Tanpa pikir panjang Furen berlari keluar mansion dan berniat menemukan batas dimensi ke tempat Bloom berada namun dia berjalan semakin jauh sampai menemukan sebuah tempat penuh rongsokan besi. Hal aneh terjadi, awan berjalan sangat cepat menjadi mendung, angin kencang yang menerpa menerbangkan sebagian sampah ringan, hingga rintik gerimis mulai menghunus bumi.
"Aneh, di tempat seperti ini seharusnya tidak terjadi," Furen berlari, tanah mulai menjadi lumpur becek.
Namun di tengah pelariannya, ia menemukan perempuan aneh berdiri sambil berteriak.
"Kau salah, jika kau mengendalikan kecerdasan buatan untuk membuat manusia bertindak adil itu mustahil! Dengarkan aku! Jangan pergi!" Perempuan itu seperti sedang berdialog dengan orang lain tapi Furen tidak bisa melihatnya.
Tiba-tiba saja kepala Furen berdengung lalu terasa berat, tubuhnya kesemutan hebat dan jantung berdebar. Perasaan aneh muncul, Furen mengalami seperti kecemasan mendadak yang amat sangat. Serta merta ia berlari menuju peremuan itu kemudian memeluknya sangat erat. Perempuan itu tidak dapat melarikan diri dari Furen, dia terkejut ketika Furen berlari menghampirinya sangat cepat. Terlambat, pelukan itu membuatnya merasa aneh, tubuhnya semakin melemas, pandangannya memudar, berkunang-kunang, kemudian ia jatuh tidak sadarkan diri.
Setelah rasa cemas itu pergi dan jantungnya tenang, Furen tidak sadarkan diri, dia terlelap dalam ketenangan jiwa yang tiba-tiba melanda. Mereka berdua terkapar di kubangan lumpur yang semakin naik oleh genangan air hujan yang deras.
Tidak lama kemudian seorang pemuda datang, pemuda itu terlihat berbusana lusuh namun kulitnya bersih dan sehat.
"Hey!" Goyah pemuda itu ke tubuh dua orang yang sedang terkapar.
Akhirnya ia menyeret dua orang itu ke sebuah mobil bekas yang teronggok tanpa pintu.
Pemuda itu menepuk-nepuk pipi si perempuan berambut hitam panjang yang berkulit pucat. Tak butuh waktu lama, perempuan itu sadarkan diri, namun melihat wajah pemuda yang menolongnya dengan raut penuh ketakutan. Akhirnya dia panik dan lari tunggang langgang dari tempat itu.
Dia adalah Lim sebelum mengecat rambutnya menjadi ungu, maka itu adalah pertemuan pertama Furen dengan Lim di Huge Land.
Karena pemuda itu berpikir Furen sedang kritis, akhirnya dia memutuskan membopong Furen dari sana untuk diajak ke tempat ia tinggal dekat lokasi ia menemukan dua orang aneh tadi.
Setibanya di sebuah gubuk dari sampah daur ulang yang didirikan atas tumpukan sampah yang sudah ditumbuk dan disusun rapi sedemikian rupa. Pemuda jangkung berbahu lebar yang menolong Furen membaringkannya di depan jendela bulat dari kaca bekas sehingga nampak pemandangan kilat-kilat menyambar di tengah badai. Ternyata dia tidak tinggal sendirian di tempat itu, dia memiliki adik yang memang terlihat dari suaranya yang lebih nyaring karena masih muda.
"Kau bawa siapa ini, Kak?!" Katanya.
"Aku tidak kenal, aku menemukannya di tengah sampah, pingsan dengan kekasihnya," pemuda penolong terdengar santai.
"Kenapa kau bawa bajingan ke tempat suci ini!" Anak muda itu berupaya menyeret Furen dengan menjambak bajunya.
"Hey," si abang menenangkan.
"Ganti bajunya, dia basah! Dan kau yang kasih dia makan, jangan ambil rotiku!" Si adik bersungut lalu berbalik badan berjalan menuju ranjangnya.
Sinar matahari menembus jendela bundar tempat Furen berbaring dengan selimut tebal bekas. Matanya terbuka dengan ringan, ia mengedarkan pandangan ke sekitar.
"...?" Furen bangun dan menyadari bajunya telah berganti dengan sendirinya, dia melihat pemandangan di luar jendela sana nampak banyak rongsokan tersusun rapi.
"Ah, ya, tempat sampah..." Furen mendengar perutnya keroncongan.
Dia merasa aman karena itu tidak bergerak mencari tahu sampai pemilik hunian itu muncul ke hadapannya. Dia menunggu cukup lama dengan berbaring sampai setengah hari, dan tepat pukul dua belas siang yang ditunjukan oleh jam dinding bekas, ada orang datang. Furen yang menahan kelaparan pura-pura memejamkan mata.
"Dia belum bangun juga?!" Nyaring pemuda yang terlihat lebih muda.
"Coba bangunkan dia," pemuda satunya lebih kalem dan terbawa dewasa.
"Hey, bangun, sudah siang," pemuda bersuara nyaring menggoyah badan Furen, dan membuat Furen berpura-pura mengerjapkan mata.
"Cepat bangun, kau tidak lapar?" Ejek si nyaring.
Mata Furen langsung terbelalak.
Dua mata pemuda sedang berpandangan. Dan mata Furen yang indah membuat si nyaring sampai terkagum. Serat mata Furen sangat unik, seperti benang-benang pelangi dalam cawan berwarna hijau.
"Makanan?" Furen tersenyum.
"Heleh..." si nyaring menimpuk satu roti panggang ke muka Furen.
"Aduh, panas!" Furen membela muka.
"Kita akan berbicara setelah makan selesai," tukas pemuda yang lebih dewasa.
Furen mengangguk dengan senyum manis, namun si suara nyaring melihatnya dengan sinis.
Furen menoleh ke si nyaring dengan senyuman namun si nyaring langsung membuang muka.
Setelah dua orang yang memiliki tempat itu makan di atas karpet bekas di lantai, mereka kemudian berganti baju di ruangan itu juga. Furen memalingkan wajah ke jendela karena malu.
"Kak, apa dia itu perempuan?" bisik si adik.
"Laki-laki," singat sang abang.
"Kenapa dia malu melihat kita? apa dia berjiwa perempuan?" si adik geli.
"?!" Muka si abang langsung palmface, dengan masih telanjang dada dia berjalan menghampiri Furen dan langsung memalingkan wajah milik Furen ke arahnya.
"?!!!" Wajah Furen memerah.
"Kau penyuka sesama jenis, ya?" Si abang bernada dingin dengan mata dingin dan semua mulai palmface.
"Tidak!!!" Furen menjauh dengan menarik selimut dan melepaskan diri dari tangan si pemuda itu dari dua pipinya.
"Bohong, kau pasti gay?!" Si adik.
Furen menggeleng kepala dengan keras dengan dua tangan melambai tanda bukan.
"...?!" Kedua pemuda bersaudara itu saling berpandangan dengan muka palmface.
"Katakan siapa kau sebenarnya, kenapa ada tato sembilan naga di punggungmu?!" Si abang menancapkan kaki kirinya ke ranjang dengan tangan kiri di atas paha dan kanannya di pinggang.
"Se... sembilan naga??" Si adik terlihat tidak tahu apa pun.
"Aku..." Furen menyembunyikan muka di dalam selimut.
"Kau!?" Si adik menarik selimut itu geram.
"Aku ingin lihat tato itu!!" Si adik menarik Furen ke lantai dan menaikkan kemeja abangnya yang dipakaikan ke tubuh Furen, dan si pendatang itu tidak melawan.
