Wednesday, February 12, 2025

Bab 3: A Hero Martin Rolland

 Ringkasan dari bab sebelumnya:

Rhyno yang baru saja pindah rumah dari perumahan militer kini memasuki sebuah sekolahan sipil bersama adik angkatnya, Gia. Tidak lama kemudian Rhyno memanfaatkan kebebasannya dari pengawasan militer untuk meneliti penyebab kematian ayah dan ibunya yang dirahasiakan oleh pemerintah dan disembunyikan faktanya dari publik. Terutama mengenai penyakit aneh yang dia derita selama ini yang justru faktanya juga disembunyikan rapat-rapat oleh para dokter yang memeriksanya. Anehnya jika dia memeriksa di rumah sakit diluar lingkungan militer maka tidak ada satu informasi pun yang Rhyno dapatkan mengenai penyakit itu bahkan untuk namanya saja tidak ada petunjuk. Hingga suatu hari di sekolah, Rhyno bertemu dengan Furen yang membocorkan nama penyakit itu. Dan ternyata penyakit itu efeknya tidak dapat dihentikan.

ψ(`∇´)ψ

Di dalam mobil Furen..

“Tidak disangka jika jadinya seseru ini…”

Furen terkikik saat di dalam mobil.

“Jika di dekat Rhyno, semuanya jadi pasti…”

Traven tersenyum. Raick melihat wajah kakaknya dari spion.

“Sekarang bagaimana?..”

Raick mengurangi kecepatan sebab ada lampu rambu lalulintas di perempatan depan yang berwarna merah.

“Aku akan terus coba mendekati Rhyno...” Furen tersenyum penuh semangat.

Sementara di dalam mobil Rhyno...

“Aku tidak habis pikir…”

Rhyno memegangi jidatnya sambil menatap serius jalanan.

“Jika Key bisa melihat masa depan tapi tidak mengalami benturan kelenjar syaraf dengan vibrasi energi astral dari dimensi waktu... maka benar kah dia jenis kembangan lebih sempurna?!!” Umpat Rhyno.

“Sabar!

Kita bisa tanyakan lagi kepada Key kan…” Gia cemas.

“Kau benar!.” Rhyno menghela nafas.

“Misteri ini memenuhi otakku!”

Rhyno memukul setirnya dengan tangan.

“Nona!...” Gia semakin cemas.

“Aku akan membantumu berfikir! Aku akan berusaha! Nona tenangkan diri dulu!"

Suara Gia tidak terdengar oleh lamunan, Rhyno menambah kecepatannya mendahului Save dan memisahkan diri dari dua mobil temannya.

“Sepertinya Rhyno mengamuk hahaha!” Raick melihati aksi mobil Rhyno yang ugal-ugalan.

“Rhyno…” Traven agak cemas.

“Wah!!!!! hahaha!!!...”

Save terpancing, dia ikut mengebut.

“Hahhahaha!!!...” Raick pun menggila.

Furain tersenyum tipis, dia pun tidak bisa berfikir lagi.

“Lebih baik kita lupakan saja sejenak!...” Usul Furen.

(·  ´ ▽ ` )ノ

”Aku pergi dulu ya!!!...”

Save membuka jendelanya dan melambai sambil belok ke arah kiri. Rhyno menjawabnya dengan mengklakson dua kali. Sementara Rhyno belok ke arah kanan, Raick mengikuti  mobil Rhyno.

“Kemana dia?...” Raick mengejar jarak.

“Ke rumah Key, bukan?..” Traven dengan suara datar.

Tebakan Traven benar, malam ini keadaan semakin dingin tapi Rhyno tidak kenal lelah. Rhyno turun dari mobilnya disusul yang lainnya dan berdiri dekat pintu masuk rumah Key.

“Ting tong!” Rhyno memencet bell pintu rumah Key.

Tak lama kemudian Helena membukakan pintu. Rumah kakek Key agak klasik dengan halaman yang luas berisi kolam ikan, pintu gerbangnya juga antik tetapi jarang ditutup karena selalu ada tamu yang datang untuk berobat. Key kini mengelola usaha tabib kakeknya.

“Kak Rhyno.. kak Furen…” Helena mempersilahkan masuk.

Setelah masuk, mereka disuguhkan tea hangat.

“Ada apa nona dan tuan muda..?.” Emotionless face Key.

“Key.. benarkah kau tidak pernah merasakan sakit?... bagaimana bisa?...”

Rhyno sudah tidak sabar lagi. Furen tertawa kecil melihatnya.

“….?” Key tidak memahami, Helena duduk disampingnya.

“Apa karena kakek selalu memberikan kakak obat herbal agar sehat sebelum bekerja paruh waktu setiap hari?...” Helena dengan polos menyela.

“!!!..

Benar juga!...” Key agak shocked.

“Obat apa itu?....” Rhyno mencoba meredakan stressnya dengan memijit keningnya.

Helena bangun dari duduknya lalu pergi ke sebuah ruangan mengambil obat itu.

“Kalian tidak apa-apa kan mengurusi rumah ini tanpa kakek kalian?..” Furen mencoba menghangatkan suasana.

