Gia menyuntikkan cairan buatannya ke lengan kiri Rhyno dan gadis berambut biru mengernyit menahan sakit.
“Cairannya kental sekali…”
Rhyno mengusap-usap lengannya, sigap gia memberi alcohol pada kapas dan menekan sedikit agar sakitnya berkurang. Gia berdiri.
“Sebenarnya ada yang mencurigai gerakan kita tapi aku coba terus mengalihkan perhataian mereka semua… bagaimana dengan kalian di luar sana?...” Rhyno.
“Udara di luar sana lebih segar seperti biasa..” Gia tidak tersenyum.
“Kau berubah Gia…” Rhyno keheranan.
“Itu karena aku mencemaskanmu.. aku berusaha lebih kuat lagi untuk bisa melindungimu, Nona…” Gia tersenyum kuat.
“Ah.. begitu ya..” Rhyno tersenyum.
Rhyno, Gia dan Furen bersaudara kini berkumpul di sebuah lorong remang-remang di kota utama. Lorong ini sepi karena orang-orang di kota sibuk menyaksikan parade dan festival ulang tahun kota. Tak beberapa lama kemudian sebuah mobil putih datang dan berhenti dihadapan mereka, ternyata yang keluar adalah Key yang datang membawa Helena dan satu orang lagi mengenakan masker dan jaket parasut bertudung.
“Key!?..” Furen agak terkejut.
“Siapa yang kau bawa itu?..” Raick mewakili suara.
“Pacarku.” Muka Key sangat datar.
“#^&??!!!"
Muka semua orang shock.
“Key punya pacar?!!!...” Raick seperti tidak terima.
“Hmhmhm!!” Furen tertawa kecil.
“Bodoh!.. kau kan sudah punya Kimmy!” Traven menjitak kepala Raick.
“Aduuuh!....” Keluh Raick.
Sosok itu membuka masker dan tudungnya.
“$#%^%$^!!!???”
Sosok yang terlihat begitu lembut dan mukanya tidak terlihat satu kecacatan pun, dia adalah Veronica Laish artis papan atas yang berusia lebih tua dari mereka semua.
“Halo.. aku kakak kelas kalian lho.. kelas tiga A…” Veronica tersenyum dengan jari peacenya.
“Ka.. kalian…!!” Raick terkagum dengan bakat Key.
Perempuan idola di sekolah ini bersaing dengan Gina selama ini, dia berambut hitam panjang di atas bokong dengan body sexy dan tinggi.
“Kak Vero sudah lama koq kenal kami sejak di Cina…” Helena yang selalu mengenakan butterfly-stuff ceria.
“Oh.. begitu…” Rhyno yang duduk di trotoar tersenyum lebar.
“Kalian baru dari mana?..” Traven tenang.
“Melihat festival..!!” Helena ceria.
“Hmhm..” Furen tersenyum hangat pada Helena, membuat pipi Helena merona.
“Tapi Key.. ini berbahaya jika terlalu banyak orang yang tahu…” Rhyno menyela.
“…” Key menggeleng sambil menatap mata Rhyno.
“Kenapa?...” Rhyno penasaran.
“Sebenarnya.. Helena dan Vero.. seperti kalian..” Pandangan Key tanpa ekspresi.
“!!!?...” Rhyno berdiri shock.
“Aku menyadarinya.. jika kita bersekutu dengan banyak orang bisa lebih kuat.. tapi..” Key melirik ke Vero.
Vero membuka jaketnya menunjukkan body sexynya yang hanya mengenakan tangtop.
“Dia istimewa…”
Key mengeluarkan pisau lipat dari kantong jaketnya, lalu menggoreskan pisau ke lengan Vero.
“!!!...” Luka Vero pulih dengan cepat.
“Mu.. Mustahil!! Tidak mungkin!!!!...” Semua orang tercengang. Furen menelan ludah dan melupakan senyumnya yang hilang.
“Tapi aku tidak jamin jika banyak orang.. siapapun yang bermental lemah pasti akan menyerah dengan misi kita ini…” Key menunduk, Vero memasang kembali jaketnya.
“Misi?..” Rhyno tertegun.
“Kenapa kalian tidak hancurkan saja Negara ini?” Key mengedarkan pandangan.
“!!?....” Rhyno dan Furen terbata.
“Ramalan waktu itu… yang diceritakan Paman itu…” Gia mengguncang bahu Rhyno.
“Iya..” Raick menyentuh bahu Furen.
“Kami menyadari ini berat.. tapi cobalah jadikan ini sebagai misi yang sebenarnya.. tidak sekedar mencari tahu untuk apa penyakit ini ada dan terus mendiami tempat ini…” Key mengatur nafasnya yang mulai tersengal.
“Key….?" Rhyno melihati Key yang tertunduk.
“Kenapa kau begitu yakin?..” Furen mencoba tersenyum tetapi tidak bisa.
Key menyibakan rambut depannya dan menusuk pandangan ke Furen untuk pertama kali.
“Helena tidak diimunisasi.”
“&#%^#%!!!???.....”
“APA!!!!?...”
“Apa!!!?...”
“Aku menitipkan Helena pada Vero selama aku pergi.. dan dia menceritakan mimpinya saat menangisi kepulanganku..”
“…….?”
“Mimpi tentang kalian semua yang menghancurkan tempat biadab ini.” Key menggigit bibirnya sampai berdarah.
“Key!?..” Raick mencoba mengejar kenyataan. Traven shock begitu pula Gia.
“Bagaimana bisa Helena lolos pencatatan sipil?...” Gia penasaran.
“Hutang kakekku yang dilunasi nona Rhyno.. sebanyak itu lah dia membayar orang agar bisa memalsukan laporan catatan sipil mengenai imunisasi yang akan Helena jalani.”
“!... Kakek!?” Helena kembali iba.
“Tidak akan aku sia-siakan usahanya.” Tangan Key mengepal.
“Negara ini...” Traven berjalan ke tengah teman-temannya itu.
“Negara ini hampir runtuh.. sudah banyak orang yang berusaha diam-diam menghianati atau melakukan makar.. aku pikir begitu..” Traven akhirnya menemukan garis terang.
“Kau benar.. Ayah Save salah satunya…” Furen tersenyum, akhirnya bisa.
“Ini kenyataan yang pahit, tapi ayo lah kita pergi dari sini.. mungkin ke club, kafe atau tempat makan di keramaian untuk berdiskusi dan terlihat seperti warga awam lainnya…” Rhyno menuju mobil.
