Di luar sana seluruh dunia dilanda bencana alam bertubi-tubi dan pandemi virus bervariasi. Semua terasa bergiliran antara tsunami dan gempa bumi yang menghiasi planet bumi dengan retakan tanah dan kubangan air di kota-kota besar. Hampir seperempat populasi manusia di dunia terhapuskan oleh peristiwa ini. Di tengah kejadian itu justru muncul sebuah daratan baru, sebuah benua muncul dari laut entah dari mana asalnya, membuat seluruh negara menginginkannya dan berebut kekuasaan. Mereka akhirnya mengirimkan orang-orang berkecerdasan tinggi untuk tinggal di benua itu. Setelah berhasil membangun benua itu, diharapkan orang-orang di sana akan membuat teknologi yang bisa mengendalikan cuaca dan aktivitas alam agar dunia aman kembali.
Namun ternyata ada rencana lain, di negara itu sedang dibangun teknologi kecerdasan buatan yang disebut dengan komputer tuhan. Dan komputer ini akan mengatur seluruh dunia. Sementara di berbagai belahan di bumi ini, teknologi sebagiannya sudah mati, tidak ada radio, internet dan minyak untuk bahan bakar tenaga motor bahkan listrik padam. Berbeda dengan benua baru itu seperti negara modern dilayani fasilitas sangat canggih dan banyak tempat hiburan.
Sebenarnya ada rencana apa dibalik munculnya benua itu? beberapa orang di benua baru bernama Zyo S atau Zyo Saturna itu berontak karena curiga bahwa bencana alam yang terjadi adalah ulah mesin pencipta rekayasa bencana alam. Di samping itu, pandemi aneh muncul di negara-negara dalam benua Zyo S yaitu merebaknya virus telepati dari komputer tuhan.
(ノ◕ヮ◕)ノ*:・゚✧
"Apa yang kamu rasakan saat ini?" seorang pria yang memegang jarum suntikan vaksin, memandangi gadis remaja berambut dan bermata biru di depannya.
"Berkunang-kunang, berputar-putar, ah... beratnya..." gadis itu mengeluh dengan suara parau dan lemas.
"Kau akan tertidur sebentar lagi, jadi selamat malam," pria itu tersenyum menemani pasiennya yang terbaring oleh bius dan mulai meninggalkan kesadaran.
⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙
"Jadi kau sudah setuju untuk dipindahkan ke negara itu? Wah beruntung sekali kamu bisa tinggal di tanah baru yang modern dan semuanya serba berfasilitas canggih," seorang wanita berumur sekitar tiga puluh lima tahun menyetir mobil dengan cepat untuk mengantar keponakannya menuju bandara.
"Hh..."
Gadis setinggi seratus tujuh puluh lima cm itu duduk menekuk lututnya susah payah di mobil kecil milik sang tante sambil mendengus, melihati pemandangan dari jendela mobil.
"Kau sudah sarapan? Bagaimana dengan efek vaksin itu?"
Wanita berambut ungu tua bob dan berponi kotak itu mengecek lipstiknya dengan cermin kecil yang dia ambil dari daskboard lalu kembali menginjak gas dengan semangat.
"Yaa..." Sang keponakan terlihat malas.
"Rhyno, ini penting! Perhatikan kesehatanmu baik-baik sebelum kau benar-benar tinggal di Huge Land sendirian. Di sana kau hanya akan tinggal sendirian, paham itu?" Si tante sudah gemas.
"Hfft... Iya nanti aku akan cari teman baru di sana untuk aku ajak tinggal bersama, tenang saja..."
Gadis berambut sasak itu masih memasang mata malas dan bibir tipisnya tidak mau mengucapkan banyak kalimat untuk menemani sang tante menyetir.
"Kalau saja ayahmu tidak memiliki harta peninggalan tersisa untukmu dan berjasa dalam perjuangan membentuk negara itu, pasti kau tidak akan di sana selamanya mulai hari ini." Wanita berjas hitam itu menjelaskan ketegasannya agar keponakannya menghargai usaha kakakknya.
Tapi mata Rhyno hanya menerawang langit biru tanpa awan dan mulai mengabaikan suara-suara di sekitarnya.
⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙
Huge Land, salah satu negara di benua Zyo S yang lahir dari daratan baru yang muncul begitu saja dari dalam lautan ke permukaan setelah terjadinya bencana-bencana tsunami dan gempa bumi yang terus muncul di berbagai penjuru negara di dunia. Warga yang tinggal di sana adalah orang-orang yang lulus seleksi kualitas fisik dan kecerdasan.
Diharapkan, program ini bisa melahirkan generasi manusia masa depan bertubuh kuat dengan daya akal luar biasa yang akan membantu negara-negara yang sudah hancur oleh bencana alam. Negara ini dibentuk dengan kesepakatan seluruh bangsa di dunia, dan dinilai memiliki tanah yang kokoh namun aneh sebab ketika gempa bumi dan tsunami mengamuk di berbagai negara, pulau asing yang muncul dari laut itu justru aman dan tidak memiliki gangguan alam sedikit pun. Maka semua negara seperti ingin memiliki bagian dari pulau yang memang berukuran sebesar benua baru itu.
Seleksi kelas masyarakat berfisik tangguh melawan virus dan berotak kelas tinggi seperti itu diadakan di semua negara di bumi ini setelah terjadinya wabah global atau pandemi yang luar biasa yang mengiringi kejadian bencana alam yang datang tanpa henti menggerus tanah-tanah kepulauan dan mendepopulasi manusia.
Dengan cepat, seluruh negara di dunia mengabaikan kerusakan dan kematian yang terjadi dan justru mentransferkan dana bantuan pembangunan negara baru yang namanya belum resmi itu. Negara baru ini seperti kapsul masa depan, setiap negara mendonorkan warga terbaiknya dan berharap di masa depan mereka bisa menghidupkan tanah air mereka yang sudah rusak oleh kegiatan alam. Pembangunan Huge Land terasa sangat pesat, seluruh dunia bersatu membangun fasilitas di atas tanah asing yang muncul dari dalam laut itu menggunakan peralatan canggih dan tenaga-tenaga profesional yang tangkas.
Tidak sedikit orang yang mati dalam mengerjakan proyek pembangunan di pulau itu namun jenasahnya tidak dikuburkan di sana, melainkan dipulangkan ke tanah airnya masing-masing. Orang-orang miskin dan berpendidikan rendah juga orang-orang luka oleh bencana alam bahkan terjangkit virus pandemi di tanah air mereka justru tidak bisa berbuat protes meminta keadilan kepada pemerintah mereka yang sudah terdoktrin, mereka hanya bisa menghadapi nasib dan berjuang sendiri.
Hidup tanpa teknologi dan hidup dengan sistem jual beli berbarter barang layaknya jaman sebelum adanya peradaban. Tidak ada listrik dan minyak untuk kendaraan bermotor. Semua pabrik hancur dan tidak ada internet, sebab itu pemerintah rela menyerahkan kekuatan bergantung kepada masa depan di tanah baru dengan harapan orang-orang berotak maju dari bangsa mereka sendiri akan menolong warga di tanah airnya nanti.
Rencana besar yang diusung oleh semua negara pelopor pembangunan Huge Land adalah mereka membutuhkan warga-warga cerdas untuk membantu membangun teknologi yang sangat canggih yang bisa menghadapi bencana alam agar bencana alam itu bisa dialihkan juga membuat teknologi kesehatan anti virus.
Warga yang berhasil menjadi penduduk Huge Land dikategorikan menjadi dua yaitu mereka akan masing-masing memiliki kartu identitas A berwarna biru dan B berwarna merah. A adalah kalangan masyarakat yang lulus seleksi dengan kualitas otak terbaik sementara B adalah kalangan masyarakat yang lulus dengan hasil tes fisik kebal virus terbaik. Sedangkan untuk warga yang memiliki nilai tinggi atas kecerdasan dan fisiknya akan mendapatkan kartu identitas berwarna ungu dengan kode huruf M.
⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙
Di sebuah kota di Jerman di mansion kediaman keluarga Chamazello...
"Seperti anak kucing yang lugu dan hanya mengharapkan makanan di jalanan, heh..." Noa, pemuda berambut silver berusia dua puluh tahun terlihat meletakkan beberapa dokumen ke sisi kirinya.
Pemuda yang sedang santai di atas kasur itu membuka buku tebal di sisi kanannya.
"Aku yakin seluruh dunia ini merasakan penderitaan yang sama akibat ulah keluarga jahat itu. Sekuat apa pun mereka menyembunyikan dimana alat rekayasa bencana alam itu untuk memunculkan pulau ini, aku yakin alat-alat itu sendiri akan hancur oleh alam. Pasti ada daratan lain di luar tempat ini, bukan hanya benua ini," Noa menyeringai dengan tenang.
Pemuda itu kemudian menutup buku tebal usang setelah membuka beberapa lembar dan berbaring tidur dengan menyelimuti seluruh tubuhnya yang berbusana sama putihnya dengan semua benda di kamarnya. Keadaan tentram itu berbanding terbalik dengan kondisi di lantai satu tempat dua tangga menjuntai dari lantai atas berhadapan. Terdengar erangan pemuda lain dengan suara cemeti yang sangat keras, sesekali yang ada pemuda itu menahan sakit.
"Kau masih berani melawan?!" Gertak seorang pria berbadan kekar berambut keemasan yang terus mencambuki pemuda berbadan ramping namun berisi, pemuda itu menahan sakitnya luka gesekan dari hantaman cambuk, bergeliat dilantai, berusaha bangkit namun terus dihujam cemeti.
"PLASSS!!!"
"Agh!"
"PLASSS!!!"
Pemuda itu tetap diam dengan mukanya yang semakin merah.
"Ayah," Noa dengan muka mengantuk keluar dari kamarnya yang berpintu putih kemudian menuju lengan tangga depan pintu itu.
Pria kekar bermuka masam penuh keringat itu menoleh kepada sang anak sulungnya sambil mengulur cambuk tebalnya yang panjang.
"Furen, jika perkaramu hanya karena pendaftaran itu maka tanda tangani saja formulir itu dan jalani tesnya." Mata Noa menyipit menahan kantuk yang amat.
"Untuk apa?..." Furen berusaha mengangkat dadanya dari lantai dengan kedua tangannya yang membiru.
"Um, sebuah kebangaan bagi seseorang berkecerdasan tinggi bisa menjadi manusia komputer tuhan yang mengatur sistem benua baru ini," Noa tersenyum tanpa makna emosi pasti.
"Dunia tipu-tipu..." Furen.
"Plass!!!" Cambuk kembali mendarati kulit putih tipis pemuda bermata biru semi hijau itu.
"Sudah lah Ayah, berisik... Aku sangat terganggu," Noa berlalu memasuki kamarnya.
"Jangan membuatku malu, Furen! Aku berjuang demi terbentuknya negara ini! Kau harus mendukung jejak ayahmu!" Bentak jendral besar itu kepada putera bungsunya.
"...?" Furen mengangkat wajahnya dan menatap ayahnya dengan menahan perih.
"Kau tidak pernah merasakan kasih sayang," Furen menahan air mata agar tidak keluar dari bingkai putihnya.
"Kasih sayang tidak menghidupimu, tidak mengenyangkan perutmu, tidak memberimu atap dan kasur!!" Pria masih berusia empat puluhan bertubuh gotot bernama Guarden Chamazello itu membanting cambuk besarnya ke lantai.
"Cih," Furen tiba-tiba bangkit dan berlari sekuat tenaga keluar dari mansion megah keluarganya.
Guarden tidak beranjak, dia membiarkan puteranya itu untuk berpikir. Dia meyakini bahwa Furen pasti akan kembali kepadanya.
Diam-diam ternyata Noa menguping sedari tadi dan mengintip Furen keluar halaman, membuka pagar besar mansion dan hilang di balik tembok halaman. Noa tersenyum kecil, "kau memang selalu memberontak sejak kecil."
⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙
Di sebuah kota di Amerika selatan...
Sudah dua hari ini Rhyno hanya menghabiskan waktu di kamarnya dengan membaca buku, semenjak sampainya di Huge Land, dia enggan berakrab hangat dengan kedua orang tua yang sejak kecil sibuk dan meninggalkannya di rumah nenek di kampung.
Mungkin terasa asing baginya, tiba-harus dekat dengan kedua orang tuanya. Namun pagi ini keadaannya lain, tidak setenang kemarin. Rhyno mengintip mereka tengah bicara dengan nada keras di perpustakaan yang juga tempat ayahnya bekerja di rumah.
"Kau sudah gila, tidak! Aku tidak akan pernah mendaftarkan puteriku ke ujian seleksi itu, tidak akan pernah!"
Kelak ibu Rhyno kepada suaminya yang berambut panjang pirang berseragam militer berpesona lecana-lecana di dadanya.
"Ini demi kemajuan bangsa kita, sebentar lagi kita akan menjadi elite penguasa dunia!" Ayah Rhyno.
"Tidak dengan membedah otak anakku menjadi komputer, aku memang tidak pernah mengurusnya sejak kecil karena mengikutimu, membantumu! Sampai detik ini aku masih mengikuti semua cita-citamu tapi tidak kali ini, dia hartaku satu-satunya, aku mungkin segera mati tapi masa depannya masih panjang, dia berhak menikmati hidup sebagai orang normal!" Ibu Rhyno.
Herlix Xavier, pria berbahu lebar dan berdada bidang setinggi seratus sembilan puluh cm itu tiba-tiba menurunkan pandangannya lalu meraih bahu Ishra dengan tangan kanannya. Wanita berambut hitam legam yang diikat menjuntai panjang itu menatap sang suami dengan risau.
"Kau harus pergi dari sini jika ingin hidup normal, bawa semua uangku dan hidup di Arab, beli lah apartment di atas awan dan jangan berpikir mencari kabarku di sini," Herlix, lembut.
"Tidak... jangan berkata seperti itu lagi... kita ini keluarga. Ada ayah dan ibu juga anak yang harusnya saling melindungi. Tidak! Aku tidak bisa lagi seperti ini suamiku! Aku lelah setiap hari harus menyuntikan racun ke anak-anak tidak berdosa! Vaksin-vaksin itu... seperti dosa yang senantiasa mengikutiku! Membayangiku!"
Ishra memegangi kepalanya dan menahan trauma yang terus membuat otaknya berimajinasi liar.
"Semua memang harus berjalan seperti ini sesuai dengan yang tertulis dalam ramalan! Aku sebenarnya memasuki perangkap ini agar bisa menikmati keselamatan dengan ada di atas orang-orang lemah itu! Aku membawamu, membawa anak kita. Karena dunia ini sedang chaos!" Herlix.
Ishra mengangkat wajahnya dan memandang lekat mata suaminya.
"...!"
Herlix melepaskan istrinya dan memeriksa jendela yang terhijab tirai. Memastikan dengan serius.
"Jika kau tidak mau mengorbankan anakmu, aku akan dihapus dari muka bumi ini." Herlix.
"Ah, apa maksudmu?!" Ishra.
"Ya. Ini adalah protokol... Semua jendral akan dihabisi jika tidak mendukung agenda menciptakan komputer tuhan untuk mengendalikan sistem kecerdasan buatan selanjutnya. Karena itu bawa anak kita pergi dan hiduplah di luar sana dengan damai." Herlix.
"??!...." Ishra ternganga, air matanya berhamburan.
"BRAKKK!" Suara pintu dipaksa buka.
