Di laboratorium milik Ben...
"Semua orang di sekitaran Mesva tidak sadarkan diri, sempat beberapa lama ketika daratan Mesva naik ada kubah pelindung terbentuk dan orang yang di luar area Mesva tidak berani menembusnya..." Tunjuk Ben ke monitor yang menayangkan rekaman CCTV dari mobil Ben yang diparkir di bukit tinggi.
Jadi selama Rhyno dan kawan-kawan bertempur di Mesva, Ben menelpon Revo agar pergi ke atas bukit untuk memantau dari jauh apa saja yang terjadi di Mesva. Jadi sepanjang pengawasan itu berjalan, Ben meceritakan segalanya kepada Revo dan kini Revo memahami setiap hal.
"Di mana posisi Revo sekarang?" Tanya Save.
"Dia kini di tengah kota, sedang merekam dengan mobilnya. Tapi kita tidak bisa melakukan streaming karena pemerintah bisa melacak keberadaan kita nanti." Ben tegas.
"Ben!" Roger memanggil dari luar pintu laboratorium yang tertutup.
"..." Ben membuka pintu laboratorium dan di depannya berdiri Revo.
"Bagaimana ibumu?" Roger memandang Save yang berdiri di belakang Ben.
"Sudah lah ayah, ibu sudah pergi meninggalkan kita selamanya, kita ikhlaskan saja.." Save membuang muka lalu berlalu pergi.
Savy memandang Save yang melewatinya begitu saja, sebelumnya Save tidak pernah bersikap seperti itu kepadanya. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena dia sedang berada di antara banyak orang. Roger hanya mengangguk dan pergi setelah dilirik oleh Savy. Roger kembali ke tempat di mana Furen dan yang lain termasuk Qio sedang diobati.
"Masuk lah Revo," Ben mempersilahkan.
"..." Revo tidak berkata apa-apa.
Gia yang kebetulan ada di ruang itu untuk membantu Ben melihati Revo datang, Revo yang biasanya cengengesan dan melawak dengan gaya petentang-petenteng kini terlihat kalem dan pendiam. Rupanya misterius dan gelagatnya sedang tidak ingin bercanda dengan mata tajam yang dalam.
'Ini benar Revo?' batin Gia keheranan.
"Heh.. aku capek nyari jalan keluar dari kota atas untuk ke sini.. penjagaannya ketat sekali dan kondisi Huge Land berbeda sekarang, cuma ada berita terkini di TV dan aparat berkeliaran..." Keluh Revo.
"Astaga rumah kita akan diperiksa," Gia panik.
Revo hanya melirik Gia dan mengangguk lalu kembali melihat Ben.
"..." Gia yang biasanya digombali dan dirayu oleh Revo kini merasa diabaikan.
"Terus bagaimana?" Ben.
"Banyak jet, helikopter, mobil polisi, anggota militer, para medis... Ah ramai.. vaksinasi sebentar lagi di laksanakan... Aspal-aspal diangkat, semua jalan satu lajur dan kota menjadi penjara sekarang, aku bahkan malas untuk pulang," Revo menggeleng kepala.
"Aku harus pulang, jika tidak kediaman kami dalam bahaya!" Gia menarik lengan baju Revo.
Revo menoleh ke wajah Gia lalu menunduk dan membuang muka sambil menghela nafas besar.
"Kenapa? Kau marah kepada ku?" Gia merengek sebab selama ini sudah mengabaikan perhatian Revo, ia jadi merasa bersalah.
Revo menggeleng namun tidak melihat Gia.
"Kita lihat dulu sikap Rhyno gimana Gia jangan gegabah minta diantar pulang tanpa Rhyno," saran Ben.
Berumur panjang, baru disebut Rhyno datang memasuki ruangan.
"Ini sangat runyam, sekarang pemerintah sudah mengganti struktur kenegaraan dan memerintahkan semua orang untuk menangkap kami semua yang tadi du Mesva. Artinya kita harus pergi dari sini atau lanjut membubarkan seisi negara ini? Tapi masih ada empat negara lain yang akan dengan cepat mengeroyok kita.
Negara Solomon, Sval Arthur, Pole Glacier dan King Natal sekarang langsung mem-back up sistem Huge Land." Papar Rhyno yang berjalan dengan tegas mencari tempat duduk.
Revo memandang tajam Rhyno. Rhyno menoleh ke Revo dengan pandangan yang dalam, "katakan ada apa?"
"Banyak orang yang tidak bersalah sekarang harus divaksinasi dan taruhannya hidup gila atau cacat akibat perbuatan kalian ini... Jadi jangan gegabah... Kita harus bertanggung jawab untuk menyelamatkan mereka dari program pengendalian otak sementara mereka di kepung berbagai arah, mereka tidak bisa lari..." Kritik Revo.
"Aih!" Furen mengusap wajahnya.
Rhyno mengangguk pelan memahami Revo yang pasti juga menghawatirkan ibunya di rumah.
"Satu-satunya cara harus menahlukan komander. Siapa yang memberi komando projek agenda ini?" Rhyno melihat Robert.
"Bloom adalah presiden dan kini dia pergi... Jadi ada wakil presiden sekarang, aku belum tahu siapa itu karena Magus juga pergi." Robert melihat Ben.
"Di TV belum disiarkan siapa wakil presiden sekarang ini mungkin biar tidak ada kebocoran struktur dan serangan," Revo.
"Tapi aku bisa mencari tahu.." Noa tersenyum lalu pergi meninggalkan laboratorium.
"Mau ke mana?" Furen mengejar.
"Akan kutemui ayah dan paman Cethoper Ali" Noa antusias.