“Seru nih!...” Raick bergairah dan meninju udara kemudian berjalan memasuki mobil.
Key menyusul memasuki mobil milik Veronica sambil tersenyum tipis.
*+*+*+*+*+*+
“Ayahku memang misterius.. tapi dia datang padaku tadi malam dan menyerahkan banyak berkas.. untuk kutanda tangani.. aku tidak bisa membacanya karena dia tidak memberiku kesempatan.. tapi..” Furen menyedot jus jeruknya.
Semua menyimak, kafe yang mereka datangi sangat ramai dan sofa merah yang mereka duduki muat untuk delapan orang.
“Aku sempat membaca.. ada kalimat pengalihan data sipil! Mungkin ayahku berusaha menyelamatkan aku dan mengirimku keluar dari negara ini..” Furen tersenyum tipis.
“Keren… aku belum tahu ceritakan tentang ini..” Raick melongo.
“Ada koq Traven waktu itu.. kamu kan di luar..!.” Furen melet meledek.
Raick merengut seketika, “Huh!”
“Kau berasal darimana, Furen?..” Rhyno melahap baksonya.
“Perancis!” Furain mengacungkan garpunya dan menusuk bakso di piring Rhyno.
“Jauh dari Mesir…” Rhyno nyengir.
“Mesir?..” Traven terkaget sedikit.
“Kau tidak tahu kalau aku gadis Mesir?..” Rhyno tersenyum mengejek Traven.
“Glk!” Traven menelan ludah, pipinya memerah.
“Setidaknya aku tahu kalau Raick dan aku dari Amerika Selatan.. mungkin kak Traven juga ya…” Gia memakan kue cerinya.
“Iya..” Traven menghela nafas sambil melihat Raick menyantap pizzanya.
“Jadi kalian dari Cina?” Traven melihat Key yang disuapi manisan ceri oleh Veronica.
“Iya! Kami bertiga orang Cina!” Helena sangat ceria.
“Hihihi…” Vero tertawa kecil melihat muka Key yang agak konyol saat makan.
“Aku serius.. kita harus bicara sekarang…” Rhyno meletakkan punggungnya di sandaran sofa.
“Tapi.. katakan apakah kau benar dari Mesir?..” Traven masih tidak percaya.
“Iya.. Ibuku dari sana.. ayahku dari Jerman.. Ayah kakekku dari Rusia, karena itu ayahku bernama belakang Xavier” Rhyno akhirnya mengakui.
“Fiuhh..” Traven terlihat melepas nafas panjang lebih penat, dia menyangka selama ini Rhyno berasal dari Amerika Selatan sebab mereka dahulu bertemu saat masih kanak-kanak disana.
“Tapi sekarang sepertinya aku lebih baik melihat sisi Mesir karena sisi Jerman lebih rumit dilihat dari sisi manapun..” Rhyno menerawang.
“Rumitnya? Kn” Vero menyilangkan kakinya.
“Aku membaca sejarah, bahwa ada lembaga militer Jerman awalnya menjadi antek pendiri negara ini tetapi memusnahkan keturunan pendiri negara ini dengan kedok bahwa mereka membela kemanusiaan.
Sehingga dengan terjadinya genosida itu, para pendiri negara ini menjadi punya motif mendasar selanjutnya tentang jika negara ini bisa berdiri, maka mereka bisa menuntut balas perlakuan para negara yang ingin mereka musnah” Rhyno.
“….?”
“Rumit!” Raick.
“Aku masih belum tahu kebenarannya, tapi isu ini dikonspirasikan di beberapa majalah di kota bawah..” Rhyno mengusap dagunya.
“Apa kalian lihat perbedaan orang-orang di kota bawah dan kota tempat kita tinggal ini?...” Vero mulai tertarik.
“Iya..” Rhyno mengangguk.
“Dilihat dari sudut mana pun mereka benar-benar berbeda dengan kita.. aku fikir mengenai keturunan asing yang lebih diutamakan Negara ini cuma hoax..” Vero merangkul lengan Key karena agak merinding.
“Untuk itu kita harus mencari tahu sejarah keluarga kita” Key menenangkan Vero dengan mengelus punggungnya.
“Aku merencanakan sesuatu sich.. aku tahu sejarah keluarga kita adalah rahasia masing-masing. Tapi aku ingin agar kita bisa saling bertukar sejarah…” Rhyno mengangkat alisnya.
“….?”
“Apapun aib keluarga kita.. dan kejahatan-kejahatannya jika perlu..” Rhyno melirik Furen yang tersenyum tipis.
“Sepertinya ingin dimulai dari aku yach?..”
Furen menyadari bahwa sedari tadi pihaknya belum memberi infofrmasi apa-apa.
“…!” Rhyno mengangguk.
“Baiklah.. Keluarga Chamazello adalah orang Perancis yang awalnya hanya berdagang dan berbisnis.. meskipun bekerja di kepemerintahan tetapi sebenarnya mereka hanya kumpulan pecundang bagi partai di Negara itu..” Furen berkisah.
“…?”
“Untuk itulah mereka memutuskan untuk mencari dana kehidupan secara pribadi dan sembunyi-sembunyi hingga sebuah lembaga misterius yang memihak negara ini memberikan banyak sumbangan pada mereka, hingga akhirnya orang-orang itu mengadu domba persatuan Uni Eropa…” Furen menghilangkan senyumnya lagi.
“Tragis.. itu kesalahan sangat besar..” Gia menutup mulutnya dengan tangan.
“Itu tidak akan menjadi sebuah kriminalitas jika sudah menyangkut monopoli antar bangsa..”
“….?”
“Justru akan jadi kompetisi besar dan dimanfaatkan untuk meraih banyak keuntungan dan akan semakin marak adu domba.. itu semua disadari diam-diam hingga Amerika akhirnya mencurigai siapa pun dan semakin kacau.. banyak pembantaian tiba-tiba terjadi di Amerika.. entah apa pemicunya…” Furen.
“Pem.. pembantaian itu!?..” Rhyno menyela Furen.
“…?” Furen mengangkat kedua alisnya.
“Di saat itu terjadi, aku ada di sana.. ayah dan ibuku terbunuh…” Rhyno mengepalkan tangannya.
“Pelaku pembantaian itu bukan salah orang Perancis yang aku maksudkan tadi.. ada organisasi teroris entah dibiayai oleh siapa.. mereka terus saja meneror Amerika dan negara lain dengan bom.. sepertinya mengincar perhatian Amerika.. tapi siapa yang menyangka jika Amerika tidak bersedia panik dan justru lebih memilih merelakan rakyatnya mati sia-sia…” Furen memegangi keningnya.
