Di tempat Aesther berada sekarang Save mengangkat lututnya dari lantai dan melihat mata ibunya melotot seram.
"Ibu katakanlah apa yang ibu inginkan sekarang? Tidak perlu berbuat seperti ini bukan?" Bujuk Save dengan nada halus.
"...?" Pikiran Aesther kosong, emosinya menghilang lagi.
"Apa kah ibu sedang menjadi diri ibu sendiri? Ini kah kepribadian ibuku yang sebenarnya?" Save meraba dinding kaca tabung Aesther.
Tangan Aesther meraih letak tangan Save.
"Apa ibu tidak percaya cinta?" Save meletakkan wajahnya ke kaca tabung, menghembuskan nafas yang mengembun di sana.
"Aku tidak tahu aku siapa dan untuk apa aku lahir tapi aku tahu apa yang harus aku lakukan, aku mewarisi tujuan dari para leluhurku dan kau sebenarnya bagian dari sepertiku Anakku.." Jelas Aesther.
Vero dan Key memahami ini dan mereka beradu pandangan, semua mata orang dalam tabung pun terbuka dengan pelan-pelan menyadarkan diri. Pikiran mereka menjalankan segala sistem di tempat itu sehingga seperti bernafas tempat itu menjadi sejuk dan beroksigen.
"Tempat ini?" Vero mulai merasakan ada hembusan sejuk.
"Ini lah hasil karya kami jika seluruh bumi dijalankan dengan tangan kami," Aesther tersenyum tipis.
"Kau bukan Tuhan, Ibu" Save megangkat wajahnya dengan hati getir.
"Kau ke dunia ini lahir untuk merawatku! Aku anakmu! Jangan sibuk sendiri dengan dunia! Dunia sudah ada yang mengatur!" Bantah Save sambil menangis
"Kau melawan keinginanku! Kau bukan anakku!" Aesther membuat gelombang mendorong Save sampai terpelanting ke lantai bersamaan dengan Key dan Vero.
"Iih..." Keluh Vero.
"Kau baik saja?" Key memandang Vero yang menjawab dengan anggukan pelan.
"Tidak boleh ada negosiasi apa pun... Surga sedang diciptakan sekarang!" Aesther seperti kerasukan setan kulitnya berubah menjadi bersisik ular warna nila.
"Kau tahu kau akan gagal jadi percuma." Jawab Key tegas.
Alice di diri Easther terdiam dia tahu pasti bahwa ucapan Key itu akan terjadi, dia ingin memberontak tapi mata Key itu menusuknya dengan pengetahuan pasti tak terbantahkan sehinga siluman ular itu hanya bisa membuang muka.
"Dewi Minerva aku tahu tugasmu dari Tuhan untuk menyeleksi manusia ke neraka tapi kau sudah tergila-gila dengan masa lalumu sendiri, kau akan merasa lebih putus asa jika menuruti keegoisanmu ini!" Vero ternganga.
"Bloom?" Vero meraih tangan Key penuh keyakinan.
"Anaknya hasil perkawinan dengan Magus!" Tangan Key memegang wajahnya sambil menggeleng.
"Magus Bedebah!!..." Sahut Save yang mendengar Key.
"Akan kubunuh kau biadab!!" Save menangis sejadi-jadinya.
"Dewi Minerva adalah julukan untuk sosok ular penjaga surga yang diturunkan oleh Tuhan sebab membantu iblis menyusup ke surga untuk menghasut hawa dan adam... Namanya yang sebenarnya adalah..." Vero melirik Key.
"Alice" Jawab Key.
"Hahahaha! Aku kembali!" Aesther tertawa, jasadnya sudah berubah wujud menjadi wanita ular bersayap.
"Seperti wadget... Mengerikan!" Vero membuang muka.
"Aku berasal dari surga.. dan jika aku dibuang dari surga maka aku harus membuat surga karena aku terbiasa hidup di surga! Hahaha!" Gelak gelegar Alice yang kini menguasai jasad Aesther.
"Biadab kembalikan ibuku!" Save meronta.
"Kau pemuda pendosa, dosamu lebih tinggi dari pada dosaku! Kau memakan kesucian perempuan yang lahir bersamamu! Kau tidak pantas berbicara sok suci kepada Alice!" Ejek Alice.
"Tidak!!..." Save tersujud kembali, kepalanya mengadu ke lantai dan bahunya terguncang hebat.
