Wednesday, February 12, 2025

Bab 14: Bawa Messiah Kepadaku

 Setelah makan malam di rumah Adam, para memuda dan pemudi Zyo S itu diajak membaca kitab suci dan sejarah oleh Adam sampai akhirnya mereka temukan titik terang. Karena semuanya ternyata saling berhubungan.

Suara jet militer terdengar melintas tiba-tiba di kota tempat Adam tinggal.

"Tumben ada jet militer melintas di sini," Adam memandangi atapnya yang seolah hampir rubuh oleh suara gemuruh jet itu.

"Benar kah tidak pernah ada jet sebelumnya? Bahkan kota ini terlihat sangat aman dari pandemi," tanya Rhyno keheranan.

"Karena ini kota istimewa yang disucikan oleh seluruh dunia, daratan negaraku ini sebagian sudah berinvestasi dan disewakan kepada pemerintah Zyo S kecuali tanah kota ini," singkat Adam.

"Iya kah?" Tanya Ben.

"Benar, dan bahkan Eden itu tidak akan bisa berpengaruh di kota ini sebab pemerintah menjatuhkan pajak tinggi jika Zyo S mau melakukan sesuatu ke kota ini, ada jaminan sponsor dari pemerintah kepada Zyo S sebagai tanda bahwa kota ini tidak akan ikut campur kepada urusan Zyo S namun cukup dengan hadirnya sebuah menara Alice di samping tempat ibadah kami sebagai simbolis." Jelas Adam.

"Menara Alice?" Tanya Save.

"Ya, menara Akalendar adalah salah satu kompleks termegah di dunia serta memiliki menara jam tertinggi di dunia, menara Akalendar ini terletak tepat di sebelah tempat ibadah kami, ada simbol bulan sabit yang cukup aneh bagiku, dan kita tahu bahwa Alice itu memiliki simbol bulan sabit. Hanya Tuhan yang maha tahu." Papar Adam.

"Bagaimana bisa kamu tahu soal Alice?" Save mengernyit.

"Alice itu nama perusahaan milik Eden yang bergerak di bidang apa pun di seluruh dunia ini, apa kah kamu baru tahu?" Adam justru heran.

"Oh..." Save mengangguk.

"Jadi nama Alice itu digunakan sebagai nama perusahaan ya sekarang, baik aku mengerti," Rhyno mengangguk disusul  yang lain.

"Dan sekarang ini sudah berdiri sebuah Royal Palace di sebuah gunung pemusik di kota sebelah dan itu sangat meneror kepercayaan kami, bahwa di sana adalah tempat berkumpulnya para ahli ramal, ahli pendoa lewat bait-bait yang menghanyutkan dan berbahaya sekali, sebab Eden dan pengikutnya sering bersambung cerita kepada mereka," jelas Adam.

"Jadi Eden itu sekarang ada di mana?" Rhyno penasaran.

"Ya, di Royal Palace itu di gunung pemusik, dia berbaur di sana sebagai ahli agama dan pemilik sekolah asrama agama besar namun uang dia banyak didonasikan untuk urusan pengobatan pandemi yang sekarang terjadi termasuk negara-negara perang," Adam merinding.

"Aku ingin bertanya kepada mu dan ini agak aneh, bukannya yang menghuni Royal Palace seharusnya orang yang maaf sekeyakinan agama denganmu? Karena kulihat di sini semua orang meyakini satu agama khususnya di kota suci di negara ini," Traven penasaran.

"Mereka memang sekeyakinan denganku namun cara mereka berbeda," Adam.

"Oh, pasti karena mereka memegang ilmu pegetahuan tentang Lux," Rhyno tidak ragu.

"Dan jika kalian ingin bertemu dengannya, aku akan mengantarkan namun aku tidak bisa berjanji sebab kulihat ada jet terbang melintasi kota ini, artinya di luar gerbang kota ini pasti besok sudah ramai penjaga keamanan," Adam mengurut jidat.

"Kita perlu berubah fisik dan identitas dulu sambil menunggu waktu yang tepat," saran Furen.

"Baik lah..." Rhyno mengangguk. Perempuan muda ini selalu terpacu adrenalinnya untuk menerima pengalaman baru sehingga kini dalam pikirannya ada banyak pertimbangan.

"Aku akan hubungi pamanku dan minta bantuannya, hanya dia satu-satunya orang yang bisa bergerak sekarang ini, bahkan semua keuanganku sudah dibekukan dari Zyo S. Aku bahkan tidak tahu Noa dan ayah di mana..." Furen sambil mengoperasikan tabulet-nya.