“Habisnya…”
Tambah Furen sambil menghela nafas dan menyandarkan punggung. Dia memotong-motong kalimatnya karena ada kode-kode tekateki sejarah yang tidak bisa di-exspose.
“Amerika tidak mau melepas jabatannya sebagai tuan rumah PBB sich.. ideologi yang dipegang mereka itu terlalu aneh…” Furen mengambil bantal kecil dan memeluknya.
“Kalau membicarakan Amerika bisa bahaya loh…” Traven menjewer lembut telinga Furen.
“Hmhmhm… tidak ada penghuni negara ini yang boleh mendiskusikan keadaan negara luar.. apapun alasannya.. hanya bisa berdiskusi teknologi terbaru..” Raick memicingkan matanya ke es krim pesanannya yang baru dia dapat dari meja pemesanan.
“Habisnya hasil menguping ayah dengan kakek itu bikin aku terbakar emosi.. jadinya keceplosan hahaha…” Furain selalu tersipu jika ditegur Traven.
“Sebenarnya ayah dan ibumu itu siapa?..” Traven memandang Rhyno yang agak shocked.
“Euh!?.. Umh.. awalnya.. mereka hanya peneliti.. ibuku seorang ilmuan.. dia suka meramu berbagai macam obat.. sementara ayahku yang pergi ke sana kemari melakukan prospek dan mengajukan banyak proposal untuk disetujui pemerintah..” Rhyno mulai teringat.
“…?”
“Pemerintah Amerika tidak berani mendanai beberapa projek yang ditawarkan ibu dan ayahku.. salah satu yang menerima seharusnya Rusia.. ayahku lebih memihak Amerika saat itu karena teknologi Amerika sudah berkembang.. dan dia yakin jika Rusia tidak memiliki armada setangguh dulu lagi.. tapi pikirannya ditolak oleh Amerika..”
“!?....”
“Ayahku berfikir mungkin tidak ada jalan lain selain mengajukan ke negara ini dan ternyata diterima!..”
“Wow… apa itu?...” Raick terperangah, merebut bantal yang dipeluk Furen.
“Itulah yang belum aku tahu.. tapi jika kita teliti itu.. maka akan teruntuhkan semua..”
“Entah mengapa setelah penelitiannya berhasil, ayah diangkat jadi Jendral secara mendadak karena negara ini sedang berperang.. entah bagaimana bisa…. Semua dalam kendali ayah… upayanya selalu sukses hingga dia…
Saat dia… datang dari negara ini untuk menjemput aku dan ibu di Dakota.. pembantai itu melemparkan bom.. dan… ledakan…” Rhyno menopang kepalanya sambil memejamkan mata, menghela nafas kesal.
“Apakah yang membuat racun kutukan itu adalah ayah dan ibumu?..” Furen mulai memahami.
“Ah?!...” Gia terkejut.
“Aku tidak tahu.. tapi mungkin setelah dibiayai… maka bisa melakukan penelitian apa saja…”
Rhyno mulai mencoba mencocokkan beberapa ingatan di masalalunya.
“AGH!!!”
Rhyno tiba-tiba memegangi kepalanya, Gia langsung memeluk Rhyno dengan tenang.
“Hhh!!!” Semua orang menjadi tegang.
“Human experiment…” Rhyno terbelalak.
“$#^%&^*$!!?...”
Semua orang menahan nafas, Key merangkul Vero sementara Helena memeluk bantal sofa erat-erat.
“Percobaan manusia!?.” Helena gemetaran.
“!!!” Key merangkul adiknya dengan tangan satunya.
“!!!” Key bisa merasakan ketegangan energi Helena yang tersambung kepadanya tiba-tiba.
“Katakan!.. Ada apa?!...” Key berusaha menenangkan adiknya.
“Aku melihat.. mungkin ini masalalu..”
Helena menutupi kedua telinganya.
“Percobaan terhadap anak-anak..”
Helena meneteskan beberapa airmata, suasana semakin tegang.
“Aku lihat anak kecil menjerit kesakitan..”
Helena terisak-isak, Key memeluknya.
“Mereka bisa melihat masa depan..” Key mengelus kepala Helena.
“Ada kakak….” Helena.
“!!!?..”
“ARGH! KEY!?....” Raick mencoba menahan logikanya yang melompat-lompat.
“Melihat masalalu…” Furen terkagum.
Di ruangan itu banyak anak-anak diisolasi, sudut pandang Helena mengedar ke segala arah, ini adalah penglihatan Helena. Ada beberapa orang dewasa memakai busana steril menyuntikkan cairan ke lengan anak-anak itu hingga akhirnya mereka tertidur tidak sadarkan diri. Dan setelah itu mereka melupakan beberapa memori. Helena melihat sosok perempuan dewasa yang mirip dengan Rhyno sedang memegang jarum suntik.
“Armada besar…”
Helena bangkit dari sofa namun kemudian menjatuhkan lutut ke lantai sambil terus memegangi kepalanya.
“Aku takut!!!...” Helena membungkuk di lantai.
“Hentikan saja!...” Key memeluk Helena.
“Hentikan saja!...”
Key mulai merasa ketakutan karena perasaan takut yang turut dia rasakan dari Helena.
“Pemerintah memperalat anak-anak yang bisa melihat masa depan agar bisa terus menciptakan kemutakhiran… dan …” Helena memeluk Key dengan menangis.
“Orang seperti kakak digunakan untuk menjadi perangkat computer bersistem program bernama operasi telepati!..” Helena menangis deras.
“!!?...” Semua orang menahan nafas dan tidak habis fikir.
“TELEPATI ITU APA???!!...” Raick kebingungan dengan kosakata baru barusan.
“Kakek telah menyelamatkan kita!!!.. dia membawa kakak di tengah badai!... kakak diculik kakek dari laboratorium…” Helena bersimpuh di lantai.
“Kalian semua akan binasa… hidup sebagai prosesor komputer, jiwa kalian terperangkap dalam internet” Helena sesenggukan.
“!!!...”
“Karena cairan itu terhubung ke alat pengendali pembunuh masal.. bisa saja jika ada yang menekan tombol itu.. kalian akan mengalami serangan otak bersama-sama.. seluruh isi negara ini akan mati bersamaan dalam satu intruksi remot kontrol…” Helena gemetaran.