Key dan Vero yang duduk di lantai menghela nafas terasa menyerah. Key membuang muka.
"Save itu hanya bisikan setan ular, jangan hiraukan! Kau masih bisa bertaubat! Jangan terbawa suasana!" Bentak Key.
"Padahal sempat berapi-api ingin menyelamatkan dunia bukan? Merasakan rasanya bagaimana menjadi manusia normal pada umumnya dan ternyata kita itu bukan bagian dari ras mereka..." Vero menghela nafas.
"Tuhan sedang bercanda kepada kita? Tidak mungkin, aku akan menembus seleksi ini dan abadi di alam memori dunia sebagai hamba yang tunduk kepada Tuhan, aku tahu aku dilahirkan untuk memilih, bukan menyerah kepada takdir meski aku dilahirkan di golongan satanis," ucap Key datar.
"Key?" Save terkagum dengan kegigihan Key.
"Kau diberikan hidup sampai besok artinya untuk berubah lebih baik di jalan yang benar." Mata Key datar.
"Masih kah ada harapan untukku?" Save sesak.
"..." Key mengangguk, pengetahuannya tentang alam kehidupan telah kembali, kebijaksanaan dalam jiwanya menembus hidup ratusan tahun yang sudah dia jalani dengan meditasi.
"Selama kau tidak pernah putus asa, kau bukan iblis," Vero menatap Alice tegas.
*+*+*+*++*++*+**+
Di tempat lain di waktu yang sama...
"Hahahahaha...." Magus mendengar ucapan Alice kepada Save dengan telepati sehingga terbahak-bahak mentertawakan manusia.
"Kalian para penjagal ingin membela binatang ternak di bumi ini?" Tukas Magus.
Rhyno dan Robert terdiam.
"Lihat ini!" Magus mengangkat tangannya ke udara disusul Qio yang melayang menjauhi lantai.
Qio melihati Rhyno dan Robert yang tercengang. Kemudian terhempas tubuh Qio ke dinding, "Buk!"
"Argh!" Rintih Qio.
"Jangan siksa mahluk yang tidak berdaya! Siksa saja aku!" Umpat Rhyno sudah kehabisan ide dan putus asa.
"Katakan kepadaku seperti apa perlawanan yang mau kalian tunjukkan padaku?!" Gertak Magus.
"Semua kejadian ini memang benar sudah dituliskan dalam kitab suci dan harus terjadi namun tidak pernah ada tulisan konsilia konsilian membangun lahan surga di dunia!" Robert gigih.
"Jadi bagaimana kau akan menghentikanku, katakan!" Ejek Magus.
Magus mengangkat tangannya lagi dan Qio melayang lagi, "hentikan!!" Pekik Rhyno.
Qio merasakan jantungnya seperti dicengkram, sakit sekali dan terasa panas terbakar.
Tiba-tiba pandangan Qio kabur dan memutih lalu penglihatannya berangsur-angsur kembali namun berada di tempat yang berbeda.
Pemuda Jepang itu merasakan angin sejuk bertiup dan tercium wangi sakura. Di lihatnya sosok biksu sepuh tersenyum kepadanya.
Qio kecil sedang duduk di atas batu bersama teman-temannya yang berseragam jubah kuil.
"Ingat lah bahwa hidup kita sebentar, dan untuk itu habiskan dengan berbuat baik. Dan ganjarannya adalah kita akan meninggal dengan cara yang baik sesuai kebiasaan kita saat berbuat baik. Tidak ada yang bisa mengambil nyawa kita selain sang pencipta alam semesta ini maka jangan pernah takut akan mati di tangan orang yang jahat, alam semesta yang penuh kasih selalu meyertai kita," ucap sang biksu yang telah berusia sangat lanjut itu.
"Baik guru," jawab Qio dengan senyum.
"Senantiasa lah bersyukur telah lahir ke dunia ini untuk merasakan indahnya karya kisah Tuhan, baik senang dan susah kita sudah ada dalam kisahNya, tidak ada yang mampu menentang kebaikan alam semesta," lanjut sang guru kuil.
"Malu lah jika hanya menghabiskan nyawa untuk sekedar bersenang-senang dan bersyukur lah bisa mati untuk kebahagiaan orang banyak di masa depan... Sekali pun tidak bisa mencicipinya namun di perjalanan kehidupan selanjutnya hati kita akan lahir kembali dengan merasa puas dan lega tanpa batas," sang guru tersenyum.
