"Ayah…”
Furen membuka pintu kamar tidur Guarden, ruangan remang dengan lampu tidur yang dinyalakan itu kosong. Furen mencari sosok ayahnya. Remaja itu memanjat ranjang ayahnya dan bersembunyi di balik selimut, memejamkan mata. Setelah diskusi di rumah Vero tadi, kepala Furen jadi semakin sensitif untuk berpikir. Sebentar-sebentar pasti sudah stress.
‘Pulanglah ayah…… istirahatlah di rumah.. ayah….’ Furen memanggil ayahnya dalam hati.
Terbayang wajah Guarden saat Furen menangisi kasih sayangnya kemarin siang.
“Telepati…. Apakah seperti ini…” Furen terbengong, mengingat ucapan Ben beberapa hari lalu.
Furen terlalu lelah mengingat apa saja yang sudah terjadi, kepalanya yang berat akhirnya mengantarkannya pada kantuk dan itu menghilangkan kesadarannya, mata Furen memejam.
“Furen di mana yach?...” Raick memainkan gadget game di bed, kakinya naik ke atas punggung bed.
“Di kamar ayahnya…” Traven membaca buku study tour elektronik yang dia terima untuk bahan menyimak besok.
“Kakak.. aku malas memeriksa Furen….” Itu maksudnya agar Traven mau memeriksa Furen, Raick licik.
“Biarkan saja…” Traven sedang asyik dengan pikirannya.
“Astaga!...” Raick tidak tega juga, akhirnya dia bangun dan langsung berjalan menuju kamar Guarden Chamazello II.
“….” Traven tersenyum tipis melihat tingkah Raick.
Raick membuka sedikit pintu dan mengintip ke dalam kamar Guarden.
“….?... dia molor?...”
Raick menutup kembali lalu berjalan pelan ke kamar Furen di sebelah kamar ayahnya.
“Ada?..” Traven mendongak melihat kedatangan Raick yang memainkan game di gadget-nya.
“Dia sudah pulas…” Raick loncat ke bed dan membanting badan, tubuh Traven terhempas.
“Sepertinya bakalan sepi…” Traven tersenyum tipis.
“Yaa~ch!..” Raick membelakangi Traven asyik dengan game-nya.
“Menurutmu, Kimmy dan Meranda enaknya diapakan?.. Aku juga tidak pernah melihat Furen kencan dengan Gina.. kita terlalu asyik sendiri…” Traven menutup buku elektroniknya.
“Humh!! Mana bentar lagi kita ke Paris kan…!!.” Raick bernada cuek.
“Lagian kenapa ada pertunangan…” Traven menyindir lalu meletakkan buku elektroniknya ke meja dekatnya.
“Itu kan demi menghasilkan gen dan keturunan sempurna.. IQ kita dijodohkan.. dengan IQ jenis mereka.. lagi pula wajah Furen itu terlalu manis.. cocok jika anaknya jadi artis.. hahaha” Raick menelentangkan diri lalu melempar game boy LED-nya ke bantal sebelahnya.
“Aku tidak menginginkan Meranda… aku harus bicara padanya… tapi bagaimana caranya.. kita tidak punya waktu sama sekali untuk mereka…” Traven menghela nafas sambil menarik selimut.
“Kak!!...” Raick memiringkan tubuh menghadap Traven yang sudah menghadapnya.
“Ya.” Traven.
“Aku sebenarnya agak tidak tega dengan semua jenis perempuan.. tapi.. aku juga sama dengan kakak…” Raick melantur.
“Kau ini bicara apa sich?...” Traven mengedipkan matanya berat karena penat.
“Aku membayangkan buah dada Gia.. hihihi..” Raick melet tengil.
“Tolol!!..” Traven mengetuk jidat Raick.
“Aduhh!!!...” Raick yang justru pernah menghabiskan waktu dengan Gia dibandingkan dengan Kimmy, karena Kimmy juga sibuk belajar merancang baju
“Aku tidak bisa tidur kalau tidak ada Furen.. sekali pun ada Rhyno disini haha…” Traven mengetuk jidat Raick lagi.
“Sial!!!... ada apa dengan otakmu hah!!?..”