"Adam, kamu tinggal sendirian di rumah sebesar ini?" Savy  yang kini berbusana sangat tertutup bertanya basa-basi.

"Ini rumahku pribadi dan orang tuaku ada di kota ini juga namun beberapa blok saja terpisah dari sini... Ada apa?" Adam menundukkan matanya.

"Beberapa dari kami bisa menyamar sebagai pelayan di rumah ini." Tukas Savy, Gia mengangguk.

"Bagaimana denganku?" Helena cemas.

"Kau juga bisa kan jangan katakan berapa usiamu," saran Gia sambil mengusap punggung Helena. Helena mengangguk.

Helena tidak cemas akan Key dan Vero sebab dalam mimpinya dia menyaksikan sesuatu yang jauh lebih menantang karena itu jiwanya tenang.

Mulai dari malam itu para pemuda itu mulai belajar menumbuhkan jenggot dan kumis juga mulai mewarnai rambut menjadi hitam.

Mereka mempelajari bahasa setempat dan budaya setempat hingga satu bulan berlalu dan identitas baru mereka sudah jadi.

Furen menjadi Hamza, Raick menjadi Erza, Traven menjadi Haidar, Qio menjadi Husein, Save menjadi Rafiq, Ben menjadi  Wardana, Revo menjadi Yusuf, dan Robert menjadi Amir. Sementara Rhyno menjadi Najwa, Gia menjadi Aaliyah, Savy menjadi Hannah, Helena menjadi Amira.

Dengan bantuan Adam akhirnya mereka pergi ke kota Medina untuk bertemu dengan Eden di Royal Palace di gunung pemusik. Di sebuah komplek rohani tepatnya seperti bangunan masjid namun berfungsi serba guna, sana Eden sedang bersama para santri sedang melakukan pembaiatan.

Eden memegang kepala seorang pemuda yang kini duduk di depan para pengikut setia ajaran Eden yang bermaksud ingin bergabung maka harus disumpah dan janji dulu oleh Eden sebagai awal penerimaan ke dalam kelompok keagamaan tersebut.

Secara kebetulan Rhyno dan kawan-kawan baru saja turun dari mobil di depan bangunan megah yang terdapat kolam dan air mancur besar dan megah itu.

Terlihat di kejauhan secara jelas ada keramaian, para pemuda Zyo S itu berjalan menyusuri ruang bangunan yang terbuka itu di antara keramaian dengan lewat bagian pinggir yang kosong. Sehingga mereka dapat menyaksikan apa yang Eden lakukan sekarang.

"Kamu mau mengikuti aku?" Eden.

"Iya," jawab pemuda itu.

"Ucapkan apa yang kuajarkan!" Suruh Eden.

"Baik" jawab pemuda itu.

"Dengan menyebut nama Tuhan yang maha pengasih dan maha penyayang. Aku bersaksi tiada Tuhan selain yang maha Esa dan aku bersaksi Ahmad adalah utusannya," Eden.

"Dengan menyebut nama Tuhan yang maha pengasih dan maha penyayang. Aku bersaksi tiada Tuhan selain yang maha Esa dan aku bersaksi Ahmad adalah utusannya.." ulang pemuda itu.

"Kau mengatakan itu karena mengikutiku bukan?" Eden memastikan.

"Iya," jawab pemuda itu.

"Artinya kau sekarang jadi pengikutku.." seketika setelah mengatakan itu, kelopak mata pemuda itu menghitam.

Seolah jiwanya sebagian terambil keluar dari jasadnya dan kesadarannya kini seolah tinggal separuh.

Rhyno dan kawan-kawan menyaksikan kejadian itu kini sudah sampai di depan Eden dan duduk di belakang pemuda itu. Adam melihati pemuda itu dan berpikir akan perubahan yang terjadi di raut wajah pemuda itu setelah disumpah.

'Aku paham sekarang, jadi jangan mengikuti orang ini karena bisa dibelokkannya keimanku nanti' Adam membatin.

"Salam..." Ucap Adam.

"Salam..." Jawab Eden.

"Saya hamba Tuhan, saya ke mari untk membawa para tamu yang ingin berjumpa kepada Anda," sopan Adam.

Eden mengangguk pelan melihati para pemuda Zyo S itu sambil tersenyum.

"Baik lah karena aku ada tamu jadi kita teruskan acara ini dengan bantuan guru agama tuan Alif... Silahkan tuan Alif, saya harus menyambut para raja dan ratu ini..." Ramah Eden.

