Wednesday, February 12, 2025

Bab 11: Menyetor Nyawa untuk Disantap

 Save membuka matanya dan terkejut tentang ingatannya barusan tentang artikel yang diberikan oleh Rhyno kepadanya.

"Itu artinya Rhyno memberikan artikel tentang ibu sebanyak dua kali, yaitu sebelum vaksinasi dan setelah vaksinasi..." Save berkata tanpa sadar.

"Dan ternyata kita sudah akrab dan  saling mengenal sebelum sekarang ini," Ben membuka mata.

"Tapi bagaimana bisa memoriku ada dua versi?" Furen heran.

"Artinya ayahku dibangkitkan dari kematian kah?" Tanya Furen lagi.

"Siapa yang membangkitkan ayahmu dari kematian?" Lim bernada tegas.

"Magus," jawab Traven.

"Magus?" Rhyno melirik Traven.

"Jumlah kita seharusnya ada tujuh orang dari keturunan para kakek founder sesuai dengan jumlah tujuh dosa besar manusia tapi hanya dari keturunan Magus yang tidak ada di antara kita karena dia adalah pemanggil iblis dan berdiri bersama pemerintah," jelas Traven.

"Sebentar, mari kita pikirkan bersama-sama!" Traven.

Para remaja itu saling bercakap cakap dalam kegelapan, semuanya masih dalam posisi terbaring.

"Aku duluan nih, memoriku ganda... Maksudku aku bermimpi seolah nyata... Ayahku sekarang masih hidup, tapi di mimpiku dia sudah meninggal... Noa sekarang sudah meninggal tapi menurut mimpiku, Noa masih hidup..." Furen bingung.

"Rhyno datang kepadaku membawa artikel sebelum vaksinasi siswa Prime Revolutioner, lalu Rhyno datang lagi kepadaku menyodorkan kabar tentang ibuku meski pun artikelnya berbeda," Save heran.

"Ternyata aku sudah dekat dengan Rhyno sebelum pertemuan kemarin," Ben.

"Artinya kita mengalami lompatan memori," Traven.

"Dan sekarang semua ingatan itu kembali utuh, ayahku dibangkitkan dari kematian karena aku adalah teman Bloom si pengendali komputer tuhan," simpul Furen.

"Jadi yang barusan terjadi kata Arman bahwa setan menyerbu tempat ini untuk menyerang kita ternyata membuat kita jatuh hilang kesadaran adalah?" Ben.

"Ulah Bloom," senyum Furen.

Tiba-tiba listrik menyala dan lampu kembali bersinar.

"Bloom?!" Semua orang bangun dari lantai.

"Anehnya aku tidak ingat kapan aku bisa melakukan datang ke Save itu dan kenapa?" Rhyno.

"Kurasa itu refleksi dari sanubari atau jiwa," Ben.

"Aku ingat kata paman Will, memori jiwa itu bebas," Gia.

"Jiwa kalian memberontak dengan kuat dan membimbing perilaku kalian agar mengerjakan sesuatu yang harus kalian kerjakan," Ben.

"Apa kah artinya sekarang Bloom dalam bahaya?" Furen baru dapat menyimpulkan.

"Key dan Vero belum bangun!" Martin melihat Key dan Vero masih terkulai di lantai.

"Mereka sedang melakukan perjalana astral," Ben yakin.

"Aku harus menemui Bloom." Furen berdiri.

Dia membuat lingkaran dan sigil di lantai menggunakan laser dari smartphone-nya.  Semua orang menyaksikan. Furen berdiri memejamkan mata dan muncul cahaya menyelimuti dirinya yang datang dari pori-pori tubuhnya dan membuat sosoknya melebur dengn udara dan menghilang.

"Keajaiban," Traven dan Raick terbelalak.

"Jadi sebenarnya kemampuan supernatural kalian itu tetap ada selama ini tapi ingatan yang dilumpuhkan dari vaksinasi menjadikan kalian tidak sadar dan lupa cara melakukannya meski pun tetap mampu." Ben tepat sasaran.

