Wednesday, February 12, 2025

Bab 6: Anak Indigo

 Saat jam istirahat ke dua yang dimulai dari jam dua siang hingga empat sore di sekolah, remaja yang tadi malam berkumpul di kafe Black Chocolate secara satu persatu menuju ruangan yang biasa Furen jadikan tempat berdiskusi dengan saudaranya diam-diam agar tidak dicurigai pihak sekolah. Hingga akhirnya semua sudah berkumpul, yaitu Save dan adik kembarnya, Furen bersaudara, Qio dan Rhyno dengan adik angkatnya.

“Hay!.. maaf lama!... aku dipanggil ke UKS tadi…”

Ben akhirnya tiba dengan melambai, disusul Key, adik dan pacarnya yang bolos syuting, si Vero syahdu. Key menutup pintu dan kemudian berjalan menuju kerumunan.

“Ah… kau payah sekali!!...”

Save mengomel dengan kepalan tinjunya ke udara.

“Cepat dikit keq.. dasar bento-bento…” Ledek Savy dengan berkacak pinggang.

“Hmhmhm.. rame dech!..” Sindir Furen dengan senyum sinis.

“ERGH!!...”

Save menoleh ke Furen yang dengan tanpa langsung mengatakan, ‘BERISIK!!!’ Pada Save barusan.

“Hahaha.. baik-baik.. aku sudah bawa tabulet-ku…” Ben mengeluarkan tabulet bermonitor ukuran empat belas inc.

“Kalian mencari anak yang suka melakukan meditasi kan?...”

Ben meletakkannya tabulet itu di rak dan menyandarkannya ke pot bunga yang ada di sana. Ruangan berdindinig beton beratap kaca itu sunyi karena semua remaja mulai tidak bersuara karena tegang.

“Apa?...” Raick mengernyitkan alis.

“Me-di-ta-si…” Ben mengulangi dengan mengusap menu-menu di tab dan membuka aplikasi peramban video.

“Meditasi?...”

Helena mengingat sambil memeluk pinggang Key karena masih murung sejak bangun tidur tadi pagi.

“Yang kalian cari itu.. kita sebut dengan istilah generasi Indigo..” Ben tersenyum aneh.

“Apa yah?!...” Vero kepo.

“Apa?...”

Rhyno kali ini berkacak pinggang sambil geleng-geleng, begitu banyak istilah baru.

“In-di-go… generasi nila…” Ben mengetik sebuah video.

“Wah… situs video asing??...” Savy menelengkan kepala.

“Mari kita lihat… inilah indigo children…” Ben menyilangkan tangan.

Para remaja itu melihat dengan seksama tampilan gambar bergerak dan bersuara di alat yang tidak terhubung internet dalam negeri itu. Didalam video itu ada dokumentasi penjelasan mengenai apa itu anak-anak generasi indigo dan dari mana datangnya, tugasnya juga tujuan mereka dan hak-hak mereka secara lengkap dengan garis besar.

“#$%??!....”

“Eewh~”

Semua orang puyeng menyimak video berdurasi 30 menit itu.

“Aku tidak bisa berpikir….” Raick memijit kepalanya.

“Apa itu meditasi…?” Helena teringat.

“Oh..meditasi itu metode untuk menenangkan jiwa…” Ben mencari video penjelasan tentang meditasi dengan segera.

“Jiwa?...” Rhyno agak asing dengan istilah itu.

“Hmhm.. lama-lama otak kita tak ubahnya pas seperti robot.. itu yang ingin pemerintah buat… makanya kosa kata yang digunakan dunia luar dihapuskan disini..” Ben nyengir kuda. Sementara itu Qio geleng-geleng turut mumet.

“Jiwa?...” Rhyno mengulangi kata-kata Ben.

“Jiwa itu isi hatimu.. dirimu yang sesungguhnya..”

Ben tersenyum tipis lalu video selanjutnya dimulai.

Kali ini suasana berbeda, setelah diterangkan apa itu meditasi mereka mengikuti gerakan di video dengan tanpa sadar karena tertarik dan ingin mencobanya. Tak hanya itu, Ben juga menuntun mereka.

“Tenangkan otak kalian dan relakan nafas kalian seperti air yang pelan mengalir memasuki paru-paru kalian dan keluar dengan cara yang sama.. rasakan saja suasana tenang sekitar kalian saat ini…”

Ben sambil memejamkan mata

Musik meditasi terdengar dari video itu. Furen terkejut dengan apa yang dia rasakan, tapi dia mencoba menenangkan hati. Mereka yang tengah berdiri itu kini mulai menyadari betapa harum bunga-bunga di pot yang ada di rak-rak tua ruangan aneh itu. Padahal sejak tadi keberadaanya terabaikan.

“Argh!...” Furen tiba-tiba membuka mata dan menjatuhkan diri ke lantai.

“Furen!!.. Fu.. Furen kau…” Traven menuju adiknya itu dan memegangi bahunya.

“Kau kenapa?!..” Rhyno agak shocked dan mendekat untuk melihat wajah Furen.

“Kau pucat!!..” Raick mendongakkan kepala Furen.

“Aku…” Furen terengah-engah.

“?!!!...”

Qio dan Ben berpandangan tidak mengerti, musik meditasi di video itu masih bermain di telinga mereka.

“Kau?...” Traven menenangkan Furen.

“Aku bisa membayangkan diri Noa mendatangiku….” Furen menarik nafas berat.

“!!?.. tidak mungkin!!!!?...” Raick menutup mulutnya dengan tangan.

“Noa?!.....” Traven segera memeluk Furen.

“Noa?...” Save dan Savy berpandangan.

“Noa adalah kakak Furen yang sudah meninggal dunia…” Raick menerangkan pada teman-temannya.

“Ouhgh…!” Savy, Vero, Helena dan Gia menutup mulut dengan tangannya, iba.

“Kau.. membayangkan wajahnya?...”

Key menelaah, Furen mengangguk pelan.

“!!!??....”

“Kyargh!!!...”

Beberapa anak yang menyadari langsung panik, Rhyno menunjuk Furen, Raick menunjuk Rhyno, Save menunjuk Key, Traven melepaskan pelukannya dari Furen dan menunjuk Vero.

“KAU BISA MEMBAYANGKAN SAAT MEDITASI!!!” Traven.

“KAU BISA BERMIMPI SAAT BERMEDITASI!!!” Rhyno.

“KAU BISA BERIMAJINASI DENGAN MEDITASI!!” Raick.

“Cerdas!!!.” Save meninju udara dengan antusias.

“Yey!” Savy loncat memeluk kakak kembarannya.

“?!!!....” Qio menelengkan kepala.

