyno dan Furen mengambil jurusan profesional yang sama, sosial kenegaraan. Di kelas ini mereka yang berasal dari kelas A akan berbaur dengan siswa kelas B, C, D, E, F, G, H, I dan J. Karena Furen dan Rhyno saja yang berasal dari kelas A, maka mereka duduk sebangku.

“Nona Rhyno…” Furen menyiapkan alat belajarnya.

“Ya”

Rhyno pun menyiapkan notebook-nya.

“Ada kabar baru?”

Furen menyandarkan diri di punggung kursi.

“Ada... Nanti kau temani aku pergi ke kota bawah bersama Save... ada informasi tambahan…” Rhyno menadakan lirih.

“Siap…” Furen tersenyum.

“Bukankah kau tidak bisa kemana-mana?...” Rhyno menegur.

“Akan kusahakan jika itu perintahmu, di samping itu ayahku sedang ke luar negeri... para pegawainya diajak.. aku sedikit bebas bergerak” Furen menghela nafas.

“Soalnya info kali ini sepertinya sangat terikat dengan masalah Gravicwalken…”

Rhyno berbisik sambil menutup mulutnya dengan sampul buku bacaan.

Furen mengangguk dengan ramah.

(ノ◕ヮ◕)ノ*:・゚✧

”Masih jauh lagi yach?..”

Furen cemas sambil melihat mobil Rhyno yang melaju di depannya mengekori mobil Save menuju kota bawah.

Itu artinya mereka keluar dari daerah metropolitan dan disana dihuni masyarakat ekonomi kelas menengah ke bawah.

“Di sini banyak kriminalitas, kita harus hati-hati... jangan sampai melanggar hukum..”

Raick menyetir dengan waspada.

Tiga unit mobil hybrid bertenaga air itu kini sampai di sebuah daerah yang kumuh, banyak asap polusi dan pejalan kaki yang tidak tertib berlalu-lalang di tengah jalanan.

Save memarkirkan mobilnya di dalam gedung parkir umum, disusul Rhyno dan Raick.

“Parah sekali kota ini...” Furen tersenyum tegang.

“Tenang lah tuan muda... kau aman bersama kami...” Rhyno berjalan keluar mengikuti Save.

“Ada Save kan..” Raick menghela nafas.

“Aku sengaja memarkirkan mobil di sini karena kota seperti dikerumuni serangga... hati-hati pencopet... banyak yang gila mencari uang dan nekat menabrakkan diri ke mobil yang lewat... itu alasanku... kalian bahkan bebas memukuli orang dan menuduh pencuri di sini... polisi tidak mempedulikan tempat ini lagi..” Save terus berjalan sambil menyalakan seputung rokok.

Savy untuk pertama kalinya berjalan di samping Save dengan merangkul lengan pemuda bengal itu.

“Aku akan melindungimu...” Senyum tengil Save pada adiknya.

“Hihi…” Savy memperlihatkan giginya dengan manis.

“Kau setiap hari ke tempat seperti ini yach..?” Savy penasaran.

“Iya lah.. balapan liar itu asyik juga…” Save menghisap rokoknya.

“Ah?... Balapan liar itu seperti apa?...”

Savy masih polos, yang dia tahu hanya fashion dan audisi keartisan.

Tiba-tiba ada pemuda menyenggol payudara Gia dengan sikunya.

“Ahrg!!..” Gia berteriak.

“ADA APA!!?..” Rhyno shocked.

Gia menunjuk pria yang berlari mendahului mereka.

“Ayo kita hajar!” Save bersorak.

“Biarkan saja!” Rhyno menyela.

Padahal sorakkan itu akan disambut penuh semangat oleh Furen bersaudara.

“Yah….” Save menghela nafas.

“Hahaha…” Raick  berkacak pinggang.

“Berjalan di kiriku!..” Rhyno meraih lengan Gia.

“Kita mau kemana sih oy?!...” Raick membuka bungkus permen karet.

“Sebentar lagi…” Save terus berjalan.

“Ya ampun.. becek.. bau ikan…” Savy menutup mulutnya.

“Ini namanya pasar tradisional..”