"Sembilan naga," puas mata si adik melihat tato legendaris itu.
"Kau anak orang elite kenapa bisa sampai sini?" Si abang terdengar tegas tapi kalem.
"Rumahku terbakar, saudaraku menghilang, ayahku dibunuh entah oleh siapa," Furen masih tertunduk.
Pemuda yang lebih tua itu berjalan melewati Furen dan mengambil celana Furen yang digantung di belakang pintu. Meraih sesuatu dan mengeluarkan sekaliber senjata api.
"Eh, Ayah?!" Furen menyahutnya dan memeluk benda berbahaya itu.
"Pelurunya kosong," kata si abang.
"Tidak penting, selama aku punya ini, aku aman kemana pun aku pergi," Furen tersenyum.
"?!." Si suara nyaring mendekati abangnya.
"Ada apa?" Furen keheranan melihat tingkah si bungsu.
"Apa itu?" Si nyaring menunjuk ke jendela dan ternyata ada seperti drone kawalan jarak jauh yang bersliweran di penampungan sampah. Si abang berlari dan menutupi jendela dengan kain selimut. Si bungsu langsung mengambil paku dan martil, keduanya menutupi jendela itu lalu mengintip drone yang lewat di depan jendela. Furen sampai menahan nafas karena ketakutan.
"Mereka mencarimu," si abang, Furen mengangguk pasrah dengan kebenaran nyata.
"Kau harus pergi dari sini," si bungsu.
"Bagaimana dengan kalian? kalian bisa dihabisi?" Furen berkaca-kaca.
Dua pemuda itu saling berpandangan kemudian mengangguk.
"Kita pergi dari sini." Si abang sigap mengambil baju dan hoodie untuk dikenakan, begitu pula dengan si adik, ia memberikan hoodie untuk Furen, mereka bertiga memakai masker dan mengendap pergi dari tempat itu sebelum drone itu kembali dari kejauhan.
"Namaku Raick Rockfel, dan itu kakakku Casn Traven Rockfel, kami yatim piatu dan diculik pembajak ke sini, kami berhasil melarikan diri dan hidup kami terus berpindah-pindah untuk melarikan diri dari kejaran mereka!" Si nyaring mulai merasa terbuka dengan Furen.
"Aku Furen, tidak ada waktu menceritakan asalku, kita harus selamat dari sini!" Furen terus berlari mengikuti dua pemuda itu sampai memanjat dinding pembatas dan memasuki trotoar jalan besar.
Mereka menghentikan bus umum dan menaikinya. Terlihat ada TV umum di atas kaca sopir menayangkan sebuah mansion yang terbakar.
"Mansion kediaman jendral besar Chamazello terbakar dengan korban yang meninggal dunia di tempat adalah jendral Guarden Huzen Chamazello, sementara kedua puteranya Noa Chamazello dan Furen Chamazello sedang dalam pencarian elite karena menghilang," papar pembawa acara di stasiun TV.
Raick si nyaring dan Traven si kalem menoleh ke Furen yang duduk di depannya. Furen mengangkat kedua bahunya karena sadar ada pria besar melihati mereka bertiga. Tidak lama kemudian mereka turun ke jalan dan menyusuri bawah jembatan.
"Kalian akan ke mana?" Furen.
"Tidak tahu, mencari pekerjaan," Traven di sini masih dipanggil Casn oleh Furen dan Raick.
"Bagaimana kalau kalian ikut denganku kali ini," Furen.
"Kemana?" Raick.
"Ke rumah pamanku..." Mata Furen menyipit seperti sedang tersenyum di balik maskernya.
"Boleh saja," Casn.
Ketiganya kemudian menuju stasiun kereta api, dan Casn membayar tiga tiket untuk mereka. Lalu tiba lah di sebuah pegunungan yang masih sepi, mereka bertiga berjalan sampai malam menjelang, hingga akhirnya menjumpai rumah paman yang Furen maksud.
Sebuah bangunan menempel pada jurang dan memanjang menyeberang air terjun, terlihat angker seperti istana hantu. Raick dan Casn berpandangan merasa asing dengan ini, namun Furen seperti sudah akrab, ia mengetuk pintu dengan gagang singa pengetuk dari besi. Tidak lama kemudian seorang pria tua berpakaian rapi dan berjenggot tertata membuka pintu.
"Furen?" Katanya.
"Paman," Furen memeluknya.
"Masuklah," kata pria itu setelah melihat dua teman Furen.
Ruangan penuh buku dan berlampu cahaya emas, terasa hangat di malam yang dingin sekali.
"Ada apa? Duduklah!..." Pria itu duduk terlebih dulu di sofanya disusul tiga anak muda itu.
"Ayah dibunuh, aku tidak tahu siapa pelakunya, tapi aku berhasil menyelamatkan pistol Ayah," Furen mengeluarkan senjata ayahnya dan meletakkan di meja.
Pria itu mengambilnya dan meletakkan kembali ke meja setelah puas mengamati.
"Kau harus tinggal di sini untuk beberapa lama, siapa mereka berdua?" Pria itu mengenakan kacamatanya yang disimpan di saku.
"Saya Casn dan adik saya Raick," jelas pemuda paling jangkung diantara dua lainnya dengan tenang.
"Mereka menolongku dari maut, sesuatu yang aneh menimpaku saat kabur dari rumah, tiba-tiba saya aku diserang rasa sakit yang aneh... aneh sekali... tubuhku seperti menjadi kebal mendadak dan aku merasa sangat ketakutan harus sembunyi entah kemana... lalu... aku memeluk seseorang sampai aku mengantuk dan pingsan, mereka menemukanku..." Furen menjelaskan sesingkat mungkin.
"..." Pria tua itu terlihat bermata serius mencerna ucapan Furen.
"Kau mengalami gravicwalken," pria arif itu menyatukan dua tangannya ke atas lututnya yang bertumpuk.
"Gravicwalken?" Raick.
"...gravicwalken" Casn.
"Virus telepati dari operator komputer kecerdasan buatan yang akan menjadi komputer tuhan," pria itu memejamkan mata sambil mengangguk beberapa kali.
"Bagaimana bisa?" Furen.
"Kau sudah mengikuti program di laboratorium Mesva bukan? mereka pasti sudah seharusnya menyuntikanmu vaksin berisi virus yang bisa membuatmu menerima telepati dari komputer tuhan," pria itu menjelaskan dengan sederhana.
"Benar..." Furen menurunkan pandangannya.
Raick menatap pilu nasib Furen, entah bagaimana dia jadi kasihan.
"Bagaimana cara menolong Furen?" Ucapan itu ringan saja keluar dari bibir Casn.
"Kau harus melatih dirimu mencapai super power light zero." Mata pria itu semakin tajam.
"Bagaimana caranya?" Casn menjadi sangat tertarik.
"Aku tidak tahu, karena itu hal alami, anugerah pemberian dari Tuhan yang sesungguhnya, sang pencipta alam semesta," pria tua itu menjelaskan sambil melirik Casn tajam.
Casn menoleh kepada Furen yang terlihat bingung dengan dirinya sendiri.
Jadi gadis yang pingsan bersamamu itu adalah orang yang kamu jumpai untuk dipeluk sampai pingsan?" Casn tenang, Furen mengangguk.
"Kau sudah menyerap energi gadis itu sampai habis dan pingsan, tentu saja gelombang elektromagnetik darahmu memancar kuat itu membuat aliran listrik yang bisa menyerap energi lain di sekitarmu... Pancaran itu berbahaya... dan bisa menular ke orang biasa yang normal..." Pria itu.
"Menular?!" Raick panik.