“Hahaha!!!?...”

Ben tidak memahami tapi tertawa dan berkacak pinggang seolah puas.

“Hihhihihi…” Helena, Veronica  dan Gia tertawa kecil.

“….” Furen masih agak bingung dengan yang dia alami tadi.

“YEY!! YEY!! YEY!!...” Rhyno bersorai.

“Ada apa Furen?!...”

Raick membantu Furen yang murung untuk berdiri.

“Kita harus berlatih meditasi…” Furen mengambil kesimpulan.

“Aku yakin yang tadi itu bukan kebetulan…!”

Save mengepalkan tangannya dengan nyengir kuda semangat baja.

“Hey!.. hey hey!.. tunggu dulu!....”

Ben mengangkat tangan ke atas meminta perhatian dan semua menoleh padanya.

“Kalian jangan salah yach…”

Ben menurunkan tangannya perlahan dengan muka datar.

“…?” Semua orang tertegun.

“Meditasi itu budaya luar.. terlarang di sini.. kalian harus punya benda elektronik yang tidak terhubung dengan internet dari server milik pemerintah untuk menikmati itu semua…”

Ben memakai kacamatanya yang tersimpan di kantong seragam.

“Eh..!! iya juga ya!!..” Savy menopang dagu.

“Mana ada alat tanpa internet.. dispenser dan kulkas saja ada internetnya!...” Save menengadah ke udara.

“Wah!!... iya juga…”

Traven menyadari bahwa tidak ada alat elekronik yang tidak menggunakan internet di negara mereka, bahkan mobil dan AC sekalipun. Semuanya memiliki sensor perintah menggunakan teknologi kecerdasan buatan.

“EH!... jadi.. kau bisa gunakan benda itu untuk buka Source Enginer asing tadi?... pakai tabulet itu?.. apa tidak akan diketahui pemerintah?..” Traven tersadar lagi.

“Hehe.. itu tabulet merek asing juga…!..”

Qio yang berdiri paling belakang nyengir kuda. Semua menoleh padanya, agak kaget.

“Ya.. begitulah…”

Ben menghela nafas dan melirik tabulet-nya lalu menghentikan pemutaran video.

“Kau dapat dari mana barang itu?...”

Vero kepo sambil mengambil tabulet Ben, membolak balikkannya untuk melihat-lihat body-nya.

“Qio yang membelikannya untukku, beli saja pakai bitcoint.. penjualannya lewat deep web.. karena negara asing memblokir akses penjualan ke negeri kita ini.. maka penjahat cyber menggunakan akses dari deep web untuk menerobos batas itu..” Ben menjelaskan.

“Aku mau beli!!!...” Savy dan Vero bersamaan, mereka paling hobi dengan belanja.

“Hedehhh…” Raick geleng-geleng heran dengan karakter wanita.

“Transferkan bitcoint kalian ke rekeningku.. aku akan belikan..” Qio tersenyum ramah.

“Baiklah….”

Furen tersenyum ceria bersemangat. Traven merangkulnya.

“Oh ya… Ben.. katamu ada banyak anak indigo di dunia.. apa tidak ada jalan agar bisa chat dengan mereka.. kita kan bisa chating di negara kita.. apa di negara luar ada alat chatting juga?...” Rhyno teringat.

“Waaah.. kalau itu sich ada banyak sekali…  aaargh tidak bisa aku sebutkan satu-satu…”

Ben gembira bisa membantu teman-temannya.

“Kalau begitu…!” Helena maju ke depan Ben.

“?...”

Ben melongo melihat wajah polos gadis kecil itu.

“Aku mau mengobrol dengan salah satunya!!...” Helena antusias.

“Wah iya begitu lebih baik kan!!...” Vero tersenyum manis pada Ben, merayu.

“….” Key melirik rak bunga, menahan api cemburu, jika emosi mengenai Veronica maka dia tidak bisa menahan diri. Kebohongannya mengenai emosi pada Rhyno beberapa waktu lalu adalah kebiasaan suka berbohong para psikopath.

“Ba.. baiklah kak!!..” Muka Ben memerah.

“Hihihihi….” Rhyno melirik Raick, dan Raick ikut nyengir kuda. Gia tertawa kecil juga.

“Aah.. kalian melibatkan aku lebih dalam ke masalah besar ini.. aku jadi ikutan kepo..”

Save meletakkan dia tangan dibelakang kepalanya supaya boleh ikutan.

“Iya aku juga…” Savy manggut-manggut.

“Apa kalian ngga ada tempat lebih luas dan aman untuk itu?...”  Ben menghembuskan nafas keluhan mengenai ruangan yang sekarang.

“Kalau di rumahku?...” Rhyno menunjuk hidungnya sendiri, Gia melongo.

“Tidak aman.” Key menyahut.

“Dirumahnya!!..” Raick antusias menunjuk Key.

“Tidak.” Key datar.

“%$^*&!!!!...” Raick cemberut.

“Dirumahnya!!...” Save menunjuk Qio, sementara itu detektif muda itu melongo.

“Um..um..!!! tidak aman banget! Mama Qio itu monster kepo!...” Ben menggeleng tegas.

“Eet!...” Palm faces.

“Dirumah kakak?......” Nada Veronica bergaya sok imut.

“Iya kakak!!!......” Semua orang bersorai.

“Hmhmhmhmh….” Furen terkekeh kecil bersama Traven dan Helena.

“Besok malam jam tujuh ya…!.” Wink Vero.

“#$^!!!!!!!!.” Semua cowok terklepek-klepek.

(o´ω`o)

“Sebenarnya apa rencana kalian!!!...”

Ayah Furen membanting banyak lampiran di atas meja kerjanya di hadapan ketiga anaknya.

“….” Furen melirik Traven yang berdiri di kanannya lalu Raick yang berdiri di kirinya, mereka tertunduk.

Ketiga remaja yang sudah memakai seragam sekolah pagi itu tertunda keberangkatannya karena ayah Furen tiba-tiba memerintahkan mereka untuk menghadapnya ke ruang kerja.

“Kenapa malah bengong!!!”

Ayah Furen tempramen lagi setelah beberapa hari lalu sudah dekat dengan Furen.

“Raick aku utus ke Dakota untuk membuat obat untukku bersama teman-temanku, ayah….” Furen tersenyum menenangkan diri.

“Apa!!?...” Ayah Furen berdiri terkaget.

“Ada obatnya… aku sudah tidak kesakitan lagi…” Furen tersebum baik.

Ayah Furen menghampirinya, lalu memegang kedua pundak puteranya itu memandanginya lekat-lekat.

“Kau sudah sembuh?....” Mata pria itu terperangah.