“Tidak, tuan muda.” Key agak menundukkan muka lalu mengangkatnya lagi sebagai ekspresi hormat.

“Ini obatnya..” Helena kembali membawa sebuah botol kaca berisi pil-pil herbal.

“Kau benar-benar harus meminum pil ini setiap hari, Key?...” Rhyno menerima botol itu dan mengambil satu pil kemudian mencium aromanya.

“Untuk dosis satu minggu diminum dua kali saja... kakek bilang tubuhku sebenarnya punya sakit alergi sejak kecil... aku tidak bisa terkena angin di luar... jadi harus selalu minum itu…” Key menuturkannya tanpa ekspresi.

“Hm.. berarti aku tidak bisa membawanya ya…” Rhyno mengusap dagunya.

“Silahkan bawa saja nona, masih ada banyak…” Key menundukkan muka lalu mengangkatnya.

“Furen!..”

“Ya…” Furen tersenyum.

“Gunakan anak buahmu untuk mencari tahu apakah bahan obat ini dan jika itu tanaman herbal apakah sekolahan punya….”

Rhyno melempar pil yang dia ambil ke Furen. Furen menerima dan membaui aromanya.

“Hmm…”

“Ti tidak perlu serepot itu nona..” Sela Key.

“Hm?!..” Rhyno melongo melihat Key.

“Karena aku bisa membuatnya sendiri…” Key tanpa ekspresi.

“Baguslah…” Rhyno tersenyum disusul Furen.

“Tapi kita tidak bisa menelitinya di lap sekolahan atau di rumah kita…” Furen khawatir.

“Kau benar….” Rhyno mengangkat sebelah alisnya.

“A..ada satu bahan lagi yang susah untuk didapatkan juga…” Key teringat.

“Oh?!..”

“Kita bisa…” Gia menyela.

“Hum?...” Semua orang melihat Gia, penasaran.

“Kalau kita berani ke kota tempat kampung halamanku… disana aman… aku yakin bahan segala obat-obatan tumbuh disana.. tempatku itu gudangnya tanaman herbal di tempat asalku” Gia tersenyum.

“AArgh… itu kan di luar  batas Negara ini, Gia…!.” Rhyno menggosok-gosok jidatnya.

“Hahahaha!" Furen tertawa.

“Bahan apa yang kurang?..” Raick mengamati aroma pil.

“Bunga yang seperti kaktus.. aku lupa namanya..” Key flat.

“...???"

“E.. kau ini… bukannya toxic ya kalau sebangsa kaktus?” Raick hampir tidak waras mendengarnya.

“Serahkan saja padaku.. aku akan menelitinya..” Gia tersenyum.

“Kau tidak perlu bersaing denganku kan Gia..” Raick menusuk mata Gia.

“EEHH!!..” Gia ketakutan.

“Aku bercanda… hh..” Raick menghela nafas.

“Hahahaha…” Rhyno tertawa.

( •ω•ฅ)

“Daribmana saja kau kemarin malam?!...” Seorang pria berjas dan berdasi berkisar usia sekitar 60 tahun dengan rambutnya yang tertata rapi tengah menginterogasi Rhyno di kediamannya.

“Aku…”

“Aku apa?...”

“?!...”

“Kau tidak bisa keluyuran seenak jidatmu!!.. apa lagi ke kota bawah yang penuh dengan kekacauan.. mengerti!!...”

“…..” Rhyno mengangguk.

“Aku hanya membayangkan bisa jalan-jalan tanpa kemewahan bersama teman-teman…” Rhyno mengalihkan pandangannya ke jendela.

“!?...” Orang dewasa itu menghela nafas.

“Maafkan aku….” Rhyno menatap orang itu dengan tegas.

“Kau mirip dengan ayahmu..!.” Pria itu berdiri lalu meninggalkan Rhyno.

Beberapa pria lain yang mengikutinya pun turut serta.

Rhyno menghela nafas lega.

“Nona Rhyno…?.” Gia datang menghampiri.

“Pemerintah benar-benar mengawasi kita sekarang..” Bisik Rhyno, melihat dari balik jendela, mobil orang-orang disipliner pergi keluar gerbang mansion.

“….” Gia menutup gorden jendela.

“Apa tidak ada laboratorium disini?...” Rhyno memburu jawaban.

“Nona terlalu impulsive.. tidak baik untuk kesehatanmu.. kita bisa melakukannya.. tenang dan sabarlah…” Gia menepuk bahu Rhyno.

“Akan kubuatkan kau susu hangat lalu kita pergi tidur..” Gia ke dapur.

“…” Rhyno memalingkan muka.

“Aku tidak tenang..” Gumam Rhyno.

Sementara itu di rumah Furen.

“Aku hanya bermain-main.. sesuai bayangan dan perkiraanku.. ternyata kotor sekali kota itu hihihi….” Furen terkikik.

“….” Pria yang tadi ke rumah Rhyno kini tengah duduk dihadapan Furen.