"?!" Herlix.
"Puteriku!" Ishra.
"Aku akan daftarkan diriku."
Mata Rhyno sebeku es, beningnya memantulkan cahaya yang menerangi ruangan.
"Tidak, kau tidak perlu melakukan itu...." Ishra meraih Rhyno dan menciumi pipinya lalu memeluknya erat.
"Ibu pergilah dari sini dan buatlah penawar racun untuk setiap penyakit yang akan lahir oleh vaksin itu."
Rhyno tegas. Ishtar terdiam, jiwanya merapuh diterpa badai.
"Sementara aku mengulur waktu, ayah bisa mencari bantuan jendral-jendral lain yang ingin membelot. Aku yakin tidak semua jendral mampu menumbalkan anaknya untuk agenda ini!" Tangkas Rhyno.
Herlix menghampiri puteri semata wayangnya itu dan memeluknya bangga.
"Kau memang anakku," Herlix tersenyum bangga.
"Ehm! Kita harus bergerak tapi tidak boleh sampai menimbulkan kecurigaan..." Ishra bersemangat, ada api kepercayaan yang kembali menyala dalam dadanya.
"Iya." Rhyno mengangguk tegas.
"Tapi sebelum aku melaksanakan rencana ini, aku ingin memastikan satu hal, tentang seluruh kejadian bencana alam yang terjadi di dunia ini begitu saja alami atau memang hasil mesin rekayasa bencana alam?" Rhyno ternyata menyimpan kecurigaan sejak lama.
"Ya, kau benar. Semuanya itu adalah rekayasa. Mereka, orang-orang yang tidak memiliki kebangsaan tertentu karena tidak ada dalam daftar negara mana pun, bersatu menggalang dana untuk membuat mesin canggih yang dapat mengendalikan aktifitas fisika dunia ini. Seluruh dunia kemudian menyediakan orang-orangnya dengan terpaksa karena sadar sedang diancam bila tidak menuruti kehendak itu." Herlix.
"Sebenarnya orang-orang dikirim ke sini bukan untuk membantu tanah air mereka tapi untuk diberikan secara cuma-cuma menjadi warga Huge Land," Ishra.
"Jadi mereka sebenarnya penjahat yang berkuasa memaksa seluruh dunia agar mengikuti kemauan mereka?" Rhyno mengernyitkan alis.
"Orang-orang yang tidak punya kebangsaan?" Rhyno.
"Ya, mereka tidak memiliki tanah dan kampung halaman karena merupakan bangsa yang terusir" Herlix.
"Mereka hanya ingin memiliki tanah air untuk keturnan mereka sampai melakukan berbagai cara hingga bertingkah sejauh ini?" Rhyno, Herlix dan Ishra megangguk.
"Mungkin sudah takdirmu untuk menjalani ujian ini dari Tuhan," Herlix kembali memeriksa jendela.
"..."
Rhyno menajamkan penerawangannya tentang masa depan, dan yakin dia akan mampu melewati ini semua demi kedua orang tuanya.
"Aku tidak mau tinggal di sini selamanya," Rhyno bergumam.
"Mereka sudah datang, utusan dari orang-orang itu. Mereka akan memeriksa apakah anak kita sudah isi formulir," Herlix menuju meja kerjanya setelah melihat seunit mobil hitam memarkir diri di halaman mansion.
"Ibu akan kembali, kau isilah formulir itu," Ishra bergegas keluar ruangan untuk menerima tamu yang baru datang.
"..."
Rhyno menghapiri ayahnya dan duduk di kursi depan meja kerja lalu meraih ballpoint dan mengisi formulir dengan data diri.
"Setelah ini kau akan bisa masuk ke markas penelitian medis mereka, kau bisa lihat daftar-daftar anak yang akan menghadapi seleksi hingga penanaman chip ke otak. Kau bisa mengatakan itu kepada ayah supaya ayah bisa datangi orang tua mereka diam-diam," Herlix.
"Ayah harus bedakan siapa saja yang membela keadilan dengan siapa saja pengabdi setia mereka," Rhyno.
"Kau tenang saja, abdi mereka itu bisa setia karena terkena program pengendalian otak dari chip dalam kepala mereka. Mereka dulu manusia biasa dan sekarang mengalami ketergantungan sehingga patuh. Karena itu ayah membawa ibumu ke dalam masalah ini karena hanya ilmuwan yang bebas planting chip," Herlix.
"...." Rhyno menghela nafas panjang.
"Aku harap kamu tidak mengalami amnesia setelah divaksinasi ketika memasuki gerbang benua Zyo S." Herlix termenung.
Mata Rhyno tercengang mendengarnya dan mulai paham misi berbahaya ini. Jika sampai dia tidak bisa mengembalikan ingatannya maka dia akan kehilagan kedua orang tuanya dan selamanya terprangkap dalam neraka itu.
⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙
"Sebelah sini," seorang berseragam hijau mempersilahkan Rhyno menyusuri koridor laboratorium putih tempat dirinya akan diuji secara klinis apakah sudah siap untuk dicek struktur anatominya.
Namun ada yang menarik perhatian, Rhyno membuka sebuah pintu ruangan yang bertuliskan Minerval Room.
Rhyno mengintip, di sana ada seorang gadis sedang discan otaknya oleh beberapa pakar.
"Luar biasa sempurna," komentar salah seorang pria bermasker medis di ruangan itu.
Rhyno langsung mengembalikan posisinya dan berlari kecil menjauhi tempat itu dan menuju ruangan seharusnya dia berada, ruang ujian tes psikologi.
⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙
"...?"
Gadis berambut hitam legam dan berbibir tipis dengan kulit bersih dan berseri-seri kemerahan, berbaring di atas matras medis, membuka kelopak matanya perlahan, dia merasakan sejuk AC yang sangat sehingga membangunkannya.
"..."
Gadis itu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Kosong tanpa kehadiran orang-orang asing yang sudah membawanya paksa dari tanah airnya.
Gadis yang diculik ke tempat steril itu hendak melarikan diri. Tubuhnya masih lemas dan telapak kakinya kedinginan. Namun jiwanya berkobar membara ingin mempertahankan nyawanya untuk tetap merasakan kemerdekaan. Dia membangkitkan tubuhnya yang semakin kurus karena tidak makan berhari-hari dengan infus nutrisi. Ditujunya pintu keluar ruangan dan kemudian membukanya penuh perhatian. Ternyata di luar ada banyak aparat mengawal ruangan dia berada.
" Siapa pun selamatkanlah aku..." Gadis itu berdoa dalam relung hatinya, berharap ada keajaiban.
Sudah berhari-hari dia hadapi perlakuan kasar para penculik berbadan kekar yang menyeretnya dari rumah saat orang tuanya lengah tidak di rumah.
Dan ternyata keajaiban itu hadir dengan segera, seorang pria mendekati para penjaga dan mengajak mereka pergi.
"Ini kesempatanku," gadis bersuara lembut dan halus itu membuka pintu dengan cepat lalu mengayuh terus kaki kecilnya tanpa henti sampai menjumpai tangga dan menemukan pintu lebih besar yang menunjukannya tanah lapang tempat para pesawat melandas.
"Tempat ini?," dia menutupi satu matanya agar tidak termasuki debu yang tertiup angin kuat. Tanpa pikir panjang, dia melihat ada semak belukar nanjauh di sana, gadis lapar itu lari sekencang mungkin dengan terus melihat sekeliling dan berhasil menghilang masuk ke selimut semak yang luas, kakinya tidak puas menjajaki bumi. Dia terus berlari sampai entah kemana hingga langit menggelapkan diri.
⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙
"Anda harus segera pulang, saya tidak tahu harus menjawab apa karena saya terus ditanyai tentang keberadaan nyonya Ishra," suara via telefon pembantu di mansion Rhyno bergetar seperti ketakutan.