“Dosisnya untuk dua minggu… dan.. itu semua berkat..” Raick menyela dan kemudian mengalihkan pandangan ke arah lain.

“Apa…” Ayah Furen berbalik memperhatikan Raick.

“!!!!?....” Raick terkaget, Guarden memeluknya“…..” Traven tertegun, Furen pelan-pelan meraih tangan Traven yang berdiri di belakangnya.

“Terima kasih.. aku bangga kepadamu…” Guarden mengelus kepala Raick.

Ada sesuatu di dada Raick yang seolah memacu denyut jantungnya agar memompa darah lebih keras seperti mesin yang akan digunakan untuk bertempur.

“Kemarilah….” Guarden membuka lengannya dan mengajak tiga pemuda itu untuk masuk ke pelukannya.

“Kalian anak-anak yang baik….. anak-anakku….” Guarden menahan guncangan emosi yang menyerang hatinya.

“……” Raick memeluk Guarden lebih erat dan memasukkan mukanya ke bahu kiri pria lebih tinggi darinya itu.

“Kami akan terus bekerja keras, ayah!!!...” Furen mendongak pada ayahnya dan melepaskan tangannya dari pinggang Guarden.

“Masih ada waktu lima hari lagi….”

Traven tersenyum damai pada pria yang sedang terguncang itu, dan sosok ayah itu mengangguk percaya padanya.

“Katakan pada ayah… bagaimana kalian bisa mengirim Raick keluar dari sini dengan selamat…” Guarden meletakkan tangan kirinya di atas kepala Raick yang berdebar-debar.

“Aku.. mengirimkannya sebagai budak yang dihukum…” Traven menjelaskan.

“….?..!!..” Ayah Furen mengedipkan mata tak percaya.

“Aku lampirkan surat kelahiran yang sudah disusun keluarga Chamazello saat mengadopsi kami dan kemudian menguruskan paspornya di lembaga yang cabangnya di kota bawah.. disana semua lebih mudah.. dan tidak terlalu diawasi…”

Traven memandang dokumen yang merekam kegiatan mereka selama ini hasil mata-mata ayah Furen.

“Keberangkatannya lewat pelabuhan di kota bawah hingga akhirnya mereka menuju daratan dan bandara terdekat untuk terbang ke Amerika Selatan…”

Traven menoleh ke arah wajah Guarden yang tidak menyangka-nyangka.

“Jadi itu semua disusun olehmu?....”

Ayah Furen menggeleng-geleng kepala sambil memegangi kepalanya tidak habis fikir.

“Hmhmhmhmmh…” Furen terkekeh.

“Anak seumuran kalian punya otak yang lolos dari sensor keamanan negara…” Ayah Furen nyengir licik dan bangga.

“Ayah…” Furen agak bergairah setelah lega menjelaskan semuanya.

“Ada apa, nak?..” Guarden disinari cahaya pagi yang menyusup dari kaca jendela, membuat Furen silau melihatnya.

“Aku ingin mewujudkan ramalan itu…” Furen tersenyum trenyuh.

“Itukah mimpimu?...”

Guarden melihati kini ke tiga anak berharganya berbaris di depannya dengan tatapan mata ksatria.

“Aku bukan pengecut ayah…” Furen tersenyum damai.

“Kau pembunuh ulung..”

Guarden mengangguk pelan mengagumi anaknya yang pemalu tetapi sebenarnya monster pembunuh bermuka manis.

“Aku akan mewujudkan rencanaku selanjutnya, tolong izinkan aku pergi malam ini…”

Furen merangkul kedua saudara di sisi kanan dan kirinya.

“Hahahaha…” Ayah Furen berbalik badan sambil melambaikan tangan tandanya mengizinkan.

“Baiklah kami sudah telat berangkat sekolah.. Semoga hari ayah menyenangkan!!..”

Furen memeluk Guarden yang tidak berbalik badan, lalu melangkah pergi.

“Tunggu sebentar!!..”

Guarden memandangi pemandangan di balik jendelanya, dilihatinya tampakan langit dan cahaya siang.

“Ya…”

Furen menghentikan langkahnya begitu pula kedua saudaranya.

“Aku pikir.. Traven bisa masuk ke badan intuisi negara…” Guarden menggosok dagunya dengan ibu jari kanan.

“Ayah?!...” Furen tertegun.

“Intuisi alami Traven sangat bagus.. mungkin dia akan berguna untuk kita jika kita memasukkannya ke kandang musuh…” Guarden membalikkan badannya dengan tatapan tajam panas.

“…..!!!!?...” Traven memandangi mata Guarden seksama.

“Ayah?!... itu terlalu beresiko…” Furen membela keselamatan Traven.

“Aku siap!.” Traven mengangguk pelan, ada pesan di mata ayah Furen yang membuatnya yakin.

“Traven!...” Furen menoleh pada kakaknya, Raick tidak bisa berkomentar.

“Jika itu untuk adikku dan ayahku.. aku siap!...” Traven melegakan dirinya dan tersenyum yakin.

“….!” Guarden berjalan menuju ke tiga anak yang akan keluar dari sana dan merangkul Traven keluar. Furen dan Raick mengikuti dengan memandang mereka berdua.

“Ayah akan memasukkanmu kesana, ada acara study tour.. kebetulan ayah melihatnya kemarin dan acaranya hari ini.. memang harus mendaftar dulu dan jam pendaftarannya belum ditutup.. kalau pun sudah.. ayah bisa tetap memasukkanmu ke acara itu.. hahahaha!!!...” Pria itu membuat hati Traven berbunga.

“…!!!” Furen dan Raick berpandangan dengan senyum lega.

“Kalian berdua pergilah sekolah atau kemana pun.. jaga diri kalian.. ayah akan mengantar Traven…” Guarden yang terbiasa menyebut kata ‘aku’ di hadapan tiga bocah itu kini tidak sadar sudah menggantinya dengan kata ‘ayah’.

Sungguh perubahan energi yang besar setelah mengetahui kenyataan bahwa mimpinya masih ada.

((((゜д゜;))))

Study tour ini dibuka untuk umum… lembaga pemerintah membukanya agar anak-anak generasi asing tertarik untuk bekerja mengabdikan diri kepada mereka.. ini trik khusus mereka.. mengiming-imingi anak-anak dengan desain masa depan yang canggih dan pangkat tinggi… aku tidak habis pikir sudah melakukan investasi neraka pada mereka dengan mensponsori hal-hal ini..”

Guarden menggeleng kepala sambil memegangi jidatnya yang jika bisa berasap pasti sudah mengepul memenuhi ruang belakang mobil yang disekat pembatas kaca agar tidak terdengar sopir dan terekam online.