Sementara di tempat lain... Furen dengan teleportasinya kini berada di hadapan Bloom...

"Bloom.." Furen berjalan menuju sebuah pohon yang selama ini dimaksud teman indigonya tempo lalu.

Di sana ada kapsul besar berisi air dan Bloom di dalam tabung itu, ada kabel aneh tersalur ke pohon itu. Furen meletakkan tangannya ke dinding tabung itu untuk mengantarkan percakapan lewat batin, berharap sampai kepada Bloom yang memejamkan mata.

"Furen, lepaskan aku!" Terdengar suara Bloom dalam kepala Furen.

"Apa kau menderita?" Furen.

"Magus semakin gila dan memaksaku melakukan banyak hal tanpa bisa kukendalikan, sampai aku diperlakukan seperti ini," suara Bloom terhantar lebut lewa frekuensi.

"Aku akan bawa teman-temanku dan mengeluarkanmu dari sini, percayalah!" Furen memejamkan mata dan berniat kembali ke laboratorium bawah laut tempat Ben dan lain berada.

Tubuh Furen kembali mengutuh di atas lantai bersigil. Dan semua orang mulai menyaksikan keajaiban kedua terjadi.

"Aku adalah Konsilia Konsilian," Furen tersenyum.

Rhyno tercengang.

"Iblis yang sesungguhnya adalah manusia yang ingin abadi karena ingin menuntut balas atas hidupnya yang telah mengalami penderitaan sejak pengusiran jaman dulu saat mesiah masih hidup," Furen berbicara dengan menerawang.

"Mesiah?" Rhyno.

"Juru selamat umat manusia," Ben.

"Kita harus ke tempat itu menyelamatkan Bloom dari orang itu, Magus." Furen keluar dari lingkaran.

"Sejak kapan perangkatmu punya laser Furen?" Qio.

"Ini milik ayahku," jawab Furen yang kini memorinya telah kembali semua.

"Aku penasaran, jika Noa masih hidup maka dimana dia sekarang?" Traven, Furen menggeleng.

"Aku bahkan tidak ingat kapan vaksinasi itu kita terima," Rhyno termenung.

"Setelah membaca buku di perpustakaan di hari pembukaan sekolah, dan pertunanganku itu sepertinya hasil memori yang error karena tidak pernah terjadi. Mungkin ada ikatan perasaan yang akhirnya menimbulkan projeksi memori baru seolah kami bertunangan," Furen memegangi kepalanya yang berat.

"Kalian pasti sangat menderita," Save muak.

"Malam ini kita beristirahat dulu lagi pula Key dan Vero belum sadar, kita tunggu sampai mereka sadar dari pingsannya..." Rhyno menuju sofa dan berbaring.

Save dan Qio mengangkat tubuh Key ke tempat yang nyaman untuk dibaringkan dengan aman, sementara Gia dan Lim mengangkat tubuh Vero ke sisi dekat Key.

Helena mendengkur, terlihat sedang tidur pulas ia  dipindahkan ke sofa oleh Robert.

Traven memeriksa nafas Key dan Vero yang tidak berhembus dari hidung mereka.

"Key dan Vero meninggal?"

Semua orang terbelalak.

"Tidak! Mereka meraga sukma!" Sahut Furen.

"Ke dimensi lain!" Ben menepuk jidat.

"Vero itu pemilik otak minerval sempurna sepertinya begitu pula dengan Key, jadi pasti mereka bagai magnet kutub utara dan kutub selatan..." Jelas Furen.

*-*-*-**-*-*

Di sebuah dimensi, penuh dengan embun dan ditumbuhi rerumputan yang tidak terlalu tinggi, Key dan Vero terbaring bersama.

Kemudian mereka terbangun dan saling memandang mata, "sayang.." suara parau Vero.

"Di mana kita sayang?" Key masih malas bangun begitu juga Vero.

Kepala mereka berdua menghadap dengan kaki di arah berlawanan membentuk formasi yin dan yang.