“Aku akan sendirian di tempat penuh bangkai…” Helena memeluk dirinya sendiri.
“Helena! Kami masih hidup…”
Veronica alias Vero menghampiri Helena memegang mukanya sementara Helena sudah amat ketakutan.
“……?” Furen terbelalak.
“Ternyata sekamar dengan Noa lebih baik dari pada ini..” Gumamnya.
“RRRGH!!! SIAL!!!!” Rhyno menggebrak meja.
“Ini sangat menyebalkan!...” Furen tersenyum iba.
“Kita harus mengetahui di mana letak tombol itu berada… dan kita hancurkan!!..” Rhyno merasa terancam.
“Aku belum mau mati...” Rhyno tersengal nafas.
“Nona.. tenangkan dirimu….” Gia mengelus punggung Rhyno.
“Kita harus menyusun sebuah strategi… dan memanfaatkan siswa Prime Revolution School untuk bisa masuk ke lingkungan orang tua mereka yang bekerja di kemiliteran…” Traven berfikir cerdas.
“!!!?...” Rhyno terkejut.
“Negara ini dihuni orang-orang ber-IQ dan SQ tinggi.. tidak heran jika kakakku cerdas sekali hahahaha…” Raick nyengir kuda.
“Ada..!” Helena tiba-tiba bangkit.
“Apa…?” Furen menelan ludah.
“Ada seorang anak.. dia lain dari pada yang lain…” Helena tersenyum tipis tetapi penuh ketakutan.
“Helena..” Vero mengelus kepala Helena.
“Anak itu tidak cerdas atau pandai..” Helena memejamkan mata menenangkan diri.
“Tapi anak itu memiliki sisi yang sangat luas tidak terjangkau di dalam jiwanya…”
Helena melihat dalam angan-angannya seorang anak menyatukan kedua telapak tangannya, Helena mengikuti gerakan itu.
“Apa yang Helena peragakan itu?...” Gia berbisik, semua orang melihati dan terheran.
“Aku melihat dalam jiwanya ada seluas luar angkasa.. semesta alam.. para leluhur yang berbaris..” Helena membuka matanya.
“Dia ada di kota bawah tanah…” Helena tersenyum yakin.
“Saat aku mengikuti apa yang dia lakukan.. aku merasa hatiku lebih damai..”
Helena melihat kedua telapak tangan yang dia satukan, jantungnya seperti mengembang dan energy hangat memenuhi secara lembut ke relung dadanya.
“Kita harus mencarinya terlebih dahulu…” Suara Helena lebih tenang dari sebelumnya.
“Helena?...”
Rhyno tercengang melihat perubahan besar anak usia sekitar 14 tahun ini.
“Kita bisa…”
Helena tersenyum hangat melihat Furen yang sudah kehilangan senyumnya.
Sedikit demi sedikit Furen yang melihat tatapan hangat Helena akhirnya mengangkat keyakinannya meski sangat sedikit dan tersenyum tipis dalam ketegangan jantungnya yang masih berdebar kencang karena terkena energi Helena. Itu lah yang membuatnya menekuk bibir ke bawah tadi.
(˘ʃƪ˘)
“Kalau di lihat daftar siswa disini semuanya berbakat untuk kita jadikan sekutu.. tapi siapa yang akan bersedia.. aduuh…”
Rhyno menepuk-nepuk jidatnya, ruang kelas belum didatangi oleh guru dan teman-teman di kelas sibuk sendiri dengan keasyikannnya.
Gia yang duduk di sebelah Rhyno terpaksa mengerjakan PR Rhyno yang belum terselesaikan, meski beda jurusan tetapi Gia bisa mengerjakannya secara pelan-pelan dengan browsing menggunakan source engineer buatan negara yang kini mereka tinggali.
“EH!?...” Gia terkaget menggigit pulpen eletroniknya.
“Ada apa Gia?..” Rhyno tersadar dari renungnya.
“Aku baru sadar kalau akses internet negara ini terbentengi dari sumber negara asing... data informasi yang aku cari.. dengan keyword ‘Penghianat Negara Amerika’ tidak ada…”
“Ah?...”
Rhyno merebut monitor notebook tabulet milik Gia.
“Coba keyword yang lain…” Rhyno mengetikkan kata ‘Kebenaran sejarah NAZI’.
Tidak terdapati apa-apa.
“Hentikan ini semua Gia!..” Rhyno meletakkan alat itu ke meja.
“Kenapa?...” Gia agak cemas mendadak.
“Jika kita mencari beberapa Keyword terlarang.. bisa saja jika gagal ditemukan.. ternyata ada alat perekam atau penyadap jejak ID siapa saja yang mencari keyword itu.. dan operator alat itu akan didatangi disipliner..” Rhyno merinding.
“Aku jadi mulai merasa sangat dikekang…”
Gia ikut merinding.
“Apa di sini ada anak yang bisa melakukan hal lebih untuk menerobos batas ini semua…”
Rhyno menopang dagu.
“Ah….”
Secara kebetulan dia sudah memandang seorang teman sekelasnya yang asik bermain notebook. Remaja laki-laki itu memakai kacamata dan agak tertutup selama di kelas.
“Ben!...” Rhyno tersadar, Rhyno bangun dari duduknya.
“Eh?...”
Gia hanya melihati apa yang akan terjadi meski sebenarnya penasaran dan ingin bertanya tapi dia memilih menahan diri dan mengamati gerakan Rhyno.
Rhyno berjalan ke belakang barisan dan menuju bangku Ben Zedha, Rhyno menelengkan kepalanya ke atas belakang Ben diam-diam dan mengintip apa yang sedang dilakukan pemuda itu.
“Ben?..” Gia belum mendapat kesimpulan.
“!!?...”
Rhyno tercengang, Ben sedang mengakses website yang belum pernah Rhyno lihat sebelumnya.
“ERGH!!!...”
Ben terjatuh dari duduknya saat kaget melihat Rhyno yang tiba-tiba berdiri dibelakangnya dengan melongo.
Ben mengedarkan seluruh arah pandangan, teman-temannya asyik mengobrol, kelas sangat ribut. Tidak ada yang menyadari apa yang sedang terjadi dengan mereka berdua.
“SSST!..” Ben mendirikan telunjuk kanannya di depan bibirnya.
“…?!” Rhyno tersenyum tipis.
Rhyno membantu Ben mendirikan tempat duduknya.