Raick mencoba mengetuk jidat Traven, keduanya bergulat. Saling menjatuhkan dan berguling kamana-mana hingga terdengar suara mobil di luar berhenti.
“Itu tuan besar?...” Raick melompat dari bed dan berlari mengintip di jendela kamar yang berselimut gorden, ternyata dugaannya benar, dia kemudian bejalan pelan-pelan menuju Traven yang sudah pura-pura tidur.
“Auch!!!...” Keluh Traven saat adiknya menaiki tubuhnya untuk memanjat bed.
“Diam kau!! Tak mau ku berkawan kamu..” Raick menutup mulut Traven dan menariknya ke belakang.
“Hihi..” Traven yang juga stress kemudian berbalik muka cepat dan menjilat pipi adeknya itu.
“Yulk!..” Raick mengelap bekas liur kakaknya.
“Rasakan liur berkhasiatku itu!...” Traven lalu balik badan lagi membelakangi Raick.
“Huh!!..” Raick balik badan menarik semua selimut ke tubuhnya dan menggulung badannya.
“Eeergh….”
Traven menggeleng dan menghela nafas dengan hati-hati agar tidak terdengar dari luar kamar. Traven memeluk Raick. Dan adiknya itu memeluk kakaknya dengan manja.
“Dasar bayi besar!..” Traven menggigit pipi Raick.
o(≧o≦)o
Guarden membuka pintu kamarnya, Nampak Furen tengah lelap. Guarden melihat jam tangannya, sudah menunjukkan pukul nol malam. Pria itu masuk ke dalam kamarnya kemudian menutup pintunya. Pria itu mandi dengan air hangat di kamar mandinya. Suara gemericik air terdengar oleh Furen.
“Ahh…” Pangeran Chamazello itu menggeliat dan berbalik badan, dilihatnya lampu kamar mandi menyala dengan pintu kamar mandi yang terbuka.
“Ayah…” Furen tersenyum manja lalu menutup matanya lagi karena masih mengantuk.
Guarden pun selesai dengan relaxasinya sepulang kerja lalu memakai piyama dan duduk di bed, menyandar di punggung bed.
“Apa kau tadi memanggilku?....” Guarden meletakkan tangannya di kepala Furen.
“Emh!~” Furen berbalik badan ke ayahnya.
“Ayah…….” Furen bangun dan meletakkan kepalanya di pangkuan Guarden.
“Bagaimana ayah bisa tahu?..” Furen menarik selimut.
“Badan keamanan sudah memberlakukan komunikasi telepati dan ayah sudah menggunakan itu… ayah mendengarmu saat rapat tadi…” Pria itu mengusap rambut anaknya.
“Aku hanya membayangkan wajah ayah… aku rindu…. Aku takut….” Furen sesenggukan, suaranya serak.
“Ada apa anakku?....” Guarden mengambil bahu Furen dan menegakkannya.
“Aku pikir ayah tidak akan tidur di rumah seperti biasanya… aku hanya punya sedikit waktu untuk bertemu ayah…” Mata Furen berkaca-kaca.
“Hmh…” Guarden memeluk Furen.
“Ada orang bilang aku harus menampung semua setan dalam badan binatang yang ayah ceritakan itu… lalu membakar tabung yang berisi banyak jiwa….”
“……….” Guarden berhenti mengusap kepala Furen, lalu menidurkan badan Furen dan menyelimutinya.
“Ayah!?...” Furen melihat raut ayahnya berubah.
“Inilah ketakutan ayah.. kau mengetahuinya…” Guarden mengusap kening Furen.
“Ayah?....” Furen meletakkan tangannya di pipi Guarden yang dilewati setetes air jernih hangat.
“Jangan sedih… aku akan hidup… untuk melihat ayah menua…” Furen tersenyum hangat.
“Kau dulu masih kecil… aku sering meninggalkanmu… tiba-tiba kau setinggi ini…”
“Hehe…” Furen terharu.
“Hmhmh…” Guarden terkekeh memeragakan tangannya mengukur Furen.
“Ayah… katakanlah yang sebenarnya….” Furen mengambil guling di belakangnya lalu sigap berbalik badan lagi menghadap ayahnya.
