“Wah ramai banget…”
Ben terheran, dia datang dengan Qio, Save dan Savy ke kafe Black Chocolate untuk menghadiri undangan Rhyno. Namun salah satu gank mereka, si Revo tidak bisa datang karena sibuk belapan liar menggantikan Save yang tidak datang ke arena balapan malam ini.
“Sepertinya ada acara makan-makan yach?...” Heran Ben.
Dia melihat di sebuah meja makan dengan sofa hitam sudah ada Furen bersaudara, Rhyno dan Gia, tetapi adanya Key dengan dua orang perempuan di kedua sisinya membuat Ben heran.
“Waaahaaa rame amaaat!...”
Ben memegang kedua pipinya.
“Duduklah hahaha!!...” Rhyno tertawa terbahak-bahak.
“Pesan makanannya!!...” Muka Rhyno sumringah.
“Ada juga kafe dengan sofa muat banyak orang ya…” Savy duduk di pangkuan Save di sofa melingkar.
“Kafe ini memang untuk acara pesta.. tapi uniknya semua orang tak dikenal juga ada.. biar makin ramai kan…” Rhyno mengiklankan.
Ada MC di atas panggung yang membuka acara event di kafe itu malam ini dan musik diperdengarkan semua suara orang-orang bercampur.
“Aku pikir ada apa…” Ben menyantap stik kentang gorengnya.
“Memang ada!..” Rhyno memasang muka serius dengan senyuman tipis.
“Euh?!...” Ben menelan kentangnya.
“Pokoknya jangan tegang ya!!!... kita akan berdiskusi disini..” Rhyno menyendok es krim di mangkuk gelasnya.
“Diskusi?...” Ben garuk-garuk pipi, berpikir.
“Apa.. yang soal kemarin itu?..” Save makan snack yang dipegang Savy.
“Ah bukan!.. ini hal baru!...” Rhyno menyandarkan diri.
“Ben!..” Save menepuk bahu Ben.
“Ya?!..” Ben melihati teman yang selalu ugal-ugalan dan mengajaknya main billiard ini.
“Kali ini kita profesional dan serius.. dengarkan saja orang-orang ini… aku memihak mereka..”
Save memandang Rhyno dengan serius, gadis itu tersenyum tipis. Ben melongo sambil mengangguk.
“Katakan!..”
Ben juga anak berandalan, tetapi tidak separah Save, Ben lebih suka bermain judi.
Qio sedari tadi mengamati Rhyno dan gank Furen yang hanya menyimaknya.
“Akses internet kita dibatasi oleh negara ini.. perpusatakaan online juga tidak menyediakan semua informasi yang kita butuhkan.. aku ingin bisa mendapatkan informasi lebih banyak tentang dunia luar.. maksudku.. mengenai budaya negeri sebelah.. tapi tidak bisa…” Rhyno menyendok es krimnya.
“Ooh… jadi.. kalian berkedok makan-makan untuk bisa melakukan diskusi terlarang ini?...” Ben nyengir kuda.
“…”
Rhyno mengangguk, semua mata menuju ke muka Ben.
“Pemerintah melarang kita untuk mendiskusikan negara lain apa pun topiknya.. kau tahu itu..” Ben menyandarkan diri.
“Ben!...” Qio angkat suara.
“Ya..?” Ben menoleh pada Qio.
“Kasih tahu saja… aku yakin mereka sama seperti kita…” Qio melirik Furen yang tersenyum tipis.
“Aku sudah bilang kan aku memihak mereka loch…”
Save mengambil keripik kentang di pocket yang Savy pegang.
“Bagaimana bisa?..” Qio menoleh pada Save.
“Mereka kenal paman Will..” Save asik mengunyah.
“Eh!! Qio juga kenal si Will itu?!!..” Raick agak kaget.
“Will?!!..” Key tidak tahu apa-apa.
“Justru ternyata Ben sering bertemu ayahku di markasnya selama ini…” Save garuk-garuk kepala.
“Ayah!!?..” Savy melotot, dia shocked dan baru tahu.