Mendengar itu Rhyno dan kawan-kawan saling berpandangan. Lalu mereka tersenyum sambil mengangguk sopan kepada Eden.

"Baik tuan guru..." Ali mendatangi tempat Eden untuk menggantikannya duduk di sana.

Eden bangkit dari duduknya dan beranjak menjauhi keramaian itu sambil mengisyaratkan agar para remaja itu mengikuti dirinya melangkah pergi dari sana.

"Mari ke kediamanku! Ikut aku!" Ramah Eden me-guide para tamunya.

Eden berjalan di depan mereka semua. Adam mengisyaratkan untuk tetap diam dengan menaruh jari telunjuk ke depan mulutnya lalu senyum untuk mengisyaratkan bagaimana caranya menjawab tanpa harus berkata 'iya'. Semua remaja itu mengangguk paham.

"Baik lah kita sudah sampai di kediamanku," Eden mengantar mereka ke sebuah mansion mewah dan membuka pintu anggunnya yang bercat warna emas.

Mempersilahkan mereka semua duduk di sofa mahal dan besar yang memang sudah di siapkan untuk para tamu yang bisa silih berganti datang setiap hari.

"Ada keperluan apa kalian semua para keturunan bangsaku datang jauh-jauh ke sini?" Senyum Eden terlihat lain.

Para remaja itu kini mulai kehilangan simpul senyumnya.

"Langsung saja pada intinya, kami ingin agar agenda vaksinasi tidak berguna di Zyo S agar dihentikan!" Tegas Rhyno dengan mata tajam.

"Singa betina dengarkan aku" ucap Eden dengan nada pelan.

"Aku bahkan tidak ingat untuk apa vaksin itu digunakan mereka" lanjut Eden, mendengar itu para pemuda itu tercengang.

"Vaksinasi ini terjadi setelah Alice dan Magus dibawa ke dimensi lain bersama Bloom!" Geram Rhyno.

"Nah kalian tahu tidak apa fungsi vaksin ini?" Eden terkekeh sambil membuka tangan.

"Untuk melumpuhkan ingatan, menghidupkan program chip yang sudah ditanam di otak seluruh warga Zyo S dan mengendalikan pikiran mereka semua dan jika berontak maka tinggal tekan tombol untuk membunuh mereka semua." Geram Revo, mendengar Revo emosi membuat jantung Gia berdebar.

"Hahaha, kenapa kalian takut, chip itu tidak pernah di tanam ke siapa pun. Itu bohong." Eden terkekeh.

"..!!"  Adam terdecak dan yang lain juga.

"Memori kalian dicuci dan dimasukkan ingatan baru seolah kalian sudah divaksin dan ditanam chip padahal hanya dihipnotis itu lah namanya pemalsu atau dajjal, pendusta dan pemanipulasi pikiran juga kesadaran." Jelas Eden.

"Tahu kah kau tentang semua pandemi ini di seluruh dunia ini?" Adam penasaran.

"Ya... Itu tidak ada, tidak ada virus itu... Hanya fiksi dan hipnomasa!" Eden menyeringai.

"Tapi ini kebohongan yang dipercayai banyak orang, bagaimana bisa? Mereka pun tunduk dengan mudahnya!" Adam tergupuh.

"Sebab ada afirmasi pembuai dalam setiap kalimat yang diucapkan lewat energi penumbalan, itu menjadikan ucapan seseorang semakin kuat merasuk ke relung jiwa kalian... Tumpahnya banyak darah itu... Menghasilkan kekuatan sihir." Eden berbicara pelan namun terdengar mengerikan.

"...?" Para remaja itu saling berpandangan.

"Aku ini orang biasa... Tapi ditakuti seluruh dunia... Kalian pikir aku begini dengan berusaha? Ini buka atas kemauanku." Eden menunjukkan telunjuknya ke langit.

"Ya, aku tahu, tapi kamu bisa menghentikan pemaksaa vaksinasi itu kan?!" Geram Revo sekali lagi.

"Aku tidak percaya jika vaksinasi dan chip itu bohongan, kau mengucapkan ini supaya kami cepat berbalik badan bukan?!" Ketus Revo.

"Hihihi... Cerdas." Eden terkekeh.

"Lantas bagaimana usaha kalian untuk memaksaku agar aku bisa menuruti kalian?" Goda Eden.

"Bertarung pedang melawan pedang!" Adam tegas.

"Hmmm?" Eden terbungkam.

"Sebelum kau bertemu messiah, Eden. Ingat waktumu di negara ini tidak banyak Eden, jika kau benar-bertemu dia di kota ini ketika kau akan ke kota Mecca, maka kau akan tamat... Bisnismu hancur!" Tunjuk Adam.