“Baiklah…. Ikut ayah ke ruang kerja… panggil Traven dan Raick… dan…” Belum selesai pria itu mengatakan sesuatu, Furen sudah melompat bangkit dan berlari dengan rusuh membuka pintu kamar dan membelokkan badan mendobrak pintu kamarnya sendiri yang jaraknya berdekatan dengan pintu kamar ayahnya.
“ARGH!!!...” Raick yang rambutnya sedang dijambak Traven kebelakang terkaget.
“Ada apa rubah kecil?..” Traven yang lengannya sedang digigit Raick pun melongo.
“EEH! Kalian belum tidur juga?!...” Furain palm face melihat kekonyolan mereka.
“Ada apa, Cantik?” Raick menggoda.
“Ewm!!.” Furen menelan ludah.
“Dia itu imut bukan cantik!!..” Traven tak mau kalah.
“EWH!” Furain menepuk jidatnya.
“Ayo ikut aku! Perintah!” Muka Furen memerah malu lalu segera berbalik badan dan berjalan keluar kamar.
Raick dan Traven berpandangan lalu segera bergegas menyusul tuan pangeran itu. Ternyata menuju ruang kerja ayahnya, mereka berlari dan saling mendorong.
“Hu~uh dasar..!!..” Kesal Furen yang dijadikan ledekan.
Traven menutup pintu setelah mereka semua masuk.
“Ayo duduk kalian…”
Ayah Furen mencari buku kertas berjilid besar di rak bagian atas dekat pintu kamar aneh di ruangan itu, tidak ada yang tahu itu ruangan apa sebenarnya, ada banyak alat penelitian. Tak lama kemudian ayah Furen menuju tiga remaja yang sudah duduk di sofa tamu yang ada di ruangan itu.
“Nyalakan lampunya satu lagi agar terang… Lihat sini.. mendekat!…” Guarden memasang kacamata single-nya di sebelah kanan matanya.
Raick menyalakan lampu yang lebih terang lagi lalu sigap kembali mendekat ke orang-orang disana.
“Lihat simbol ini!” Ayah Furen menunjukkan gambar bintang.
“Itu pentagram kan….” Furen teringat ucapan Yokyo tadi petang.
“Dari mana kau tahu?...” Guarden menoleh ke muka dongo anaknya.
“Hanya tahu namanya.. majalah konspirasi yang bilang…” Furen tersenyum sok innocent.
“Coba lihat ini!” Guarden menunjukkan gambar kepala seekor binatang.
“Apa itu anjing? Sebenarnya hewan apa itu?...” Raick muak dengan gambar itu, Yokyo sudah memberi tahu tetapi tidak menyebutkan namanya.
“Ini kambing… bukan anjing…” Ayah mereka terkekeh.
“Lalu?...” Raick melongo.
“Pentagram ini berfungsi sebagai segel agar setan tidak bisa kemana-mana.. lalu mereka melempar kambing ke pentagram sehingga setan itu masuk ke dalam kambing.. kambing itu diberi mantra.. agar setan tidak bisa keluar dari kambing itu… kemudian kambing itu dipasang alat seperti ini…” Guarden menunjukkan beberapa gambar kambing yang diberikan alat aneh.
“Apa tadi… man…?...” Raick tidak bisa diam.
“Mantra… itu adalah ucapan perintah.. dan ucapan itu ada kekuatan ajaibnya… ajaib.. hal yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin…seperti.. contohnya…” Guarden berfikir keras.
“Seperti orang mati bisa hidup lagi?... itu kah namanya ajaib..” Raick menyela.
“Ah.. iya… kau pintar.. mati suri… itu ajaib… meskipun bisa dijelaskan prosesnya… bagi beberapa orang yang tidak tahu prosesnya.. akan menganggapnya ajaib..” Ayah Furen agak kebingungan jika memperpanjang penjelasannya.
“Mati suri?...” Furen menggaruk lehernya.
“Iya… mati sebentar lalu hidup lagi… sebenarnya itu tidak mati.. melainkan hanya tidur dengan sangat lemas.. tapi… kadang ada yang benar-benar mati.. lalu hidup lagi… ergh..” Guarden penat.
“Lalu?...” Traven mengernyit.
“Kambing ini akan memberikan semua kabar yang dibutuhkan pemerintah dengan cara telepati… yang akan dibaca oleh komputer untuk diterjemahkan ke bahasa kita sehari-hari agar bisa dipahami.” Guarden membuka mantel piyamanya.