“Habisnya.. lampu mereka indah banget… jika dimalam hari seperti ini.. aku sudah terlanjur salah.. tidak sesuai imajinasiku.. Traven benar.. sia-sia saja aku ke sana..” Furen menopang dagu.

“Untuk itulah jangan lagi kesana…” Pria berkumis rapi itu berdiri.

“Ayah tuan muda menyerahkan anda padaku..” Pria itu berbalik badan dan melangkah pergi.

“….” Furen tersenyum tipis. Dan bangkit untuk mengantarnya ke depan pintu.

“Jika kami mendapati informasi anda bersama teman yang lainnya berkeliaran ke zona tidak aman lagi…” Pria itu menuju mobilnya tanpa melanjutkan pemberat kalimatnya.

“…?.” Furen tersenyum tipis.

“Kami tidak bisa menyelamatkan jika terlambat..” Lalu dia masuk saat seseorang membukakan pintu untuknya.

Furen menaikkan tangannya tanda hormat. Lalu melihat beberapa mobil dari mereka meninggalkan halaman dan hilang di jalanan depan rumah.

Traven dan Raick segera berlari dari persembunyian mereka menghampiri Furen.

“Wah.. anjing pemerintah langsung mencium tindak tanduk kita rupanya..” Raick agak panic.

“Aku percayakan semua pada Rhyno… kita tidur saja.. aku lelah…” Furen berlalu masuk dalam rumah. Raick dan Traven mengunci pintu dan segera ke ruangan Furen.

((((゜д゜;))))

Pagi hari di halaman belakang bangunan Prime Revolutioner School.

”ERGH! Lepaskan aku!" Martin Rolland dikepung Riff dan Nick untuk dikerjai habis-habisan.

“Kau punya kuncinya kan?...” Riff.

“Aku cuma anak buah OSIS!..” Martin terguncang.

“Dapatkan kunci itu untuk kami!..” Nick membuka pisau lipat.

“Kalian anak kampungan! Ini cara kotor tidak beradab!..” Martin mundur.

“Lepaskan dia.” Key datang.

“Euh!!?.” Riff mengangkat satu alis.

“Euh!!!.”  Martin berlari ke belakang Key.

“Bukan begini caranya.” Key menusukkan mata ke Riff dan Nick.

“??!!" Martin bingung, Key berputar badan padanya.

“Aku butuh bantuanmu..” Key dengan serius memandang Martin.

Martin yang agak cemas dengan dirinya kemudian mengangguk.

“Kau harus bisa bantu kami mendapatkan kunci rumah kaca milik sekolah ini.. karena ada sesuatu yang harus dilakukan..”

“… Apa itu…?!..” Martin cemas.

“Lakukan saja.” Key memicingkan matanya.

“Ini tidak adil!.. aku siswa yang tak berdaya! Dan kalian memerasku!..”

“Hey!! Tidak ada yang memerasmu!!!…” Nick geram dan jengkel, Riff memegangi pundak Nick.

“Akan aku adukan kalian pada guru!..” Martin berlari.

Key sigap mengejar dan mendahulinya lalu menjegal sampai Martin tersungkur ke tanah.

“DUK!!!.”

“GGGH!!!...” Martin mencoba berdiri.

“Aku terdesak karenamu. Mari bekerja sama..” Key mengulurkan tangan.

“!!!!...?....” Martin menerima tangan Key.

Dingin sekali tangan dia ini!!..’ Batin Martin setelah merasakan tubuh Key.

“Aku mengerti…. Aku akan membantumu..” Martin berdiri lalu berjalan menjauhi anak-anak remaja yang suka berkelahi itu.

“Mereka itu seperti mesin petarung saja…” Gumam Martin.

“Terlebih…” Martin merasakan bekas sentuhan Key di tangannya.

“Sedingin mayat…!” Martin merinding.

“Lebih baik aku turuti saja.. mungkin dia butuh tanaman jahe.. supaya bisa hangatkan badan kan…” Martin adalah anggota OSIS untuk mengurusi rumah kaca yang berisikan tanaman herbal yang akan diteliti di laboratorium oleh siswa farmasi.

Martin menuju ruangan OSIS untuk menemui pembantu OSIS, anak kelas tiga bernama Mimy. Sesampainya di ruangan Mimy.

“Haaah!!?... mana bisa aku berikan kunci dublikatnya!.... mendingan kalau kamu minta saja sama anak kelas tiga yang jadi asisten guru…!.” Mimy berputar-putar diatas kursinya yang bisa rolling.

“A.. aku tidak bisa.. barangku benar-benar ketinggalan di dalam sana.. HP ku…” Rengek Martin seolah tak berdaya.

“Baiklah… tapi cepat yach…!” Mimy mengedipkan sebelah matanya.

“Ba.. baik!!...” Rolland mengambil dari tangan Mimy lalu keluar dari ruangan. Dia melihat sekitarnya, Key sepertinya sudah dibawah menunggunya di tempat tadi karena dekat dengan rumah kaca.

“Wah, itu mereka…” Martin agak berlari setelah sosok Key terlihat.