"Iya," Rhyno menjawab singkat, dirinya pun sekarang sedang diantar pulang oleh aparat keamanan dengan mobil laboratorium yang mewah menuju bandara untuk pulang ke Amerika selatan.
Perasaan Rhyno berkecamuk tidak karuan, hari sudah berlalu begitu cepat tak disangka ayahnya tewas tertembak oleh sosok misterius saat keluar halaman mansion di pagi hari ketika Rhyno berangkat ujian tes otak Minerval di hari pertama.
"Mereka tahu semua gerakan kita," desis Rhyno sambil menggigit kuku dan mengalihkan kecemasannya dengan menjelajahi pemandangan kota dari jendela mobil.
⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙
Sesampainya di kediaman Goldman, "Nona, Anda harus segera ke pemakaman, busana Anda sudah saya siapkan di kamar, silahkan bergegas membersihkan diri..." Pengasuh dan sekaligus pembantu Rhyno yang dipekerjakan oleh ibunya segera menyambut setelah dibukakan pintu belakang mobil oleh sopir yang mengantar Rhyno.
"Iya," Rhyno singkat, bergegas memasuki mansion menuju kamarnya dan sesampainya dalam ruangan bernuansa gothic itu, Rhyno kebingungan mondar-mandir memikirkan nasib ibunya yang sudah meninggalkan rumah sejak tengah malam.
"Ibu bagaimana keadaanmu sekarang? kau dimana?" Rhyno berlalu sesegera mungkin ke kamar mandi kemudian mengenakan gaun serba hitamnya dan keluar kamar menuju mobil ayahnya, dia diantar sekejab oleh sopir ke pemakaman veteran.
Semua seperti sudah disiapkan, segalanya lengkap, upacara kematian terasa seperti pesta, semua rekan kerja ayah melayat dengan hikmat menghadiri upacara kemiliteran berkabung yang tertib dan hormat tanpa muka sedih dan kehilangan sama sekali. Semua berlalu begitu cepat, tidak ada orang yang ingin meninggalkan pemakaman dan rumah duka dengan berlama-lama untuk sekedar berbasa basi kepada anak yang ditinggalkan sang mendiang.
Rhyno meminta supir untuk meninggalkannya karena ia ingin lebih lama berada di makam ayahnya. Rhyno menangis dan penuh kekecewaan dalam hati, ia bingung menentukan apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Langit menjadi mendung dan angin bertiup kencang. Hujan pun datang menemani gadis yang sedang sendirian itu. Seketika tubuhnya yang basah mulai menggigil karena suhu air hujan di Huge Land sangat sejuk. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh lapang kuburan yang luas itu. Semua terasa berat, mayat-mayat di dalam makam sekitarnya seperti memandanginya dengan muka sesal.
"Kalian semua memang bajingan, pantas mati," hibur Rhyno dalam hati sambil berdiri dan menyusuri makam.
"???..." Tiba-tiba mata Rhyno melihat sesuatu di balik semak-semak.
"Kaki?..." Rhyno semakin penasaran, dia mendekati semak belukar yang rimbun gemuk itu dan mendapati seorang perempuan berkulit pucat tidur tengkurap.
"Mayat?"
Rhyno menggoyang-goyang punggung perempuan itu dan ternyata perempuan muda itu mengangkat kepalanya dan memandang Rhyno lekat-lekat, "T tolong," katanya kemudian jatuh pingsan.
Rhyno terperangah, dia kemudian membopong perempuan itu pergi dari makam dan menuju taman sekitar pemakaman.
Hujan masih terus mengguyur bumi, Rhyno meletakkan perempuan itu di bangku taman yang memiliki payungan kaca untuk berteduh bila hujan tiba.
"Tempat ini seperti bukan tempat untuk membantu negara lain. Lebih tepatnya seperti sorga buatan." Sinis Rhyno yang melihat papan iklan sabun mandi dengan model wanita yang sangat cantik.
"Uh...?" Sosok perempuan yang tadi Rhyno temukan beranjak sadar dengan sendirinya.
"?..." Rhyno hanya melirik.
"Aku lapar..." Wanita itu mengangkat wajahnya, kali ini warna bola matanya terlihat lebih jelas.
"..." Rhyno terkagum dengan warna mata orang yang kini sedang duduk di sampingnya bersandar ke punggung bangku dengan lemah.
"M... mari ikut aku pulang, kita makan." Rhyno menyahut lengannya dan membopongnya menuju halte bus umum terdekat untuk diajak pulang ke mansion ayahnya.
⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙
"..." Rhyno melihat gadis yang sedang makan di sampingnya dengan pelan.
"Katanya lapar? tidak perlu sungkan," Rhyno.
"Aku memang suka makan makai tangan tapi tidak banyak yang masuk ke mulut, aku sudah selesai, terima kasih," dia tersenyum manis.
"Sedikit sekali makanmu, makanlah lagi," Rhyno mengambilkan lauk tapi tangan gadis itu menahannya sambil menggeleng, "aku sudah kenyang, percayalah!"
"Baiklah, ceritakan tentangmu." Rhyno baru bisa tenang melahap hidangannya setelah puas melihati orang asing makan di depannya.
"Namaku Yasmin, aku dari Yaman, usiaku enam belas tahun, salam kenal..." Dan dia tersenyum ramah.
"Hm, aku Rhyno Xavier dari generasi Veralyn Goldman dari Mesir, salam kenal juga... Hm... Aku tujuh belas tahun." Rhyno bermuka datar namun gadis itu tetap tersenyum.
"Aku lelah, aku ingin tidur cepat," Rhyno yang makan dengan lahap sudah siap dan beranjak bangkit.
"Aku pun," Yasmin mengikuti.
"..." Rhyno menoleh kepadanya.
"Kau bisa tidur di kamar untuk tamu, pelayan akan mengantarkanmu," Rhyno, namun Yasmin dengan cepat menggeleng kepala, "tidak tidak!" sahutnya.
"?!..." Rhyno menangkap ada raut wajah ketakutan yang disembunyikan teman barunya itu.
"Ikut aku," Rhyno berbalik dan berjalan cepat dengan serius menuju kamarnya.
Yasmin sigap mengikuti.
Setibanya di kamar Rhyno mengajak Yasmin untuk berbaring namun Yasmin terlihat gusar dan menolak untuk berbaring.
"Ternyata kau hanya ingin bersembunyi ya?" Rhyno duduk di ranjang dan menatap Yasmin dengan tajam.
"?!..." Yasmin terperangah.
"Katakan siapa kau sebenarnya?" Rhyno.
"..." Yasmin menurunkan pandangannya, nafasnya berat.
"Kau aman." Rhyno bermuka dingin.
"..." Yasmin tersenyum.
"?!" Dan itu membuat Rhyno bingung untuk memahami perasaan orang asing itu.
"Entah kenapa aku percaya kepadamu," Yasmin.
"..." Rhyno memalingkan wajahnya dengan dingin.
"Aku diculik dari rumahku saat kedua orang tuaku pergi ke pengadilan untuk menolak mereka... ya, mereka itu orang yang ingin supaya aku dikirim ke sini." Yasmin memegangi kain bajunya seperti ketakutan.
"Kau aman." Rhyno tidak memandang Yasmin, dia tetap bermuka dingin sambil melihat arah lain.
"Um!" Yasmin mengangguk percaya.
"Mereka berkata bahwa aku ini salah satu anak langka di dunia yang termasuk dalam ramalan terkenal sepanjang masa, karena itu lah mereka ingin menjadikanku sebagai orang yang mengendalikan kecerdasan buatan komputer tuhan," Yasmin berhasil membuat Rhyno langsung menoleh tajam kepadanya sambil tercengang.
"K kau, Minerval?!" Rhyno terbata. Yasmin mengangguk pelan.