“Nah.. selain itu ada tabung berisikan banyak jiwa orang yang bisa melihat masa depan… mereka akan diperalat menjadi otak komputer untuk membaca masa depan dan memberikan vision baru untuk menciptakan rumus dan desain mesin baru… yang sangat hemat tenaga dan murah.. tapi bahan jadinya sangat mahal jika dijual ke luar negeri…” Guarden menyandarjan diri ke punggung sofa.
“Lalu?...” Traven penasaran.
“Buka halaman selanjutnya…” Guarden menyibakan tangannya ke udara, Raick membuka halaman selanjutnya.
“Itu adalah pelopor negara ini.. founder.. ayah.. akar.. induk.. presiden pertama… petinggi terhormat dan utama dari negara ini…” Ayah Furain mendongak ke atas, wajahnya cemas.
“Jangan kau baca namanya… lihat saja.. jangan kau baca apapun itu!! Dia bisa kesini!!...” Guarden mengusap mukanya.
‘Rivalous Rivlin?... 1430’ Furen melihati nama dan tahun pada foto itu.
“Dia sudah mati tapi jiwanya masih hidup… dia menyatukan jiwanya dengan setan sehingga jiwanya tidak ke alam baka… dan dia kini hidup dan masuk ke dalam tubuh cucunya…” Guarden melirik ke segala sudut ruangannya.
“Apa itu jiwa?... kenapa bisa.. itu kan isi hati kita?... alam baka itu apa?...” Raick tidak bisa berhenti berpikir.
“Jiwa adalah dirimu… tetapi tidak butuh badanmu.. dan… alam baka adalah tempat seharusnya bagi setiap jiwa orang yang sudah mati…” Ayah Furen segera menutup buku itu.
“Oh… karena itu orang mati tidak bergerak lagi… itu karena jiwanya tidak ada di badan lagi?...” Raick mengetuk telapak tangan kanannya dengan kepalan tangan kirinya.
“Nah… Bingo!!.. itu dia..!!.” Guarden menghela nafas penat.
“Siapa cucunya?...” Traven mengusap dagunya.
“Aku belum tahu… anak kecil itu kini menjadi presiden kita… dan pria tua yang selalu kalian sebut presiden dan fotonya dipajang dimana-mana.. itu ayahnya.. aku belum lihat anak itu sama sekali…” Guarden cemas jika arwah orang itu sampai muncul di kediamannya dan menguping.
“Ayah.. tombol mematikan masal itu dimana?... kita harus hancurkan…” Furen menghela nafas berat.
“Itu bukan mesin.. itu benda mistik.. seperti batu besar.. entah diletakkan di mana…” Guarden menggeleng heran.
“Di bawah pohon?...” Traven teringat ujaran Yokyo.
“Mungkin…” Guarden menelan ludah.
“Ayah! Kenapa harus aku yang menampung setan-setan itu!?...” Furen teringat dengan masalahnya, sampai-sampai berdiri geram.
“Argh!!... begini.. dahulu… kakek Chamazello.. kakek Xavier.. Kakek Vinzel… Kakek Fordann.. kakek Mozart.. kakek Magus dan kakek Juliuz.. melakukan upacara… mereka berdiri di setiap sisi pentagram dan si tua di foto tadi berdiri di tengah… mereka memasukkan setan ke tubuh pria itu… pintu keluar dan pintu masuknya adalah lewat kakek Chamazello.. sementara kakek Xavier yang bertugas menghancurkan gerbang masuk dan gerbang keluarnya agar setan itu terkurung selamanya.. itu bisa juga digunakan agar setan itu tidak bisa masuk lagi…”
Guarden mencatat nama-nama kakek itu di kertas biasa dengan pulpen biasa, lalu mendekatkan mukanya ke arah depan seolah ingin memberi keseriusan.
“Ternyata begitu… itulah mengapa harus Rhyno yang menyentuh batu itu?... apa isi batu itu?...” Traven terheran.
“Kalian harus mengumpulkan enam cucu kakek itu.. dan menyeret cucu pria tua di foto tadi ke tengah kalian agar setan kakeknya bisa keluar dari tubuhnya….” Ayah Furen berkeringat dingin.