Melihat kedatangan Martin, Key berjalan menuju rumah kaca. Martin mendahuluinya dan membuka pintu rumah kaca. Key langsung masuk dan melihat isi rumah kaca tersebut. Riff melihati suasana di gedung sekolahan, tidak ada anggota OSIS yang sedang mengawasi dari jendela tetapi ada CCTV. Riff dan Nick yang menunggu di halaman itu agak tegang.

“Ah.. ada..” Gumam Key setelah menemukan tanaman yang dia butuhkan.

Dia mencabut tanaman yang masih kecil itu lalu meletakkannya di toples, tak lupa dia ambil tanah lalu pergi dari rumah kaca itu.

“EEH!!? Kau sudah selesai? Cepat sekali..” Martin mengunci pintu setelah Key keluar.

“Cepat pergi.” Key berlari untuk bersembunyi.

“!!!!....” Palmface Martin, melihat tiga berandalan bengis itu berlari ke arah gedung sekolah.

Martin berjalan kembali ke ruangan Mimy.

“Martin Rolland!!!..”

“JDUAAAAAAAAAK!!!!!!!!!!!.” Kepalan tinju Mimy mendarat di pipi Martin hingga pemuda itu terpelanting ke lantai.

“SETTTTTTTTTTTT!!!...” Martin mimisan.

“Aku ngga bego yach!... kau tadi itu ngapain!! Aku lihat di CCTV kenapa kau membiarkan anak kelas satu A maling tanaman!!!!!!!!!...” Mimy terbakar amarah.

“Maling apanya? Dia disuruh guru koq.. lihat saja.. dia ke laboratorium… “ Martin mengelap darah dari hidungnya.

“UGH!!!...” Mimy menuju ruang CCTV.

“…..?!!....” Dia melihat Key memberikan toples berisi tanaman itu ke seorang gadis yang sedang meneliti di ruangan farmasi. Key memakai baju laboratorium.

“Dia murid farmasi loh… aku membantunya sekalian tadi.. guru yang menyuruh!.. aku juga harus ke ruangan farmasi.. aku juga ada kelas itu…” Martin berdiri di antara pintu ruang CCTV lalu berjalan keluar dari ruangan Mimy.

“Kau jangan bolos mentang-mentang anggota OSIS..” Martin menutup pintu dan menyusuri koridor.

Sementara itu di ruangan CCTV.

“…… tapi tadi itu serasa tidak beres….” Mimy memegangi kepalanya yang tiba-tiba sakit.

( ̄□ ̄)

Di laboratorium kelas farmasi…..

“Tanamannya ternyata bunga ya?...” Gia tersenyum cerah melihati bunga dalam toples yang dibawa Key tadi. Key mengangguk dengan muka berekspresi flat.

“Bunga pasku..?....” Trixie tiba-tiba datang.

“Iya…” Gia membuka toples dan memotong satu daunnya yang sudah tua kemudian  meletakkannya pada meja microscope.

“Menarik sekali…” Tak lama kemudian Gia meletakkannya ke alat yang seperti oven. Dan mengeluarkannya kembali.

“Uh!...” Gia melihat ada cetakan kertas keluar dari mesin yang tersambung ke alat tadi.

“Key..” Panggil Gia.

Key mendekat kepada Gia.

“Siapa sangka jika bunga ini ternyata beracun…” Gia tercengang membaca hasil cetakan dari informasi yang dimiliki daun bunga itu.

“?..........”

“Kita bicarakan nanti… simpan ini..”

Gia tersenyum pada Key sambil mengambil tangan Key untuk menerima lembaran yang terprint itu, Key mengangguk lalu melipat dan memasukkannya ke saku celana seragam.

Gia kembali mendekati meja penelitiannya dan menata rapi perkakas sebelum belajar dimulai dengan senyuman.

“Kau dengan Key..” Trixie berbisik, dia sebangku dengan Gia.

“Ya…?" Melihat senyuman Gia, Trixie agak shocked.

“Kau akrab sama anak aneh seperti itu? Aku rasa dia psikopath.. dari psikology mukanya yang jarang menunjukkan ekspresi itu… sepertinya…”

Trixie berbisik sambil melihat Key yang duduk di samping Raick, bangku dua pemuda itu pas di depan mereka.

“Hihihi…” Gia tertawa kecil.

“Oh?!...” Trixie agak bingung mengapa Gia tertawa.

“Dia orang yang baik padaku…” Gia tidak menghiraukan Trixie sambil berbisik melihat bagian belakang kepala Key yang tertutupi rambut berwarna putih perak.

(◡‿◡✿)

“Racun!!??...” Rhyno shocked sambil menunjuk-nunjuk kertas yang dibaca Furen.

“Wah??!...” Furen terpelongo.

“Aku juga tidak tahu.” Key dengan muka datar.

“Kakek Key ingin membunuh Key secara perlahan?!! Aduh!!.. Ini scandal..” Raick menggaruk kepalanya.

“Bukan bukan..!" Gia menyela dengan dua tangannya yang melambai tanda tidak.

“Umh?...” Rhyno melihat hasil cetakan informasi mengenai bunga yang Key bawa didalam toples.

