"Apa yang kau kehendaki sekarang wahai hamba Tuhan?" Tanya Aman kepada Furen.
"Tidak ada," Furen tersenyum manis.
"Ah kau berubah lagi? Tahu kah kau bisa membunuhku jika kau iri kepadaku? Kau punya mata jahat.." ungkap Aman.
"Ya, ini mata Mars, membuat jantung manusia menjadi panas dan ini menimbulkan kekuatan api.." senyum Furen menyindir dirinya sendiri.
Sementara itu di lain tempat di Huge Land, Lim dan Martin kini tinggal di apartemen milih Save di sebuah district yang agak aman dari pengawasan aparat militer dan kepolisian, mereka sedang duduk di sofa depan TV sambil memakan camilan.
"Sekarang vaksinasi sudah akan melewati daerah ini jadi besok kita akan pindah ke rumah Revo, karena di tempatnya sudah menerima vaksinasi... Sementara itu aku punya rencana," Martin mengambil laptop-nya setelah menonton berita data vaksinasi.
"Apa itu?" Lim.
"Tergantung kepadamu, apa kemampuan supernatural-mu?" Jawab Martin.
"Telepati?" Lim.
"Bisa kah kamu meningkatkan bakatmu dan mengolahnya menjadi teknik lain?" Martin.
"Maksudmu?" Lim mengernyit.
"Kita akan meretas semua stasiun TV setelah semua vaksinasi di Huge Land merata... Dan meretas ulang gelombang otak penduduk Huge Land," gagas Martin.
"Caranya?" Lim tertarik.
"Lim, kau bisa mentelepatikan memori kebenaran kepada seluruh warga Huge Land setelah kesadaran alam bawah sadar mereka terkena vaksin karena otakmu level minerval, seharusnya bisa." Cetus Martin.
"Ingat kata Furen kepadamu sebelum dia meninggalkan kita ke Mesva saat kita di laboratorium Ben?" Martin.
"Katanya aku tidak perlu ikut karena kemampuanku memanggil iblis tidak bisa dipakai bertarung melawan elite, itu hanya memanggil iblis..." Lim menggosok dagunya.
"Kamu tahu kenapa kita disuruh pulang ke kota dan mereka pergi ke daratan bebas?" Martin terlihat yakin.
"Kenapa?" Lim penasaran.
"Karena Rhyno berpesan kepadaku bahwa kita bisa membuat semua memberontak dengan menggunakan kekuatanmu, iti bertolak belakang dengan ucapan Furen." Martin membiarkan Lim berpikir.
"... Lalu apa yang harus aku lakukan?" Lim meletakkan makanannya ke meja dan duduk bersilang kaki di atas sofa menghadap Martin.
"Setiap dari kalian adalah Konsilia Konsilian, artinya ada kekuatan iblis yang terpendam di DNA kalian yang bisa digunakan untuk berupaya mengusai dunia dan itu harus kamu bangkitkan, hasratmu untuk ingin menguasai kesadaran manusia. Kamu salah satu pribadi yang kemungkinan besar mengendalikan komputer tuhan, artinya tanpa komputer tuhan kamu bisa menghubungi semua umat manusia setelah vaksinasi itu sebab vaksin itu adalah cairan penghubung kesadaran manusia ke komputer tuhan, kita akan meretas kendali komputer tuhan..." Martin berpikir cepat.
"Caranya?" Lim.
"Kita akan membuat semua orang di Huge Land melihatmu, setelah mereka melihat matamu dalam siaran langsung di TV yang ada di seluruh kota, kita beri perintah mereka untuk sadar dan membangkitkan jiwa ingin bebas mereka.." Martin memegang kedua bahu Lim.
"Tapi dampaknya kita tidak tahu dan pemerintah akan segera memburu keberadaan kita," Lim berdebar-debar.
"Aku pernah mendengar kisah dari ibuku sebelum tidur, apa kamu pernah mendengar cerita anak yang mencuri uang ibunya untuk membeli camilan?" Martin melepaskan bahu Lim.
Lim menggeleng kepala.
"Sang ibu mencari-cari uangnya dan dimana pun anak menyembunyikannya pasti dia akan bisa menemukannya namun suatu malam anak itu menyimpan uang di bawah bantal ibunya dan ibunya tidak mengetahuinya, setiap hari anak itu menambah jumlah uang yang dia curi dan ibunya tidak pernah menemukannya," Martin mencerahkan.
"Bahkan jika saja uang itu ketemu pasti ibu itu tidak akan menghukum anaknya sebab uang itu ada di bantal ibunya sendiri, itu lah... Kita akan bersembunyi di kantor departemen kepemerintahan dan menjalankan misi ini dengan menyamar sebagai aparat.." gagas Martin.