"Kecuali kepada orang yang memiliki super power light zero," jelas kakek itu.
"..." Semua terdiam dalam pikirannya masing-masing.
"Jika kau kumat, coba peluklah aku dulu." Casn melihat Furen, membuat si rambut emas menatapnya.
"Percayalah padaku," Casn tenang.
"Kakak," Raick menggigit kuku.
"..." Pria tua itu memejamkan mata dan mengangguk setuju.
"Baiklah," Furen tersenyum kembali.
"Selamat malam, selamat beristirahat..." Pria itu bangkit dari sofanya dan keluar ruangan.
"Eh?!" Raick bingung.
"Kita tidur di kamar yang kemarin aku menginap di sana, dia itu sangat cerdas, jadi malas menjelaskan kepadaku kalau sudah pernah sekali..." Furen bangkit dari duduk, diikuti dua temannya. Mereka berjalan ke sebuah ruangan.
"Dia itu sebenarnya sudah sangat tua... ratusan tahun..." Furen terdengar renyah.
"Oh ya?!" Raick memegang kedua pipinya.
"Aku panggil paman karena masih gagah dan keren..." Furen tersenyum.
"Kereeen..." Mata Raick berbinar-binar.
"Dia belum memberi tahu namanya?" Casn.
"Oh, ya. Pasti dia berpikir aku sudah memberi tahu namanya kepada kalian," Furen terkekeh.
"Jadi namanya siapa?" Raick kepo.
"Cethoper Ali, dari Kazakstan," Furen berbinar-binar, membuat Raick memegang dua pipinya, "kereeen," kagum Raick.
"Hahaha..." Casn terkekeh.
"Pantas saja dia suka tinggal di tempat sejuk, orang yang tinggal dan sering mandi dingin pasti awet muda," Casn.
"Kalau begitu aku akan mandi es setiap hari agar tetap tampan meski sudah kakek-kakek," lawak Raick.
"Bodoh!" Jitak Casn.
"Aduh!" Raick mengusap kepalanya.
"Kau belum menceritakan latar belakangmu," Casn.
Furen membuka pintu kamarnya, "ayahku dari Jerman dan ibuku dari Rusia, ibuku meninggal saat melahirkanku, karena itu kakakku sangat membenciku," Furen tersenyum menyembunyikan getir.
"Kematian bukan ditentukan oleh manusia, kau tidak bersalah," Casn memegang bahu kanan Furen.
"Ibu dan ayah kami sudah tiada karena bencana alam yang terus menimpa tanah air kami, mereka terkena wabah setelah banjir bandang menenggelamkan rumah kami," Raick terlihat tegar.
"Meski akhir-akhir ini para pemulung sampah mulai bergosip tentang isu alat pencipta bencana alam buatan, aku masih berusaha mengumpulkan buktinya sampai aku harus temukan siapa yang harus dilawan untuk membalas kematian banyak orang di luar sana," Casn menerawang.
"Alat itu benar-benar ada," Furen menundukkan wajahnya serendah mungkin.
Kemudian air mata terlihat menetes ke lantai.
"Ayahku... bertugas memimpin... mengendalikan alat semacam itu... beroperasi di seluruh dunia... dan menyemprotkan virus ke awan... membuat pandemi..." Furen tersujud ke lantai.
"Kau...?" Raick membatu.
Dada Casn langsung seperti ditusuk petir.
"Maafkan aku... ada banyak orang bekerja seperti ayahku..." Furen sesenggukan.
"Kau harus berjanji membunuh mereka semua untukku." Ucapan Casn dingin.
Furen mengangguk-angguk.
"..." Raick menggigit bibirnya.
"Aku tidak pernah merasakan kasih sayang keluarga, Ayah selalu pergi dan kakak selalu mengabaikanku... Karena itu aku ingin kalian ..." Furen.
"Huh!" Raick mengepalkan tangan lalu membantingnya ke udara.
"Aku mengerti!" Raick berusaha senyum meski hatinya tengah kacau.
"Kalau begitu jadilah saudaraku," jempol ke dadanya.
"...?" Furen menoleh ke atas untuk melihat wajah Raick yang menyembunyikan mata berkaca-kaca.
"Terasa sakit bukan?" Furen.
Raick mengangguk.
"Tapi itu kesalahan ayahmu bukan kau!" Raick menunjukkan giginya.
"..." Furen meraih sepatu Raick namun Raick langsung mundur menjauh.
"Jangan. Tak perlu!" Raick panik.
"Tidak ada kata maaf untukmu," Casn mengangkat bahu Furen.
Furen menatapnya ketakutan, "karena kau tidak bersalah," lanjut Casn.
Dada Furen meledak, ia langsung memeluk Casn, disusul Raick yang menangis dalam dekapan Casn.
"Tetaplah hidup untuk jalan yang benar," Casn membelai kepala dua pemuda itu.
Keduanya mengangguk.
Tiba-tiba dentuman kesemutan terjadi lagi. "Tubuhku mengebal lagi!" Furen panik.
Raick langsung melepaskan diri dan membanting diri ke lantai menjauh.
"Tenanglah..." Casn tetap memeluk Furen.
"!!!" Furen memejamkan mata panik dan memeluk Casn dengan erat.
Namun sesuatu tidak berlanjut. Tubuh Furen baik-baik saja. Ini membuat Furen tersenyum lebar.
"Kau mempunyai kekuatan itu?!" Furen berseri-seri memandang Casn.
Casn terbelalak hampir tidak percaya.
"Kau membuat gelombang yang membuat darahku bergejolak bisa berhenti, sekarang aku paham, seperti angin datang, jika menyentuhnya, aku langsung kesemutan," Furen melihati kedua tangannya.
"Bagaimana bisa komputer tuhan melakukan itu?" Raick ternganga.
"Sepertinya aku tahu jawabannya, mungkin ada orang yang mengirim pesan jarak jauh kepada komputer tuhan, mereka bertengkar..." Furen mengingat seorang gadis di tengah hujan dekat tempat penimbunan sampah kemarin.
"Jadi itu pancaran emosi komputer tuhan?" Raick melongo, menoleh kepada Casn yang juga
menoleh kepadanya.
"Fantastis!" Furen menjentikan jari.
"Kita harus mencari orang-orang yang memiliki kemampuan mendebat komputer tuhan! Karna jika komputer tuhan marah, cuaca jadi kacau dan menjadi badai," Furen tersenyum lebar.
"Kau terlihat sangat senang?" Raick.
"Karena aku kenal siapa yang mengoperasikan komputer tuhan sekarang," Furen terkekeh.
Casn dan Raick berpandangan dengan keheranan.
"Aku serius, aku ingin berjumpa dengannya tapi aku tidak tahu caranya, sebaiknya besok kita tanya Paman," Furen tersenyum hangat.
⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙
Rhyno dan Gia sekarang berada di tempat parkir mobil siswa dan siswi sekolah Prime Revolutioner. Rhyno bergegas keluar mobil disusul Gia, mereka mencari Save dan Savy.
Terlihat Save dan Savy sudah menunggu sambil duduk-duduk di mobil. Rhyno mengeluarkan beberapa lembar koran dan menyerahkannya kepada Save. Savy melihat koran yang sudah diamati oleh Save dan merapikannya.
"Ibu..." Savy melihati artikel-artikel yang berisi iklan yang diperagakan oleh ibunya yang merupakan artis terkenal di Huge Land selama masa pembangunan berlangsung.
Untuk menghibur pekerja bangunan, dulu di jalan-jalan ada TV raksasa dan ibu Save adalah bintang idola yang bernyanyi dan menghibur setiap orang, sampai akhirnya Huge Land berumur lima tahun, ibunya diisukan bunuh diri, dengan menjatuhkan diri dari apartment. Misteri ingin dipecahkan Save karena tidak ada hasil otopsi dan acara rumah duka.