"Kalau begitu kau harus sembunyi!" Rhyno langsung berdiri dengan panik dan meraih kedua bahu Yasmin.
"Aku percaya, Rhyno adalah satu-satunya harapanku sekarang di tempat ini..." Yasmin tersenyum hangat.
"K... Kau mempercayaiku?" Rhyno seperti dihujam petir.
"Iya," Yasmin mengangguk lembut.
Rhyno berbalik badan dan mematikan lampu kamar, lalu mengintip keluar jendela seperti ayahnya.
"Kau harus mengganti identitasmu dan merubah penampilanmu." Tegas Rhyno.
"Baik!" Yasmin bersemangat.
⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙
Rhyno dan Yasmin kini telah beberapa hari di Zyo S di negara Huge Land...
"Bisa?" Rhyno perhatian.
"Aku akan mencobaa pelan-pelan," Yasmin berkata lembut. Kemudian mencoba memakai softlense yang dibelikan oleh Rhyno dan memasang wig rambut hijau pastel ke kepalanya.
"Hmm... lumayan cantik," Rhyno memiringkan kepalanya melihat gadis di depan cermin itu.
"Aku seperti melihat orang lain," Yasmin bercermin.
"Tidak juga, matamu tetap hijau meski softlensenya membuat warna itu jadi lebih gelap," Rhyno berlalu untuk membenahi seragam sekolah yang ia kenakan.
"Panggil aku Rhyno saja." Rhyno mengambil tasnya lalu keluar kamar dengan cepat.
"Tunggu!..." Yasmin berlari menyusul.
Hari ini Rhyno menyetir mobil ayahnya sendiri namun dia tidak menuju sekolah untuk mendaftarkan Yasmin, dia mengajak gadis itu memutari ibu kota Farzen.
"Kita akan kemana?" Yasmin.
"Membuat kartu identitas baru untukmu," Rhyno berhati-hati memilih jalur.
Rhyno berbelok ke jalanan kecil yang tersembunyi dan kumuh.
"Kumuh sekali," Yasmin terkejut melihat pemandangan.
"Ya, ini adalah tempat pembuangan alat-alat bangunan selama mereka membangun kota-kota berteknologi canggih," Rhyno mengamati apakah dia diikuti utusan orang elite.
"Kau terlihat cemas," Yasmin.
"Aku kemarin ketika ada di laboratorium bertemu dengan dua orang pemuda seusia kita, dan banyak mengobrol saat mengantri," Rhino.
"Bagaimana menurutmu?" Yasmin ikut celingukan.
"Sesuai dugaanku di sini banyak pemberontak yang ingin melarikan diri dari tempat ini, dan mereka semua memang orang-orang cerdas terbaik. Mereka membangun kota bawah tanah yang luput dari pengawasan grup alpha," jelas Rhyno.
"Mereka itu? orang-orang yang kau jumpai di laboratorium tempat aku melarikan diri di Amerika selatan kah?" Yasmin ikut celingukan memastikan tidak ada penguntit.
"Ya, mereka siswa ambasador yang meyakinkan masyarakat agar mau pindah tinggal di Zyo S... Aku bercakap-cakap kepada mereka beberapa hal penting saat aku diprospek supaya bersedia tanda tangan pindah hidup ke Zyo S," ungkap Rhyno.
"Jadi kau melarikan dari laboratorium Mesva juga?" Rhyno fokus menyetir karena jalanan tidak rata, banyak rongsokan besi.
"Aku pikir iya, karena saat sadar dari bius, aku berada di ruangan medis," Yasmin.
"Apa kau belum divaksin? Karena itu akan membuat kita amnesia" Rhyno, Yasmin menggeleng kepala.
"Aku sudah divaksin, namun aku meminum pil ini, jika habis maka aku yakin aku akan amnesia, masih ada beberapa butir untuk kau dan aku" Rhyno mengeluarkan sebotol kaca berisi pil-pil berwarna hitam.
"Vaksinasi ke dua akan kita terima di sekolah Prime Revolunioner, itu artinya kau harus divaksin kali ini dan semoga kita tidak amnesia" Rhyno menghela nafas.
"Aku yakin chip yang akan ditanam ke otak manusia itu sebenarnya akan digunakan untuk mengendalikan pemberontak karena tidak mungkin orang-orang tidak saling mengenal akan langsung tunduk dengan komando elite", lanjut Rhyno.
"Kau benar," Yasmin.
Rhyno sudah sampai di sebuah perkotaan dekat laut kemudian masuk ke terowongan bawah tanah menuju sebuah gua besar berisi perumahan bersih namun dikawal banyak pria-pria yang terlihat garang. Rhyno diberhentikan di gerbang portal sebelum bisa memasuki kawasan itu.
"Ada kepentingan apa?" tanya seorang pria yang mendekati jendela depan kanan mobil.
"Aku temannya Zedha aku mendapatkan ini dari Save agar boleh masuk area ini," Rhyno mengeluarkan selembar daun aneh dari dalam sakunya, Yasmin melihati seksama keheranan.
"Baik, masuk cepat!" Pria itu menuju belakang mobil dan memastikan tidak ada penguntit. Orang lain membuka portal jalan dan mengaba untuk segera memasuki kawasan tersebut.
Rhyno sesegera mungkin tancap gas dengan pelan dan menengok ciri-ciri rumah orang yang bernama Zedha.
Tiba lah mereka di depan rumah unik terbuat dari sampah kaca-kaca hitam tebal.
"Rhyno, itu tadi daun apa?" Yasmin melepas sabuk pengaman.
"Daun dari tamanan yang hanya tumbuh di gua ini," Rhyno.
"Hah? bisa kah?" Yasmin celingukan mencari sinar matahari kemudian mengangkat bahu karena tidak mendapati.
⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙
Mobil terparkir didepan hunian kecil berbahan kaca hitam.
"Tok tok tok!" Rhyno mengetuk pintunya.
Lekas seorang pemuda berambut merah berkacamata membuka pintu dengan mata penuh siaga.
"Aku Rhyno teman Save," sambil menunjukkan selembar daun kepada pemuda jangkung itu.
"E, Save?" Pemuda itu mengambil daun dari tangan Rhyno.
"..." Rhyno mengangguk.
"Masuklah!" Pemuda itu membuka pintu lebih lebar.
Rhyno menggandeng Yasmin masuk.
Pemuda itu ternyata senang membuat peralatan canggih dari bahan bekas, ruangan rumahnya dipenuhi alat penemuan. Mereka terus berjalan sampai ke tangga menuju bawah tanah dan menjumpai gua dengan beberapa genangan air bercahaya oleh kristal yang beraliran listrik menancap di dinding gua.
"Woah, indahnya..." Yasmin takjub.
"Namaku Ben Zedha Alvin, rumahku di Swedia, dan aku ingin segera kembali ke sana," pemuda itu ramah, ia menoleh ke dua tamunya.
"Namaku Yasmin dari Yaman..." Lembut Yasmin.
"Aku akan mengangkatnya jadi saudariku, tapi aku harus mengganti identitas dia, kau adalah penemu jenius, bisa kah kau membantuku?" Rhyno berdiri dengan humble.
"Hm... bisa, aku rasa bisa. Aku juga baru saja akan memakai nama Ben di sini" Ben berjalan kembali, mengantar mereka ke tempat selanjutnya.
"Kelihatannya kamu belum mengalami amnesia ya?" Rhyno.
Zedha alias Ben meggeleng, "tapi vaksinasi kedua akan menyusahkanku sekali..." Ben terlihat putus asa.
Sebuah laboratorium bawah tanah penuh dengan komputer rakitan Ben sendiri.
"Kau sudah berapa lama tinggal di sini?" Rhyno duduk di sebuah kursi kerja dari bahan bekas yang diolah apik dan rapi.