"Baik..." Mata Lim yakin meski ini hal yang baru saja dia alami tapi dia tidak punya pilihan, dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia lahir memang sudah digariskan menjalani peran ini.
Ternyata Martin mempelajari banyak hal setelah Rhyno dkk meninggalkan Huge Land, dia merencanakan segala hal serapi mungkin, Martin mengoperasikan laptopnya semalaman sementara Lim tidak meninggalkannya duduk di sofa dan sibuk mengganti-ganti channel. Dia berhenti di sebuah program.
Di TV itu dia menyaksikan video lama Aesther mempromosikan agenda Eternal Grey Egg.
"Bukannya artis ini sudah mati ya?" Lim memegang lengan kanan Martin.
Martin menoleh ke TV dan membetulkan kaca matanya, "itu kan ibunya Save dan Savy?" Terperangah.
"Betul kah? Kenapa ditayangkan lagi di TV?" Lim tercengang.
"Eternal Grey Egg adalah masa depan kita, kecerdasan sempurna, semua umat manusia akan dilahirkan cerdas dan sukses... Senantiasa tertib dan segala urusan akan lancar, tidak ada kezaliman dan keadilan akan ditegakkan..." Senyum Aesther di TV.
Lim melihat paras cantik tanpa cacat milik Aesther begitu menawan sedang menyiarkan sugesti.
"Ini seperti hidup di surga, negara ideal dan bermartabat di dunia, kebanggaan hidup di Huge Land, cinta tanah air Zyo S." Suara Aesther yang khas terdengar begitu renyah di telinga.
"Martin..." Panggil Lim pelan.
"Ada apa?" Martin tetap mengoperasikan laptop-nya.
"Aku merasa dia ini sedang mengirimkan telepati, dia ini punya kemampuan bertelepati yang luar biasa... Karena dia lah orang terakhir yang bisa mempengaruhi pikiran orang, karena itu lah mungkin acaranya disiarkan lagi, tapi ini sudah pukul tiga pagi... Siapa yang menonton?" Lim melihat jam tangannya.
"Itu bukan dipertontonkan tapi diperdengarkan... TV di gedung mall-mall kota tidak off, speaker-speaker ada di mana pun terutama di rumah sakit," Martin masih fokus dengan operasi system.
"Berarti di radio juga ada..." Lim bangkit cepat ke sebuah meja kecil di sudut ruangan dan meraih radio kecil, dia menyalakannya. Dan terdengar bunyi sama dengan di TV.
"Kau benar." Lim mematikan radio.
"Mereka sedang meretas alam bawah sadar manusia ketika masyarakat tidur Lim!" Martin menekan tombol enter.
"Makanya di putar di jam segini ya..." Lim mematikan TV dengan remot.
"Ayo kita ke rumah Revo sekarang, pasti para aparat sedang tidur karena siaran sugesti. Kita ini tidak tidur karena sudah terkena angin di laboratorium Ben, kesadaran kita di atas level orang Huge Land sekarang." Martin beranjak dari sofa dan bergegas dengan membereskan barangnya.
Lim mengikuti Martin, dia membawa sling bag kecilnya dan mengekori Martin keluar apartemen menuju mobil milik Save. Martin mengemudi dengan cepat melintasi jalanan kota yang senyap.
Gelap malam itu terasa sangat sunyi di tengah suara Aesther yang bergema di mana-mana. Sepi sekali bahkan pos-pos penjagaan terasa tanpa penghuni.
Mereka melesat menuju tempat kediaman Revo, di sana sudah pasti ada ibunya Revo.
"Di rumah Revo aku akan menjalankan operasi peretasan komputer pemerintah untuk memasukan identitas palsu kita sebgai anggota aparat, jadi selama itu kita harus mengikuti tindak tanduk ibu Revo agar dia tidak curiga," Martin menjelaskan siasat dan Lim mengangguk.
Setibanya mereka di rumah Revo pukul delapan pagi, ibu Revo menyambut dengan pandanga kosong namun tetap ramah. Martin dan Lim mengikuti gelagat ibunya Revo berpura-pura sedikit melamun.
"Kami ke sini diajak Revo menginap tapi Revo akan pulang malam jadi kami disuruh menunggu di kamarnya." Singkat Martin setelah disambut ibu Revo di depan pintu.
"Baik, silahkan masuk.. aku sedang memasak sarapan, kalian bisa makan bersamaku" jawab ibu Revo mempersilahkan.
Martin dan Lim mengangguk lalu memasuki rumah dan langsung menuju kamar Revo di latai dua dengan berpura-pura linglung.