Save merangkul pinggang Savy agar tidak di goda pria di pasar.

Traven mendekati Rhyno dan berjalan di sisi kanannya sementara Raick di sisi paling kiri di sebelah Furen.

“Ya.. wanita disini sering di lecehkan..!! hati-hati!”

Save melambaikan tangan dan tidak berbalik, dia tetap berjalan paling depan.

Kota Prime Crown yang mereka huni adalah kota elite  futuristic yang berfasilitas teknologi kecerdasan buatan superior dari pemerintah untuk mengapresiasi pengabdian warganya pada Negara sementara kota bawah bernama Future Bridge adalah kota berisikan warga yang malas mentertibkan diri dan memiliki kuasa otonomi sendiri. Ada beberapa sektor kota dengan tindak kriminalitas terparah yaitu di daerah yang kini para siswa Prime Revolutioner School itu sedang blusuki.

Kini mereka tiba di perkomplekan kumuh penuh dengan barang eletronik bekas yang tertata rapi dimana-mana.

“Aku jadi teringat..” Furen tersenyum.

“Hihihi…” Raick dan Traven mengedarkan pandangan.

“Hmh…” Rhyno tersenyum. Gia pun mengembangkan senyumnya.

“Kita sudah sampai!...” Save membuang rokoknya.

Kini mereka berdiri di depan pintu rongsokan dan bertuliskan ‘Tukang Jahit’.

“Tok tok tokkk!” Save mengetuk pintu.

Tak lama kemudian seorang pria sekitar lima puluh tahun berewokan membuka pintunya.

“Huw!...

Save?!...” Pria itu agak terkejut.

“Paman Will... Aku membawa orang penting yang membutuhkan informasi darimu..” Save tersenyum penuh percaya diri.

“Ew!

Masuklah kalian anak muda..”

Pria yang tengah menyelipkan cerutu di mulutnya itu memberi isyarat.

Dari luar terlihat seperti gubuk terjepit yang kecil tapi saat masuk ternyata sangat luas, ruangan di dalamnya berisi perkakas yang lumayan bersih dan rapi. Lantainya juga luas dengan sofa empuk tanpa debu.

“Aku salut..”

Furen tersenyum menyaksikan itu.

“Ada apa?! to the point saja!”

Pria dengan kaos oblong ditutupi kemeja yang tidak dikancingkan itu duduk di kursi kecil yang baru saja dia ambil.

Disusul para tamu yang duduk di sofa, sementara Gia duduk di pangkuan Rhyno, Save dan Savy berdiri.

“Mengenai kasus terakhir yang ayah Save teliti.. aku ingin tahu detailnya...”

Rhyno memulai pertanyaan tanpa basa-basi.

“Hmmm?...”

Pria itu mengedarkan pandangan ke para remaja itu.

“Siapa kalian ini?...” Asap mengepul dari mulut paman Will.

“Aku tidak bisa memberi tahu sembarangan…”

Rhyno menajamkan matanya sambil garuk-garuk dagunya.

Save yang sedang berdiri pun dilirik oleh Rhyno dengan tajam, Savy sampai merinding menyaksikannya.

“Aku tentu tidak akan buka mulut sembarangan, Rhyno... jika kematian ayahku begitu berharga bagi kepentingan publik... maka kenapa ayahku masih hidup?...”

Save tidak mau kalah tangguh, dia memandang orang-orang dengan serius.

“Hemh…”

Rhyno menghela nafas sambil melirik Furen. Paman Will mengamati.

“Aku percayakan semua pada nona Rhyno..”

Ramah Furen percaya diri.

“Hem??!…” Paman Will menerka.

“Aku dan pemuda ini terikat Gravicwalken..” Tegas Rhyno padat.

“!!!...”

Paman Will tiba-tiba berdiri hingga cerutunya terjatuh ke lantai.

“!!!...”

Save tidak bisa berpikir, dia tidak tahu apa-apa dan heran melihat muka Will yang berubah mendadak.

Paman Will menuju gorden jendelanya dan segera menutup rapat-rapat bahkan mengunci pintu rumahnya.