“Aku sudah browsing! Bunga ini bisa digunakan untuk antibiotic atau sejenis pemati virus.. aku tidak tahu jika dicampur dengan tanaman herbal lain jadinya akan seperti apa…” Gia memperlihatkan monitor tabuletnya.

Tujuh remaja yang berada di markas Furen di gedung lama dalam ruangan aneh yang kemarin Rhyno datangi itu sedang berdiskusi agak tegang mengenai kandungan obat yang kakek Key buat, sambil menghabiskan jam istirahat sekolah.

“Aku juga sudah mencetak kandungan obat itu… ini hasilnya..” Raick mengeluarkan beberapa cetakan kertas.

“Waaah banyak sekali jenis nutrisinya?!!!...” Rhyno heran dan kagum.

“Banyak dengan kadar persentase yang fantastis… itu semua hanya membutuhkan dua belas jenis tanaman…” Raick berkacak pinggang sambil mendongakkan kepala melihati langit, atap kaca bangunan itu tidak menghantarkan panas sebab ada bayangan dari dinding gedung sekolah lama yang menghalangi sinar matahari.

“U’……?...” Rhyno melongo. Raick menghampiri Gia.

“Kalau kita bisa keluar negeri dan ke tempat kampung halamanmu.. kita akan menemukan banyak jenis bunga pasku?...” Raick menopang tangan di bahu Gia.

“Eu!..” Gia mengangguk mengerti.

“Bagaimana caranya keluar dari Negara ini.. aku diawasi..” Rhyno menggosok jidatnya.

“Kami juga diawasi disipliner… tadi malam dia datang..” Traven menjelaskan dengan tanpa nada naik turun.

“Kenapa harus susah…” Furen tersenyum.

“Umh?...” Rhyno mengamati pemuda yang sedari tadi mesem-mesem sendiri itu.

“Kita punya tiga orang ahli pengobatan dan kimia.. Key, Raick dan Gia.. mereka saja yang pergi.. pemerintah kan tidak mengawasi mereka…” Furen memperlihatkan senyum liciknya.

“Hohoho…..” Rhyno nyengir kuda.

“Tinggal bagaimana caranya kasih alasan jelas supaya kami tidak diikuti…” Raick mengangkat satu alis.

“Bagaimana Key?...” Furen melirik Key yang belum berkedip sedikitpun.

“…” Key mengangguk.

(◕‿◕✿)

“….” Muka Key sangat pucat.

“Kau baik-baik saja?...” Gia cemas melihat muka putih pucat Key membiru.

“Aku mual.” Key menahan nafas sambil mencengkram tangan seatnya.

Gia menyodorkan kantong plastic, Key langsung merampasnya dan..

“HOELLLK!!!...”

“Eeeeywh….!!!.” Raick berbicara agak keras dari balik punggung seat tempat duduknya yang ada di depan seat Key.

“Kau tidak suka penerbangan ya, bung!!?...” Raick meledek lalu memasangkan headset ke telinganya.

Gia menepuk-nepuk punggung Key lembut.

“Sebentar lagi pesawatnya akan mendarat.. kau tenang saja yach…” Gia menenangkan dengan senyuman innocent.

“HWWWLLLLLKK!!!...” Key muntah lagi.

“Hihihi…” Gia tertawa kecil sambil menutup hidungnya.

Penerbangan mereka menuju Negara kampung halaman Gia memang berjam-jam, Key semakin pucat. Gia memberikan kantong sampah muntahan Key ke peragawati lalu meletakkan kepala Key ke bahunya.

“Biar kamu tidur saja yach…” Gia ramah.

“….” Key melelapkan diri.

“Aku kangen nona Rhyno..” Gumam Gia.

“Dia akan baik-baik saja..” Key menjawab dengan suara lemas.

“Eh!!! Aku ingat!! Nona Rhyno dimalam hari akan kesakitan!!!...” Gia shocked.

“Ada tuan muda Furain yang disisinya…” Key semakin pusing.

“Furen di rumahnya… Eh!!! Pemuda waktu itu… yang bernama Qio!!!..” Gia teringat.

“Satu hal yang aku tahu.. Dia siap melepaskanmu sementara ini.. berarti dia sudah punya persiapan.. dan dia menyerahkan keselamatanmu padaku.. aku tidak akan membiarkan kau celaka…” Key jatuh dalam lelap.

“Eum! Terima kasih!!...” Gia mengangguk iba.

(≧◡≦)

“…..”

Pipi Key memerah, pemuda albino itu melihat pemandangan dan merasakan sejuknya angin menerpa mukanya. Kini dia sudah berjaket tebal dengan syal membalut lehetnya.

“Selamat datang Dakota… Amerika Selatan…!!!.” Raick merentangkan tangan ke udara.

“Hihihi.. melelahkan sekali…” Gia menghela nafas.

“Kau tidak suka perjalanan bus juga, bung?!...” Raick menyenggol Key yang kurang baik keadaannya.

“Jangan ganggu dia!...” Gia merona karena membela Key.

“Hahaha… Hey!!... Aku dulu pernah kesini..” Raick merangkul Gia.

“Ouh?...” Innocent face Gia.