"... Kau benar seharusnya anak-anak ini bukan lawanku dan bukan tandinganku, aku tidak akan terbunuh. Lagi pula semua orang mati sekarang hidup lagi bukan... Banyak teknologi kecerdasan buatan kini membuat orang mati bangkit ya kan... Lihat foto lama bisu kakek buyut dan nenek moyangmu! Foto mereka kini bisa berbicara dan menari bahkan memelukmu... Dan ada juga mayat yang benar-benar hidup kembali..." Hunus mata Eden ke Save yang terbelalak.

"Hahaha!" Gelegar tawa Eden.

"Jangan dengarkan dia Save!" Bentak Qio.

"Tuhan ampuni dosa kami... Maafkan kami..." Savy memejamkan mata dan tertuntuk dibalik cadarnya.

"Wanita itu lemah dan harus dilindungi..." Ucapan Eden itu membuat Savy membuka mata.

"Bukan kah begitu?" Eden melihat Savy.

"Iya" Savy mengangguk, lalu matanya menjadi sayu.

"Tidak!" Rhyno panik.

"Hahaha! Wanita itu lemah dan mudah dipengaruhi!" Lagak Eden.

"Ah tidak, Savy!" Gia membungkam mulutnya sendiri.

"Tempat adikmu sekarang bersamaku... Kau mau apa? Percuma jika kau bawa dia akan mati..." Eden senyum tipis kepada Save yang berlinang air mata dan bahunya ditahan Ben.

"Ayo kita bertarung pedang dengan pedang!" Tegas Robert.

Eden menoleh kepada Robert pelan tanpa tersenyum, "kau hanya ingin supaya vaksin itu dihentikan bukan?" katanya.

Robert mengangguk pelan dengan terus menatap wajah Eden yang rupawan meski warna kedua bola matanya tidak sama. Pria berambut sebahu dengan kemeja hitam itu menghela nafas.

"Sayang sekali negosiasi ini harus dihentikan karena hanya messiah yang berhak bicara kepadaku." Eden menepuk ke udara dan muncul segelas emas di meja depannya, Eden meminum air didalamnya pelan.

"Pria ini bisa trik sulap atau memang sihir nyata?" Gumam Adam terbelalak.

"Messiah?" Furen menggaruk dagunya.

"Kalian semua adalah keturunanku. Jadi tidak diijinkan protes apa pun terhadap semua kemauanku, atau lebih baik kalian cari jalan Tuhan kalian sendiri dengan menemukan messiah dan membawanya ke hadapanku sekarang!" Eden meletakkan gelasnya di meja.

"Sial." Decih Save sambil merangkul Savy yang pingsan.

"Akan kutemukan!" Rhyno menusuk mata Eden.

"Wanita itu rata-rata menjadi pengikutku lho..." Goda Eden.

"Itu benar, ini berbahaya nona Najwa!" Kata Adam.

"Aku sepenuhnya adalah setan, aku sudah jadi setan sekarang." Rhyno tegas.

"Hahaha" kekeh Eden.

"Tapi aku setan yang akan bermain-main dengan satanis sekarang." Picing Rhyno kepada mata Eden.

"Bawa lah messiah ke hadapanku, wahai para setan!" Eden membuka tangan sambil bersandar ke sofa.

"Astaga" Furen memutar matanya pening.

"Tuhan ampuni aku..." Adam mengusap wajahnya.

"Pulang lah... Aku tidak akan menahan sekali pun wanita yang sudah menjadi pengikutku itu..." Tunjuk Eden ke Savy dengan dagunya.

Para remaja itu tidak menjawab dan berlalu menuju pintu keluar, Save menggendong Savy yang linglung.

"Dimana messiah sekarang?" Rhyno lemas sambil berjalan ke mobilnya.

"Kamu tenang saja, messiah itu saat ini ada di sekitar sini sekarang..." Adam membuka pintu mobilnya kemudian masuk ke mobilnya.

"Luar biasa." Gumam Gia, Rhyno menoleh kepada adik angkatnya itu.

"Aku harus benar-benar mencari tahu siapa messiah itu," Gumam Furen yang sudah duduk di samping Raick yang mengemudi.

No comments:

Post a Comment

Bab 22: Tidak Banyak Bicara

 Rhyno akhirnya merenung setelah perkumpulan di kediaman Aman selesai. Semua pemuda Zyo S akhirnya berkumpul untuk merundingkan rencana. Mer...