“Kau!!…”

Dia terbata-bata. Save menegakkan kursi kecil yang Paman Will jatuhkan tadi.

“Bagaimana bisa kalian menyadari pengaruhnya?...”

Will mengambil cerutunya dari lantai dan duduk kembali.

“Aku tahu dari dia..” Rhyno menunjuk Furen.

“Aku ingat sendiri..” Furen tersenyum hangat.

“Jika kalian sudah menyadarinya maka kalian dalam bahaya  level lebih tinggi…” Will menyalakan cerutunya.

“???...” Muka Gia pucat meresponnya, dia memeluk pundak Rhyno.

“…..?”

Save mengambil kursi kecil dan meletakkannya di samping Will, Savy duduk di pangkuannya.

“Kasus yang Roger tangani sangat rahasia... mengenai kematian remaja yang sudah mengetahui bahwa dia dikendalikan Gravicwalken…..”

“!!!...” Semua mata tercengang mendengar Will.

“Benar dugaanku!!!.”

Rhyno antusias dengan kejangan emosi aneh mencuat sambil mengkerut alisnya.

Save menahan nafas dengan tegang, suasana semakin serius. Raick dan Traven bertukar pandangan, Raick berhenti mengunyah permen karetnya.

“Kalian harus tahu satu hal...” Will menghisap cerutunya lagi.

“Roger berusaha meneliti dan pelaku pembunuhan remaja itu ternyata anggota snipper milik pemerintah.. entah mengapa dia lalu melarikan diri ke kota bawah dan tidak kembali lagi ke markas untuk melaporkan perkembangan informasi yang sudah dia gali berbulan-bulan… mungkin saja dia merasa bahwa nyawanya sedang terancam.” Will.

“Iya.. aku pernah bertemu ayah di tengah hujan saat ada karnaval malam di kota bawah..” Save meyakinkan, Savy menelan ludah.

“Mungkin pemerintah memburunya…” Traven menenangkan diri.

“Aku memang sudah dipecat karena keteledoranku.. Roger pernah datang menemuiku ke sini dan bercerita tentang hal ini... dia memberikanku nomor telfon Save..” Suara pria itu menjadi agak parau.

“Karena itulah aku bisa tahu hal seperti ini…” Save menambahi.

“Aku tidak tahu mengapa bisa menjadi seperti ini... maksud pemerintah itu sangat rahasia…” Will meletakkan cerutunya, sepertinya sudah tidak sanggup mengasap lagi.

“…..!?"  Rhyno mencoba berpikir namun tak sampai.

“Andai saja paman tahu alasan pemerintah melakukan ini semua...” Traven mewakili suara banyak orang.

“Roger mengatakan padaku bahwa pemerintah ingin mengendalikan generasi berintuisi tinggi agar tidak menghancurkan negara ini..”

“!!!..” Muka-muka yang shocked sejak awal semakin shock.

“Itu hasil penelitiannya selama ini…” Will melirik Save yang bermuka pucat.

“Ayahmu tidak meneliti sendirian... ada sebuah lembaga anonymous yang bersamanya...” Will mengedipkan mata dan memandangi Furen.

“Apa kalian belajar tentang sejarah berdirinya Negara ini?...” Will menarik nafas panjang.

“Iya..” Furen tersenyum tipis.

“Itu semua kepalsuan…” Will menghela nafas.

“%%^&*!!!?” Save merasa terpermainkan pemerintah.

“Sebenarnya bangsa pendiri negara ini sudah akan dihapuskan oleh berbagai bangsa di dunia..”

"?!!...”

“Lalu bangsa pendiri negara ini memberontak... mereka merampas kemerdekaan bangsa-bangsa lain yang memusuhi mereka... Rakyat negara ini dahulu banyak masuk menyusup ke berbagai negara dan membuat beberapa orang penting bekerjasama... mungkin saja itu yang membuat akhirnya benua ini bisa mendirikan lima negara baru…” Will menunjuk semua remaja di rumahnya satu per satu.