"Sekitar tiga tahun, namun pemerintah sepertinya tahu ada banyak rakyat yang belum amnesia sehingga mereka memberi vaksinasi kedua, ini semua karena mulai dipasarkan obat anti amnesia ini," Zedha alias Ben menunjukkan botol yang sama seperti milik Rhyno dari sakunya sambil mengoperasikan komputer yang baru ia nyalakan lalu kembali mengantongi botol kaca itu.
"Itu buatan ibuku" Rhyno bernada datar.
"Kau memang punya aura luar biasa, pemerintah belum mampu menekan potensi manusia super di dunia ini dengan kimia bahkan teknologi ultra sekali pun. Namun aku curiga, vaksinasi kedua ini punya serum yang luar biasa karena diproses tiga tahun," Ben menghela nafas pasrah.
"Lama sekali! Aku baru beberapa hari saja tinggal di sini," Rhyno.
"Aku bisa merubah data kependudukan dengan bantuan teman-temanku yang tersebar di seluruh dunia, namun beberapa daerah kini tidak bisa mengakses internet karena bencana alam merusaknya. Jadi sebenarnya fungsi rekayasa bencana alam ini untuk memutuskan kerjasama pemberontak yang membajak data dunia agar elite mengalami kekacauan." Ben.
"Kau pun paham tentang rekayasa aktivitas alam ini," Rhyno mendekat.
"Tentu saja, aku bergaul dengan hacker-hacker yang menemukan alat aneh di langit setiap sebelum terjadinya bencana alam, mereka mencoba meretas alat-alat asing itu dan menemukan banyak data wilayah negara di dunia ini menggunakan bahasa digital baru. Mereka mentranskip kode itu dan mendapatkan sebuah bahasa. Bahasa angka rumit tetapi masih bisa dibaca dan diterjemahkan ke bahasa kita. Mereka sekarang kebanyakan sudah tewas. Tapi aku masih menyimpan situs yang bisa disabotase agar identitas kita bisa dirombak. Sekarang situs ini menjadi senjata andalan seluruh dunia untuk menyusup masuk ke sini dan keluar dari sini," Ben berhasil mengakses masuk.
"Nah, ubah datanya, menjadi Gia Gloria generasi Veralyn Goldman dari Mesir!" Rhyno mendapati sudah masuk halaman edit data kependudukan.
"Katakan siapa namamu?" Ben menoleh kepada Yasmin.
"Namaku Yasmin binti Ali Al Syaukani dan ibuku Umma Aisha," Yasmin ramah.
"Sepertinya kartu keluarga Yaman tidak berformat rumit, baiklah." Zedha menginput data.
Yasmin bahkan heran bagaimana bisa foto depan rumahnya sampai halaman belakang pun tertera dalam situs itu seperti difoto dari ketinggian.
Yasmin menoleh kepada Rhyno bermaksud bertanya.
"Jangan heran, mereka menyebut diri mereka si mata satu yang bisa mengawasi berbagai hal, mereka menyebutnya teknologi snow eye..." Rhyno mengangkat alis kanan.
"Oh, mengerikan," Yasmin menutupi mulut dengan tangan kanan.
"Baiklah," Zedha mengetikkan data yang diinginkan Rhyno tadi dan memasukkan Yasmin ke dalam kartu keluarganya.
"Dari gelagatmu bicara sebenarnya aku yakin kau keluarga anggota utusan orang-orang itu," Ben.
"Banyak pembelot, kau tenang saja," Rhyno menepuk bahu kiri Zedha yang duduk di sofa kerja.
"Aku penasaran apakah utusan mereka tidak menemukan kalian di tempat ini? peralatan mereka kan canggih, mereka juga dibekali suplemen aneh yang bisa membuat tubuhnya kebal," Yasmin yang kini bernama Gia itu membicarakan tentang aparat keamanan.
"Dunia ini luas, kalau mereka mencari manusia berotak super cerdas yang bisa mengendalikan komputer tuhan maka mereka pasti lambat laun akan tahu istilah manusia ber-DNA plus," Ben membuka situs lain setelah berhasil menyelesaikan input data Gia.
"DNA plus? aku seperti pernah mendengar istilah itu tapi dengan penyebutan lain namun definisinya sama... orang-orang yang memiliki bakat sejak lahir, dari warisan keluarga mereka, seperti ilmu sihir atau sejenisnya... shaman atau avatar..." Rhyno berkacak pinggang menoleh kepada Gia.
"Dan saint," Ben menoleh kepada Rhyno yang juga berhadap wajah dengannya serempak.
"DNA berwarna ungu atau purple lined DNA, selama ini diklaim merupakan DNA buruk atau akibat kurang nutrisi... Mereka menyegerakan orang-orang yang memilikinya untuk lekas berobat agar tidak mudah terserang penyakit, aku yakin sejak awal mereka tidak ingin ada banyak manusia mewarisi DNA ungu ini hidup, sebab orang yang melatih bakatnya akan bisa melawan senjata canggih sekali pun dengan menyatukan badan dan jiwa kepada alam semesta." Ben melipat lengan ke depan dada dan memperlihatkan video seseorang mengendalikan hujan badai agar mereda ketika hujan itu hendak membanjirkan sebuah kota.
"Hebat! video yang ini tentang apa?" Gia penasaran.
Ben mem-play video yang membuat Gia tertarik sebab tidak asing dengan bangunan masjid yang banyak berdiri di kampung halamannya. Terlihat bangunan masjid kokoh sementara sekitarnya sudah rata dengan tanah oleh tsunami.
"Ini terjadi di Jepang, setelah dibom tahun seribu sembilan ratus empat puluh lima, tempat ini juga tetap berdiri setelah gempa bumi dasyat menimpanya, banyak bangunan masjid tetap kokoh karena tidak bisa diganggu gelombang elektromagnetik, tidak hanya di Jepang, di Indonesia juga ada dengan kasus sama yaitu pasca tsunami dan gempa. Aku juga curiga dengan fenomena yang aku sebut super power light zero ini. Jangan-jangan, alat pemusnah rekayasa gempa bumi ini juga dioperasikan manusia yang menguasai sihir, karena musuh energi tuhan di rumah ibadah biasanya adalah energi iblis." Ben mengurut dagu.
"Aku pernah mendengar dari ibuku sebelum kemarin lusa dia lari dari sini. Dia berkata bahwa ada berbagai jenis manusia di bumi ini, salah satunya keturunan Konsilia Konsilian," Rhyno.
"Aneh, aku baru mendengar istilah itu, apa itu?" Ben.
"Nefilim, dalam kitab suci orang Kristen, ibuku menyebutnya begitu, fallen angel yang beranak pinak di bumi dengan manusia akhirnya melahirkan nefilim, dan nefilim ini diusir ke tempat yang jauh entah di mana, namun sebagian dari mereka berhasil melarikan diri dan berkembang biak meski akhirnya tidak semua keturunan mereka berfisik sama seperti kita," Rhyno.
"Maksudnya bagaimana?" Gia.
"Beberapa anak mereka harus bekerja keras supaya bisa terlihat oleh manusia. Karena itu laboratorium rahasia tertinggi menculik anak-anak untuk dikembangkan, untuk membuat keturunan tidak terlihat menjadi terlihat, dan beberapa uji coba berhasil membuahkan manusia yang bisa berteleportasi." Rhyno.
"..." Ben ternganga.
"Jadi ini nyata?" Ben membenahi kacamatanya yang melorot.
Rhyno mengangguk, "ibuku secara langsung bergabung dalam penelitian nursery pengembangan anak-anak tidak terlihat agar menjadi terlihat dengan mengalami cangkok bagian tubuh anak-anak yang diculik dari berbagai negara."
"Keji," Gia merinding.
"Anak-anak ini lah yang disebut, konsilia konsilian, anak-anak bintang." Rhyno.
"Sejauh ini?" Ben.