“Untung tabulet-mu tidak pecah ke lantai!!..” Rhyno tersenyum hangat.
“Terima kasih..” Ben memperbaiki posisi kacamatanya.
“Aku ingin bertemu denganmu nanti..” Bisik Rhyno.
“Euh!.. Bertemu?..”
Ben agak kaget, pipinya memerah.
“Aku tidak bisa!..”
Ben mengayunkan tangannya sambil menutup menu tabulet-nya dan menyimpan benda itu dibdalam loker meja belajarnya.
“Kenapa?..” Rhyno kesal diam-diam.
“Kau kan pacar Qio.. nanti dia bisa berantem sama aku..”
Ben tidak menoleh ke belakang sedikit pun untuk melihat Rhyno. Ben adalah teman se-gank dengan Qio, Revo dan Save.
“Kami belum jadian..” Rhyno mengangkat satu alis.
“Tetap saja tidak bisa.. gank kami punya aturan setia kawan..”
Ben menanggalkan kacamata dan menyimpan di loker meja yang dibuka dengan cara mengangkat papan meja ke atas.
“Ajak saja Qio juga.. hanya kalian berdua….” Rhyno nyengir kuda.
“Egh! …”
“….?"
“Sebegitu seriusnya ya?...” Ben menyandarkan punggung.
“Sudahlah! Kau akan tahu!” Rhyno menepuk keras pundak Ben.
“Augh!..” Ben mengeluh.
Rhyno berjalan ke hadapan Ben.
“Kau akan terhibur jika kau benar datang ke kafe Black Chocolate nanti malam jam tujuh..”
Rhyno melambai dan kemudian berjalan ke bangku belajarnya. Guru pun datang dan kini kelas semakin menghening.
“….” Furen melihati tindak tanduk Rhyno sedari tadi hanya bisa tersenyum tipis.
“Kali ini apa rencana dia..?.” Raick yang duduk di sisi kanan Key nyengir kuda.
“….” Key tersenyum tipis.
“Rhyno tidak suka membuang waktu… kita harus seperti dia…” Traven memuji.
“Secara dangkal.. aku penasaran pada ketua kelas kita itu…”
Raick melihat punggung Robert yang tegap. Remaja berambut pirang panjang berbadan bagus dan rupawan dengan sepasang mata ungunya itu selalu tidak banyak bicara dan isunya akan dijadikan ketua OSIS selanjutnya oleh ketua OSIS yang sekarang.
“Aku tidak bisa mendekati orang yang tidak ramah seperti dia..”
Furen membuka buku elektroniknya dan mulai mengenakan kacamatanya.
“Tapi aku bisa..” Traven mencoba untuk uji keberuntungan.
“Eumh..” Furen mengangguk.
“Davis Furen Chamazello!!...” Tiba-tiba sang guru memanggil Furen dari microphone.
“Eh.. ya!”
Sahut Furen setelah mengenakan microphone ke telinganya dan menekan tombol on, speaker di ruangan kelas mengantarkan suara percakapan kilas mereka berdua.
“Kau dipanggil pulang oleh ayahmu, silahkan mengambil posisi untuk izin pulang!” Guru berusia sekitar 27 tahun i tersenyum ramah dengan cara tegas yang cantik.
“Copy, Mam”
Furain berdiri, kemudian melirik Traven dan menoleh ke Raick yang duduk di belakangnya.
“Kami tidak dipanggil… pergilah.. mungkin sudah ada sopir menjemputmu..”
Raick menyilang lengan dan mengangkat satu alis dengan ekspresi menduga-duga.
“Baiklah aku pergi.. screen shoot-kan beberapa salinan catatan untukku yach..” Furen melangkah keluar bangku belajar dan menuju pintu ruang kelas.
“Ada apa yach?...” Desis Furen dengan senyum tipisnya.
(⌒▽⌒)
Setibanya di rumah, sopir yang tadi sudah menjemput Furen membukakan pintu dan mengatakan bahwa dia sudah ditunggu ayahnya di ruang kerja ayahnya. Furen pun menuju ke sana tanpa pengawalan dan masuk ke ruang kerja ayahnya yang baru pulang dari luar negeri itu.
“Tutup pintunya dan duduklah di depanku!”
Sang ayah sudah duduk di sofa kerja mewah di belakang meja kerjanya.
“Ayah…”
Furen menutup pintu kemudian menuju sofa kerja di depan meja kerja ayahnya.
Guarden memandangi wajah Furen yang terlihat agak pucat setelah dia panggil, kedua sikunya diatas meja dengan tangan yang disatukan. Pria itu menghela nafas.
“Bisakah kau hentikan kegiatan liar yang tidak berakal dengan teman-temanmu itu?..”
“Egh?..”
Furen tercengang, ditambah lagi mata ayahnya itu dengan panasnya menembus mata Furen dengan tatapan mengerikan, Furen menelan ludah.
“….?!”
Furen melihat ayahnya menyodorkan satu foto saat Helena memegang kepala dan terbungkuk duduk menghadap lantai.
“Ayah tidak mau kau terlibat hal aneh dan membahayakan keselamatan ayah di depan meja hijau di kemudian hari.”
Guarden memutar sofanya dan menghadap jendela besar di belakangya.
“Ayah… aku..”
“Kau akan ke Paris tujuh hari lagi…”
“Egh!?...”
Furen berdebar-debar karena terkena vibrasi emosi ayahnya yang kuat.
“Kau tidak akan kembali ke tempat ini lagi dan akan hidup damai bersama nenekmu di Saumur..”
Guarden berbalik lagi dan mengeluarkan tiket dan beberapa dokumen dari lacinya dan meletakkannya di meja hadapan Furen.
“Ayah?!...”
Furen mengucurkan keringat dingin, senyumnya lenyap.
"Brak!"
“Kenapa ayah?!!!”
Furen berdiri dari duduknya dan menggebrak meja.
Guarden tercengang, dia menatap Furen dengan tegang.
"Brak!!"
“Kau sudah berani tidak sopan padaku?!!”
Guarden ikut menggebrak meja dan menggertaknya dengan suara kejam.
“Aku anak ayah! Aku bisa seperti ayah!..”
Wajah Furen seperti harimau liar yang terancam pemburu hutan.
“Aku tidak akan membiarkanmu hancur.. aku sudah tahu semuanya, Davis Junior..”
Guarden mengisyaratkan dengan tangannya agar Furen duduk kembali.
“Kalau begitu.. kenapa ayah tidak melawan kuasa negara ini saja!”