“Eh! Save! Kau ini!!!...” Ben berdebar.
“Mereka sama dengan kita!!!...”
Save menyalakan rokok.
Ben menarik nafas dan menghembuskannya dengan malas.
“Baik… baik… baiklah… dengarkan yach…”
Keputusan Ben membuat orang serius mendengarkan.
“Tapi tolong yang makai masker dekat Key itu dilepas… aku mau tahu dia siapa..”
“EEEE!!!!!”
"#$^&%!!!”
Semua orang pasang palm face.
Sosok itu membuka masker dan mengedipkan mata pada Ben sambil menyembunyikan mukanya di dekat kepala Key.
“KYAAAAA!!!..”
Ben sotak berdiri dan menunjuk muka Vero sambil berdebar-debar, hampir mimisan melihat artis sedang di depannya.
“Hahahaha…” Raick tertawa.
“Ew!!!?...” Save melongo,
“UPSS!!!!” Savy menutup mulut dengan tangannya.
“!!!!!!!!!!” Qio ternganga.
“AARGH!!...” Ben geleng-geleng, tidak habis pikir.
“….?”
“Baiklah! Server internet di negara ini memblokir banyak network akses internet yang bersumber dari negara mana pun.. itu karena ingin agar tidak ada cyber cryme yang menimpa warga negara ini.. itu karena sekarang sedang terjadi cyber world war dan kasus ini ditutupi pemerintah dari citizen di sini…” Ben mengambil kue cokelat.
Semua orang menyimak di antara deru suara musik yang tidak mereka hiraukan.
“Jika ingin mengakses website dari negara lain maka gunakan source enginer seperti ini dan sejenisnya…”
Ben memperlihatkan daftar aplikasi di menu smartphone-nya.
“Haah.. gunakan apa?...” Rhyno palm face.
“Aku mau download!” Raick mendekatkan mukanya ke Ben meski jarak jauh.
“Apa itu?..” Vero pun yang sudah kelas tiga SMA tidak tahu.
“Wajar jika kalian tidak mengerti.. itu Source Enginer buatan negara luar.. dan tidak diizinkan untuk beroprasi di negara ini.. maka istilah itu dihapuskan bahkan tidak dicantumkan di buku pelajaran di sekolah mana pun..” Ben meminum jus strawberry-nya.
“Bahkan jika kalian punya.. network akan mengantarkan berita ke server admin dan koneksi akan diputuskan agar kalian tidak bisa akses.. bahkan yang melakukan itu adalah server negeri luar.. kita diblokir negara mana pun agar tidak bisa menjelajahi situs mereka..” Ben menghentak-hentakkan kakinya ke lantai menikmati musik.
“Bisa gitu yach!..” Gia menggigit stik coklat bekunya.
“Hummm..” Rhyno menggosok-gosok dagunya.
“Kita ini di satu bumi dengan negara sebelah.. tapi bagai hidup di alam ghaib…” Ben menggeleng-geleng penat.
“Ah!!! Apa itu alam ghaib!! Apa itu ghaib!!..” Raick teringat ucapan ayah Furen.
“Ghaib artinya tidak terlihat.. dia ada tapi kita tidak bisa melihat.. mendengar.. menyentuh.. membaui.. dan merasakan kehadirannya.. yah.. itu hanya sindiranku sich…” Ben mengambil rokok di pack milik Save yang diletakkan di meja.
“Aduhhh… istilah baru yang aneh…” Rhyno menepuk jidatnya.
“Aku punya banyak istilah yang sudah dihapus pemerintah agar kita tidak mempelajarinya… dari membaca website yang ada di Gate Keeper, itu aplikasi peramban nomor satu di dunia..” Ben menghembuskan asap.
“Apa itu telepati!!!?..”
Raick memanfaatkan situasi, berteriak sambil menunjuk hidung Ben.
“Oh.. itu sejenis metode komunikasi jarak jauh dengan berbicara dalam fikiran atau bicara dalam hati…”
Ben menghisap rokoknya, Helena mengangguk paham pelan-pelan.