Setibanya di dalam kamar Revo, Martin menghela nafas lega sambil menutup pintu diikuti Lim.
"Kau lihat? Pengaruh kerusakan mentalnya sangat kuat akibat divaksin" Martin menggeleng kepala sambil meletakkan laptop ke lantai dan duduk mengoperasikannya.
Lim berkeliling ke di kamar Revo melihat-lihat perabotan di kamar Revo. Penuh dengan miniatur replika mahal dan buku-buku tatanan hukum negara.
"Revo itu ternyata mau jadi aparat ya?" Lim mengambil sebuah buku dan membaca judulnya dalam hati.
"Iya, aku, Ben, Qio, Save dan Revo bisa jadi satu geng karena kami ini ingin bekerja mengabdi negara sebagai aparat namun ada tujuan motif lain... Biasa lah, anak badung..." Martin sibuk dengan aplikasinya di laptop.
Mereka kemudian dipanggil dari bawah oleh ibu Revo untuk menyantap sarapan, kemudian setelah selesai mereka kembali ke kamar. Lim bermeditasi menenangkan jiwa dan mencari inspirasi ide agar bisa mendukung rencana Martin sementara Martin berjuang dengan perangkatnya yang tercolok charger.
Singkat kata setelah mengoperasikan system selama sepuluh jam, akhirnya identitasi Lim sebagai Dacota Pier dan Martin sebagai Murphy Phounds berhasil dibuat sebagai anggota aparat keamanan ruang dalam gedung pemerintah.
"Ini sangat melelahkan... Aku sudah harus tidur sekarang..." Martin menutup perangkatnya dan berdiri menuju kasur Revo.
Lim yang berdiri di jendela memandang kota yang penuh dihiasi lampu malam berputas badan dan menuju Martin, dia membaringkan diri di kasur memeluk pemuda yang telah melepas kaca matanya itu.
"Kau?" Lirih Martin terkejut.
"Kau membuatku merasa jatuh cinta kepadamu selama kita menghabiskan waktu bersama dalam petualangan ini," katanya sambil memasang wajah datar, mata yang tajam misterius. Lim memang jarang tersenyum namun terlihat sangat classy.
"..." Martin merangkul Lim dengan tetap berbaring menghadap plafon, lalu menutup mata tanpa menjawab apa-apa.
Lim membuka kancing kemeja Martin yang paling atas sambil mendesahkan nafas lembut. Namun Martin menghentikannya dengan sebuah pelukan erat, dia memiringkan badannya dan merengkuh seluruh bahu gadis itu.
"Jika kau hamil kau tidak akan bisa berlari di gorong-gorong dan melompati atap gedung..." Singkat Martin.
"Apa kah aku jelek dan tidak menarik?" Lim meletakkan bibirnya ke leher Martin dan mengecupnya lembut.
Bisa dirasakan oleh kulit bibir Lim saat Martin menelan ludah, ada yang menggelontor dari leher Martin.
"Percaya lah aku juga mencintaimu saat ini," dekap Martin.
"Nikahi aku nanti," Lim tersenyum merasa aman, Martin menjawab dengan anggukan pelan lalu terjatuh dalam pulas.
"Aku tidak pernah merasakan sehangat ini di dadaku..." Lim menggigit bibirnya dan menahan diri sebab Martin sudah melepas kesadarannya.
Lim menutup mata dan mencoba untuk jatuh dalam mimpi.
Malam itu terasa sangat panjang bagi Lim yang gelisah namun pagi tetap harus menjelang. Martin dan Lim meninggalkan rumah Revo menuju kantor pemerintah setempat.
Mereka berjumpa dengan aparat yang menjaga pintu gerbang kantor pusat pemerintah setempat.
Seorang aparat berseragam lengkap menghentikan langkah mereka, "siapa kalian?" Katanya.
"Kami tidak memakai seragam sebab kami bertugas di protokol elite komando sebagai mata-mata, ini nomor identitas operasional kami kosong tujuh delapan satu satu kosong satu sembilan." Jawab Martin tegas.
"Tujuh kosong satu satu satu lima tujuh sembilan," sahut Lim.
Petugas itu pergi ke pos pangkalan penjagaan dan menghimbau rekan unitnya untuk mengecek ke komputer data nomor tadi dan ditemukan semua lengkap identitas atas nama Dacota Pier dan Murphy Pounds.
"Baik lah silahkan masuk!" Sapa petugas itu dari pos penjagaan sambil menghormat mempersilahkan.
"Baik."
"Baik."