“Hihihi… tuan besar tenang saja.. saya akan menjalankan misi sebaik mungkin..” Kedua tangan Traven diatas pahanya, posisi siap sedia.

Duduk di samping Guarden hanya berdua dalam satu unit mobil hybrid terbaru membuatnya canggung dan entah harus berkata apa.

“Aku ayahmu!...” Guarden merangkul bahu Traven dan mengguncangnya.

“!!!” Traven menoleh ke muka Guarden yang tersenyum berwibawa dan kemudian mengangguk dengan sedikit tegang di pipinya yang terangkat.

“Kau akan baik-baik saja…”

Guarden menoleh ke jendela, mereka kini memasuki halaman bangunan departemen intuisi negara.

“Ayah…” Traven tegang, berdebar saat memanggil seperti itu.

“Apa, nak?..” Guarden memperhatikan pemandangan di area itu.

“Apa itu neraka?....” Traven mengangkat senyuman polosnya tipis.

“….?” Guarden menoleh kepada Traven, mobil melambat hingga berhenti tepat di depan pintu masuk.

“….?” Traven memperhatikannya.

“Neraka adalah tempat penyesalan dan hukuman.. atas segala kesalahan dan ketidak adilan yang kita lakukan saat hidup…”

Tak lama kemudian sopir membuka pintu mobil, Guarden mengisyaratkan satu jari di depan bibirnya, tandanya Traven dilarang membahas itu.

“….?” Traven belum sepenuhnya paham, tetapi dia terpaksa mengangguk dan menuruni mobil setelah ayahnya.

∩(︶▽︶)∩

Kini Raick tengah menunggu di ruang loby, Guarden pun datang dari ruang administrasi dan mengajaknya pergi berkeliling. Ruangan yang canggih, computer hybrid dimana pun dengan berbagai jenis robot baru yang diuji coba sedang dioperasikan ilmuwannya keliling area itu. Traven kagum dan menelan ludah karena banyak kamera CCTV. Traven melirik kemana pun dengan agak menundukkan kepala saat berjalan, dia tidak ingin melewatkan segala hal dan mencoba mengingat semua tulisan yang bisa dia baca dengan cepat.

“Istilah libur musim panas internasional… telah berhasil dihapus..” Suara seorang perempuan berseragam pada temannya terdengar saat Traven berjalan.‘…. Menarik…’ Traven mengekori punggung Guarden.

Kini mereka sampai di suatu raungan, banyak anak muda mengenakan seragam sekolah tengah berbaris di depan seorang perempuan yang memakai seragam kerja dengan lecana lebih banyak di dada kanannya, seperti seorang berpangkat kepala ruangan.

“Nah.. bersenang-senanglah! Aku akan pergi ke departemen kemanan militer.. aku jemput jam 11 siang.. ajak Furen makan bersama kita!..” Guarden menepuk bahu Traven kemudian meninggalkannya setelah melihat Traven mengangguk pelan.

“Ayahku…” Gumam Traven.

Pemuda tampan itu berjalan ke tengah barisan para remaja, kebanyakan berseragam Prime Revolutioner School, remaja dari berbagai sekolah itu masih acak karena asik mengobrol. Traven terus berjalan hingga akhirnya dia menemukan barisan yang hanya dipenuhi murid dari sekolahnya sudah tertata rapi.

“Kau..?” Suara pemuda terdengar.

“!!?...” Traven menoleh ke sumber suara tersebut.

“Robert!?..” Traven tercengang.

“Aku tidak heran!.. kau anak Chamazello..”

Robert nyengir kuda dengan gaya berwibawa dan rupawan. Dia selalu jadi anak baru terkeren dan berkarisma di seluruh angkatan kelas A.

“Hahaha.. terima kasih.. aku kaget sekali.. bisa berdiri pas dekat denganmu..” Traven tersenyum hangat.

“Kau sudah sarapan?!..”

Robert menyenggol bahu Traven yang berukuran agak lebih kecil dari bahu bidangnya yang lebar.

“Belum…”

Remaja ramping dan berisi itu tidak tergoyang dengan senggolan Robert.

“Kuda-kuda yang bagus..”

Robert menyunggingkan senyumnya menoleh ke arah depan podium.

“Hahaha..” Traven tertawa kecil.

“Hari ini kita akan banyak mencicipi berbagai jenis teori..kau akan kekenyangan.. sampai mual..”

Robert sepertinya tidak sependiam yang teman-teman di kelas bicarakan di belakangnya.

“Ternyata kau cukup ramah!..” Traven agak terkejut.

“Apa-apaan kau ini.. aku hanya bicara pada anak sepertiku..” Menyilangkan lengannya.

“Ohh.. yah.. agak sombong di kelas memang bagus.. tetapi kau melewatkan hal yang bisa membuatmu bersenang-senang…”

Traven memasukkan kedua tangannya ke kantong jaket seragamnya dan melihat ke segala sisi ruangan besar yang menampung banyak siswa tur itu.

“Tidak berguna dan buang waktu…” Robert mengerjap mata.

“Apa yang sia-sia.. tidak ada..”

Traven mendongak, di atas mereka semua ada mesin laser besar yang sedang off.

“AAH!! Ruang apa ini sebenarnya..” Traven memandangi alat itu.

“Aku tidak tahu.. aku baru datang..” Robert ikut mendongak.

“Astaga!...” Ternyata Robert pun terkejut.

“Kenapa kau mengambil program tur ini?...”

Traven menoleh ke arah orang yang memang dari dulu ingin dia dekati ini, siapa sangka bahwa mereka benar-benar akan dekat.

“Ayahku tidak ingin memasukkanku menjadi anggota militer angkatan udara.. entah kenapa.. pria yang aneh..” Robert terkekeh.

“Hhahaha.. para ayah memang selalu melawak, tidak konsisten mirip para gadis di mall…” Traven pura-pura terkekeh.

“Hahahaha…”

Robert memegangi dagunya, tidak dia sangka jika Traven lumayan bisa membaur dengan gaya bicaranya.

“Tapi semua ayah di dunia ini ingin agar anaknya selamat.”

Traven menusuk mata Robert tiba-tiba dengan pandangan yang serius, itu membuat remaja berambut panjang pirang keturunan Inggris itu berhenti tertawa.

“Kau pintar bicara ya!..” Robert mengalihkan pandangan ke arah letak podium.

“…” Traven melihati perempuan yang tadi berlecana kini berjalan menuju podium setelah melihat semua peserta tur hadir dengan lengkap.

“Dengar Chamazello, aku tidak ingin anak-anak Prime Revolutioner tau jika kita sedekat ini dan pernah bicara!..” Robert berbisik pada Traven agak keras.