Penglihatan mata Qio kecil menghitam, kepalanya terasa berat dan berkunang-kunang. Sejuknya angin di tempat damai itu sudah musnah dan berganti dengan hawa panas yang menyelubungi dirinya.
Mulai terlihat jelas sosok bertelangkup kain merah itu di bawahnya.
"Gerhana matahari sebentar lagi akan tiba dan kebetulan ada pemuda di sini yang bisa dijadikan tumbal ritual... Alice sudah bangkit, dan sempurna! Hahahaha!" Tawa Magus menggelegar.
"Gerhana hari ini?!" Robert tak habis pikir.
"Tidak, Qio akan dibunuh!" Rhyno menangis melihat Qio yang terlihat sangat lemas tersiksa.
"Magus!"
Rhyno dan Robert menoleh ke belakang, "suara siapa itu?" tanya Rhyno.
Berdiri di tengah pintu yang terbuka sesosok pemuda berambut pirang keputihan, Noa kakaknya Furen.
"Aku lawanmu hari ini." Noa berjalan ke depan Magus dengan memasang senyum sadis. Matanya yang biru menusuk wajah Magus yang berselimut kain merah seolah bisa menembus kain merah itu, Noa merasa telah tepat menusuk mata Magus.
"Bisa apa kau anak kecil!"
"Brak!" Qio terbanting ke lantai.
Rhyno berlari menuju Qio dan memeluknya. Robert berdiri di antara Noa dan Magus.
"Bunuh lah aku dan aku pasti bangkit lagi, kalian mahluk busuk berusaha membunuhku beberapa kali tapi gagal!
Bedebah kalian! Kekuatan kalian itu seperti bau serangga, tidak berguna!" Ejek Noa dengan muka masam.
"Hh!" Magus terdiam.
"Siapa kau ini?" Robert melihati Noa seksama.
"Noa Chamazello the ring saturn son, aku lah yang seharusnya menjadi pengatur komputer tuhan! Karena aku! Saturn!" Noa membuka kedua lengannya dan muncul gelombang aneh.
Gelombang dasyat itu menembus tembok laboratorium.
Di tempat lain Key berlari menuju Save dan menghentikan waktu.
Gelombang dari tubuh Noa merobohkan dinding laboratorium. Bangunan laboratorium benar-benar runtuh, Rhyno, Qio dan Robert selamat karena ada di dekat Noa.
Orang-orang itu melompat ke dataran karena tadi jatuh dari lantai atas dengan sangat hati-hati selama proses itu supay tubuh mereka tidak sampai disantap rubuhan tembok beton. Atap yang roboh dipelantingkan oleh Alice sehingga bagian atas laboratorium berhamburan ke langit berjatuhan ke kota yang ada di bawah mereka.
Logam-logam di tempat itu melayang dan menjauhi daratan Mesva membentuk cincin lingkaran dan kini tempat itu benar-benar mirip seperti saturnus, ada halo yang mengelilingi daratan mesva yang mengalami levitasi.
"Bukannya ayah Furen dibangkitkan oleh Magus karena Furen itu temannya Bloom?" Rhyno sedikit berteriak.
"Tidak, kami tidak bisa mati sebelum the One Eye mati di tangan mesiah." Noa tegas berjalan menghampiri Magus yang tetap berdiri tegap dan sedang dihampiri oleh Alice.
"Alice..." Noa menyeringai.
"Dimana anakku Bloom?" Kata Alice dengan mata bengis.
"Jangan tanya kepadaku," Noa tersenyum sambil menggeleng kepala.
+*+*+*+*++*++**
Sementara di dimensi lain di waktu sebelum kejadian runtuhnya gedung Mesva oleg Noa...
Furen, Traven dan Raick membaringkan Bloom di dekat sungai tempat biasanya dulu Furen merenung sebelum diterbangkan ayahnya ke Huge Land.
"Bloom.." Furen menepuk-nepuk pipi Bloom pelan.
"...?" Bloom membuka matanya.
"Furen?" Suara lembut Bloom.
"Bloom, kau baik saja?" Seyum Furen.
"Aku merasakan ada bahaya..." Bloom masih berbaring.
"Ada apa Bloom?" Furen.
"Ibuku bangkit lagi... Dewi Minerva" Bloom meraih tangan Furen.
"Tidak mungkin kalau kau adalah?" Furen terbelalak.
"Magus adalah ayahku," lirih Bloom.
"Tidak." Furen menggeleng kepala lalu menjauhi Bloom.