Martin melajukan mobil Save ke parkiran dan memasuki kantor pemerintah dengan percaya diri sambil membawa tas ransel dan tas berisi peralatannya.
"Kita menuju ruangan bebas CCTV dan mengendap mencari tempat aman sampai malam tiba." Bisik Martin sambil berjalan, Lim mengangguk.
Akhirnya mereka menemukan ruangan pipa air di bawah tanah kantor pemerintah itu. Lim mengeluarkan alas dari ransel dan bekal makanan yang cukup untuk stay di sana. Sementara Martin mengeluarkan laptopnya.
"Kita bisa sampai sejauh ini justru karena semua orang yang bekerja di sini juga sudah linglung. Sampai sini terkesan sangat mudah dan mulus tapi reaksi klimaksnya adalah setelah siaran nanti dini hari, jam tiga malam. Apa kau siap?" Jelas Martin sambil menyalakan laptop-nya, Lim mengangguk mantap.
Singkat cerita akhirnya pukul tiga dini hari itu tiba, Martin mengeluarkan stick standing untuk kameranya dan menyiapkan template latar belakang. Lim duduk di depan kamera sambil menstabilkan mental.
Martin mulai memasuki system channel siaran langsung di seluruh Zyo S.
Di lain tempat, di seluruh kota pukul tiga dini hari itu, siaran Aesther kembali diputar. Namun tiba-tiba berubah penampakan. Wajah Lim dengan masker menutupi hidung dan masker, menghidangkan tatapan mata Lim yang khas tajam dan dingin namun lembut.
"Kita adalah manusia sempurna,
Diciptakan dengan daya kesadaran tinggi,
Kita bisa merubah semua tempat berbahaya menjadi tempat jajahan kita.
Kita harus sadar dan melawan siapa pun yang ingin mengendalikan kita.
Kita lahir bukan untuk menjadi bawahan Zyo S tapi menyempurnakan Zyo S dengan aturan dunia yang semestinya.
Kita harus lepas dari semua pengaruh egosentris Zyo S karena itu melambat perkembangan Zyo S.
Kesetaraan kita adalah sebagai manusia merdeka dan bebas berkeinginan.
Kita harus melawan perbudakan kesadaran manusia dan melawan penjajahan mental manusia.
Kita bukan binatang.
Kita harus menjadi manusia berpemikiran bebas sesuai kemauan kita, karena kita lahir bukan untuk di bawah orang lain. Kita adalah para pemimpin sebenarnya di Zyo S." Kata Lim tegas tapi lembut sambil mengirimkan telepati ke dalam gelombang suaranya.
"Zyo S adalah musuh manusia
Zyo S adalah musuh manusia
Zyo S adalah musuh manusia" ulang-ulang Lim.
Martin sempat tercengang dengan tindakan Lim namun cepat-cepat dia memutuskan server.
Seluruh saluran TV yang tadi menyiarkan Aesther kini semua mati dan tidak ada tayangan lain selain tulisan 'Anti Zyo S'
Lim menghela nafas dalam setelah melihat kode dari Martin bahwa semuanya telah selesai.
"Sekarang apa yang akan kita lakukan?" Lim sedikit panik.
"Putus koneksi telepatimu dari petinggi-petinggi Zyo S agar keberadaan kita tidak bisa ditemukan mereka. Kita akan menetap di sini selama mereka mencari keberadaan kita," jelas Martin, Lim mengangguk.
"Kita lihat dulu apa yang akan terjadi di luar sana setelah siaran tadi..." Martin membenarkan kaca matanya.
Pagi akhirnya datang lagi...
Pukul tujuh pagi...
Di rumah Revo, ibu rumah tangga bernama Shakira itu membuka matanya seolah dia lahir kembali. Dia melamun sedikit tentang mimpi yang dia alami barusan. "Kenapa aku bodoh menerima untuk tinggal di tempat ini.
Dia bangkit dari tidurnya dan menyibakan gorden jendela kamarnya. Betapa herannya dia melihat pemandangan jalan sangat ramai dihuni lautan manusia demo unjuk rasa.
"Anti Zyo S! Pemerintah penipu!" Sorak sorai warga sambil meninggi-ninggikan posternya masing-masing.
Beberapa jet militer melintas dan suara sirine aparat bersahut-sahutan. Jalanan penuh asap dan ternyata cahaya mentari malam ini bersembunyi tidak sesuai harapan Shakira yang ingin bangun pagi dengan tenang.
"Tempat ini sebentar lagi akan jadi lahan pembantaian dan kelumpuhan system" mata Shakira menerawang keramaian.
"Revo, dimana kamu nak?" Gumam ibu itu sambil menutup mulutnya.
No comments:
Post a Comment