"Kita ada di alam lain, dimensi batas waktu..." Vero.

"Untuk apa kita di sini?" Key meraih tangan Vero.

"Karena kau dan aku memiliki kekuatan untuk menembus dimensi batas sebelum kelahiran dan kematian juga waktu beku, pasti kita akan kembali ke sini saat kita sudah mati nanti..." Vero trenyuh.

"Apa kah kita sudah mati?" Key.

Vero mengangguk pelan sambil membelai pipi Key.

"Kita akan kembali sebentar lagi, tenanglah sayang," lanjut Vero.

"..." Key mengangguk pelan.

"Tetap lah seperti ini, kita tidak perlu melakukan apa pun Sayang... Aku mencintaimu..." Vero mengecup kening Key.

"Aku selalu menantimu lahir kembali di kehidupan selanjutnya untuk terus menghampiriku," Key mengecup tangan Vero.

Keduanya mulai mengingat akan selama ini kejadian yang mereka alami, ternyata usia Vero ratusan tahun lebih tua dari Key. Dan Key selalu bertapa melintasi dimensi demi menunggu kedatangan Vero sampai akhirnya berhasil bertemu di kehidupan yang sekarang.

Mereka memejamkan mata dan tak sadarkan diri lalu terbangun dari pingsannya.

"Key apa kau siap untuk penyerangan besok?" Furen duduk di dekat Key, ternyata sedari tadi menunggu Key sadar.

Vero memeluk Key dan melanjutkan tidurnya.

"Tuan muda punya rencana kah?" Key.

"Sebelum ini kau ada menerima vaksinasi tidak? Sebab setelah itu kita akan mengalami amnesia," Furen.

"..." Key mengangguk.

"Setelah ada gelombang aneh datang tadi kita semua tidak sadarkan diri lalu segala jenis ingatan kembali seolah mata hati kita juga ikut terbuka," lanjut Furen.

"Lalu?" Key.

"Aku bisa menggunakan kekuatan supernatural konsilia konsilianku lagi... Aku ini manusia setengah keturunan dari mahluk dimensi lain yang di olah di laboratorium Rusia, semua ingatanku kembali lagi," Furen.

"Jadi bagaimana dengan silsilah keluargamu, apa kah kau anak adopsi?" Key melihat ke sekeliling ternyata semua orang sudah tidur.

"Aku tidak tahu Key, tapi memoriku ganda setelah menerima vaksin itu seolah aku mengalami pemrograman otak dan ada yang memasukkan memori baru ke otakku, artinya apa kah di otakku sudah ada chip?" Furen terbata-bata.

"Apa yang bisa kubantu?" Key datar.

"Key aku yakin kau juga memiliki kekuatan konsilia konsilian, apa kah kau bisa melakukan keajaiban?" Furen mendekatkan wajahnya ke Key, kedua mata mereka beradu dan saling mengejar pupil.

"Ya.. aku bisa ke dimensi waktu beku atau batas kejadian... Semuanya bisa kujelajahi namun taruhannya umurku, semakin aku ke sana maka umurku berkurang..." Jelas Key.

"Apa kau bisa ke sana tanpa tidur?" Furen.

"Ya, aku bisa... Namun kau akan mematung bersama segala hal di sekitarku karena sebenarnya aku lah yang  menghilang..." Key.

"Key, kau tahu tidak... Ada sebuah kisah tentang orang konsilia konsilian bahwa mereka sebenarnya berumur lebih panjang dari manusia biasa dan biasanya bermeditasi bertahun-tahun agar bisa hidup ratusan tahun untuk menemui sosok juru selamat yang akan muncul di masa depan dan memeranginya," Furen menjelaskan dengan sedikit berbisik.

Kedua mata Key dan Furen masih terikat satu sama lain.

"Orang konsilia konsilian itu memerangi juru selamat?" Key.

"Ya, kau dan aku ini ditakdirkan untuk lahir sebagai mahluk jahat Key," tutur Furen.