"Rhyno dan lainnya dalam bahaya!" Traven.
"Harus kah kita kembali?" Raick panik.
"Tidak! Jangan! Putra Saturnus juga sudah bangkit dari ingatannya!" Bloom menerima pancaran vision dari kejadian sekitar di kejauhan.
"Siapa Putra Saturnus?" Raick.
"Orang yang dilahirkan dengan kedudukan langka di lingkungan satanis, karena memiliki energi null dia bebas memilih mau memihak kepada siapa untuk berpihak apa kah kepada manusia atau iblis." Jelas Bloom.
"Siapa dia?" Furen tercengang
"Kakakmu," lirih Bloom.
Seketika jantung Furen berdegup kencang.
"Dan aku juga punya energi null itu," jelas Bloom.
"Tapi bagaimana bisa?!" Furen meraih kerah baju Bloom.
"Furen, keep calm!" Bujuk Traven.
"Karena ibuku tercipta dari api dan ayahku dari api maka aku kematian bagi dua api yang bertemu!" Bloom membentak karena Furen mengangkat kerah bajunya.
"Lalu jika Noa itu juga punya Null, apakah aku bukan adik kandungnya?" Furen melepaskan Bloom.
"Bukan, matamu hijau sementar dia biru, ayahmu juga bermata biru... Atau mungkin ibunya Noa bukan ibumu..." Traven.
"...?"
Furen mulai mengingat masa lalunya saat masih kecil. Ada Demi, sang kakak yang berhati sangat lembut selalu mengajaknya bermain dan Noa yang selalu mengajaknya berkuda. Mereka bertiga tertawa bersama. Noa yang selalu menyelamatkan nyawanya terutama dari seekor beruang Rusia yang mengamuk.
Ingatan manis masa kecil yang muncul membentur kepala Furen, dia mulai merintih kesakitan.
"Furen tolong aku!" Terlihat Noa diseret beberapa orang berjubah hitam menyelimuti seluruh tubuh mereka ketika mereka berkuda di hutan, orang-orang berjubah hitam itu menghentikan kuda mereka dan menyeret Noa.
"Kakak!" Furen kecil berlari mengejar namun mereka hilang bersama Noa.
"Furen!" Suara Noa terguncang di antara pepohonan hutan.
"Furen selamatkan dirimu!" Suara Noa terdengar menjauh.
Furen kini membuka matanya dan tersadar di depan Bloom.
"Aku tahu apa yang harus aku lakukan," tatapan mata Furen tajam dan tanpa senyum.
Dia berjalan membuka pintu dimensi dan berjalan menembusnya.
"Furen!" Bloom bangkit berlari menyusul.
Traven dan Raick berlari dalam kegamangan mengikuti.
Kini Furen, Bloom, Traven dan Raick di hadapan Magus dan Alice.
"Putriku!" Sumringah Alice membuka dua tangannya.
Furen dan Noa berpandangan tajam.
Bloom tidak bergeming.
Furen tiba-tiba dengan pelan-pelan berjalan menuju Magus dan di sisinya, menghadapi teman-temannya.
"Furen!" Rhyno tercengang.
Key tak habis pikir.
"Aku akan membunuhmu" mata Furen dengan tajam menusuk mata Noa.
Noa memandang Furen mantap, menerawang makna mata Furen.
"Kau harus meminum darah jika ingin sepenuhnya melawanku, kau belum siap Furen." Ejek Noa.
Furen mengeluarkan pistol ayahnya dari kantong yang dia sembunyikan di balik kemejanya.
Menghunusnya ke leher Qio.
Traven terbelalak apa lagi Qio.
"Hanya kau satu-satunya manusia biasa di sini," sinis Furen.
"Tidak." Rhyno menggelengkan kepala sambil berdiri di depan Qio.
"Sebentar lagi gerhana matahari, Putera Mars akan melawan Putera Saturnus! Tumbal memang seharusnya untuk kebangkitan Putera Mars agar dia bangkit!" Ejek Magus.
"Bagus lah jika kau memahami tujuanku!" Magus menepuk bahu kanan Furen.
"Mati lah untuk masa depan semua orang di bumi ini." Hunus mata Furen ke Qio.
"Kalimat itu!" Qio terdecak.
"Kau lahir untuk disiapkan mati cepat atau lambat." Tegas Furen.
Robert tak bergeming tak habis pikir.
"Furen... Jangan!" Traven berlari mendekati Furen.