“Aku juga tidak ingin.. tapi aku akan membutuhkan nomor ponsel atau alamat socmed mu…” Traven melihati lencana perempuan yang kini berdiri di hadapan semua orang itu.

“Untuk apa?..” Robert melihati sosok itu juga, di pinnya tertulis nama ‘Frida’.

“Kau akan tahu nanti..” Traven mulai serius memperhatikan ucapan perempuan itu.

(╯3╰)

Malamnya, jam tujuh di rumah Vero…

Mereka kini di ruangan yang Vero maksudkan, rumah gadis itu berisi peralatan mahal yang dia beli dengan gajinya selama mengartis.

“Sudah aku pesankan tabulet, paket internet dan apapun yang menyebalkan itu untuk kalian.. besok barangnya sampai.. tapi uangnya kurang!! Aku meminta mereka kurirkan via penerbangan! Aku bilang boss maviaku yang memesan!...” Ben membanting print bill ke meja.

“Mereka percaya jika kita ingin berlangganan.. hahahaha” Tambahnya.

“Astaga!!!....” Rhyno melihati nominal di kartu itu.

“Waaah…” Vero yang duduk di kanan Rhyno membuka mata lebar-lebar.

“Hufthh!... iya aku transfer sekarang ya…” Rhyno membuka tabulet-nya.

Kartu bill itu diambil oleh Traven, lalu segera pemuda itu mengikuti gerakan Rhyno yaitu mentransfer uang dengan online ke rekening Ben, Vero mengikuti Rhyno dengan dekte nomor rekening Ben dari Rhyno. Setelah melihat Traven meletakkan benda itu diatas meja, Save mengambilnya dan membuka menu banking online di tabulet-nya. Qio dan Ben berbincang ringan soal tim judi urakan yang tadi malam tertabrak mobil balapan liar, mereka tertawa meledek sementara Savy melihati mereka yang mengobrol sambil nyengir ngeri tentang kerasnya dunia jalanan malam.

“Traven.. bagaimana study tour-nya tadi siang?.. kamu belum cerita loch…”

Study Tour?...” Rhyno melongo.

“Iya.. ke lembaga intuisi Negara..” Furen menambahi dengan senyum tipis.

“Ah… biasa saja.. hanya keliling dan aku tertarik ke sebuah ruangan khusus yang akan dijelaskan besok.. kalau saja aku punya tabulet negara asing.. bisa aku fotokan untuk kalian..” Traven menyandarkan diri di sofa ruang tamu rumah Veronica.

“Kau pinjam saja punyaku ini…”

Qio menyodorkan tabulet-nya.Traven meraihnya dan kemudian mencoba mengoperasikannya.

“Kau mengganti body chasing-nya yach?!...” Traven tersenyum tipis.

“Iya.. supaya aman… ini kebetulan.. hahaha..” Qio bersandar, sofa milik Vero sangat nyaman.

“Bagaimana Ben?”

Key menusuk mata Ben yang berleha-leha.

“Ah?!...” Ben lambat berpikir.

“Anak itu….” Helena yang sedari tadi diam akhirnya bersuara.

“ooh!! Iya!!!!!.. ada TV LED?!!..” Ben teringat dan bersemangat.

“Adaa!!!...!!!.” Vero bersorai bangkit dari sofa dan berjalan.

Ben, Qio, Save dan Raick melompat dan cepat-cepat menyusul Vero yang melangkah santai ke ruang teather.

“Dasar genit!!!...” Savy mengumpati kakaknya.

Ben mengoperasikan perangkat yang dia bawa dari rumah di tas, kemudia membajak server di rumah Vero dan mengganti kendali akses ke negara asing dan mebentengi agar tidak tersensor oleh alat lacak negara ini. Kemudian TV LED siap dinyalakan dengan koneksi internet dari provider Ben.

“Hahahaha!!...” Rhyno tertawa sambil menyenggol Key yang kusut pucat melihati pacarnya.

“Hihihihi..” Gia tertawa kecil sambil menggandeng Helena.

“Aku akan menyambungkan tabulet ku ke benda sialan ini daaann…”

Muncul projeksi seseorang di depan layar besar itu.

“Waah!!...” Orang di monitor dan semua remaja itu saling berteriak keheranan.

“Banyak sekali orang kau bawa, Benny!!!...” Pemuda berambut pirang itu merasa sebagai artis mendadak.

“Teman-teman.. ini abangku.. dia di Rusia sekarang.. dan dia adalah penjahat deep web yang masih selamat.. terima kasih…” Ben berlagak bagai MC.

“Apa maksudmu penjahat!! Pret!!..” Sosok itu mengepalkan tinju.

“Hihihihi…” Teman-teman tertawa kecil.

“Hey!! Ini acara stand up comedy yach!!!!...” Sosok itu makin masam.

“Namanya Roy..” Ben duduk di karpet lantai berbulu.

“Halo Roy!...” Vero melambai, wanita seksi itu membuat pipi Roy merona.

“Hihihihi…” Rhyno terkekeh.

“HD-nya itu loch.. hihihihi…” Savy dan Gia diam-diam mentertawai warna pipi Roy.

“AARGH.. Roy! Bawakan aku sama anak indigo yang paling sakti doong!!..” Ben maju  ke depan tabulet karena kameranya yang menangkap gambar.

“Iya.. iya iya.. argh dasar bawel!!..”

Roy menggerutu sambil menekan-nekan sisi tabulet lain di samping banyak tabulet di mejanya. Lalu tiba-tiba layar membelah menjadi dua slide dan tampil load dari monitor Roy.

“Kakakmu hacker yach?..” Rhyno melihat Ben yang duduk di depan tabulet.

“Iya.. dia melarikan diri ke Rusia supaya aman dari polisi cyber Cina dan Amerika.. kakakku sekarang dimanfaatkan pemerintah Rusia..” Ben.

Tibalah saatnya layar sisi kiri menunjukkan gambar seorang pemuda keturunan India.

“Wuah!!!! Keren!...” Remaja-remaja berdiri melihati sosok berasal dari ras asing yang baru mereka lihat.

“Woah!” Pemuda India berkulit gelap itu terkaget.

“Hey.. tenang.” Roy menenangkan mereka agar duduk kembali.

“Save mengangkat meja di ruangan itu dan meminggirkannya, semua orang kini duduk di lantai yang dihiasi karpet bulu empuk.

“Halo.. salam…” Pemuda  India itu menyatukan tangannya.

Para hadirin di ruangan itu mengikuti gerakan tangannya dengan canggung.

“Dengan bahasa apa kalian berbicara?....” Pemuda India itu tersenyum ramah dan lebar.