“Saat aku masih sangat kecil bersama Traven…” Raick bersemangat.

“Humh… begitu yach…”Gia tersenyum kecil.

“Eh.. kalau tidak salah dulu ada yang membakar kota ini kan… pembantaian masal..” Raick teringat.

“Iya…” Gia mengangguk.

“….” Key hanya mendengarkan.

Bus menurunkan mereka di depan sebuah gerbang, tempat yang kini mereka hadapi seperti taman safari. Gia menuju bel dan memencetnya.

“Teeeet~!”

Gerbang pun terbuka sendiri.

Sebuah mobil troli menghampiri mereka setelah beberapa lama mereka berjalan masuk ke area itu.

“Kau kah itu nona Gloria?!!!...” Seorang gadis berbaju putih dan berkulit sangat putih berambut pirang panjang bermata biru menyetir kendaraan itu.

“Neon!...” Gia tersenyum lebar.

“Nona Gloria!...”

Gadis seusia Gia itu turun dan memeluknya. Mereka tertawa dan saling mencubit pipi.

“Uhum!!...” Raick agak tersinggung.

“Eh.. maaf ayo naik!...” Gadis bernama Neon itu menawari tumpangan.

(◕‿-)

“Kau masih disini? Aku pikir kuliah keluar negeri!...” Gia meminum cokelat hangatnya.

“Tidak.. kakek melarangku…” Gadis itu memeriksa Key yang kini berbaring di tempat tidur pasien.

“Kau butuh anti biotic pangeran albino…” Gadis itu melihat mata abu-abu Key.

“…” Key mengangguk.

Neon menyiapkan segalanya untuk menyembuhkan Key. Sementara Raick sudah bermalas-malasan di sofa, rumah Neon sangat nyaman dan hangat meski bercampur peralatan medis.

“Aku akan menyiapkan makan malam untuk kalian…” Neon tersenyum ramah.

“Baik.. terima kasih…” Gia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dengan air hangat.

“Tanganmu sangat dingin.. kau terlalu banyak mengunakan obat bius untuk menahan sakitmu.. tapi itu bisa memperlemah syarafmu…” Neon berkata pada Key dengan lembut.

“….?” Key hanya memejamkan mata.

Neon mengusap rambut Key.

“Halus sekali…” Neon meninggalkan Key dengan berjalan ke dapur.

“Key!..” Raick sedikit bersorai.

“…” Key membuka matanya melirik ke Raick.

“Neon naksir kamu tuch!...” Raick mengedipkan matanya sebelah.

“…?" Key membalikkan badannya dari Raick.

“Dasar pemalu..”

Sindir Raick lirih sambil menonton TV yang sudah menyala sebelum mereka sampai di rumah berbata merah dengan lampu remang itu, Raick asik bermalas-malasan lagi.

( ✖‿✖ )

”Obat yang unik….”

Neon melihati pil yang sudah dia larutkan itu. Cairan hijau kekuningan muncul setelah tak beberapa lama kemudian lalu berubah jadi merah.

“Apakah ini melalui proses kapsulasi?” Neon menoleh ke arah Key.

“Tidak.. setelah ditumbuk dan dihancurkan.. kita diamkan beberapa jam.. sekitar 6 jam lalu dijemur..” Key tanpa ekspresi.

“Aku mengerti.. didiamkan agar memiliki proses kimiawi alami kan.. lalu inilah kekuatan tradisional dalam pembuatan obat…”

“Eum!..” Gia mengangguk.

“Lalu apa yang kalian cari disini..?...” Neon melepas kacamatanya.

“Bunga Pasku!...” Gia tersenyum.

“Oh….”

Neon melihat monitor smartphone Gia yang tiba-tiba diperlihatkan.

“…” Raick mengangkat satu alis.

“Bunga itu sangat banyak tumbuh liar disini.. tapi dunia medis sangat jarang memakainya karena banyak resiko.. tanaman ini toxic… kita harus bisa memberi takaranan yang pas…” Neon memaparkan.

“Kita akan meraciknya disini…” Raick semangat.

“Butuh tiga hari dan kita tidak punya banyak waktu.. aku akan catat takaran tiap bahannya...” Key mencari kertas dan ballpoint.

“….” Neon berjalan dan membantu Key.

“Aku…” Gia tiba-tiba dapat firasat aneh.

“Ada apa Gia?..” Raick melihat muka Gia yang tiba-tiba murung.

“Jika vision bisa ditransferkan ke orang biasa yang tidak diimunisasi Gravicwalken… aku akan melakukannya.. jika aku bisa melihat masa depan…” Gia tersenyum pada Raick.

“…” Raick terbata.

“Kalau gitu kalian pergi saja dari Negara aneh itu..”

Neon kembali dengan membawa resep yang sudah Key buat.

“Benar juga yach…” Racik nyengir.

“Kau tidak diapa-apakan pemerintah kan? Kau bisa berimajinasi dan berfikir kan?”

Gia menoleh pada Neon.

“Eum!!..” Neon menggeleng.