"Semua iklan yang dibintangi oleh ibumu, rata-rata pasti mengenai telur itu," Rhyno.
"Eternal Grey Egg?..." Savy membaca teks pada koran.
"Apa itu?" Gia bingung menyaksikan pertemuan ini.
"Iklan-iklan ini diperuntukan ahli-ahli batu dan pembangun gedung yang akan berdiri di benua ini, untuk selanjutnya bergabung menjadi golongan elite dan bersedia membantu pembangunan negara Huge Land tahap selanjutnya dengan ikut mengembangkan teknologi kecerdasan buatan," jelas Rhyno.
"Tapi kenapa telur?" Savy pun belum paham.
"Itu adalah agenda menanamkan chip ke otak bayi yang baru lahir," Rhyno berwajah dingin.
"Apa?!" Semua orang ternganga.
"Mereka bertujuan merekam kecerdasan manusia yang berkembang seiring usianya, untuk diklon ke komputer berkecerdasan buatan. Jadi harapannya komputer akan berperilaku seolah bernaluri dan berperasaan seperti manusia meski hatinya terbuat dari mesin, afeksi mesin..." Rhyno memejamkan mata, konsentrasi menyusun kalimat yang harus ia ucapkan agar mudah diterima pendengarnya.
"Jadi apa itu ada hubungannya dengan chip yang harus setiap orang terima setelah menerima vaksin saat ada pandemi virus kemarin?" Save membicarakan pengalaman yang sama yang setiap orang pasti alami sebelum akhirnya menginjakkan kaki di Huge Land.
"Benar, untuk membiasakan diri merasa nyaman menerima agenda planting chip. Hanya itu, sebab sebelumnya manusia tidak pernah melakukan itu dan menolak mentah-mentah menjadi satu dengan mesin, karena resikonya terkena infeksi karat dan lain-lain..." Rhyno.
"Tapi kenapa harus ada bayi yang jadi korban?" Gia menangis seketika.
"Karena bayi tidak bisa berkata sakit walau menangis, itu sudah bahasa mereka. Kejam." Rhyno berandai namun itu darkjoke terseram bagi Gia dan yang lain.
"Aku semakin yakin jika ibuku diculik pemberontak yang ingin mencari informasi lebih jauh mengenai telur itu... mereka berpikir ibuku tahu segalanya karena sebagai maskot dan modelnya," Save memejamkan mata sambil menghembuskan nafas panjang dan dalam.
"Ibu..." Savy tertunduk sedih.
"Jika begitu, kemungkinan ibumu masih hidup di suatu tempat..." Rhyno.
"Aku akan terus mencarinya, sambil mencari Ayah, aku yakin Ayah sedang mencarinya..." Save menajamkan pandangannya yang terbuka.
Tapi ada lagi informasi yang menurutku tabu untuk diperbincangkan," Rhyno.
"Apa itu?" Gia penasaran.
"Eternal Grey Egg ini lumayan aneh, intinya mengembangkan kecerdasan buatan kepada DNA manusia, jadi singkatnya ilmuwan mereka dipesani untuk mencari cara supaya bisa membuat pria melahirkan tanpa bantuan rahim wanita, sehingga sekarang aku yakin ada penelitian mengenai rahim sintetis entah menggunakan unsur tumbuhan seperti pisang atau nutrisi ikan laut." Papar Rhyno.
"Ah, pantas saja sekarang juga ada iklan pelangi, kemarin aku sempat melihat iklan besar di jalan berjudul Project Rainbow Starseed, tapi yang aku lihat pasangan sesama jenis, seperti pria mencintai pria dan wanita mencintai wanita," Savy mengangkat satu alis.
"Nah, jika wanita berjalan dengan wanita, otomatis populasi wanita akan berkurang, jadi sebenarnya membagi pengetahuan untuk menerima kaum pecinta sesama jenis itu semata hanya untuk mengurangi populasi wanita di dunia ini, karena ilmuwan mereka tahu bahwa di masa depan jumlah populasi wanuta itu akan mencapai jumlah tiga kali lipat dibandingkan populasi pria, dan itu bisa mengganggu sekali jika pemikiran wanita tidak bisa mengembangkan tujuan masa depan perusahaan elite, hahaha..." Rhyno terkekeh.
"Tapi kenapa robot kecerdasan buatan disimbolkan gadis perawan membawa telur?" Save mengurut jidat.
"Emangnya sejak kapan seorang gadis punya telur? tentu saja itu sebenarnya anak laki-laki berbusana seperti perempuan!" Rhyno berkacak pinggang.
"Heh?!!" Save menelan ludah.
"Benar! Aku setuju, memang aku sudah lama mendengar isu bahwa para orang elite yang mendanai pembangunan Huge Land itu rata-rata pasti pria dan mereka seolah tidak punya keluarga, sebagiannya punya anak dan istri namun fisiknya aneh, istrinya seperti punya rahang besar dan ada jakunnya, sementara anaknya tidak ada yang mirip dan bahunya juga lebar meski pun masih gadis belia, masa iya sih transgender?" Savy mulai merasa asyik diajak bergossip.
"Pantas saja terasa aneh sejak masuk laboratorium itu, semuanya seperti aneh saja menurutku, tapi aku tidak berani mengamati lebih lama karena harus kabur dari laboratorium..." Gia berbicara sangat pelan.
"Emangnya kamu melihat apa?" Savy penasaran.
"Aku sekilas melihat ada seorang pria melahirkan di ruang bersalin saat aku berlari tapi aku tidak peduli aku pikir wanita berambut pendek tetapi suaranya jantan..." Gia sembunyi di balik punggung Rhyno.
"Mungkin itu transgender, wanita yang merubah dirinya menjadi laki-laki menggunakan obat hormon pria..." Rhyno menenangkan.
"Umh...." Gia mengangguk.
⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙
Di sebuah ruangan megah dan terasa mewah, hanya ada sesosok pria berambut panjang dan berjubah perak, ia sedang berbicara dengan Bloom.
"Manusia sekarang serakah, mereka tidak memiliki hati untuk beberapa jenis orang yang tidak memiliki tanah air, karena pendahulu mereka telah mengusir orang-orang itu. Dan kini mereka yang terusir sudah belajar sejauh mungkin ketika mereka miskin hingga akhirnya menjadi golongan paling kaya di muka bumi ini. Namun mereka tidak memiliki dendam, mereka ingin merangkul orang-orang yang telah mengasingkan mereka dengan membuatkan negara Huge Land, di negara ini semua harus diatur secara ideal, dan sistem kehidupan harus sangat tertib, jadi hanya seorang hakim yang bersifat sangat penuh kasih dan adil saja yang bisa mengatur keserakahan manusia dan kemalasan manusia agar mereka bisa mau berkarya dan sportive terhadap sesamanya. Kau adalah satu-satunya orang yang aku kenal dan aku anggap mampu melakukan itu semua, lantas kenapa sekarang kau mau berhenti, Yang Mulia Dewi?" Pria yang dianggap guru oleh Bloom itu memegang kedua gadis yang tingginya hanya sedada Magus, the Great Saint Wizard.
"Saat aku berlatih di dalam telur kecerdasan buatan, pikiranku seperti dimasuki oleh kesadaran orang lain nan jauh di sana, dia seperti mengirim suara, dan yang aku dengar itu adalah suara seorang perempuan. Dia mengatakan kepadaku bahwa aku sedang dimanfaatkan oleh sebuah kejahatan yang membohongiku dan suatu saat aku akan dibunuh..." Bloom terlihat gusar.