“Gunakan saja bahasa Inggris.. itu masih dibutuhkan negara mereka.. hahaha…” Ledek Roy pada negara yang sok ingin menjadi kapitalis tunggal. Orang-orang keheranan tidak mengerti.

“Kenalkan, Roy!..” Ben mengenakan kacamatanya.

“Namanya Arman.. dia lah teman indigoku satu-satunya dan non-blok.. dia tidak memihak negara dan agama apa pun…”  Roy menjelaskan sambil menyandarkan diri ke sofa kerjanya.

“Agama?...” Rhyno mengernyitkan alis.

“Agama adalah keyakinan.. kalian tidak akan mengerti dengan mudah..Lebih baik tanyakan saja apa yang kalian mau tahu..” Ben menggeser pantatnya dan duduk dekat Rhyo dkk.

“Aku!..” Helena mengangkat tangan lalu duduk di sofa.

“Halo.. siapa namamu gadis kecil?” Ramah Arman.

“Namaku Helena.. kau keren sekali..”

Helena bersemangat bisa melihat jenis orang asing seperti Arman.

“Katakan lah!…”  Arman tiba-tiba melihat Helena dengan pandangan sayu.

“Aku… eh…” Helena sampai lupa ingin mengatakan apa beberapa hari ini.

“Ya?...” Arman semakin mendeteksi aura murung.

“Sebenarnya ada apa dengan mereka ini… mereka dikendalikan sesuatu oleh pemerintah di negaraku.. dan mereka akan mati untuk suatu alasan yang tak pasti… aku mau tahu yang sebenarnya…” Helena.

“….?.. Oh….! Biarkan aku perbaiki visionku dulu… aku terfokus padamu!!...” Arman memegangi kepalanya dan terdiam beberapa saat.

“…..”

“Aku jadi tegang…”

Vero memegangi dadanya dan meletakkan kepalanya di bahu Key. Key meletakkan tangannya di pinggang Vero sambil bersandar di kaki sofa bulu milik Vero.

“Aku melihat adanya kehancuran kota besar yang canggih.. apa itu isi negara kalian.. kota-kota bagus modern….” Arman memejamkan matanya sambil menyatukan kedua telapak tangan.

Helena mengikuti Arman dan memejamkan mata, memfokuskan pikiran kepada Arman.

“Aku melihat kau dan teman-teman lainnya saling menyelamatkan.. kehancuran terjadi… bisa kah kau memegang bahu temanmu yang tampan berambut hitam dekat si pirang itu.. gadis kecil…” Arman membuat Helena membuka matanya lalu mencari yang dimaksud Arman, ternyata itu Traven.

“Ha~ah..~!!!?...” Traven menunjuk hidungnya, teman-temannya melihati Traven.

“Ayolah sana!...” Desak Rhyno.

Traven berdiri kemudian duduk di sofa bersama Helena, dan adik Key yang berambut jingga itu memegangi bahunya.

“Aku sudah menghubungkan jiwaku pada gadis kecil dan akan aku hubungkan pada temannya lewat sentuhan tangan gadis mungil ini…” Arman memejamkan mata lagi dan menyatukan tangannya lagi.

“Aku memanggilmu karena jiwaku menarikku ke lorong jiwamu, tampan.. sekarang aku akan menelusuri lorong waktu lewat penglihatanmu..” Arman memejamkan mata.

“!!...” Traven mencoba menenangkan diri setelah mendengar Arman berbicara.

Roy menopang dagu di atas lengan sofa kerjanya menyimak sambil merokok. Semua orang saling memperhatikan.

“Besok… cobalah untuk belok ke kanan dan turun ke bawah… menyusuri tangga hingga masuk ke pintu tabung sebelah kiri.. jika kau lihat ada mesin troli.. diam lah dan turun lah bersama lift itu menuju tempat yang kau cari… coba ambil gambar pohon dan alat yang tergenang dalam kolam yang mengitari pohon yang tumbuh di atas batu itu…” Arman membuka matanya.

“^&%^*#^!!!.....” Semua orang terheran.

“Besok!!!!...” Traven berdiri matanya terbelalak.

“….” Arman mengangguk, dia juga cemas tetapi apa boleh buat.

“Sekarang giliran gadis cantik berambut biru dekat gadis berambut hijau…” Arman  tersenyum sopan.

Furen tidak heran, pasti karena Traven memikirkan Rhyno sehingga selanjutnya Rhyno yang terpanggil.

“Baik..”  Rhyno berdiri dan meyakinkan diri menuju sofa, Traven berjalan duduk dekat Furen lagi.

Kini Helena menyentuh bahu Rhyno. Rhyno berdebar-debar sambil melihati Arman yang memejamkan mata itu.

“…..” Arman berkonsentrasi ke alam batinnya yang hening.

“Ya Tuhan!!...” Arman terbelalak.

“$#^%&*!!!...”

Semua orang saling memandang monitor serius, Roy menghentikan isapan rokoknya.

“Aku melihat masa depanmu penuh dengan kehancuran! Pengorbanan diri dan kerusakan!.. kau adalah biang dari semua masalah ini!... dan kau yang bisa menghentikan semuanya!...” Arman menunjuk Rhyno.

“!!!?....”

“Tidak mungkin!!” Traven dan Qio berdiri bersamaan membela Rhyno.

“Kau!!?..” Traven dan Qio bertatapan tajam. Lalu muncul rasa bersaing.

“Ada apa dengan nona Rhyno!!!?..” Key ikut berdiri.

“!!!!?.. Kau cowok hantu… kau akan mati…!!!” Arman bermaksud itu Key.

“!?....”

“Kakak!!...”

Mata key terbelalak.

“…!!!!.” Arman memegangi kepalanya.

“Tapi kau akan hidup lagi dan menyelamatkan gadis berambut biru! Kaluar dari ruangan itu!...” Arman memasang mata tercengang.

“!!!?....” Key menoleh ke arah Rhyno yang duduk dengan muka pucat.

“Rhyno!!...”

Furen bangkit berjalan pelan menuju Rhyno dan memeluknya, sementara Gia masih menutup mulut dengan tangannya sambil gemetaran.

“Jika ingin mewujudkan ramalan itu……” Gia menangis dengan guncangan emosi, Savy memeluknya menegarkan Gia.

“Dan.. pria berambut emas yang memeluk gadis berambut biru….” Mendengar Arman berbicara, Furen menoleh ke monitor.

“Kau akan menyelamatkan cowok tadi dengan cowok lainnya yang duduk denganmu… kau akan menyelamatkan banyak nyawa teman-temanmu… kalian harus bekerja sama…” Arman menggosok keningnya, pusing karena terlalu banyak menerawang.