Furen tersengal-sengal, dia sudah merasa cukup tahu akan kelicikan khas keluarganya.
“Aku selama ini selalu melampiaskan amarah dan penyesalanku dengan mencambukmu atau memukulmu.. aku bahkan sudah tidak waras lagi..”
Guarden memegangi keningnya dan memijat-mijatnya.
“… Ayah….?!....” Furen meneteskan air mata.
“Aku tidak menyesal jika kau membunuh Noa.."
“!?.. kau bahkan sudah tahu itu…”
Furen menghapus air matanya dan terisak-isak.
“Jurang yang amat dalam sudah ku buat di depan kalian agar membenciku dan membunuhku.. tapi aku selalu tidak bisa menyangkal..”
Guarden membungkuk dan memutar sofa kerjanya ke arah rak buku yang tertata di sisi kirinya nan jauh di pinggiran tembok sana.
“Kalian harapan terakhirku…”
Guarden, pria yang ternyata hampir mati bulan kemarin karena memperjuangkan hak merdeka Furen untuk hidup kembali di Perancis ini tersenyum tipis.
“Ayah.. apakah keluarga kita akan diterima di Perancis?.. kita keluarga penghianat bangsa Perancis bukan..” Furen mengangkat tangannya sedikit ke udara dengan bahu yang terguncang, seharusnya Furen tidak memiliki emosi, kejadian asing ini aneh.
“Kenapa kau berkata seperti itu?...”
Guarden berdiri dan menuju ke tempat duduk Furen.
“Aku baca di majalah konspirasi yang diedarkan di kota bawah… Chamazello adalah keluarga penghianat Perancis..” Furen terguncang.
“Tidak ada jalan lain untuk kita..”
Mendengar puteranya mengatakan ini, Guarden lalu duduk di lengan sofa tempat Furen meletakkan tubuhnya yang gemetaran.
“Itu… dan isu konspirasi lainnya hanya kabar agar kalangan bawah punya hak dan pengetahuan dasar untuk bisa berontak dan mengusir kita keluar dari sini setelah negara ini memiliki segalanya dari kontribusi kita.. bahkan menghukum mati kita..”
Guarden meletakkan tangannya diatas kepala Furen dan mengusapnya.
“Ayah…”
Furen melihat wajah arif ayahnya yang belum pernah dia lihat sepanjang hidupnya dulu dan semakin menitikkan air mata menjadi deraian.
“Pemerintah memiliki kuasa untuk mematikan massal penduduk negara ini dan hanya menyisakan ras baru yang bisa mereka kendalikan.. dan jika kau jauh dari sini.. kendali itu tidak akan menjangkau.. itu lah kelemahan alat kendali itu.. kau harus ke Paris.. dan menjumpai ibumu di sana.. bersama nenek yang belum pernah melihat wajahmu yang bagai Kristal ini..”
Pria itu tersenyum lalu mendekap badan puteranya.
“Kau mempermainkanku!...”
Furen memukul dada ayahnya dengan lemas dan guncangan yang amat sangat memenuhi jiwanya.
“Ayah akan mengurungmu di dalam kamar!” Guarden meraih lengan Furen lalu menyeretnya ke kamarnya.
“Ayah!...” Furain tidak berdaya, dia terlalu sedih.
“Ayaah.. egh egh…!!!”
“Dak!!!! Dak!!! Dak!!!...” Furen memukul-mukul pintu setelah Guarden menguncinya dari luar.
“AKU BERJANJI… AKU BERJANJI TIDAK AKAN MENGHADIRI ACARA SEPERTI ITU LAGI!!....” Furen terus berteriak dari dalam kamar.
“….” Guarden pergi meninggalkan rumah bersama para pengawalnya.
“Ayah…..” Furen menangis di dalam kamar hingga tersujud di lantai.
“Aku seorang pria.. aku… aku tidak akan….. hh.. aku tidak boleh menangis….”
Furen mengingat betapa dingin mata ayahnya saat menyeretnya dengan kuat dan melemparkan tubuhnya ke ruangan yang kini dihuninya itu.
“Ugh!...”
Furen menahan emosi yang langka muncul di hatinya dan memejamkan matanya menghela nafas.
“Ini tidak akan menjadi hal buruk…. Ini akan baik-baik saja… aku akan dilindungi ayah….” Furen mengangkat satu tangannya ke udara dan merasakan udara.
“Aku akan selamat….. ayah akan datang lagi……” Furen berdiri dan menuju ke arah jendela besar di sebelah kanan bed besar ayahnya.
“Aku ingin bebas…. Ayah…….”
Furen menempelkan keningnya ke jendela dan memejamkan mata.
“Orang kalangan kota bawah agar bisa mengusir atau memancung orang-orang keturunan asing yang lebih cerdas dari mereka… sementara kami semua.. orang-orang asing yang terus membantu agar negara ini semakin kekinian selama ini…”
“Deg!!!...” Furen memukul kaca jendela anti peluru di hadapannya.
“Dasar tidak berperikemanusiaan!!!... Aarrgh!!!...” Furen melempar meja kecil yang terdapat lampu tidur di dekatnya.
“Kenapa… kenapa aku bisa besar di tempat ini!!...”
Furen menyesal dan membaringkan tubuhnya ke lantai yang berkarpet mahal.
(︶︿︶°)
“Kemana Furen?...”
Raick bergumam saat dia memasuki ruang tengah bersama Traven, sepulang sekolah.
“Tuan besar…!”
Traven melihat ayah Furen sedang duduk di sofa ruang tengah.
Pria berambut panjang dengan uban itu mengisyaratkan dengan tangan agar semua pengawalnya pergi dan mereka menurutinya. Lalu pria itu mengisyaratkan dengan tangan agar dua anak angkatnya itu duduk di sofa sisi kiri tempat dia duduk.
“Tuan besar…” Raick membungkuk lalu duduk.
“Aku ingin menanyakan beberapa hal pada kalian…” Suara parau termakan usianya itu terdengar masih mengerikan.
“Siap….” Traven sigap.
“Selama hidup kalian menemani anakku.. sejauh apa perkembangan yang sudah dia dapatkan?...” Guarden menurunkan bahunya.
“Davis tumbuh menjadi remaja yang jauh lebih mandiri dan patuh terhadap anda..” Traven menjawab dengan senyum dan nada tenang.
“….”
“Dia.. sebenarnya jauh di dalam hatinya sangat merindukan saat bersama anda yang selalu sibuk dan sering ketakutan sendiri jika tidak bisa menjadi anak yang anda sukai.. tapi…” Traven menyandarkan punggungnya.