"Aku ikut!" Furen berusaha mengejar Noa.
"Tidak bisa Furen kau harus menjaga kawan-kawanmu!" Noa menghilang di udara.
Furen menghela nafas lalu kembali ke laboratorium.
"Bagaimana cara meretas sistem pemerintah agar bisa membatalkan komando dan aku yakin jangan-jangan komando agenda vaksinasi ini bukan dari atasan Huge Land tapi juga ada di atas negara ini yang mempelopori protokol cara menguasai orang di benua Zyo S ini." Jelas Rhyno.
"Itu betul tidak mungkin meleset!" Ben menunjuk-nunjuk udara di depannya.
"Ajari aku cara meretas sistem supaya aku bisa membantumu, kita berpencar ke situs departemen yang berbeda agar mereka tidak sempat mem-back up data."
Qio menepuk bahu Ben.
"Aku ikut, apa pun ku lakukan asal keluargaku selamat." Serius Revo.
"Revo..." Rhyno lirih.
"Ada apa?"
"Aku egois sekali jika ingin kau melindungi Gia setelah ini karena kau punya keluarga yang harus diutamakan," Rhyno tanpa senyum.
"Aku sudah tidak memikirkan Gia." Dingin Revo.
Gia tercengang, seperti terhina sekali.
Revo mengambil laptop dan mulai mengoperasikan program tanpa memperhatikan Gia.
Malam itu Ben, Qio, Revo, Raick, Save dan Gia berusaha meretas departmen pemerintah Zyo S. Mereka menemukan hasil yang dicari dengan menemukan central kendali yang ternyata berpusat di negara Solomon, di sana ternyata tempat penguasa Zyo S berada. Seorang manusia yang digadang-gadang akan dirasuki the One Eye duduk di singgasana pusat klan Lux Minerval. Namanya adalah Eden. Kesimpulannya jika bisa membunuh orang ini maka semua urusan akan kelar. Sayangnya kini Eden sedang tidak ada di Zyo S, dia di sebuah Glorial Palace di Arab.
Kepala Revo rasanya ingin pecah karena dia harus ke luar Zyo S meninggalkan keluarganya demi ini. Rhyno menawarkan Revo untuk tinggal di Huge Land dengan dibantu Gia namun menolak dan memutuskan untuk ikut keluar Zyo S dengan.
Ben menghubungi Roy lagi dan akhirnya menghubungi Adam untuk bisa ke Arab dan menginap di rumah Adam. Singkat cerita, mereka menempuh perjalanan keluar Huge Land dengan bantuan Gina, Meran dan Kimmy yang kini ditempatkan di lingkungan elite dan mendapatkan fasilitas khusus pemerintah untuk beas bergerak jika ingin pergi meninggalkan Huge Land sebab kedudukan keluarga mereka tidak dicurigai dan dipriotitaskan selamat dari kondisi urgent ini.
Gia menyewa pesawat pribadi dengan kedok ingin keluar dari Zyo S untuk ke lokasi aman di Arab. Dia menyelundupkan semua orang di pesawat dengan kekuatan teleportasi Furen yang masuk ke dalam pesawat dari laboratorium Ben.
Kini semua orang sudah di dalam pesawat yang akan segera terbang dan kemudian setelah pesawat terbang, Meran menuju kabin pilot dan berbincang dengan penawaran selamat di masa depan jika mau diajak bekerja sama, tentu saja petugas penerbangan itu mau dan sangat berterima kasih, mereka tidak mau selamanya dalam perdaya gila pemerintah Zyo S. Mereka kini menuju Arab dan setibanya di bandara kembali Furen dan kawan-kawan berdiam di pesawat memunggu Gina, Meran dan Kimmy masuk ke bus elite sewaan mereka. Setelah Kimmy menelpon Furen, pemuda bermata beda warna itu berteleportasi ke bus elite pesanan Kimmy.
Bus itu berhenti di tempat parkir depan hotel dan Furen kembali berteleportasi membawa teman-temannya keluar dari bus itu sementara Gina, Meran dan Kimmy masuk hotel untuk beristirahat. Karena di hotel banyak sekali CCTV, Gina menyarankan untuk teman-temannya itu berbusana ala orang Arab. Dengan begitu mereka bisa lolos pengawasan dan bertemu dengan Gina se-geng di luar hotel agar bisa berkumpul bersama.
Kekayaan mata uang emas dari Zyo S sama besarnya dengan uang di Arab sekarang, mereka kini pusing harus membeli kendaraan namun tidak bisa transfer uang ke Gina se-geng sebab diawasi dari Zyo S. Namun tiba-tiba ada ide dari Raick agar Furen menelpon Cethoper Ali yang kini di Luksemburg. Ali mengjubungi Tristan yang ternyata kini ada di Jepang dengan istrinya agar membantu Furen, maka dengan bantuan kenalan mavia dari Tristan mereka bisa membeli beberapa mobil di Arab.
Setelah beberapa hari itu berlalu, kini mereka mencari alamat Adam dan menuju ke sana kemudian dengan sesampainya mereka di rumah Adam, pemuda Arab itu menyambut dengan hangat dan memulai pembicaraan serius tentang Eden yang kini di Glorial Palace.
"Ini semua sudah dituliskan harus terjadi, tapi aku heran jika ternyata yang men-take down orang itu justru dari kelompoknya sendiri. Pria itu adalah sponsor besar segala urusan medis di dunia ini. Sekarang ini seluruh dunia dalam pandemi dan dia lah pelopor utama yang memberi jalan pengobatan virus yang kini menyerang umat manusia," jelas Adam.
No comments:
Post a Comment