"Kau pikir, para elite itu bukan manusia setengah mahluk asing? makanya mereka meyakini bahwa mereka itu keturunan malaikat jatuh, yang bisa menciptakan sorga versi bumi. Sejauh itu..." Rhyno.
"K kau..." Ben mengambil sebotol air mineral lalu meneguknya.
"Ini sangat rumit, bagaimana bisa ini semua bisa diawali?" Gia.
"Mereka tidak punya rumah, tidak punya tempat tinggal, setelah mereka berhasil hadir di muka bumi ini mereka membutuhkan sebuah negara yang resmi terakui seluruh dunia bahwa negara itu sah milik mereka, karena itu mereka menghancurkan negara lain agar bisa menggeser daratan dan membuat teknologi yang menjadikan pulau ini muncul, dengan membocorkan gas alam dari perut bumi, lumpur akan naik, tanah-tanah banyak melunak karena panas, bioritme akan terbangun dan genesis akan tumbuh membentuk daratan baru." Rhyno.
"Jadi semuanya berawal dari mereka menginginkan tanah airnya sendiri," Gia berusaha mencerna.
"Betul, dan teknologi kecerdasan buatan harus dikendalikan oleh otak berkualitas terbaik yang bisa menghubungkan diri ke dimensi lain sehingga bisa mentransmisi sesuatu yang abstrak menjadi kongkret," Rhyno.
"Tujuannya adalah mengekspor hal yang tidak terlihat dari dimensi lain ke dimensi kita?" Ben.
Rhyno mengangguk serius.
"Dan orang-orang yang mengendalikan komputer tuhan itu suatu saat akan mati, namun tubuhnya akan dirasuki sesuatu sehingga seolah mayat hidup. Dan sosok yang akan dimasukkan ke orang-orang itu adalah sosok-sosok hebat dari dimensi sana, yang akan mengendalikan seluruh sendi pikiran dunia ini, demi menciptakan era baru, dengan sistem tananan baru..." Rhyno menajamkan mata.
"Sudah cukup, aku mual..." Gia memegangi kepalanya yang tiba-tiba pusing.
"Kau tak apa?" Rhyno.
"Semua itu seperti rencana yang jika terus diucapkan, rasanya seperti ada energi negatif yang dihasilkan, mendengarnya membuatku pusing," Gia.
"Tentu, tentu saja! Karena yang aku ucapkan tadi itu lah bunyi ramalan legenda yang terkenal itu," Rhyno.
"Ayahku berkata bahwa kutukan itu bisa dipatahkan dengan tertawa bahagia dan berbagi makanan dengan orang yang susah," Gia lemas.
"Kali ini tidak cukup, Gia. Besok kau akan tahu ketika bertemu Save di sekolah dan aku harap kita semua belum divaksinasi," Rhyno mengusap kepala Gia dan Gia mengangguk.
"Save pun sekarang kualahan mencari keberadaan ibunya yang diisukan bunuh diri menjatuhkan diri dari lantai tinggi apartment, dia percaya sebenarnya itu bukan ibunya karena tidak ada otopsi dan langsung dikuburkan tanpa pemberi tahuan rumah duka, Save yakin ibunya diculik, ayah Save pun menghilang setelah mewawancarai beberapa orang berpengaruh." Ben mengurut dagu.
"Jadi sebenarnya ayahnya Save itu wartawan ya?" Tanya Rhyno, "polisi," jawab Ben.
⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙
Sementara di lokasi lain di hari kemudian...
Furen sedang duduk sendirian di sebuah tempat misterius yang liar di bawah pebuktian dekat mansion dia berada.
"..." Furen menerawang masa lalunya yang selalu sendirian dan tidak pernah mendapatkan kasih sayang, kedua orang tuanya tidak pernah pulang bahkan Noa sebagai kakak tidak pernah menganggapnya ada.
"Kau siapa?" Terdengar suara seorang perempuan terdengar merdu dari belakang, "?!!" Furen sontak menoleh ke belakang.
"Bagaimana bisa kau ada di sini, orang biasa?" Perempuan berpenampilan aneh berdiri di belakangnya.
"Orang biasa?" Furen tanpa ekspresi.
"Iya, aku berbeda darimu, ini tempatku, bukan duniamu, bagaimana bisa kau ke sini?" Perempuan itu duduk di sisi kanan Furen.
"Apa aku tadi mati, dan bertemu bidadari?" Furen mengambil batu dan melempar ke air.
"Hahaha, bukan, ini adalah dimensi tempat aku jalan-jalan, memang orang biasa bisa ke sini dengan leluasa jika batas dunia terbuka," sosok itu.
"Mungkin Huge Land itu tanah keramat," Furen.
"Huge Land? oh kamu orang sana?" wanita itu tersenyum.
"Aku dipaksa menjadi komputer tuhan untuk tempat itu, dan aku melarikan diri," Furen.
"Oh, pantas kau bisa sampai kemari, ternyata kau bukan orang biasa... tapi pilihanmu untuk menolak itu benar, kau tidak perlu menjadi komputer tuhan," suara wanita itu terdengar renyah.
"Siapa namamu?" Furen tanpa ekspresi.
"Bloom, calon penguasa komputer tuhan terbaik untuk Huge Land," mengulurkan tangan kepada Furen sambil tersenyum, dan Furen meraihnya sambil tersenyum.
"Baguslah..." Furen tersenyum ringan.
"Jadi secara tidak langsung aku sudah menolongmu bukan?" Bloom.
"Kau benar," Furen tersenyum.
"Begitu lebih baik, tersenyumlah dengan manis," Bloom.
"Bagaimana caraku keluar dari tempat ini?" Furen.
"Mungkin kau harus menemukan lagi batas dimensi yang tadi kau lalui," Bloom.
"..." Senyuman itu tidak hilang dari wajah Furen, dia mengedarkan pandangan ke tempat itu, menikmati untuk terakhir kalinya, pebukitan dekat air terjun kecil sungai berkabut aneh.
"Jadi, kau masih ingin di sini? aku harus segera pergi dari sini, ada seseorang yang harus aku temui di duniamu," Bloom riang.
"Bawa aku, aku jadi penasaran," Furen tersenyum kecil.
"Baiklah, ikuti aku," Bloom beranjak dan berjalan, Furen mengikuti terus hingga tiba di sebuah tempat banyak pohon dan semak, terasa tidak asing, ternyata mereka sudah sampai di laboratorium tempat menguji orang berotak minerval.
"..." Senyum hilang dari wajah Furen ketika ia melihat tempat itu.
"Jangan khawatir, bukan kamu yang akan mengendalikan tempat ini, tapi aku, kau akan selamat, pegang tanganku," Bloom mengulurkan tangan, Furen meraihnya.
Kemunculan mereka ternyata disaksikan banyak orang di balik jendela kaca besar lantai atas gedung laboratorium.
"Sang dewi sudah muncul, kita harus segera menyambutnya!" Sahut seseorang di dalam sana.
Furen memandang terus di balik kaca itu terlihat orang-orang mengamati kedatangannya kemudian berlarian panik.
Furen melirik Bloom kemudian tersenyum tenang.
"Percayalah kepadaku," Bloom dan Furen berjalan mendekati gedung putih itu dengan tenang.
"Kami tidak menyangka ternyata ritual Magus berhasil memanggilmu datang ke sini, kami sudah menunggu ini berabad-abad lamanya," sambut seorang ilmuwan.
"Hm... tapi kalian jangan susah payah menyuruh orang lain sebagai cadangan, aku sudah datang, jadi pemilihan orang yang mengoperasikan komputer tuhan itu tidak diperlukan lagi, cukup aku, tidak ada pandangan bandingan, keadilanku yang terbaik, bila lebih dari satu orang pengendali komputer tuhan, mereka pasti akan bertarung idealisme!" Bloom melipat tangan sambil mengangkat dagu, merajuk.