"Hahaha!!!..." Magus melepaskan tangan dari bahu Bloom dan menggelegarkan tawa besar ke seluruh ruangan hingga menggema dari sana-sini.
"Lalu jika kau mati dibunuh, lantas siapa yang akan menjalankan komputer tuhan selanjutnya jika hanya kau lah kriteria sempurna orang yang sanggup dengan tugas ini, dewi?... Kau, adalah orang yang pantas untuk menjadi wadah jiwa tuhan yang nyata, the Alice." Magus menegaskan.
"Kau benar..." Bloom yang berjiwa lembut menurunkan pandangannya.
"Jika kau memang berdada sempit, sudah pasti kau mengahiri kebebasan hidupmu dengan menikah seperti adikmu si Attoivoile... Namun tidak... Kau memilih masih bebas agar bisa berpetualang hingga takdir membawamu untuk menikahi Huge Land..." Magus tersenyum.
"K... Kau benar lagi!" Bloom tersentuh.
"Dengan ketulusan hatimu dan kesucian jiwamu, pria yang lebih baik dari pada Pangeran Orion di seluruh dunia akan berkumpul untuk bertekuk lutut kepadamu memuji jasa-jasa pengabdian hidupmu dan kau akan diabadikan dalam sejarah dunia sebagai orang yang mengorbankan segalanya untuk bersatunya seluruh umat manusia di dunia ini, menjadikan manusia akur di masa depan... Kau membantu membangun peradaban baru, Puteri Bloom..." Magus merentangkan tangan ke langit.
"Terima kasih, aku tersanjung..." Bloom merebak gaun dan membungkuk tanda hormat.
"Begitulah... jadi kenapa harus ragu?..." Magus berbalik badan kepada Bloom dengan senyum bangga dan percaya diri.
"Aku akan berusaha semaksimal mungkin dan mengabaikan perempuan itu... jika dia datang lagi, apa yang harus aku lakukan?" Bloom.
"Katakan padanya... siapa pun yang melawan kebijaksanaan dewi Alice, akan dihukum oleh semesta ini..." Magus memegang lagi dua bahu Bloom.
"Baik..." Bloom mengangguk bersemangat.
"Sekarang kembali lah ke telur komputer tuhan dan tidurlah dengan tenang, ucapkan doa-doa baikmu supaya menyebar ke seluruh pikiran orang-orang yang sudah disuntikkan cairan penghubung telepati ke komputer tuhan, sehingga mereka akan berkata iya dan membantumu mewujudkan doa-doa baikmu untuk memberkati kemajuan Huge Land..." Magus kembali bertengadah tangan ke langit.
"Iya..." Bloom mengangguk kemudian bergegas keluar dari ruangan Magus, guru spiritualnya yang ahli sejarah.
⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙
Sementara itu di Prime Revolutioner...
"Kau melihat apa, Rhyno? Gia berjalan di sisi kiri Rhyno setelah selesai meeting rahasia dengan Save dan Savy di gedung parkir mobil siswa sekolah.
"Aku tadi melihat ada seorang siswi di atap gedung sebelah, aku mau cek nanti..." Rhyno.
"Aku ikut...." Gia semangat.
"Jangan, sebaiknya nanti kau di kelas saja dan bantu aku menyiapkan materi untuk belajar, karena aku akan terdesak waktu nanti saat kembali dari sana lagi pula setelah ini kita akan menerima vaksinasi," Rhyno.
"Hmm... Baiklah..." Gia cemberut tapi menurut.
Sesuai rencana, setelah Rhyno mengantar Gia ke kelas, ia meninggalkan saudarinya itu ke atap gedung yang ternyata adalah gedung tempat Rhyno belajar, di sana ia berada satu ruangan kelas dengan Zedha, Save dan Savy. Rhyno berlari menuju atap gedung, dan membuka pintu loteng, ternyata di atap flat itu ada Furen, pemuda manis itu berdiri di depan seseorang yang sedari tadi mengamati Rhyno, sosok yang ingin Rhyno kejar karena terlihat mencurigakan jika dilihat dari caranya melihati Rhyno sedari tadi.
"Siapa kalian?" Rhyno tegas.
"Kau yang jadi tamu, kenapa harus kami yang memperkenalkan diri?" Furen tersenyum ramah.
Sementara gadis berambut hitam panjang di hadapan Furen terlihat menatap Furen penuh ketakutan hingga tangannya gemetaran.
"Kau membuat dia takut?!" Rhyno mengamati gadis itu.
"Tidak, aku tidak melakukan apa-apa..." Furen melambaikan dua tangan ke depan dadanya.
"Bohong!" Rhyno membentak.
"Hah..." Furen berjalan berlalu menuruni tangga dengan tersenyum kecil seperti tengah bahagia.
"Dasar aneh!" Kecam Rhyno.
"Kau, tidak apa?" Rhyno menghampiri gadis itu, dan gadis itu mengangguk pelan menenangkan diri.
"Kenapa kau gemetaran melihatnya?" Rhyno memegangi kedua tangan gadis itu.
"?..." Gadis itu sontak merasakan sesuatu dari genggaman tangan Rhyno, seperti ada keberanian mengalir dan sesuatu yang menenangkan, kekuatan yang Rhyno miliki seolah bisa terukur begitu saja.
"Dia itu seorang vampire energy," singkatnya, untuk pertama kalinya gadis yang bisanya hanya diam itu tiba-tiba berubah bersedia bicara dengan seseorang.
"Vampire energy?" Rhyno mengangkat alis kanan.
"Iya, dia bisa menghisap energi orang lain sampai habis, sampai pingsan atau sekarat..." Gadis itu mulai berbicara dengan nada lebih tinggi.
"Begini, pertama-tama, siapa namamu, aku Rhyno kelas sepuluh," Rhyno menenangkan.
"Aku Lim, kelas sepuluh..." Gadis itu.
"Oh kelas sepuluh juga, jadi gimana tadi maksudmu, kamu tahu tidak siapa namanya?" Rhyno bersandar di tembok ruang tangga loteng.
"Aku tahu, namanya Furen..." Lim kembali terlihat cemas.
"Ada apa?" Rhyno mengangkat satu alis.
"Aku yakin kau bukan orang biasa..." Lim melihati Rhyno dari bawah ke atas.
Wajah Rhyno tanpa ekspresi.
"Aku sejak kecil sudah melihat bahwa negara ini akan berdiri... Dan aku melihat negara ini akan menghancurkan segalanya, menghilangkan peperangan di dunia tapi dengan cara pemaksaan... mereka menembakkan laser-laser diantara benda-benda bulat melayang di langit, bentuknya seperti bulan tapi juga seperti pesawat... dari benda aneh itu lah laser-laser itu keluar dan bahkan dia punya pintu... ada manusia keluar dari sana dengan baju modern aneh..." Jelas Lim sambil menerawang mimpinya sejak kecil.
Oh, ini seperti kelanjutan kejadian setelah Huge Land sukses berdiri di bumi ya?" Rhyno menyilangkan tangan depan dada. Erlia mengangguk.
"Lalu apa lagi yang kau lihat?" Rhyno memegang dagu dengan tangan kanan.
"Banyak gadis-gadis berkeliaran di pinggir jalan, para lesbian, merusak fasiliatas, tidak banyak laki-laki lagi... lesbian ini seperti marah, melawan tuhan komputer," Erlia ikutan memegang dagunya.
⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙
Sementara itu di kelas...
"Aku tadi sudah hampir mencapai titik terang, tapi gadis berambut biru datang menghalangiku," kata Furen dengan sedikit berbisik setelah duduk di samping Casn.