Key terbelalak tak habis pikir kepada Furen yang dia sangka selama ini ingin menghancurkan negara bedebah ini apa kah kini sudah berputar keyakinan dan lahir kembali dengan memori lama yang ternyata berbanding terbalik dengan Furen versi sebelumnya.

"Apa maksudmu?" Key.

"Bloom yakni penguasa komputer tuhan yang sekarang ini adalah titisan Alice atau dewi minerva dari atlantis dan dia meminta tolong kepada kita agar membebaskannya dari perangkap iblis bernama Magus," Furen.

"Iblis?" Key.

"Aku belum tahu pasti kenapa konsilia konsilian berbeda dari bangsa satanis tapi Bloom benar-benar terdesak sekarang," Furen.

"Bagaimana keadaannya sekarang?" Key belum menangkap sosok dalam cerita Furen.

"Dia sekarang di dalam sebuah tabung eternal grey egg, di sana kekutan jiwa dia dihubungkan dengan alat sefungsi transmitter agar bisa menproduksi kekuatan pengendali pikiran yang terhubung ke semua warga Huge Land," jelas Furen.

"Bukannya itu tugas dia?" Key.

"Memang, tapi dia menolak projek ini karena merasa sedang dieksploitasi manusia. Seharusnya yang memberi komando dalam agenda menghipnotis masal ini bukan diisi oleh Magus tapi the One Eye. Itu yang menjadikan Bloom berontak sebab Magus bukan the One Eye.

Aku dengar desas desus bahwa Magus sudah berkali-kali memanggil the One Eye agar masuk ke tubuhnya namun tidak kunjung datang merasukinya padahal Magus telah mencapai kedudukan tertinggi dalam jajaran Lux Bringer di kultus Minerva." Jelas Furen.

"Apa itu kultus minerva?" Key.

"Itu pelantikan manusia paling cerdas yang sudah menembus dimensi kebenaran cahaya oleh klan atau jajaran Lux Bringer termasuk kakek dan ayah kita pasti bagian dari klan itu..." Furen.

"Setidaknya sekarang Bloom memihak kita karena mau lepas dari Magus bukan?" Key, Furen mengangguk.

+**+**+*++*+*+*+*

Keesokan harinya para remaja membicarakan tentang Bloom dan Magus, mereka akhirnya memutuskan berangkat dengan jumlah sedikit, yaitu Furen, Key, Vero, Rhyno, Qio, Traven, Raick, Robert dan Save. Mereka berangkat ke laboratorium Mesva dengan mobil milik Furen, Vero dan Robert. Kini mereka sudah sampai di tempat parkir...

Vero turun dari mobil disusul Key dan Helena, rekan yang lain ikut menyusul. Key berkata "kalian harus saling menghubungkan diri dengan kami" sambil mengulurkan tangan.

Furen menggandeng Key dan tangannya yang lain digandeng Traven dan itu terus bersambung ke semua orang hingga membentuk lingkaran yang berujung dengan tangan Vero kepada Key.

Semua orang memejamkan mata dan menenangkan jiwa hingga mencapai ke titik hening.

Waktu membeku, setiap hal di sekitar mereka mematung.

"Ayo cepat!" Key membuka mata dengan tenang.

Semua orang membubarkan diri berlarian menuju laboratorium.

"Waktu kita hanya tiga puluh menit untuk tiga tahun umurku yang terpakai sekarang, cepat!" Teriak Key singkat.

"Kita ke pohon itu minimal bisa mencabut kabel dari tabungnya Bloom jika tidak bisa mendapatkan Bloom!" Furen bergegas larin sangat gesit.

"Nona Rhyno cari Magus! dan aku akan menyusul!" Mendengar itu dari Furen, Rhyno mengangguk memahami. Dia berlari diikuti Qio, Robert.

"Aku akan mencari ibunya Save!" Teriak Vero yang berlari dengan Key dan Save.

"Terima kasih!" Teriak Save yang percaya bahwa Key dan Vero pasti mampu karena itu dia mantap ikut dengan mereka.