“Aku sangat alami.. dan baik-baik saja.. sejak dulu Negara yang kalian tinggali memang tidak beres.. entah mengapa orangtua kalian pindah kesana.. mungkin demi mencapai perubahan status sosial lebih baik…” Neon mengangkat bahu.

“Ayo kita cari.” Key mengenakan jaket dan syalnya bersiap keluar rumah.

Dakota sangat sejuk juga panas, cerah. Pagi menjelang siang kali ini akan agak merepotkan mereka. Tiga remaja itu mengendarai mobil troli ke arah pedataran luas agak jauh dekat danau untuk mencari habitat bunga Pasku.

(─‿‿─)

“Kenakalan remaja?.. Wah kacau sekali Negara ini…” Raick membaca Koran.

“Itu lah bedanya masyarakat Negara yang kalian huni dengan Negara lainnya..”

Neon merapikan bunga Pasku yang sudah dipetik tadi siang.

“Negara perfeksionis!

Mencetak generasi platinum.. semua anak diusahakan merupakan keturunan ber-IQ tinggi.. beda dengan rata-rata penghuni dunia.. tidak semua orang bisa mencetak didikan seperti anak-anak di tempat kalian.. itulah mengapa Negara itu menutup diri..” Neon menyindir saat Negara itu seolah merendahkan Negara lain.

“Bahkan warga dari Negara itu tidak diterima jika ingin berkunjung ke negara sekitarnya karena ada bentuk sakit hati setelah negara itu berdiri..”

“…”

“Mereka itu sok steril.. warga asing yang ingin masuk ke dalam negara itu dibatasi dan tidak bebas memasuki daerah kekuasaan mereka..” Neon.

“Eh…!!!?"

“Jadi sebenarnya seperti itu?...” Gia baru tahu.

“Satu Negara yang mengasingkan diri seolah berasal dari planet lain.. padahal mereka tidak bisa merdeka jika bukan bantuan ras bangsa lain yang dahulu mendukung perlawanan mereka.. tidak tahu diuntung.. berusaha memperkaya diri..”

Neon membersihkan batang bunga pasku dengan hati-hati.

“Mungkin karena nona Gia lahir disini yach… makanya bisa ke sini..”

“!!!?.. jadi itu alasan nona Rhyno juga mengajukan surat kelahiranku untuk dikonfirmasi pihak pembuat paspor…”

“Aku juga lahir di sini..” Raick membaca berita kriminalitas.

“….” Key memetik kelopak bunga pasku.

“Mungkin… kota bawah itu untuk keturunan asli Negara itu tapi mereka sangat pemalas.. dan tidak tertib.. aku lihat yang ada di kota-kota besar berfasilitas dari pemerintah hanyalah keturunan orang asing..” Raick menimpal.

“Kau benar tuan muda.” Key menoleh kepada Raick.

“Jadi?..” Neon menyimak.

“Keturunan mereka sebenarnya tidak berguna!.. seperti parasit yang bergantung diri pada kemutakhiran karya orang lain.. mungkin saja Gravicwalken ada agar keturunan asing yang sudah terjebak menjadi warga Negara tempat itu tidak bisa melarikan diri.” Key dengan brilliant membuat yang lain terbengong.

“Kita harus selamatkan Furen dan Rhyno… bahkan Helena kalau begitu!..” Raick berdiri dari sofa berkobar-kobar.

“Umh-umh..” Gia menggeleng.

“Eh?! Kenapa Gia?!..”

Raick menghampiri Gia yang duduk memilah ramuan di samping Neon dan Key.

“Ramalan itu akan terjadi.. lebih baik terjadi saat Rhyno dan Furen juga yang lain menghancurkan negara itu…” Gia menatap Raick dengan trenyuh.

Bibir Gia gemetaran saat teringat ucapan paman Will. Neon agak shock melihat ketegangan sahabat karibnya sejak kecil itu.

“Nona Gia benar.. pertemuan kita ini bukan kebetulan.. ramalan akan terus berjalan.” Key mengiris bahan obat yang lain.

“Ramalan apa?...” Neon terheran.

“Bukan apa-apa…” Gia tersenyum.

“Jika kalian mau merubah dunia dan masa depan jadi lebih baik.. aku ingin membantu..”

Neon tersenyum tulus.

Karena adanya Negara terkutuk itu, kedua orangtuaku.. nyawanya terenggut paksa.. Mata Neon berkaca-kaca.

(。◕‿◕。)

Di kamar, Furen terlelap memeluk Traven. Dua malam ini dia tidak bisa tidur dengan melepaskan tubuh kakak angkatnya itu. Perasaan tenang yang ditransferkan dari batin Traven lah yang terus menyelamatkan kecemasan di fikiran Furen. Mental Traven memang seimbang, tidak mudah terbawa suasana panas dan Gia juga memiliki kepribadian itu. Namun malangnya, Rhyno tidak tidur beberapa malam ini dengan beberapa mug kopi yang dia teguk, dia harap kafein dan rokok bisa menenangkan fikirannya.

“Biip Biip…” Dering ponsel Furen berbunyi, tapi Furen masih teller karena lelapnya.

Traven terbangun lalu mengangkatnya.