"Gadis berambut biru?" Casn melirik Furen sambil melipat tangan depan dada.
"Iya, gadis berambut biru, dia sepertinya akan menjaga jarakku dari anak perempuan itu," Furen berbisik.
"Bagaimana tanggapan gadis yang kamu tanyai itu? dia benar-benar ada di sini?" Raick melirik arah pintu sambil sedikit mendekatkan kepala ke Furen yang duduk di depan meja belajarnya.
"Iya, dia sekolah bersama kita dalam kelas yang sama, sebentar lagi semoga dia ke sini," Furen berbisik.
Tidak lama kemudian Rhyno masuk kelas disusul Lim. Furen terbelalak, Lim terlihat ketakutan sementara Rhyno memicingkan mata seriusnya ke arah Furen.
Furen tersenyum tipis untuk mencairkan perseteruan mereka. Melihat bibir Furen tersungging, Rhyno memalingkan muka dan lekas duduk di samping Gia. Sementara Erlia berjalan lurus kemudian ke belakang, duduk bersama Ben. Ben terlihat bingung, duduk memunggungi Furen yang di deret kanan dan menanyai Lim.
"Siswa berkacamata itu bukan sembarangan, dia sedari tadi mengobrol tentang dunia bawah bersama rekan-rekannya itu," Raick berbisik.
"Kita bicara setelah jam istirahat saja di tempat aman," Furen berbisik sambil tersenyum.
Sementara itu di meja belajar Gia dan Rhyno.
"Rhyno tadi lama sekali," Gia.
"Iya, tadi ada pengganggu, gadis itu namanya Erlia, aku akan bicara kepadanya besok, sementara jika aku tidak ada, kau bisa mengikuti Savy atau Save dan Zedha," Rhyno.
Gia mengangguk sambil membuka buku.
"Kenapa kau cemberut?" Rhyno.
"Um... aku bingung kalau bersama mereka," Rhyno.
"Diam saja menyimak obrolan dan tertawa, jika tema obrolan kamu mengerti ya sudah ungkapkan saja apa yang kamu tahu," Rhyno menoleh ke muka Gia yang terlihat sebal.
"Iya, tapi hati-hati dan kalau sudah selesai jemput lah aku, sebaiknya jangan terlalu lama, nanti aku tidak ada yang traktir," Gia menunjukkan gigi.
"Hahaha... pasti ditraktir, kamu kan cantik!" Rhyno merangkul Gia.
Ketika jam istirahat di gedung olah raga basket, Furen, Casn dan Raick berkumpul di tribun.
"Gadis tadi namanya Lim ya?" Raick.
"Dia seperti ketakutan sekali denganku, aku sudah mengatakan bahwa kejadian pertemuan pertama kami itu tidak disengaja," Furen.
"Dia takut kau akan mengulanginya lagi," Casn.
"Kalau begitu kau harus membuat kesan ramah, supaya dia berpikir ternyata sebenarnya kau ini menyenangkan ," Raick bijak.
"Caranya?" Furen.
"Kau dekati siswi-siswi di kelas kita supaya interaksi kita di kelas bisa dinilai olehnya, supaya kau terlihat normal," Raick melirik ada tiga siswi duduk nan jauh di tribun sambil mengarahkan jempol ke mereka.
"Hm... kau bisa membuat mereka bergaul dengan kita?" Furen.
"Tenang..." Raick menepuk dadanya lalu berdiri beranjak untuk menghampiri tiga siswi itu.
"Hahaha," Casn terkekeh sambil menggeleng kepala.
"..." Furen terseyum sambil memejamkan mata mengangguk-angguk, memutuskan untuk menunggu Raick.
"Eh, lihat!" Salah satu siswi yang berdandan colorfull di antara dua siswi yang dimaksud Raick tadi membuat dua temannya melihat kedatangan Raick yang mendekat lalu duduk di samping mereka.
Hai," sapa Raick dengan ramah.
"Oh hai," sapa siswi yang beraksesoris imut.
"Namaku Raick Chamazello..." memperkenalkan diri.
"Chamazello?" kata tiga siswi bersamaan saling melihat satu sama lain.
"Yang sedang ramai di TV itu? kediaman mereka mengalami musibah?" tukas si cewe imut.
"Iya, aku keluarga Chamazello," ramah Raick.
"Aku Hyoseika Mayami, aku lebih senang dipanggil Kimmy senang berkenalan denganmu," si imut.
"Kamu manis, terima kasih," rayu Raick membuat pipi Kimmy memerah.
"Aku Meran Briginer Brittany," salah satu siswi terlihat lebih anggun dan dewasa, mengulurkan jabat tangan kepada Raick sebagai welcoming pertama.
"Namaku Elaine Gina," satunya bertubuh langsing berambut pink, suaranya sangat halus dan bahunya lebar, tubuhnya sesempurna boneka manekin.
"Bagaimana menurut kalian bisa masuk Prime Revolutioner ini?" Raick berbasa basi.
"Nama sekolah ini sebenarnya Gravenchmatic Revolutionair School, jadi Prime Revolutioner itu belum resmi meski sudah diiklankan" Kimmy mencetuskan.
"Kok aku belum dengar?" Raick mengangkat satu alis sambil menampakkan gigi.
"Tentu, kami akan lebih dulu tahu, karena Gina adalah anak pemilik saham utama yayasannya," kekeh Meran dengan anggun.
"Oh, haha... kapan namanya diresmikan?" Raick menggaruk belakang kepala.
"Minggu depan bersamaan dengan vaksinasi kita semua," ramah Gina.
"Oh, aku belum dapat undangan acaranya, hehe," Raick canggung.
"Chamazello itu termasuk salah satu keluarga penyumbang saham terbesar untuk membangun sekolah ini, aku turut berduka cita atas musibah yang menimpa keluarga kalian, " jelas Gina.
Raick menelan ludah mendengarnya.
"Terima kasih atas kepedulian kalian..." Raick tersenyum seramah mungkin.
"Tapi acara peresmian memang kejutan, jadi maaf kalau rahasia, aku ingin ini semua jadi kejutan untuk siswa dan guru," Gina berbicara seolah dia di balik semua acara itu.
"Oh, syukurlah, aku pikir kalian akan kecewa jika aku kurang tahu soal itu," Raick menghela nafas lega.
"Tidak, tidak... memang hanya kita bertiga yang tahu..." Kimmy riang.
"Sebagai perayaan bisa mengenal kalian di sini, bagaimana jika kuundang kalian makan malam bersama dua saudaraku dari Chamazello," Raick percaya diri.
"Ah, kau ini sangat royal..." Meran tersenyum.
"Kami menghargai, dan senang jika mendengar kabar baik tentang yayasan, jadi ijinkan lah, kami memperlakukan kalaian dengan sangat baik," Raick.
"Kau puas dengan pendidikan di sini?" Gina terlihat senang.
Raick mengangguk dengan senyum.
"Wah, terima kasih, aku berusaha sekeras mungkin mengolah pendapat," Gina bertepuk tangan kecil.
"Baiklah, kapan makan malamnya?!" Kimmy antusias.
"Malam ini jam lima, saat matahari akan terbenam, datanglah ke alamat yang akan aku sarankan di chat, boleh kan aku chat kalian?" Raick, dia akan mencari ID akun mereka lewat chat room kelas sepuluh.
"Boleh!" Ketiga siswi itu serempak dengan senang hati.
"Berhasil ya?" tebak Furen di kejauhan.
"Hahaha," Casn terkekeh pelan menyaksikan adiknya yang lihai.