Sebelum ke laboratorium Mesva mereka telah berbicara tentang hal apa saja yang akan dilakukan maka kini mereka paham harus apa. Mereka pun berpencar di sebuah koridor yang bercabang.

Traven memimpin perjalanan Furen. Hingga akhirnya mereka tiba di pohon yang dimaksud Furen di sana ada batu besar tempat pohon itu tumbuh, batu itu melayang di atas air yang terhubung oleh kabel-kabel aneh yang menyatu ke tabung tempat Bloom direndam.

Tanpa pikir panjang Furen dan Raick berusaha mencari tombol off pencengkram tabung sementara Traven memeriksa tabung hingga memanjatnya agar menemukan titik buka pintu tabung itu. Setelah Furen  berhasil menembukan tombol dan Raick meretas sandi pembuka, Traven berupaya membuka pintu tabung yang ada di atas tabung dan mengangkat Bloom keluar dari air.

Furen dan Raick menerima tubuh Bloom yang tidak sadarkan diri dari bawah sebab Bloom dikeluarkan dari atas tabung. Kemudian Raick menggendong Bloom keluar dari sana, Traven melompat dari atas tabung sementara Furen berlari mendahului Raick. Traven berlari menuju mereka dan kemudian dilihatnya di depan Furen membuka pintu gerbang dimensi lain. Mereka bertiga lari ke dalamnya untuk menyembunyikan Bloom.

Di tempat lain di saat yang sama...

Vero, Key dan Save kini tiba di sebuah ruangan aneh seperti tempat penyimpanan tabung persis dengan tabung Bloom tadi namun jumlahnya lebih banyak dan berisi berbagai orang di setiap tabungnya.

"Tempat ini luar biasa!" Save tercengang.

"Cepat cari di mana ibumu!" Sahut Key.

Mereka terus berlari hingga ke sebuah titik besar tube di situ lah sosok berambut pirang hazel panjang dengan tubuh tanpa balutan kain berenang menyelam dalam air tabung mirip fishbowl dengan penutup di atas tabung itu.

"Ibu!" Teriak Save mendekati.

Wanita dalam tabung itu menoleh kepadanya.

Save terbelalak, matanya mengekori mata ibunya yang bernama Easther Veralyn Goldmann.

"Aku akan mengeluarkanmu dari sini!" Kata Save.

Namun di luar dugaan, Easther justru menggeleng kepala.

"Aku bukan manusia biasa sekarang, aku bergantung hidup di air ini, lihat lah mereka semua," suara Easther terdengar dari speaker besar yang ada di lab itu. Key, Vero dan Save terkaget dengan suaranya yang meggema ke seluruh ruangan.

Mereka melihat semua orang yang memejamkan mata dalam tabung berisikan air.

"Mereka bergantung nyawa kepadaku juga, orang-orang ini bisa mati jika aku mati, nyawaku dibagi kepada tubuh mereka. Aku ini konsilia konsilian dan mereka orang biasa berkecerdasan minerval," jelas Easther.

Save berlinang air mata dadanya seperti diterpa tebing roboh.

"Ibuku," Save bertekuk lutut.

Melihat anaknya menangis Easther merasa emosi di dalam dirinya yang semula hambar mulai bangkit.

"Ibu aku merindukanmu!!" Save menangis sekencangnya.

Emosi Easther menghangat matanya terbelalak lalu bangkit sebuah kekuatan dan terasa gedung bergemuruh.

"!!.." Key dan Vero mengitarkan pandangan.

"Seharusnya ini di dimensi waktu beku dan semuanya mematung!" Vero.

"Tidak mungkin! Dia ini konsilia konsilian! Dia memutus kekuatan kita ke dunia nyata sekarang!" Key terbelalak.

Gedung benar-benar mengalami seperti gempa hebat.

*+*+**++*++**+*

Di lain tempat di waktu yang sama...

"Gempa!!!" Rhyno panik bersama Qio dan Robert.