“Kalian adalah keturunan para orang asing itu, dari negara-negara lain yang mau merangkul ras asli pendiri negara di benua ini.. dan buyut kalian disandangkan gelar pahlawan negara di benua ini…”

“$#%$^&%!!???” Traven terbelalak.

“??!...” Rhyno mengangguk saat masih shocked.

“Memang benar!...” Rhyno lirih.

“Lalu bagaimana bisa keturunan orang asing akan berontak?... tidak akan dibiarkan..” Will menegaskan.

“Terlalu banyak keturunan asing yang berintuisi tinggi…” Will menggeleng kagum.

“Masalah negara ini bukanlah kalian.. pemerintah bisa saja membunuh dengan peluru atau pancung…” Will memutar otak anak-anak muda itu.

“!!!... Kau benar…” Rhyno sekali lagi shocked.

“Pemerintah meyakini ada beberapa kalangan yang bisa melihat masa depan…”

“!!!!? Me.. Melihat masa depan?!!!..”

“Melihat.. melihat masa depan!!!?..”

“Masa depan?...”

“….”

“Dahulu setelah dua puluh tahun negara ini berdiri.. ada seorang anak perempuan yang berteriak di jalanan berulang-ulang... hingga masyarakat mengalami ketegangan… dia meneriakkan kemana-mana tentang ramalan yang dia lihat dalam mimpinya…” Will meletakkan kedua siku di atas pahanya. Semua orang menyimak.

“Anak itu keturunan orang asing yang tidak mau dibawa pindah hidup disini…”

“A.. apa katanya?!!!...” Savy menjadi semakin ikutan kepo.

“Negara ini akan dihancurkan oleh generasi penyampai berita masa depan!...”

“!!!?...”

“Untuk itulah pemerintah membayar ilmuan untuk menekan berat kelenjar otak manusia agar tidak bisa berimajinasi dan bermimpi…” Will memandangi mereka dengan penuh harapan.

"Kalian tidak berpikir degan IQ dan EQ saja bahka SQ, bahkan kalian tidak bisa beremosi dan berimajinasi tapi masih bisa cerdas menganalisa dan mengolah ide pikiran itu tanpa bantuan kesadaran beta otak kalian. Sadar kah kalian? Kecakapan berpikir kalian selama ini dikembangkan oleh jiwa kalian. Itu yang tidak bisa diretas oleh teknologi kimia apa pun."

Gravic artinya.. Berat.. dan walken.. perjalanan yang dialihkan… perjalanan otak kalian dibelokkan zat kimia buatan ilmuwan pemerintah…” Will menunjuk-nunjuk remaja di depannya.

“Mungkin saja… kalian diperlakukan begitu karena pemerintah mencurigai kalian sebagai generasi seperti itu.. anak-anak istimewa seperti itu lahir secara acak dari berbagai kalangan… karena itu keturunan pahlawan negara wajib melakukan imunisasi vaksin Gravicwalken setahun setelah kelahirannya... tidak ada bayi satu pun dari kalangan mereka yang dikecualikan...”

“!?.. berarti tidak semua penduduk negara ini mengidap Gravicwalken?!..” Traven menyela. Will mengangguk.

"Ada pengecualian efek bagi orang yang tidak bisa memimpikan kejadian masa depan, mereka tidak mengalami gejala psikologi apa pun. Karena vaksin itu bekerja ke beberapa tipe otak saja. Butterfly keeper, ilmuwan menyebutnya begitu untuk pemilik otak khusus ini. Mungkin ada susunan di otaknya yang tidak wajar sehingga berpotensi memimpikan masa depan. Namanya otak tipe minerval.

Masyarakat sipil kota bawah di sini diijinkan tinggal karena mereka sudah teruji klinis, mereka tetap sehat setelah menerima vaksinasi. Sebab kabarnya tidak semua orang selamat setelah diimunisasi Gravicwalken. Jadi tidak semua warga negara-negara di bumi ini menerima vaksin itu jika ingin tinggal di benua ini.

Mereka diuji secara kecerdasan akademik lewat universitas-universitas terlebih dulu kemudian baru lah menerima ujian daya tahan tubuh lewat vaksinasi itu. Dengan kata lain, penduduk kota bawah tidak divaksin sejak lahir. Kenapa ada ujian akademik tentu karena pemerintah membutuhkan masyarakat cerdas yang bisa mendukung peningkatan kualitas bangsa di benua ini."