Malamnya di sebuah restaurant gantung di atas gedung pencakar langit.
"Luar biasa, pemandangan sangat indah di lihat dari sini," Kimmy sangat menikmati pemandangan yang bisa dilihat dari balik jendela kaca raksasa.
"Restoran ini milik pamanku, " ramah Furen.
"Tapi nama pemiliknya di katalog adalah Tristant Valentine," Meran, kemudian menyantap steak-nya dengan anggun.
"Iya, Tristant Valentine Davis Chamazello, dia mengeluarkan diri dari silsilah lineage kami, karena dia tidak berminat ikut campur membangun Huge Land, sejak menikah, dia ingin mengembangkan ekonomi keluarga," jelas Furen.
"Keluargaku juga," sahut Meran.
"Keluargamu?" Casn menyimak, mata Meran begitu lembut ketika menangkap mata Casn, sepertinya Meran tertarik kepada Casn yang kalem dan dewasa.
"..." Meran tersipu.
"Keluargaku katakan lah mereka tidak setuju dengan adanya efek samping injeksi Snow Eye jadi mereka menginvestasikan seluruh hartanya untuk membuat laboratorium supaya bisa membuat vaksin dan penawar gravicwalken," Meran.
Casn kemudian teringat dengan gosip yang beredar di antara para pemulung rongsokan logam di tempat dulu ia tinggal sebelum diadobsi oleh Furen, "bukankah benar injeksinya punya beberapa jenis warna? ada merah, kuning, biru, dan ungu?" Casn jadi penasaran.
"Iya, tapi yang paling berbahaya itu injeksi Snow Eye warna bening, elite menyebutnya cairan kristal, itu akan disuntikkan kepada orang yang resmi menjadi operator komputer tuhan nantinya," papar Meran kemudian meminum minuman di gelasnya.
"Karena kami menolak, dan sudah banyak sumbangsih, jadi kami dapat suntikan warna kuning!" Kimmy menunjukkan jari peace dan mengedipkan satu mata.
"Suntikan cairan warna kuning?" Raick.
"Em! Itu tidak berbahaya, tidak ngefek apa pun, hanya meregenerasi sel dan DNA tubuh yang rusak seperti booster, supaya bisa merespon telepati komputer tuhan," ceria Kimmy.
"Tapi kenapa aku wajib menerima yang warna ungu?!" Furen jadi antusias.
"Berarti orang tuamu menginginkan kamu ikut ujian kelayakan sebagai calon operator komputer tuhan," Gina lembut, dari tadi melihati Furen sepertinya naksir Furen.
"Eh? Tapi keluarga kalian kenapa sanggup menolak? Aku bahkan tidak diperbolehkan menolak dengan banyak alasan!" Furen sebal.
"Mungkin... ada sesuatu yang disembunyikan ayahmu," Meran, Hyo mengangguk-angguk.
"Mungkin ayahmu dipaksa dan tidak bisa menolak, jika dia kabur sendirian, kau pun tidak akan baik-baik saja, mungkin dia sudah tahu bahwa dia akan dihapuskan, maaf..." Gina menyentuh tangan kiri Furen, suaranya sangat halus.
"Kau benar, elite sedang menyeleksi..." Furen menundukkan kepalanya.
"Mungkin, dia ingin menyelamatkanmu, satu-satunya cara hanya dengan memasukkanmu ke kelompok yang mendukung elite," Meran berbisik.
"Aku tidak menyangka kalian benar-benar bersemangat..." Casn tersenyum.
"Aku bisa melihat dari matamu, kau tidak mendapatkan injeksi Snow Eye kan?" Meran menyentuh tangan kanan Casn yang ada di meja dengan kedua tangannya yang lembut dan hangat.
Casn membalas dengan mendekap dua tangan dewi itu sambil tersenyum dan menggeleng sedikit.
"Kau malaikat power light zeroku, sayang..." tebakan Meran membuat Casn berdecak kagum, Raick ternganga dan Furen melotot.
"Meran ini seorang penyembuh modern tapi sangat peka dengan vibrasi seseorang, seperti cenayang saja seolah bisa melihat aura," Kimmy menyenggol bahu kanan Briginer dengan bahu kirinya. Meran tersipu.
"Sementara kau seperti matahari, kau membuat suasana mencekam dalam mendung menjadi pelangi," Raick merayu Kimmy, Hyo mencubit pipi Raick.
"A..." pipi Raick tertarik.
Furen melirik Gina, dan gadis berhati besar itu tersenyum.
"Kita akan pelajari bagaimana cara menghadapi Gravicwalken, dan membebaskanmu dari penderitaan, bersama-sama," Gina memotivasi Furen.
"Aku akan selalu mendukungmu," Furen mengangkat tangan kanan Gina lalu mengecupnya.
"Aaa manisnya!" Kimmy memeluk Meran erat-erat.
"Hyo-chan!..." Briginer terkekeh.
"Hahahaa..." Casn dan Raick saling berpandangan.
⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙
"Selamat pagi, dan selamat kepada seluruh siswa pendidikan terpadu angkatan tahun akademi pertama Gravenchmatic Revolutionair High School. Hari ini adalah peresmian nama baru kita yaitu Prime Revolutioner.
Saya Robert Julio, siswa yang dipilih yayasan untuk menjalankan perintah mengawasi seluruh siswa baru menjalani program belajar di perpustakaan sekolah.
Tidak ada data keluar dari Huge Land karena tidak diunggah ke internet.
Dengan kata lain seluruh buku perpustakaan ini adalah arsip salinan yang dipegang setelah alite Huge Land.
Maka dilarang merekam dan menggandakan.
Kalian semua akan diijinkan membaca satu buku dengan waktu satu jam.
Setiap rak berisi bidang yang mungkin akan kalian minati dan bisa melanjutkannya dengan menentukan kelas jurusan demi memperdalam minat kalian, bakat kalian.
Maka kelas sepuluh akan dibagi menjadi tujuh kelas setelah ini. Sampai jumpa di formasi kelas selanjutnya..." Seorang berambut putih, berkacamata, mengenakan sarung tangan berdiri di podium aula pagi ini.
Seluruh siswa mulai antusias karena memiliki rasa penasaran masing-masing.
Rhyno melirik Furen yang dikejauhan berdiri akrab dikelilingi siswi-siswi elite. Mereka terkenal sebagai tiga dewi berpengaruh karena keluarganya membiayai yayasan sekolah, begitu pula keluarga Furen sendiri.
"Geng sosialita," Rhyno memalingkan muka.
"Bukannya Rhyno juga elite?" bisik Gia.
"..." Rhyno memasang muka masam.
Robert kemudian mempersilahkan semua siswa memasuki gedung perpustakaan.
Setiba di dalam perpustakaan, ada rak-rak buku tersusun rapi dengan label katalog.
"Snow eye technology?" mata Furen tertuju kepada rak yang berlabel tersebut.
Furen mendekati dan berusaha memilih dengan bijak karena hanya diijinkan membaca satu buku selama satu jam.
"Sejarah terciptanya Snow Eye Technology?" setelah sekian lama mencari, akhirnya Furen terpacu untuk membaca sebuah buku tebal.
Di sisi lain, "memang patut, kita sampai sekarang saja tidak tahu sejarah penemu-penemu di Huge Land, karena tidak pernah terpikir sedikit pun," Gia memilih buku.
"Kau kenapa mengikutiku, siapa tahu bakatmu berbeda dariku... pergi lah ke tempat lain..." Rhyno mendorong punggung Gia.
"Ee begitu ya?" Gia lugu menurut saja.