“Huuufth….” Roy menegakkan duduknya dan membuang putung rokok ke lantai lalu menginjaknya.

"Dan akan ada nama dengan tiga huruf yang mati," Arman menusuk mata Qio namun Qio menatapnya datar dan tajam.

"..." Rhyno tanpa sadar bergenang air mata melihat tubuh Qio yang berdiri kaku memandang monitor.

“Kalian harus punya ide lain.. jika tidak ingin banyak nyawa jadi korbannya…” Roy mengehla nafas tidak paham sedikit pun namun ucapannya berbobot.

“Aku punya teman generasu Kristal dari Afrika.. kalian harus menghubunginya.. tapi aku tidak bisa.. jaringan internet sedang kacau… banyak peretasan karena adanya cyber war…” Arman meminum segelas air mineral.

“Biar ku uruskan.. Arman… katakan alamatnya…” Roy bersiap dengan Laptopnya.

“Kakakmu itu punya banyak mainan yach….” Save bicara setengah sadar masih tidak percaya dengan semuanya.

“Roy memang rajin dan teliti mengamankan data orang berpotensi di dunia ini…”

Ben disamping Save pun masih tidak paham dengan maksud teman-temannya melakukan ini semua namun seolah hatinya tergerak ingin ikut serta membantu seolah ada naluri alami mengalur di sanubarinya.

“Alamatnya….” Arman membuka catatan di kertas yang dia simpan.

“Capten Kiwkiw tiga satu…” Arman membaca.

“Hadeh….” Save pasang palmface mendengar kata-kata aneh itu.

“Kiwkiw hihihi…” Savy tertawa kecil karena tidak terlalu paham jadi tidak terlalu terguncang.

“Baik.. sedang aku sambungkan…” Roy repot sendiri.

“Apakah penglihatan di masa depan tidak bisa dibatalkan dan dihindari?...” Helena trenyuh.

Arman tersenyum pelan-pelan terangkat bibirnya sambil mengangguk, menenangkan hati Helena.

“Kalian harus berbicara pada temanku itu.. namanya Yokyo…”

Saat Arman berbicara, petak frame-nya membelah menjadi dua  dan bergeser ke atas, dan di bawah frame Arman kini ada gambar loading tak tama kemudian video chat yang terhubung ke  Yokyo muncul.

“Yokyo itu laki-laki?!!!....”

Save memegangi kepalanya hampir keluar ingus saat melihat ternyata kulit Yokyo lebih gelap dari kulit Arman.

“Wahh!! Mengagumkan!!!!!...” Vero tercengang, melirik Key yang sangat putih, Vero tertawa kecil saat melihat Key cemberut dibakar api cemburu buta.

“Wah.. ini sesuai mimpiku tadi malam dan tiga hari lalu yang aku ceritakan padamu Arman!...” Yokyo mengenakan bando Kristal yang diikat dengan tali karet, kepalanya berambut gimbal yang tertata rapi dan unik  dengan kemeja berwarna hijau terang, kontras dengan warna gelap kulitnya.

“Kau harus segera menyampaikan beritamu kepada kawan-kawanku ini…” Arman melihati layar laptopnya yang juga terbelah jadi tiga karena dibajak Roy.

“Baiklah kawan! Salam dari Afrika.. berlibur lah kemari jika kalian sudah selamat dari tragedi itu yach!!..” Yokyo memperkenalkan diri, semua orang terheran dengannya. Roy meletakkan kepala di meja karena bosan dan mengantuk karena semalaman begadang mencari bitcoint untuk judi online.

“Aku butuh sukarelawan.. dan anak itu yang duduk di sofa.. yow haloo…!!” Yokyo melambai pada Helena yang ceria.

“Yow.. kau siap!!!?..” Yokyo mengedipkan mata.

“#%$^!!!!..” Savy palm face.

“Iya!!...” Helena melambai.

“Beberapa malam ini….” Yokyo memegangi jidatnya.

“…?!..” Semua orang mengamati, Roy sudah lelap dan mengeluarkan liur di depan monitor.

“Aku bermimpi sangat aneh.. aku melihat sebuah tempat dan aku tidak tahu itu dimana.. lalu.. barusan aku di-chat sama cowok pirang mengatakan ada orang negara terasingkan ingin bicara  padaku.. aku langsung semakin ingat pada mimpiku itu… apalagi setelah melihat muka kalian satu persatu…” Yokyo menunjukkan jari ke monitornya.

“?!..”

“Ini serius saudaraku… dalam mimpiku aku melihat cewek rambut biru meletakkan tangannya di sebuah batu yang ditumbuhi pohon besar… dia menyelam ke bawah air.. entah itu dimana….” Yokyo menunjuk Rhyno.

“!!!....”

“Dan aku melihat getaran aneh terjadi di udara… mesin-mesin di tempat itu.. semuanya mati….”

“!!!???...”

“Cowok lucu-imut di sebelahnya itu…” Yokyo menunjukkan jarinya ke monitor.

“Aku?...” Furen menunjuk dirinya sendiri.

“Ya.. manis muka bayi.. itu kau.. kau akan menjadi tempat penampungan setan yang selama ini jadi dukun peramal negara kalian…” Yokyo mengangkat satu alisnya.

“SETAAN?1...” Ben berdiri kaget.

“Kenyataan yang pahit!...” Arman kaget juga.

“Apa itu setan.. Ben!!!?..” Raick ikutan panik.

“Setan itu mahluk jahat suka memakan darah manusia dan binatang bukan?!!!..” Ben mengernyitkan kening ke Yokyo yang ada di layar mendekatkan wajahnya.

“Setan adalah mahluk asing berkekuatan super yang bisa melakukan apa saja.. mereka jahat pada manusia dan ingin membuat dunia menjadi seperti neraka selamanya…” Yokyo mengambil sebuah kertas bergambar Lucifer dan menunjukkan ke kamera.

“Kyaa!! Fotonya aneh!!!!!! Aku takut!!!” Helena memeluk Rhyno yang berdiri di sampingnya, Key terbelalak.

“Keren!!!..” Save berdiri, Qio menelan ludah.

“Menjadi apa maksudmu!?...” Traven kebingungan.

“Kalian harus memasukkan banyak setan yang dikurung dalam badan binatang seperti ini yang disegel pentagram seperti ini..” Yokyo mengambil kertas lain bergambar kambing dan pentagram lalu menunjukkannya berulang-ulang.

“Seperti ini binatangnya.. ini namanya pentagram.. ini segel.. seperti kunci rumah.. untuk keperluan sihir.. sihir itu keajaiban.. seperti mimpimu jadi nyata.. kau mengerti?!” Yokyo antusias.

