Bloom berjalan pelan menuju bibir pantai bertirtakan biru yang sejuk dengan banyak bebatuan kristal di dalam genangannya yang tenang. Dia berjalan hingga seluruh tubuhnya kini tertelan air laut tawar. Lautan tawar itu menyeret tubuhnya dengan arus yang kuat tanpa ia harus berenang. Di dalam penyelamannya tu mulai terasa Bloom menabrak lapisan air yang bersuhu lebih hangat hingga beberapa jarak ke depan air itu semakin terasa panas dan menggodok dirinya. Tidak ada oksigen. Bloom terasa amat tersiksa namun ia tidak bergeming dan tetap sabar dalam pasrahnya dibimbing arus menyelami tempat yang semakin dalam dan gelap hingga terlihat sungai lumpur api kemerahan mengalir di bawah laut.
Ya, lava itu adalah gerbang masuk yang Bloom tuju. Semakin dalam ia mendekati mulut palung laut berisi lava terpenjara dalam air itu. Semakin dalam tubuhnya tertarik ke ujung bumi terbawah hingga akhirnya mentas di sebuah gua. Semuanya seperti bertransisi dari satu suasana ke suasana baru.
Bloom berjalan menyusuri gua berisi bebatuan berlian itu dengan tenang. Hingga seberkas biasan cahaya menyapa penglihatannya yang terasa kesilauan. Bloom merasakan busana dan tubuhnya semakin mengering dari basahnya. Dengan kawalan hembusan angin yang sejuk merasuki gua itu, dia melangkahkan keluar menuju area alas terbuka penuh dengan barisan pepohonan aneh yang menjulang bak gedung pencakar langit.
Cahaya surya menerobos di setiap dedauannya menjadi alat terang perjalanan Bloom menuju the master. Dia mengikuti instingnya sambil menudungi dirinya dengan busana jubahnya, menyimpulkan senyum sebab merasakan detak jantungnya semakin kuat.
"Aku semakin dekat, aku bisa merasakan getaran dan aroma energinya..." Desis Bloom.
Sampai lah matanya melihat di hadapannya tengah berdiri megah sebuah istana putih terbuat dari emas, kristal dan berlian. Istana yang satu-satunya ada di tempat subur dan asri itu.
Dengan semangat Bloom berjalan mendekati bangunan itu dan membuka gerbang raksasa kediaman mewah itu. Di dalamnya hanya ada lantai kosong dari berlian dan kristal. Namun ada seseorang pria sekitar umur tiga puluh tahunan yang dirantai kaki, leher dan tangannya.
Pria itu menatap Bloom dengan tajam, "siapa kau wahai tamuku?"
Bloom menekuk lututnya sedikit tanpa berkedip menatap mata pria berbusana serba putih dan tertutup itu. Lalu mengangkat kembali lutut Bloom, "saya adalah kekuatan Anda" katanya sambil berjalan mendekat.
"..." Pria itu terdiam saja melihat Bloom berjalan mendekatinya.
"Pasti ini kali pertama ada orang datang yang bisa membuka rantai ini dari dirimu..." Bloom terlihat dengan mudahnya melepas borgol rantai yang mengekang pria itu.
Sosok pria itu berdiri dengan hati-hati dan menikmati kebebasannya dengan ragu-ragun, "benar-benar ini kah sudah saatnya?" Tanyanya kepada Bloom.
"Messiah kegelapan yang agung semua pemujamu kini sudah meronta untuk menuntut kebebasanmu, engkau harus menjadi juru selamat bagi hamba-hamba yang tersesat... Dan di dimensi manusia kami sudah menyediakan jasad untukmu..." Kata Bloom kepada sosok pria berbadan besar dan gempal berkepala botak dengan janggut panjang itu, matanya memiliki dua warna, yang kanan hijau kecoklatan dan yang kiri biru keunguan.
Pria itu mengangguk pelan dan mengikuti Bloom setelah gadis muda albino itu berbalik badan untuk keluar dari istana raksasa itu. Badan besar nan tinggi the false messiah terlihat sangat mengerikan. Langkahnya menggetarkan daratan setiap ia menapak tanah.
Jejak yang ia tinggalkan membekaskan tanah menjadi kering yang panas serta rerumputan mengering. Sungguh sebuah hal yang luar biasa.
"Ketika laut merah surut maka tumpahkan lah darahku!" Bloom merentangkan tangannya sambil membimbing langkah tuannya dengan tersenyum bangga.
"Apakah engkau ini al baqarah?" Tanya pria berpunggung menonjol ke atas itu, untuk istilah sapi betina sebagai persembahan dalam bahasa Arab.
Bloom menoleh dengan senyum sangat mengerikan, "aku lebih sempurna dibandingkan dia" jawab Bloom.
Mereka berdua berjalan menuju dimensi batas waktu dan tempat menuju Medina ke gunung pemusik untuk menatap Eden di Royal Palace.
Sementara itu semua pangeran di Arab tengah saling beradu argumen sampai darah mereka mendidih dan memutuskan untuk menarik pedang mereka masing-masing. Mereka saling membantai dan menghunuskan kematian ke hidung saudara mereka demi memperebutkan tanah-tanah yang memiliki nilai meguntungkan.