Raick melirik Traven dan menahan nafas tegang.
“Saya meyakinkannya bahwa dia sudah cukup berusaha..” Traven menerawang.
“Raick sudah melatih fisik Davis dengan baik… kini di jalanan pun tanpa kami.. dia bisa menjaga dirinya…” Traven menghilangkan senyumnya.
“….”
Guarden menarik nafas lalu menghelanya dengan berat.
“Ikut aku…” Pria itu bangkit dan kedua pemuda itu mengikuti.
Raick dan Traven bertukar pandangan, Traven mengangkat kedua bahunya tanda tidak mengetahui dan Raick mengela nafas berat. Mereka memasuki ruang kerja Guarden.
“Duduk di sini!”
Ayah Furen mempersilahkan kedua anak angkatnya itu duduk di sofa tamu di ruangan kerja itu, tak lama kemudian dia membuka pintu di sisi kiri meja kerjanya dekat rak buku dan masuk kedalam sejenis ruangan itu.
Dan kemudian dia keluar membawa lemari troli yang di atasnya sudah tertata sejenis penutup kepala dibalut kain agar terasa nyaman dilihat.
“Pasti jika kain itu dibongkar.. aslinya seperti kerangka steal yang mengerikan..”
Bisik Raick saat si tuan besar membawa alatnya keluar pelan-pelan.
“Coba kau kenakan ini…” Ayah Furen langsung memasangkan helm mini ke kepala Traven.
“…?” Traven melihat ayah Furen menekan tombol on alat itu.
‘Alat pendeteksi kejujuran?...’ Fikir Raick.
“Apakah kalian merencanakan makar pada pemerintah?..”
“!!??...” Raick menelan ludah.
“Tidak…”
Guarden melihat lampu dan keterangan di layar monitor alat itu, dan yang muncul adalah warna hijau atau ketenangan yang mengindikasikan kejujuran. Itu karena kini di otak Traven, dia sedang membayangkan tubuh Furen saat telanjang dan mandi bersamanya sambil mengatakan ‘ayo ajak seekor anjing ikutan mandi, pasti seru!!’ dan Raick mengomelinya ‘mandikan saja sendiri!! Dasar tolol!!’.
“Apa kau tahu rencana Davis?...” Kembali dia bertanya pada anak angkat tertuanya itu.
“Tidak, tuan besar…”
Traven tersenyum tipis agar terlihat sopan. Kali ini pertanyaan yang tidak ada jawabannya karena Furen sendiri sebenarnya tidak tahu harus apa.
Lampu hijau lagi yang bersinar disamping monitor alat itu.
Guarden duduk di sofa depan mereka.
“Aku tidak mengerti harus apa untuk anakku sekarang..” Guarden memegangi kepalanya dengan siku di atas pahanya.
“Tuan besar.. Berikanlah Davis perhatian saat serangan Garvicwalken-nya kambuh..” Traven bernada datar sambil meletakkan helm di kepalanya ke meja dekat alat itu.
“!?...” Guarden melihat muka datar Traven.
“Kau sudah sejauh itu mengetahui mengenai…!”
Guarden shocked, tidak menyangka jika anak muda seperti mereka sangat berfikir kritis dan antusias untuk menjadi dewasa.
“Selama ini.. tuan besar… selama ini yang meredakannya adalah kami berdua.. karena itu tidak salah jika tuan sudah mempercayakan Davis pada kami…” Raick menambahi dengan wajah cemas.
“Raaargh!!!!...” Suara meronta Furen terdengar.
“Aku mengurungnya di kamar!!..” Guarden berdiri terkaget.
“!!!???...”
“???!!!...”
Ketiga laki-laki itu berlari menuju kamar tidur ayah Furen. Guarden membuka pintu kamarnya cepat-cepat dan melihati anaknya berguling-guling di atas ranjang memegangi kepalanya kesakitan sampai liur keluar dari mulutnya.
“Davis!!!” Guarden datang padanya dan kemudian memeluknya dengan panik.
“!!!?....” Raick dan Traven terpaku tidak bisa menerka apa yang akan terjadi selanjutnya.
“!!!!!!!!!!!!....” Furain melepaskan pegangan tangannya dari kepalanya yang menggemakan getaran yang menyiksanya selama 5 menit lalu.
“Ayah…..?...” Furain terengah-engah.
“Kau akan baik-baik saja….” Guarden mempererat pelukannya.
‘Perasaan ayah meluap-luap sangat besar…
Sangat kuat….
Sangat hangat…
Membara…
Ayah……’ Furen merasakan serangan di tubuhnya mereda begitu cepat setelah ayah yang dia takuti selama ini memeluknya.
Furen memberanikan dirinya untuk memeluk Ayahnya.
“AYAH!!!!...”
Furen berteriak dengan suaranya yang serak karena tangis yang tiba-tiba datang ke dalam lubuk hatinya.
“Ayaah!!!!....” Perasaan Furen meledak-ledak tidak terkendali.
“Selamatkan aku ayah!! Aku belum mau mati!!!....” Furen terguncang emosi.
“!!??...” Traven dan Raick saling berpandangan.
“Kau bisa saja menghentikan manusia untuk tidak berimajinasi dan bermimpi…” Traven tersenyum melihat pemandangan senja di jendela.
“Kakak…” Raick melihati ekspresi Traven yang lega.
“Tapi kau tidak bisa menghalangi perasaan setiap orang.. kau tidak bisa menghalangi manusia untuk saling mencintai…” Traven menyentuh dadanya sendiri.
“Ayah bantulah aku untuk mewujudkan ramalan itu….” Rengek Furen pada ayahnya.
“Ramalan itu mustahil terjadi… sudah ku katakan bahwa negara ini punya kendali untuk mematikan setiap orang… kau harus menjauhkan diri dari sini dan jangan kembali…”
Guarden meletakkan tubuh Furen ke bed, mengusap airmata putera kesayangannya itu.
“Jika kau mau.. mereka berdua bisa ikut denganmu ke Paris…”
Guarden melihati mata biru anaknya yang terus mengekori mata ayahnya dengan tangis manja.
“Ayah.. akan terus disini?...”
Furen meraih tangan pria itu dan memegangnya dengan lemah, kulit telapak tangan Furen serasa telah tergores dan sakit saat menyentuh keriput kulit ayahnya yang sudah termakan senja usia. Begitu banyak penyesalan mengapa selama ini tidak menghabiskan banyak waktu dengan ayahnya.