"Dorrr!" Furen menarik pelatuk tepat di leher Qio.
"Furen!!" Traven berteriak menjatuhkan lututnya ke lantai sampai terasa mau pecah jantungnya berdebar.
Furen memejamkan mata dan menghirup jiwa Qio yang terlepas, dia membuka mata dan bola matanya berubah menjadi biru namun hanya di sebelah kanan sementara di sebelah kiri bola matanya masih hijau.
"The One Eye" Ejek Noa meyeringai.
Rhyno menangisi Qio bersama Traven dan Save, mereka mengamankan jasad Qio.
"Furen!!!" Rhyno berlari ke Furen dan menghajar tubuh Furen habis-habisan namun pemuda itu membuka mata tanpa berkedip dengan tetap tersenyum.
Mendorong Rhyno dengan mudah dan menghempaskannya.
Dia melirik Magus dengan sinis.
"Kau selama ini menyabotase ingatanku agar membenci Noa yang memilih untuk melawan satanis karena aku lah lawan imbang Noa di dunia ini bukan?" Sindir Furen.
"Lalu kenapa jika itu benar?" Umpan Magus.
"Bahkan Bloom harus kau penjara karena dia memilih melawanmu bukan?" Furen menerangkan dengan pertanyaan retorik.
"Berhenti berbicara!" Alice mencabik Furen dengan cakarnya.
"Argh!" Dada Furen tersabit dan terkoyak.
"..." Rhyno menangis sambil menyimak.
"Kenapa aku harus memilih kalian untuk di sisiku, aku ini membangun pilar ke langit untuk bertemu Tuhan, bukan untuk tinggal ke neraka bersama kalian... Panah bintang yang kuterima karena hasutan kalian dulu..." Furen mulai mengingat memori sebelum lahir.
Magus menembakkan api ke Furen namun pemuda kalem ini seperti monster melompat mengelak.
"Tugasku hanya menyelamatkan satanis untuk menebus dosa!" Lanjut Furen.
"Mereka akan hidup di neraka tanpa merasa terbakar karena sudah terampuni..." Furen menyeringai.
"..." Rhyno terbelalak.
Rhyno bangkit dan mulai teringat sesuatu tentang merak bercahaya yang membawa kitab bertuliskan 'ikhlas'.
"Hahahaha!" Noa terbahak-bahak.
"Selama bertahun-tahun kalian membinasakan umat manusia di luar sana, semua orang tahu tidak ada seorang pun mampu menghadapi kalian, maka kalian hancur oleh lingkungan kalian sendiri!" Traven mengumpat.
"Hadapi lah kami, hahhaha!!!" Noa menembakkan gelombang elektromagnetik kuat ke halo milik Magus.
"Tidak!!!"
"Trak! Tang!" Halo Magus pecah dan terbanting ke lantai.
Tubuh Magus yang melayang jatuh ke lantai dan kain merah terbuka. Tampak lah kini sosok Magus yang sebenarnya kakek tua berjanggut putih panjang. Wajahnya penuh keriput, satu mata kanannya memutih sementara mata kirinya masih terlihat segar dan awas.
Alice murka dia mengamuk dan menyerang Noa dengan membabi buta. Bloom menjauhkan diri, Robert memegangi Bloom.
Traven mengawasi Furen karena yakin setelah ini saudaranya itu akan terkena serangan. Ternyata Magus mengincarnya dan berkelahi dengan Furen. Furen menebakkan api begitu pula dengan Magus.
Alice menembakkan gelombang yang sama seperti Noa, elektomagnetik hingga nano microwave yang panas.
Rhyno memejamkan mata, sementara Robert berusaha menenangkan diri menarik daratan turun agar kembali menyatu dengan bumi.
"Dengan nama Tuhan yang maha esa, kembali lah kalian ke dimensi yang diselimuti api hingga waktu yang ditentukan." Ucap Rhyno.
Tangannya membentuk sigil dan muncul gerbang. Furen melihat gerbang itu dan menariknya masuk ke dirinya.
"???! Tidak!!" Magus berteriak.
Seketika dada Furen seperti pusaran menarik Magus dan Alice, kedua tokoh antagonis itu berusaha melawan namun tidak sanggup dan terseret masuk.
Rhyno menutup portal itu.
"Waktunya aku mengawasi mereka agar tidak keluar dari sana selamanya." Senyum Bloom.
Furen merasa jantungnya terbakar, Bloom berlari mendekati Furen yang terlihat kesakitan lalu dengan lembut menutup mata dan mengecup bibirnya.