Orang-orang menganga.

“Setelah itu apa yang akan aku lakukan?...” Furen mencengkram tangan Rhyno panik.

“Kau akan meledakkan tempat… aku tidak tahu tempat apa.. aku melihat seperti tabung besar berisi banyak jiwa orang mati.. jiwa-jiwa orang-orang yang bisa melihat masa depan… dan salah satunya adalah… jiwa yang kenal dengan anak kembar itu!... yang lagi duduk itu… satunya rambut ungu.. mukamu masih sama dengan kakakmu..” Yokyo sangat khas menjelaskannya dengan nada bahasa Afrika.

“IBU!!??...” Savy berdiri panik, dia mulai memahami arti pertemuan ini.

“Iya dia jiwa yang sangat cantik.. apa dia artis terkenal..?” Yokyo menggosok jidatnya sambil menikmati ingatannya saat ibu Savy melambai padanya berenang dalam tabung yang dia lihat dalam mimpi tadi malam.

“Astaga....!!!” Save mulai geram.

“Kalian harus membunuh raja negara kalian.. otak di balik semua ini.. aku tidak bisa melihat sosok ciri-cirinya seperti apa.. dia adalah seorang laki-laki.. sudah tua dan…” Yokyo menerawang.

“Tunggu, bro!... dia bukan pria tua.. dia anak kecil… perempuan!..” Arman menyela.

“Mana ada raja itu anak kecil perempuan.. itu princess namanya!...” Yokyo menggosok dagu dengan jempolnya.

“Di penglihatanku dia itu gadis kecil bro…..” Arman memijit tengah alisnya.

“Kau ini ada-ada saja….” Yokyo menggeleng kepala.

“Atau!.....” Helena berdiri berjalan mendekati kamera tabulet, dua orang itu memandangi gadis cute itu.

“Atau.. jiwa jahat dari raja jahat yang masuk ke badan anak itu…. Karena dia cucunya!....” Helena berkata sangat berani setelah tiba-tiba mendapat vision.

“!!!???....”

Dua orang itu kaget, sementara semua orang tenggelam dalam perasaannya masing-masing, mereka diam merenung.

“Kau benar!!! Penglihatanku terperbarui… dia memiliki tameng energi panas… aku tidak bisa menembus sosok aslinya..” Arman minum air mineral di gelasnya yang besar sampai habis.

“Aku justru tidak bisa melihat sosok anak kecil yang dia rasuki itu…” Yokyo menyandarkan punggung ke kursi.

“Merasuki?...” Helena memikirkan istilah itu.

“Sepertinya kalian harus hati-hati… oh ya cowok rambut hitam!!!...” Arman memanggil.

“Ah.. aku?...” Traven lemas.

“Besok jam 11 siang semua orang pergi… kesana lah.. pengawas CCTV juga tidak ada…”

“!!?.. iya …” Traven mengangguk.

“Gandakan foto itu sebanyak mungkin Traven.. cetak saja langsung!!!..” Ben suntuk sudah.

“Iya!!!..” Traven mengangguk.

“He~y………….” Roy bangun.

“Iya..!” Ben menyahut.

“Sudah dulu yach… aku ngantuk……” Roy mengelap liurnya.

“Selamat berjuang!...” Yokyo mematikan koneksinya.

“Salam!...” Arman menyusul.

“….” Meh face Roy terlihat dan monitor langsung menghitam.

Ben mencabut kabel dari tabulet-nya.Semua orang berbaring di lantai.

“Tidak!!......” Save teriak asal-asalan.

“Kenapa kau?...” Savy meletakkan kepala di lengan Save.

“Aku capeeek….” Save berguling memeluk Savy.

“….!!!?” Savy iba saat membayangkan nasib ibu dan ayahnya sekarang.

“Aku tidak mau mengingat-ingat ucapan orang-orang itu!!…” Rhyno berdiri dan langsung berjalan keluar rumah.

“Kami pulang dulu!! Makasih kak Vero!!!..” Gia tertatih menyusulnya.

“Terima kasih kak Vero…” Furen berdiri menyusul Rhyno.

“Kau tidak bisa apa-apa bukan?...” Traven melirik Qio yang berbaring sambil berfikir tentang semua hal yang sudah dia saksikan tanpa menghiraukan sindiran Traven yang berjalan menyusul Furen dan Raick.

“Ah… aku mau pergi juga! Ayo Qio!...” Ben berdiri dan keluar rumah.

“Makasih kakak!...” Savy melambai pada Veronica dan menyusul Save yang sudah duluan menyusul Qio dan Ben.

Veronica tersenyum sambil melambai, “Tutup pintunya ya!!!..” sahutnya pada Savy.

“Sayang…” Veronica menuju Key dan memeluknya, Helena berbaring di sofa membelai rambut Key yang duduk di kaki sofa.

“Kalian tenang saja.” Key memejamkan mata, di hatinya tidak ada keraguan saat dia mengingat proses kematian kakeknya beberapa minggu lalu.

“Kita akan lalui semua ini kan kakak…” Helena mengelus rambut silver Key.

“Jika Furen harus menampung setan dalam dirinya.. apa yang akan terjadi kemudian? Mengapa harus dia.. mengapa tidak orang lain saja… mengapa harus Rhyno…”

“Aku rasa.. keluarga Chamazello dan Xavier itu kenal dengan setan-setan itu kak…” Helena segera jatuh tertidur setelah mengatakan itu, dia kelelahan.

“Kau tidurlah….” Key mencium kening Vero lalu berdiri menggendong Helena ke kamar untuk tamu yang menginap.

“Kakak tidak akan meninggalkan Helena kan?...” Gadis Itu memegang tangan kakaknya yang dingin, entah kapan dia terbangun lagi.

“Tidak akan pernah.”

Key mencium pipi Helena dan mematikan lampu tidur, berjalan keluar kamar itu tanpa menutup pintunya.

“Kau yakin akan baik-baik saja… kau akan mati.. tapi hidup lagi…” Vero melihati mata Key yang tidak terdapat pesan apapun.

“Aku juga tidak tahu.. bagaimana bisa hidup setelah mati..” Key berjalan ke kamar Vero untuk merebahkan diri, Vero mengikuti.

Bed Vero sangat lebar, kemudian setelah Key berbaring dia langsung terlelap. Vero sangat letih, dia pun jatuh dari sadarnya.

No comments:

Post a Comment

Bab 22: Tidak Banyak Bicara

 Rhyno akhirnya merenung setelah perkumpulan di kediaman Aman selesai. Semua pemuda Zyo S akhirnya berkumpul untuk merundingkan rencana. Mer...