“EEEH!.. bagikan aplikasi itu donk!” Rhyno sebal ikut menunjuk hidung Ben.
“Kau bisa mengakses kalau kau hacker cerdas.. butuh bitcoint agar bisa membeli Network ID palsu dan menyatakan diri sedang mengakses lewat server dari negara-negara di Asia.. server dari mereka yang paling mudah dibobol.. Seperti Philippine.. Thailand.. Network ID itu kita gunakan agar tidak diblokir server negeri luar.” Tegas Ben.
“Bitcoint itu beli dan ditransfer ke mana?...” Raick penasaran.
“Banyak di luar sana belum menggunakan bitcoint tetapi bangsa negara ini sudah.. untungnya disitu.. aku punya kenalan bank kotor online di deep web.. aku memasukkan nomor rekening dan bitcoint yang aku punya ke formulir online dan diproses.. jika semua akses lewat deep web maka semua aman… semua pelopor web illegal dan para penjahat dari berbagai negara ada di sana.. hahahahh” Ben mengetukkan rokok ke asbak.
“Argh! Aku pusing aaarghh!!!” Rhyno memegangi kepalanya.
“.....”
Qio mencoba berfikir sebenarnya apa yang Rhyno cari selama ini, kepribadian Rhyno saat dengannya berbeda dengan yang sekarang.
“Oh ya… Rhyno.. selama aku tidak bersama kalian.. aku .. juga mengumpulkan banyak kabar….” Save mulai teringat.
“Ah.. katakan!...” Rhyno tertarik, Ben dan Qio menyimak.
“Aku pergi ke kota bawah.. semakin gila saja!!..”
Save mematikan rokoknya yang sudah habis, dan meletakkan Savy duduk di sampingnya.
“Semakin banyak saja kabar konspirasi bermunculan entah dari mana datangnya.. dan itu diviralkan di media social online… aku tidak bisa berpikir…” Save memelankan suaranya.
“Contohnya?...”
Furen mulai tertarik, Qio agak shocked dengan tanggapan Furen yang serius.
“Aku pun bingung.. ada kabar yang aneh..
Penduduk kota bawah dibuat benci dengan keturunan asing yang akan berhianat pada negeri ini…”
Mendengar Save membuat Furen terbelalak.
“Ada yang ingin mengadu domba kita… menggusur kita!!..” Furen pucat.
“Tenang Furen!” Traven memegangi bahu Furen.
“…!!!” Rhyno terpaku dan tidak bisa beralasan.
“Tapi ada sebuah gerakan rahasia yang aku tahu.. aku baru tahu dari Qio.. bahwa ayahku melakukan sebuah pembobolan system pertahanan online diam-diam bersama dengan para hacker dari keturunan asing yang sudah menyadari hal ini.. gerakan itu juga ada di kota bawah…” Save menambahi panas.
“Dan… ayahku pernah bertemu si tolol ini!!!..” Save menjitak kepala Ben.
“Augh!!..” Ben mengusap kepalanya.
“Bagaimana bisa!!!?..” Savy geram.
“Entahlah.. aku juga tidak tahu bisa ketemu ayahmu di acara itu..!!” Ben mengaduh.
“ACARA APA?!" Savy bergemelutuk gigi geram dengan kakaknya yang tidak pernah kasih tahu apa-apa padanya.
“Acara pembubaran masal gank motor loch.. di jalanan kami bikin ribut di kota bawah.. hihihi…” Save menenangkan Savy.
“Tapi kan waktu itu aku tidak datang karena lagi asik sama kamu….” Save memeluk adiknya dengan genit.
“UUUGHHH!!!...” Savy mendorong muka Save.
“Karena itu aku tidak bertemu ayah…” Save meminum soda di kalengan.
“Bagaimana kau bisa tahu soal tim pembobolan system keamanan, Qio?!..” Raick mengangkat satu alisnya.
“Aku…” Qio tiba-tiba gagap.
“Qio anggota gerakan itu.. bersama Ben…
Keluarga mereka ingin melepaskan kewarganegaraannya dari sini…” Save mengatakan secara gamblang.