Eden menyaksikan kejadian tersebut dari kejauhan menggunakan mata batinnya dan menyeringai.
Sementara di tempat lain, Furen dan Aman juga menerawang kejadian itu. Namun ada yang membuat lebih menegangkan. Rhyno sedari tadi berdiri di tengah pintu kediaman Aman sambil menatap langit penuh bintang tanpa awan dan menyiapkan pedangnya yang terus dia genggam dengan tatapan mata serius.
Kini Bloom dan the false messiah sudah tiba di hadapan bibir permukaan laut merah. Sosok pria terkutuk itu mengangkat tangannya yang menggenggam pedang hendak bersiap menebas putus leher Bloom. Rhyno sekejab memusatkan penerawangannya dan mengirimkan jiwanya ke tempat itu, ia berteleportasi ke hadapan pria bengal itu dan menghalau cambukan pedangnya sambil mendorong Bloom.
Mereka tercengang bagaimana bisa ada wanita asing muncul entah dari mana. Rhyno tanpa ampun membuat pria itu termundur dari pantai lalu berbalik badan untuk membantai Bloom. Sigap Bloom mengeluarkan pedang dari jasadnya dan menentang serangan Rhyno. Keduanya bertarung sangat sengit. Namun tiba-tiba muncul jet dari kejauhan dan menembak ke arah Rhyno berdiri. Jumlah jet itu tidak main-main ada sekitar tujuh unit jet hitam legam melesat di antara bintang-bintang yang berkemilau dengan damai.
Angin malam itu mendadak berhembus sangat kencang. Rhyno tidak peduli kepada nyawanya dia terus menghindari ledakan dari tanah kembali berlari menuju Bloom untuk membantainya.
Ini adalah kejadian yang menggambarkan pertarungan antonim antara dark dewi Athena melawan dewi dark Minerva yang merupakan representasi alter ego dari eka jati. Dimana Rhyno akan membunuh Bloom agar bisa menghalau kesempurnaan kesaktian lawan the true messiah.
Furen dan Aman di kediaman Aman mulai menerawang keadaan Rhyno tanpa khawatir sebab itu sudah menjadi tugas kewajiban Rhyno dan hasilnya sudah diramalkan. Maka mereka fokus melihat kejadian dari jauh di istana kerajaan Arab sebab sewaktu-waktu Eden akan muncul di sekitar mereka. Furen dan Aman tidak bisa melacak gerakan Eden begitu pula Eden kepada Rhyno dan kawan-kawan kecuali lawan mereka yang sudah dinubuatkan dalam kitab suci.
Bloom terkena sayatan pedang Rhyno ketika ia berputar menghindari besatan pedang Bloom. Rhyno bergerak memotong gerakannya sendiri dan dengan gerakan patah ia berputar ke bawah, Bloom melompat dan menebaskan pedangnya ke kepala Rhyno namun gadis berambut biru itu menjatuhkan dirinya ke tanah dan menendang kepala Bloom hingga terpelanting ke atas serta langsung mengoyak punggung Bloom dengan memutar belakang pegangan pedangnya. Tanpa ampun sebelum Bloom jatuh ke tanah dia menepas dada Bloom dengan kedua tangannya yang erat menjamah gedangnya. Ketika Bloom terbanting ke pasir, dia langsung memenggal leher Bloom menjadi dua.
Darah mengucur deras membasahi pasir pantai sementara sang dajjal berjalan tanpa peduli dengan Bloom. Kekuatan jiwa Bloom diunduh oleh jiwa Rhyno. Aura sedingin es keluar dari pori-pori tubuh Rhyno sampai mengeluarkan asap. Sementara jet bermanufer menembaki Rhyno. Dengan kekuatan yang kini dimiliki, Rhyno membelah semua jet itu dari jauh dengan kibasan pedangnya yang mencambuk udara malam itu. Mata Rhyno menyala putih.
Dia berjalan menyusuri pantai mengikuti jejak sang messiah kegelapan. "Aku tidak akan kembali pulang" katanya sambil terus mengejar mahluk berbadan semi itu.
Namun di tengah perjalanannya dia dikagetkan dengan sebuah pemandangan tak lazim, bibir laut terbelah. Rhyno memandangi hal itu yang muncul seolah untuk menarik perhatiannya. Seorang wanita berkebaya hijau ala nusantara muncul, "apa yang kau kehendaki?" Tutur katanya terdengar santun.
"Siapa kamu?" Tunjuk Rhyno dengan pedang di tangan kirinya.
"Aku adalah nenek moyang dari pria yang sedang kamu cari-cari, aku adalah ratu penguasa lautan selatan benua tanah yang ditenggelamkan" angin berhembus megantarka aroma bunga melati yang terangkai rapi di rambut hitam wanita itu.
"Kau kah ratu bidadari itu?" Rhyno menatap serius.
Sosok wanita beraroma wangi itu mengangguk dengan senyum misterius.
"Aku ada di dunia ini untuk membantu siapa pun yang ingin berjuang di jalan ilahi dengan jiwa tulus dan penuh kesabaran" ungkap wanita yang memiliki beberapa butir beras tertempel di keningnya itu.
No comments:
Post a Comment