“Itu semua karena program wajib imunisasi...

“Tapi aku bisa mengimajinasikan buah dada tunanganku..” Raick mengangkat satu alisnya.

“Berarti kau orang biasa.. sama sepertiku.. aku juga bisa membayangkan jika istri dan putriku masih hidup…” Will menghela nafas.

“Jika ternyata setelah diimunisasi tidak bisa berimajinasi dan bermimpi maka… orang itu memiliki kemampuan melihat masa depan?....” Rhyno menyanggahkan pertanyaan baru.

“Tepat sekali..” Will mengangguk. Sontak Rhyno dan Furen bertukar pandangan.

Nafas mereka melambat.

"Jadi aku dan Furen bisa berpikir tanpa otak selama ini?" Rhyno menggaruk kepala tak habis pikir.

"Apa kau bisa berpikir tanpa memori dalam imajinasimu? Jika kukatakan, aku memakan dua belas apel dari empat puluh apel yang tadi kamu berikan kepadaku, apakah tidak kau bayangkan apel? Kamu ingat bentuk buah apel?" Will.

Rhyno menggeleng.

"Aku tahu apel tapi tidak ingat bentuknya..." Rhyno memutar bola mata.

Gia geleng-geleng kepala.

"Tapi kau tahu sisa apel tadi berapa?" Will.

"Dua puluh delapan?" Rhyno.

"Bagaimana caramu menghitungnya? Menghapal memori? Manusia tidak bisa berhitung tanpa bantuan imajinasi data" Will.

"Kau benar, aku bahkan bingung kenapa bisa kujawab begitu tadi" Rhyno memegang kepala dengan dua tangan.

“Imajinasi dan mimpi yang dimaksudkan bukanlah sekedar imajinasi dan mimpi biasa..” Will.

"?...”

“Tetapi mimpi masa depan... prekognisi.. dan ilham masa depan atau vision...otak tengah adalah reseptornya dan bentuknya seperti kupu-kupu..." Jelas Will.

"Bagaimana manusia bisa tetap berpikir ketika imajinasi dan emosinya mati?" Traven kehilangan akal.

"Jiwa melakukan pembelahan diri, dengan kata lain astral projection ketika kalian tak sadar. Jiwa kalian bisa mejelajah dimensi lain dan di sana jiwa bebas berpikir. Aku tak yakin jika kalian benar-benar sudah tidak punya emosi. Ketika jiwa kalian keluar dari jasad kalian, jiwa itu punya emosi pada alam astral sekitarnya." Will.

"Oh, itu aku rasakan tentang kakek Key." Rhyno.

“……”

“Sepertinya hal baru ini membuat aku semakin benci kepada pemerintah!!!…” Save mengumpat lirih.

“Bagaimana nasib ayah sekarang..” Savy meletakkan kepalanya di bahu Save dia awam dan lelah mengikuti topik Will meski ia paham maksud pria itu.

“Kalau saja kalian bertemu Roger... kalian akan bisa tertolong…” Will berdoa dalam hati.

“Kita harus kembali pulang…” Rhyno menggeser Gia, Gia berdiri. Diikuti Furen bersaudara.

“Terlalu berbahaya jika kami terlalu lama di sini..” Rhyno menyodorkan jabatan tangan ke Will.

“Terima kasih Pak!..”

“Hiduplah lebih lama lagi!..” Will menjabat.

“Aku ingatkan! Jika pemerintah menanyai kalian bertingkahlah seolah kalian bisa berimajinasi dan bermimpi..” Will mengantar mereka keluar gang.

Rhyno mengangguk, “Kami mengerti..”

“Terima kasih..” Furen melambai ramah.

No comments:

Post a Comment

Bab 22: Tidak Banyak Bicara

 Rhyno akhirnya merenung setelah perkumpulan di kediaman Aman selesai. Semua pemuda Zyo S akhirnya berkumpul untuk merundingkan rencana. Mer...