"Iya, iya, kami paham!" Para ilmuwan mengangguk menyanggupi permintaan Bloom yang berambut putih dan bergaun putih berkulit albino dan bermata ungu.
"Ini adalah tangan kananku, manusia pertama yang menjemputku dari alam batas antar dimensi, jadi dia adalah orang pertama yang aku percayai untuk urusanku, jadi patuhi dia!" Bloom menunjuk Furen.
Bloom merajuk karena tidak dijemput dengan cara istimewa dan justru orang awam yang mendatanginya, dia anggap pertemuan mereka begitu.
"Maaf, kami kekurangan orang berbakat, sebab Magus tidak mengajari siapa pun dari kami," ilmuwan menundukkan kepala.
"Hhm... begitu baiklah aku anggap ucapanmu bisa dipercaya, kata Magus hari ini adalah hari penobatan, di mana itu?" Bloom.
"...?"
Furen sedari tadi berdebar karena panik hanya bisa tersenyum karena tidak tahu menahu apa-apa, kini dia merasa tercebur ke dalam masalah besar seperti tornado kencang.
"Silahkan ikut kami," ilmuwan memandunya berjalan.
"Ayo, ikuti aku," Bloom menggandeng Furen.
Mereka berjalan menuju sebuah ruangan yang sangat besar, karena memang gedung laboratorium ini berukuran mega. Di sana ada mimbar, dan di bawahnya sudah berdiri peserta-peserta yang ikut ujian tes otak minerval. Termasuk Noa ada di sana, betapa panas dingin ia melihat Furen berdiri di atas mimbar bersama seorang gadis cantik berpenampilan fancy seperti dari dunia lain.
"Salam untuk kalian semua," gadis itu mengangkat kedua tangannya ke atas sebagai bentuk pembukaan pidato.
"Siapa dia?" Ben yang berdiri dekat seorang pemuda bertubuh tinggi kekar dan berbahu lebar bernama Save dan adik kembar perempuan bernama Savy, mereka datang berbaris dengan Rhyno dan Gia juga.
Semuanya penasaran dengan kejadian ini.
"Untuk semua peserta penanganan otak minerval, saya menghargai dan menghormati jasa dan kepedulian anda semua, namun saya di sini hadir untuk menyampaikan pengumuman bahwa saya akan menjadi kandidat nomor satu untuk urusan kecerdasan buatan yang pertama, sehingga kegiatan pemeriksaan Anda semua kali ini terpaksa diberhentikan hingga tiba saatnya nanti berlanjut kembali," Bloom berpidato dengan riang.
"Kau selalu lebih cepat," gumam Noa ketika melihat Furen di samping kanan Bloom.
"Bagus, ini bisa dipakai mengulur waktu," Rhyno yang berdiri di tempat lain.
"Kesempatan, sebelum keluar dari sini aku akan mencari ayah," Save berbisik kepada Savy yang berambut bob ungu.
"Aku akan mencari tahu siapa dia itu, aku tidak kenal," Savy.
Namun kalian semua akan menjalani program penggantinya, yaitu sekolah di Prime Revolutioner dan menerima vaksinasi. Dan untuk mempelajari lebih lanjut teknik kecerdasan buatan itu sama sulitnya dengan menjalani uji klinis menjadi operator komputer tuhan, kalian akan mempelajari efek dan lain-lain di sana," jelas Bloom.
Furen melirik seseorang yang berdiri di kejauhan dari tadi melihatinya diantara barisan lain dengan tatapan mata yang aneh. Itu adalah Noa.
⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙
Setibanya Furen di mansion. Betapa terkejutnya ia mendapati ayahnya terkapar di lantai ruang tamu depan loby. Sesegera mungkin ia berlari menghampirinya seraya berteriak panik, "Ayah!!?" Furen membalik punggungnya sehingga terlihat wajahnya yang membiru, dengan lubang berdarah di seragam militer yang ia kenakan.
"Ini pembunuhan?!" Pemuda itu membuka kancing baju ayahnya dan menyaksikan lubang menganga di dada pria keriput itu.
"Furen..." Suara Noa.
Furen menoleh dan mendapati kakaknya berdiri di tangga. Furen mengedarkan pandangan ke lantai dan mendapati senjata api tergeletak di lantai.
"Kau?" Furen memicingkan mata kepada Noa.
"M...m...m..." Noa menggeleng dengan muka datar, lalu berbalik badan berjalan menuju kamarnya.
"Andai kau bukan saudaraku," Furen berdiri lalu mengambil senjata api itu namun asap tiba-tiba membuatnya terkejut karena memasuki rumah dengan cepat, asapnya begitu tebal. Api pun menyusulnya masuk.
"Kebakaran?! Dari mana asalnya ini semua?!" Furen berlari menuju bagian mansion yang sudah berkobar.
Semua orang sudah pergi meninggalkan mansion, tidak ada satu pun pembantu yang membantu memadamkan api, alarm kebakaran menyala dan air seketika mengucur ke lantai. Furen bergegas lari ke kamar Noa, mendobrak pintunya namun pemuda yang lebih jangkung darinya itu sudah meninggalkan kamarnya, jendela terbuka lebar dengan kelambu yang dilalap api.
Tanpa pikir panjang Furen berlari keluar mansion dan berniat menemukan batas dimensi ke tempat Bloom berada namun dia berjalan semakin jauh sampai menemukan sebuah tempat penuh rongsokan besi. Hal aneh terjadi, awan berjalan sangat cepat menjadi mendung, angin kencang yang menerpa menerbangkan sebagian sampah ringan, hingga rintik gerimis mulai menghunus bumi.
"Aneh, di tempat seperti ini seharusnya tidak terjadi," Furen berlari, tanah mulai menjadi lumpur becek.
Namun di tengah pelariannya, ia menemukan perempuan aneh berdiri sambil berteriak.
"Kau salah, jika kau mengendalikan kecerdasan buatan untuk membuat manusia bertindak adil itu mustahil! Dengarkan aku! Jangan pergi!" Perempuan itu seperti sedang berdialog dengan orang lain tapi Furen tidak bisa melihatnya.
Tiba-tiba saja kepala Furen berdengung lalu terasa berat, tubuhnya kesemutan hebat dan jantung berdebar. Perasaan aneh muncul, Furen mengalami seperti kecemasan mendadak yang amat sangat. Serta merta ia berlari menuju peremuan itu kemudian memeluknya sangat erat. Perempuan itu tidak dapat melarikan diri dari Furen, dia terkejut ketika Furen berlari menghampirinya sangat cepat. Terlambat, pelukan itu membuatnya merasa aneh, tubuhnya semakin melemas, pandangannya memudar, berkunang-kunang, kemudian ia jatuh tidak sadarkan diri.
Setelah rasa cemas itu pergi dan jantungnya tenang, Furen tidak sadarkan diri, dia terlelap dalam ketenangan jiwa yang tiba-tiba melanda. Mereka berdua terkapar di kubangan lumpur yang semakin naik oleh genangan air hujan yang deras.
"Lim!!!" Teriak Furen terbangun dari mimpi buruknya.
Furen mengedarkan pandangan, dia melihat semua teman-temannya terkapar di laboratorium di depan komputer.
Furen berusaha mengingat apa yang terjadi setelah ber-video call dengan Arman dan Adam.
"Ingatanku kembali..." Furen memegangi kepalanya.
"Iya..." Rhyno yang memejamkan mata menjawab lirih.
"Nona Rhyno?!" Furen membangkitkan dirinya dan mendekati Lim yang terkapar.
"Lim...." Furen mengguncang gadis sipit berambut ungu itu.
"Ya... Aku ingat sesuatu Furen..." Lim.
"Tapi kenapa ayahku sekarang masih hidup dan sangat tua?" Pikir Furen.
No comments:
Post a Comment