“Tuan besar.. sebenarnya apa yang dimiliki negara ini dan apa yang mereka inginkan sehingga bisa memojokkan kita semua?”
Raick mulai memberanikan diri bicara sambil menutup pintu kamar.
Guarden meletakkan tangannya di kening Furen.
“Negara ini berniat mendirikan idealisme..” Pria malang itu menyesali segala pengalaman di hidupnya. Kini puteranya akan pergi jauh dan jauh di masalalu dia tidak meninggalkan kenangan indah sedikit pun. Kenapa baru sekarang kita menjadi begitu dekat.. anakku… maafkan ayah…
“…….” Mata Furen tidak bergeming menikmati pandangan ayahnya yang trenyuh.
“Mereka memiliki pencari informasi yang bahkan tidak membutuhkan internet.. dan tidak terhalang dinding apapun…” Pria itu berbalik badan dan menghadap Raick dan Traven.
“……? Apa maksudnya…” Traven menganalisa dan butuh petunjuk lebih.
“Karena itulah mereka bisa menerobos informasi yang tidak diketahui oleh orang lain…” Tegas Guarden.
“Informasi tak terlihat?...” Traven menduga-duga.
“Siapa mereka?...” Furen berbalik memunggungi ayahnya dan meraih sebuah bantar guling.
“Mereka bukan manusia atau pun mesin, para pembajak memori manusia, penerobos gelombang otak..”
“!!!?.. aneh!!!...” Raick dan Traven berpandangan.
“Mereka lah yang memberi petunjuk pada pemerintah hingga sekarang..
Tidak ada CCTV di mana-mana tetapi mereka bisa melihat dan mendengar penghianat berbisik bahkan seandainya jika berbisik dalam hati…” Guarden seperti menyerah.
“!!! Seperti apa mereka?...” Furen memeluk gulingnya erat.
“Mereka…” Guardian berdiri dari bed.
“Mereka tidak terlihat tetapi bisa dimasukkan ke tubuh binatang.. dan kemudian alat tertentu disambungkan ke kepala mereka untuk mendeteksi bahasa yang bisa disampaikan mahluk itu..”
“Aku merinding…” Raick menggosok tengkuknya.
“Mereka mahluk ghaib yang sudah ditangkap kemudian diperbudak.. mereka tidak bisa mati dan akan dipindahkan ke tubuh binatang baru jika binatang yang menampung jiwa mereka sudah menua…”
“Mahluk…?...” Traven dan Raick masih merasa asing dengan istilah yang tadi ayah Furen katakan.
“Mahluk apa?!...” Furen bangkit duduk.
“Mahluk ghaib..” Traven mencoba menyimpan ingatan.
“Ghaib?...” Raick tidak mengerti.
“Apa itu ghaib?!..” Furen merasa itu istilah asing.
“Itu tidak diajarkan sejak kecil.. tidak ada yang tahu istilah itu.. istilah di dunia ini.. banyak yang negeri ini blokir agar tidak dipelajari generasi selanjutnya…” Ayah Furen pergi.
“Davis…” Guarden berhenti di depan pintu saat hendak membukanya.
“Maafkan ayah sudah mengurungmu.. itu yang ayah takutkan…”
“?!...”
“Jika mahluk itu mencium gerakan kalian dan melaporkannya ke pemerintah.. habislah sudah semua..”
“…?!”
Semua terpana dan melihat sosok tua itu berlalu dan membiarkan pintu besar kamarnya terbuka.
Traven menoleh kepada Furen.
“Sekarang ini semakin menakutkan.. kita tidak bisa kemana-mana…” Raick membanting tubuh ke bed ayah Furen.
“Huhf….” Traven menghela nafas hangat.
“Tidak mungkin…” Furen membaringkan badan.
“Biip.. biiiip.. biiip…” ponsel di kantong jaket seragam Traven berdering.
“Rhyno!!..”
Traven tersenyum lebar, Furen sontak bersemangat bangkit dan duduk disusul Raick.
“Primadona kita..” Raick tersenyum semangat.
“Hay! Traven!..” Suara Rhyno dengan mantab terdengar, Traven menombol speaker agar bisa didengar saudaranya.
“Ya..” Traven melirik Furen dan Raick.
“Kafe Black Chocolate jam 7 malam… ya!..”
“Oh…”
Traven menarik nafas dan menghembuskannya dengan berat sambil melihat muka Furen yang juga berubah.
“Iya kan saja..” Furen menurunkan bahunya.
“Baiklah..” Traven bernada datar.
“Klick…” Rhyno mematikan telfonnya.
“Kali ini apa yang harus kita lakukan?...” Raick menggaruk keras kepalanya.
“Kita ke sana saja!!! Aku stress!!..” Furen pun berteriak seperti anak kecil.
“…!! Argh!!” Traven memegangi telinganya tiba-tiba ada suara mendengung di pendengarannya.
“Ada apa!!!!!?..” Raick mengangkat badannya dan menuju pada Traven.
“Ah….” Traven melepas tangannya.
“Kakak!!?...” Raick cemas.
“Tidak apa-apa… aku pusing sebentar tadi..” Traven tidak mengerti yang tadi itu apa.
“Ayo cepat mandi!!...”
Furen melihat Traven tapi tidak mempedulikan hal itu, berlari ke kamarnya sendiri untuk mandi.
“Kakak yakin tidak apa kan?...” Raick masih cemas.
“Dalam telingaku tadi ada dengungan hebat sekali.. aku baru pertama kali mengalami ini..” Traven terlihat pucat.
“Mungkin kau lelah.. sebaiknya kau istirahat saja.. jangan terlalu banyak mendengarkan musik dengan headset lagi…” Raick membopong Traven.
“Hmhm..” Traven tertawa kecil.
“Furen bersemangat saat Rhyno mengajaknya.. aku tidak bisa istirahat.. dan melihat hitam di kepalaku saat tidur…” Traven dan Raick menuju kamar Furen yang pintunya terbuka di samping kamar ayahnya.
“Furen memang suka pada Rhyno kan?..” Raick.
“Tidak..” Traven tersenyum tipis.
“Ouh?..” Raick menutup pintu setelah masuk kamar Furen.
“Dia hanya menganggap Rhyno sebagai kakaknya.. aku rasa begitu..” Traven melepas bajunya.
“….” Raick tersenyum tipis.
No comments:
Post a Comment