"...." Mata Furen menyaksikan Bloom dengan halus menghilang menjadi butiran kosmik yang disapu angin. Disusul rasa sakitnya yang hilang.
"Qio!!" Rhyno berlari menuju pemuda berambut merah itu dan kembali menangis.
"Rhyno..." Bisik Key yang tiba-tiba di sampingnya.
"..."
"Aku rela menebus nyawa Qio untukmu..." Kata Traven.
"...?" Rhyno menoleh kepada Key yang tersenyum kepadanya.
Tak terhentikan sebelum Rhyno meraih tangannya, Key menjadi debu disapu angin.
Disertai gerhana matahari yang menyapa, gelap hari itu terasa sangat mengerikan oleh bulan yang menutupi matahari itu. Mata Qio melihat gerhana itu lalu cepat menutup matanya kembali sambil menangis sesenggukan.
"Hidup lah lebih lama lagi untuk Helena," kata Vero sambil memejamkan mata dan menghilang sambil tersenyum anggun.
"Hidup?" Qio membuka mata.
Dilihatnya Furen dan Noa sedang menengadahkan tangan menghirup dan menghisap kekuatan gelombang elektromagnetik supranatural gerhana matahari ke dalam diri mereka.
"Kau hidup kembali karena Key menyumbangkan sisa usianya kepadamu," Rhyno memeluk Qio erat.
"Key!" Qio memeluk Rhyno sambil menangis antara bersyukur namun juga rasa kehilangan seseorang yang telah tulus kepadanya.
Kini Key dan Vero hidup bersama di alam kematian, "akhirnya kita bersama di keabadian" Vero tersenyum kepada Key.
Sosok Vero berubah dengan mengenakan penutup mata dan sayap hitam bersama Key yang menggunakan penutup mata dan bersayap putih.
"Baru kusadari aku begitu mencintaimu!" Bahu Rhyno terguncang.
Traven lemas dan terkulai ke tanah, kini daratan sudah menyatu kembali. Begitu pula dengan nyawa Qio yang kembali. Namun cintanya Traven sudah pergi selamanya.
"Tuhan itu memerintahkan kita hidup dengan selalu meghadapi dua pilihan..." Raick mendekati Traven.
"..." Traven menatap langit yang dihiasi gerhana matahari.
"Hidup dengan kekasihmu atau keluargamu..." Raick mengulurkan tangan.
Traven meraih tangan adiknya itu lalu melihat Furen yang tersenyum kepadanya dalam pelukan Noa.
"Jika kau manusia biasa dan meghadapi musuh yang luar biasa di atas kemampuanmu, berdoa lah supaya mereka hancur dengan tangan mereka sendiri atau dengan kejahatan mereka sendiri," Robert membacakan amanah kitab suci.
Save mulai mengikhlaskan kepergian ibunya dengan pilu dengan penuh rasa kotor dalam dosa, "kalian satanis lebih berhati mulia dibandingkan aku orang biasa yang penuh kemaksiatan"
"Kau hanya belum tahu apa potensimu," Robert menepuk bahu Save.
"Sebelum semua orang terbangun dari tidurnya oleh kekuatanku, kita harus pergi dari sini!" Kata Noa.
Dan para remaja itu pun pergi dari sana setelah megangguk.
"Semua ini sudah direncanakan karena itu kita bisa melihat masa depan sebab itu ada di dimensi waktu beku... Namun siapa yang benar-benar bisa melihat kematian seseorang? Karena itu rahasia Tuhan," Rhyno menggandeng tangan Qio yang terseyum kepadanya.
Sementara itu di dimensi lain...
Magus dan Alice kini di hadapan Bloom...
"Kenapa anakku?" Sidang Alice, mereka sekarang di dimensi muram penuh dengan pohon berduri, binatang-binatang beracun berupa hitam dan bebatuan panas.
"Kalian penuh nafsu dan aku lah batas kalian..." Bloom memancarkan cahaya dan asap putih keluar dari tubuhnya.
Dengan cepat dimensi itu penuh kabut dan tak satu pun mata mampu melihat. Alice dan Magus terperangkap di sana sementara Bloom berjalan pelan dengan bersenandung.
"Baginda the One Eye... Aku datang dan akan membebaskanmu..." Sambil tersenyum, Bloom berdendang.
Apakah rencana Bloom sebenarnya?
No comments:
Post a Comment