“Ya…”

“Ini aku.. Rhyno…” Suara gadis itu terdengar tidak baik-baik saja.

“Rhyno.. kau kenapa?...” Traven berusaha tidak panik agar Furen tidak bangun.

“Aku tidak tahan lagi…”

“!... Tunggulah… aku akan kesana…”

Traven mematikan telfon dan menggendong Furen yang sudah tidak sadarkan diri.

Remaja berbadan tegap itu menuju garasi dan menidurkan Furen di jok belakang setelah membuka mobil miliknya sendiri.

Traven mengebut ke kediaman Rhyno yang dia ketahui setelah dua hari ini.  Setelah sampai didepan pintu mansion Xavier. Traven membuka pintu belakang mobil dan membopong Furen. Rhyno membuka pintu, dan Traven menidurkan Furen di sofa dekat mereka.

“!!!..” Traven memeluk Rhyno.

“Kau…?" Rhyno melemas.

“Yang selama ini memendam perasaan terhadapmu..” Traven mengelus kepala Rhyno.

“!!!?...” Rhyno agak shocked, sakit di kepalanya berkurang.

“Yang begitu menabung banyak sayang dan kerinduan… kepadamu…” Traven mencoba mengatur nafasnya yang terasa agak sesak.

“Orang yang mencarimu selama ini dan menyesali kehilanganmu adalah…” Traven meneteskan air mata pilu.

“Kau…?.” Rhyno menghela nafas.

Traven mengangguk.

“Aku tahu kau menghindariku.. karena itu aku tidak akan memaksamu.. asal bisa melihatmu baik-baik saja.. aku sanggup menjauhimu…”

Traven merasakan tubuh Rhyno melemas, keduanya terduduk di lantai.

“Tapi kali ini kau akan aku tunjukkan.. bahwa aku bisa membuktikan perasaanku pada.. Theresa…”

“!!!?...”

“Kau sudah tidak bisa membohongiku..”

“!!!......”

“Theresa….” Traven melepaskan pelukannya dan melihat muka Rhyno yang memucat.

“Bagaimana kau bisa tahu?....” Rhyno masih shocked, dadanya berdebar hebat.

“Kau mungkin mengira aku tidak tahu.. tapi setiap malam aku memimpikanmu..” Traven tersenyum.

“!!!???...”

“Melihatmu tumbuh dewasa lewat mimpi…”

“???!!!...”

“Mukamu terlihat begitu jelas… Theresa…” Traven tersenyum lembut.

“Mimpi?....” Rhyno menutup mulut dengan tangannya.

“Yach.. Mimpi.. didalam mimpi kau terus menangis… aku sangat sedih dan ingin menggapaimu tapi aku tidak pernah bisa…”

“……?”

Rhyno menjatuhkan kedua tangannya ke lantai, dipandanginya marmer lantai dan air mata berjatuhan. Traven membelai punggung Rhyno trenyuh.

“Traven…” Furen mengigau.

Traven bangkit lalu menghampiri Furen dan membelai kepalanya.

“Sebaiknya kita pergi ke tempat yang bisa membuat kalian terpulas.. hihi.. aku tidak akan memperkosa kalian..” Tengil Traven.

Rhyno bangkit menuju kamarnya, Traven menutup pintu rumah Rhyno lalu menuju sofa untuk menggendong Furen ke kamar Rhyno. Traven meletakkan Furen di sebelah kanan bed yang luas milik Rhyno kemudian tidur di sisi kiri Furen dan meletakkan kepala adik angkatnya itu di lengan atasnya. Sementara Rhyno merebahkan diri di sisi kiri Traven, membelakangi Traven.

“Jika kau butuh aku.. aku ada disini dengan rubah kecil ini hihi…” Traven memejamkan mata.

“???”

Traven membuka matanya kembali ketika Rhyno memeluk lengan Traven tiba-tiba.

“Maafkan aku..” Gumam Rhyno.

“…” Traven tersenyum tenang dan menutup matanya.

Keesokan paginya, Furen terbangun lebih dulu karena mulas.

“Ah?... dimana ini?...

KYAA!!???...”

Furen pucat saat melihat ada Rhyno di sisi Traven dan dirinya, dan kini dia berada di ruangan asing.

“Ah..  Menakjubkan?...” Furen tersenyum.

Dia berpikiran usil untuk mencium Rhyno, tapi saat dia mengulurkan badan dan mendekatkan mukanya ke wajah Rhyno tiba-tiba kaki Rhyno mendarat di mukanya.

“Jangan pernah mencari kesempatan busuk, tuan muda manja!!!...” Rhyno sinis.

“Hahaha… selamat pagi nona…” Furen menempelkan pipinya di dada Traven yang masih tertidur dengan muka genit.

“Sial…” Dengus Rhyno sebal melihat muka rubah Furen.

No comments:

Post a Comment

Bab 22: Tidak Banyak Bicara

 Rhyno akhirnya merenung setelah perkumpulan di kediaman Aman selesai. Semua pemuda Zyo S akhirnya berkumpul untuk merundingkan rencana. Mer...