“Kakak..” Helena berbisik pada Key.
“Ada apa….?.” Key menenangkan.
“Tanyakan keberadaan anak itu….”
“Oh.. iya..” Key tersenyum tipis agar Helena tenang.
“Ben.” Suara datar Key mengagetkan semua orang.
“Apa?...”
Ben lumayan kaget bisa dipanggil murid yang sudah terkenal psikopatnya di sekolah, ciri-ciri psikologi tanpa ekspresi wajah darinya sangat dikenali dengan mudah peserta didik di sekolahan itu, terlebih saat ada test psikologis sebelum masuk ke sana, tapi orang seperti Key yang justru dicari pemerintah untuk dipekerjakan. Key termasuk terkenal di lingkungan sekolah setelah ketahuan sebagai pemilik golongan darah resus negatif AB.
“Apa kau pernah dengar adanya anak yang suka melakukan hal seperti ini..” Key menyatukan ke dua telapak tangannya seperti Helena beberapa waktu lalu.
“ARGH!!!?..” Qio melotot syok.
“Ada apa.” Key serius.
“Anak itu mungkin yang diteliti ayah Save terakhir kali…” Qio memegang dagunya.
“!!!?...”
“Ayah?!!..” Savy dan Save kebingungan.
“Ohh.. terus?...” Ben menyimak.
“Dia sudah mati…” Qio mencoba mengingat kasus yang dia teliti mengenai kehilangannya polisi secara misterius akhir-akhir ini.
“Hahaha…” Ben tertawa kecil agak ragu.
“!!!!?..”
“Anak seperti dia ada banyak di belahan bumi ini..” Ben nyengir kuda.
“AAAHH!? Masa??..” Helena tersenyum senang.
“Besok di sekolah aku kasih tahu.. sudah jam sepuluh… pemerintah melarang pelajar berkeliaran… kita tidak boleh dicurigai.. ayo kita kembali pulang…” Ben berdiri tiba-tiba dan keluar dari kafe.
“Huuh!! Bilang saja mau kabur!!! Ngga mau bayar makanan!!..”
Savy jengkel, karena dia tahu betul jam segini anak-anak badung seperti kakaknya dan gerombolannya masih ingin asik di kota bawah melakukan kekacauan dan menghambur-hamburkan masa muda dengan liar dan keonaran.
“Hahaha..!!” Raick tertawa.
“Hmh..” Rhyno tersenyum menganalisa.
“Baiklah… kita pulang…!!” Furen berdiri.
“….” Traven tersenyum menuju meja kasir dan menggesek kartu kredit eletroniknya lalu pergi menyusul saudara dan teman-temannya keluar kafe.
“Rhyno…!.” Qio di belakang Rhyno memanggil.
“Ya…” Rhyno menoleh pada Qio.
“Siapa kau sebenarnya?...” Qio menerawang ke dalam pandangan Rhyno yang lesu.
“…..”
“Kau baik-baik saja kan?...” Qio cemas.
“Aku .. sangat baik…” Rhyno tersenyum tipis.
“Apa kau ingin keluar dari negara ini?...” Qio meraih tangan Rhyno.
Rhyno mulai menimang perasaannya, jauh dalam jiwanya dia masih belum bisa menemukan perasaan dia sebenarnya mengapa bisa nyaman berada di dekat Qio, tetapi semua itu diselimuti kecemasan tentang masa depan jika mereka tetap berdua. Dan akhirnya Rhyno selalu menyerah dengan perasaan itu. Ada yang selalu hilang di masa depan, yaitu orang-orang yang dia sayangi. Itu lah trauma yang menghantui langkah Rhyno, kemana pun usianya melaju.
“Aku bisa hidup sendiri.. kau pasti bisa tanpa aku disini…” Rhyno melepaskan diri pelan dan menuju mobilnya yang sudah dimasuki Gia di parkiran sana.
“….” Qio menghela nafas.
“Kau tidak pernah mencintaiku bukan…” Gumam Qio lalu berjalan ke tempat parkir mobilnya.
No comments:
Post a Comment