Furen mengangguk yakin meski butuh memaksa diri untuk berani melakukannya.
“Cucu mereka ada banyak!...” Raick melongo.
“Tidak.. tidak… ada sebuah ramalan.. “ Ayah Furen menggeleng.
"Ra.. ramalan!!?..” Raick tercengang.
“Ya… mereka akan menitiskan jiwa mereka ke cucu mereka yang lahir di tahun yang hampir bersamaan… coba lihat…” Guarden menjelaskan dengan pulpen yang dimain-mainkan.
“Jika ada Furen dan Rhyno.. mereka tidak jauh berbeda usia.. maka ada lagi.. seusia dengan Furen atau diatas Furen.. setahuku .. Furen yang paling muda…” Guarden memikirkan lebih dalam.
“Menitiskan?...” Furen kembali bengong.
“RGGH!!.. menurunkan jiwa…” Guarden memijit tengah alisnya dengan pulpen.
“Wah berarti Furen benar-benar punya jiwa kakek Chamazello!!!..” Sorak Raick kagum.
“Wah.. hihi..” Furen tidak merasakan perbedaan apa-apa.
"Batu itu sebenarnya meteor… aku yang menemukannya…” Guarden mengkerutkan alis.
“Meteor!?... wowo!!..” Raick ternganga.
“…?.” Traven menyimak.
“Herlix, rekan ilmuwanku.. dia menggunakan itu untuk menyambungkan kekuatan kambing bersetan tadi ke segala arah dengan telepati.. hingga dia membuat cairan Gravicwalken.. itu cairan biasa.. bukan kimia.. meteor itu dipendam dalam air, itulah yang dibagikan ke masyarakat.. meteor itu terikat pentagram.. dan energinya di-carge dengan pohon yang ditanam pada meteor itu..” Guarden mengernyitkan alis.
“Di-carge dengan pohon!?...” Traven merasa aneh.
"Bukan terbuat dari bahan kimia tapi menjadi berkekuatan supernatural, air ini sangat berpengaruh di negara ini" Guarden.
“Tidak memakai listrik… kekuatan meteor itu bersifat energi plasma…” Guarden menduga, pasti anak-anaknya bakalan bertanya lagi dan itu memuakkan.
“Plasma?...”
“%%#!!! Plasma itu halus..!!.” Guarden asal-asalan menjawab, muak dengan menterjemahkan kosa kata yang dihilangkan pemerintah.
“Seperti hati Furen yang plasma sekali..” Raick menyimpulkan sambil melongo.
“Jiyaaah!!!!...” Furen ternganga palm face merespon ledekan Raick.
“Hahahaha!!!...” Ayah Furen tertawa menggelegar, kali ini dia berfikir lebih baik membiarkan saja anak-anaknya berfantasi.
“ARRRGH!.....” Raick suntuk berat.
“Herlix itu siapa?... apakah…?...” Traven seperti mengingat nama itu.
“Iya… Herlix adalah ayah temanmu itu.. Rhyno Xavier…” Guarden sudah mendengar nama Rhyno sering disebut.
“Bukankah kalian dahulunya ilmuwan.. tapi kenapa… ini bukan hal yang futuristic.. ini kegiatan seram… berbahaya… apa namanya… mistik?.. ghaib…?..” Raick mengkritik karena bingung.
“Ya.. namanya paranormal.. tidak normal.. alkemistik itu hal yang berkekuatan ajaib… entahlah… kami memang sudah tidak waras karena membaca teknologi mistik yang dibukukan kakek kami… Amerika menolak proposal proyek ini… padahal ini cara praktis untuk mematuhkan masyarakat.. Amerika lebih memilih untuk mengembangkan MK Ultra yang jauh lebih berbahaya…” Papar Guarden.
“Ah….. teknik ayah jauh berbahaya kan? Bisa membunuh masal!?...” Furen menahan nafas di pipinya, sebal.
"Kekuatan negara ini melebihi teknologi mesin elektromagnetik dan super nano microwave" Guarden.
“Itu… setelah melakukan exploitasi kekuatan setan.. setan meminta syarat.. mereka ingin makan banyak darah.. dan jiwa manusia.. maka orang di foto tadi memberikan kesepakatan.. setelah negara berjaya.. dia akan menumbalkan banyak masyarakatnya sendiri untuk setan-setan itu..” Guarden menggeleng-geleng.