Rhyno meraih sebuah buku setelah memastikan Gia pergi dan membaca judulnya diam-diam, "Sejarah terciptanya kecedasan buatan komputer tuhan," gadis itu pun tergesa-gesa mencari meja untuk membaca.
Di sisi lainnya, Save dan Savy bersama memilih judul buku yang sama, "Sejarah terciptanya teknologi Eternal Grey Egg," baca Save.
"Ssst," pinta Savy, mereka duduk berdekatan membaca buku masing-masing yang berjudul sama.
Di sisi lain, Ben memilih buku berjudul "Kekuatan Light Zero," dia membacanya dengan rasa penasaran tinggi.
Di ruang membaca, Casn dan Raick bersama Furen di sekitar meja yang sama.
"Kalau begini terus kau butuh penyusup supaya mereka membantumu mencari informasi dan mengawal gerakanmu agar aman dan ada yang membantumu mengintai," bisik Raick.
"Kau benar, bagaimana caranya aku mendapatkan pengikut baru?" Furen mengangguk dan berbisik.
"Ke dunia bawah, ke kota rongsokan..." Bisik Raick.
"Aku dikawal elite," bisik Furen.
"Kau harus beli mobil yang tidak dilengkapi kamera dan penyadap jarak jauh," usul Casn.
"Kau benar... mungkin ini alasan paman Tristant membelot," Furen membuka halaman bukunya.
"Pinjam mobil dia," bisik Raick.
"Iya, dia pasti punya mobil jenis itu," Furen memantapkan diri.
"Teknologi Snow Eye adalah teknologi menyadap dengan kecerdasan buatan dimana seseorang yang memiliki partikelnya dalam tubuhnya maka akan bisa mengkoneksikan kesadaran untuk merasakan dan melihat bahkan membaca pikiran orang lain yang juga memiliki partikel ini dalam dirinya. Asal mula bahan dari teknologi ini adalah hasil penelitian terhadap zat yang terkandung dalam daun bernama Khiim yang ditemukan oleh seorang ilmuwan, profesor bernama Amnah Ishra Löwin Goldmann yang menikah dengan Herlix Xavier," baca Furen kemudian mengerti sesuatu.
"Rhyno Xavier," gumam Furen.
"Ada apa?" Casn.
"Ternyata teknologi Snow Eye ini masih baru tercipta beberapa tahun lalu menurut usia seseorang, dan penemunya adalah ibu Rhyno." Bisik Furen dengan nada tegas.
"Ibu Rhyno? Bagaimana bisa?" Casn sedikit shocked.
"Entahlah, pantas saja arsip ini bersifat semi rahasia, karena menjaga keselamatan orang-orang yang diperkirakan masih aktif andil dalam perkembangan sistem Huge Land," Furen.
Di tempat lain...
"Teknologi Eternal Grey Egg adalah teknologi berupa cairan berisi zat kimia yang bisa menghubungkan kesadaran orang-orang yang sudah menerima suntikan teknologi Snow Eye. Cairan ini ditampung dalam sebuah tabung dan operator komputer tuhan akan direndam di dalamnya, sehingga disebut telur, dan abu-abu artinya adalah keinginan dan pikiran orang banyak yang membaur menjadi satu dan akan dibaca oleh kesadaran operator tuhan," baca Savy dengan cermat.
"Idealnya operator komputer tuhan ada dua jenis, yang pertama adalah perempuan kemudian laki-laki. Kedua data dari mereka akan dinilai dan dijadikan satu, kemudian penelitian selanjutnya akan melibatkan uji coba kepada anak-anak yang masih belum memiliki pola pikir terpadu. Kemurnian insting dan reflek perasaan anak itu akan cenderung membawanya memilih ke arah nyaman dan menyebarkan pesan pilihannya ke seluruh orang yang terhubung agar memilih dan bertindak seperti yang operator tuha sarankan. Sehingga kelak di masa depan Huge Land akan mengatur masyarakatnya menggunakan telepati agar tidak ada praktek menyimpang, asusila dan kecurangan lainnya. Teknologi ini ditemukan oleh seorang ilmuwan bernama Cethoper Ali, pertama kali teknologi ini disebut Tabung Jiwa, namun setelah teknologi kolaborator yang dapat digunakan semakin banyak varian, maka dipatenkan oleh seorang elite berpengaruh di dunia bernama Jack Veroz sebagai teknologi basis panduan sistem Eternal Grey Egg." Baca Save.
"Jack Veroz?" Savy menoleh kepada Save.
"Siapa dia?" Save.
"Yang jelas dia masih hidup sekarang," Savy menduga.
Di meja lain, Rhyno sedang membaca dalam hati, "Kecerdasan buatan komputer tuhan ditemukan oleh Aoda Satoshi. Bermula ketika ia menciptakan robot dengan database yang dikumpulkan melalui internet, dan menyaring pilihan aksi manusia berdasarkan survey afeksi masyarakat. Namun elite berpengaruh di dunia, Jack Veroz mengklaim hal ini bisa menjadi sangat lebih, sehingga ia mendanai penemuan Aoda dan melipat gandakannya dengan berbagai variasi hingga tercipta konsep komputer tuhan," gadis berambut biru itu menutup bukunya dengan kesal.
"Aku salah ambil buku!" Sungutnya.
"Hehehe," Gia terkekeh.
"Mau baca buku pilihanku?" Gia memperlihatkan sampul buku di tangannya.
"Siapa pendiri Huge Land?" baca Rhyno.
Gia mengangguk.
"Biar kutebak!" Rhyno sebal.
"Siapa?" Gia humble.
"Jack Veroz," jawab Rhyno dengan malas.
"Salah!" Gia menyentil hidung Rhyno.
"Eh?! Jadi siapa?" Rhyno menatap antusias.
"Alice." Tegas Gia berubah menjadi serius.
"Alice? Siapa Alice?" Rhyno.
"Alice adalah seseorang yang membantu para elite sebelum akhirnya muncul benua baru yang sekarang disebut Huge Land. Oleh sebab itu elite yang membentuk benua ini berposisi paling atas sekarang di dunia. Alice yang menemukan segala cara agar bisa menciptakan sistem baru. Alice adalah julukan, nama sebenarnya tidak ada. Hanya disebut sebagai sosok ibu gaia yang datang menemui elite Huge Land dengan pertemuan rahasia. Alice terus membimbing penelitian teknologi canggih untuk dikembangkan di tanah masa depan yang akan segera muncul saat itu sampai Huge Land sungguh ada sekarang." Baca Gia.
"...?" Rhyno menyimak.
"Alamat Alice tidak disebutkan secara umum, namun dia adalah keturunan resmi dari Raja Atlantis yang bersembunyi. Akhirnya elite menemukannya setelah pencarian yang cukup lama dan sesegera mungkin meminta bantuan agar bersedia ikut menata dunia yang harus memasuki babak baru gaya hidup karena bumi yang semakin tua mempengaruhi kualitas tempat manusia hidup," Gia agak bingung membacanya.
"Raja Atlantis? Bukannya Atlantis sudah tenggelam? Itu di sekitar Indonesia kan?" Rhyno berpikir.
"Jadi Alice itu hanya julukan, mungkin seperti dewi... Oh ya, ada patung dewi kan di tengah Ferzan?" Gia teringat melihat sebuah patung dewi berdiri diantara persimpangan jalan raya besar di tengah kota Ferzan ketika berangkat sekolah.
Alice juga disebutkan sebagai mother of Minerva, yang membentuk persatuan elite seluruh dunia agar berkumpul dan mengerahkan kekuatan menyambut munculnya daratan baru yang kini menjadi Huge Land." Lanjut Gia membaca.
No comments:
Post a Comment