"Waktu kita singkat!" Qio berlari lagi disusul Rhyno.

"Di sana pasti ada Magus!" Rhyno merasakan frekuensi aneh dan terasa sangat suram.

Robert menempelkan tangannya ke sebuah sensor di gagang pintu besar sebuah ruangan misterius di depannya. Dan anehnya pintu itu terbuka.

"Memoriku sudah kembali, dan aku tau semua sandi tempat ini sebab didirikan oleh kakekku!" Tegas Robert.

Kini mereka memasuki sebuah ruangan gelap tanpa lampu dan di sana ada sebuah singgasana tempat seorang pria berbalut kain di seluruh tubuhnya, kain itu berwarna merah darah.

Dia bangkit dari singgasana dan berjalan melayang, jubah menjuntai mengerubungi sekujur tubuhnya bahkan tangannya, ada lingkaran halo berwarna emas menyala melayang di antara kepalanya. Itu lah satu-satunya benda terang di kamar luas yang gelap dan muram itu.

"Magus!" Rhyno.

"Kau sudah harus berhenti Magus! Kau bukan the One Eye! Kau hanya diperintahkan untuk melakukan agenda  genosida umat manusia bukan membuat surga duniawi. Itu bukan tugasmu, kau sudah melewati titah Iblis!" Gertak Robert.

Key terdecak kagum, tubuh kekar tinggi dan bahu lebar Robert kini menyatu dengan kepribadian seperti alter ego yang belum pernah nampak sebelumnya. Padahal Robert awalnya hanyalah seorang pemuda berkecemasan tinggi.

"Tau apa kau tentang Lux?" Suara parau terdengar dari dalam kain merah melayang berisi sosok manusia misterius, Magus.

"Lux adalah kesadaran dari cahaya petunjuk Tuhan tentang apa yang seharusnya dilakukan iblis untuk Tuhan. Kau tidak bisa melihat Lux karena kau bukan iblis. Kau itu konsilia konsilian, kau ini melangkahi peran!" Jelas Robert.

"Jadi karena ini lah Bloom memberontak kepadamu karena bukan kau yang berhak memerintah umat  satanis!" Rhyno.

"Kalian semua bukan satanis, hai keturunan setan dan manusia! Kalian penghianat satanis!" Tunjuk Magus kepada Rhyno dan Robert.

Qio terbelalak sebab orang yang dia cintai dan teman seelasnya benar-benar adalah keturunan satanis yang bermisi menghancurkan dunia dan memusnahkan orang biasa seperti Qio.

Terasa aneh bagi Qio menyaksikan antar circle kegelapan sedang saling melawan.

"Dunia ini kacau, peperangan bukan hanya dari hitam dan putih namun sesama hitam pun berperang..." Qio.

Tanpa mereka sadari daratan wilayah laboratorium Mesva megalami levitasi, daratannya naik ke udara karena ibu Save sedang murka.

"Aku akan mati di tempat seperti ini," Qio mengingat pesan Arman jauh beberapa hari lalu.

Tiba-tiba semua gorden di kamar itu terbuka dan dari kaca terlihat daratan menjauh dari bumi.

"Kita melayang!" Kaget Qio terbelalak melihat pemandangan di luar jendela, kakinya kaku saking takutnya.

"Kini kalian tahu betapa hebatnya satanis itu, masih ingin melawanku?!" Magus menggertak.

"Aku akan benar-benar mati..." Bibir Qio bergetar.

Rhyno langsung menoleh kepada Qio, dilihatnya wajah pemuda berambut merah itu memucat dan matanya tercengang.

"Qio aku selalu bersamamu!" Teriak Qio.

Qio melirik Rhyno dengan pelan sambil tersenyum tipis.

"Aku mencintaimu" lirih Qio.

No comments:

Post a Comment

Bab 22: Tidak Banyak Bicara

 Rhyno akhirnya merenung setelah perkumpulan di kediaman Aman selesai. Semua pemuda Zyo S akhirnya berkumpul untuk merundingkan rencana. Mer...