“Tumbal itu apa?..” Raick kepo.
“Pengorbanan…” Guarden melirik Furen yang menganga heran.
“Jadi…” Traven memegangi jidatnya sedikit memijitnya.
“…”
“Jadi pelan atau cepat… pasti mematikan masal orang-orang itu benar-benar sudah ditentukan akan dilakukan bukan?... Genosida... Depopulasi...” Traven menyimpulkan.
“Benar….” Guarden mengangguk.
"Sekarang mereka membunuh orang-orang di negara luar sebab belum bisa membunuh orang di negara ini, sebagai gantinya maka penumbalan dilakukan di negara-negara luar sana" Guarden memejam mata.
“Jadi bagaimana sekarang?....” Raick melempar pandangan ke Traven yang sudah lemas berpikir.
“………” Traven mencoba memahami dan menghubungkan berbagai ingatannya tadi siang dengan informasi yang malam ini dia dapatkan.
Semua orang memandang Traven dengan sabar.
“Baiklah aku sudah mengerti semuanya…..” Traven.
“!!??.....”
“Kita kumpulkan enam cucu pahlawan bukan.. lalu memasukkan semua setan untuk sementara ke badan Furen… lalu menyeret gadis kecil presiden itu ke pentagram dan memusnahkan setan-setan itu sekaligus!!?…” Traven memeragakan dengan tangannya.
“!!?...”
“^$_$#!!??…”
“HAAARGHHH!!! Furen tidak bisa lama-lama… dia tidak akan kuat!!! Itu berbahaya!!!!...” Ayah Furen menepuk pahanya, kesal.
“OH!!!...” Raick heran.
“!!?...” Furen tegang.
“Kenapa?...” Traven polos.
“Setan itu sangat panas… bisa saja kesadaran Furen terambil Dan justru Furen jadi mengamuk tidak karuan…..” Guarden memijit jidatnya.
“Hum… Aku punya kesimpulan lagi…. Tapi…”
“…?!..”
“Eh… akan aku beritahukan segera.. maaf aku tidur dulu… selamat malam ayah…” Traven bangkit dari sofa dan membungkuk memberi hormat lalu pergi begitu saja meninggalkan mereka semua.
“Apa dia benar-benar sudah mengerti?...” Guarden menoleh ke Furen.
“Dilihat dari matanya saat dia berpikir tadi… sepertinya dia mengerti sekali ayah…” Furen tersenyum lalu berjalan mematikan lampu ruang kerja.
“Ayo istirahat… baginda raja Chamazello..” Goda Furen dengan senyumnya keluar dari ruangan itu, Guarden tersenyum tipis lalu menuntun Raick keluar bersamanya.
(∩︵∩)
Pagi di sekolah…
Martin asyik menyeting lensa kameranya di atas atap gedung sekolahan untuk memotret pemandangan palabuhan nan jauh di sana, saat pagi hari ada cahaya emas matahari yang indah.
“Eh!...” Suara cewek kaget melihatnya, suara itu dari arah belakang Martin.
“ARGH!!!....”
Martin merinding, anak nakal yang sejoli dengan Revo dan suka mengabadikan momen ini sontak menoleh ke belakang.
“Ternyata kau, Lim…”
Martin tanpa sengaja tadi menekan taken saat terkaget.
“Eh apa ini!!?..” Martin kaget.
“Euh!?..” Lim malas membuka mata lebar untuk ekspresi Martin.
“Coba kau kesini!..”
Lambai cowok itu ke teman sekelasnya, mereka memang jarang berbicara bersama karena tempat duduk Lim paling pojok sebelah kanan, bahkan dia duduk sendirian juga pemurung tidak pernah istirahat dengan orang-orang, tapi setidaknya Martin tahu bahwa Lim sepertinya suka menyendiri di atap ini.
“Ini karena lensaku yang gagal focus atau apa?...” Martin menunjuk ke layar review hasil taken barusan, nampak sosok seorang gadis dengan aura hitam menyelubunginya tengah berjalan di halaman sekolah sambil membawa boneka.
“Ah!!!...” Lim tanpa sadar melangkah mundur, shocked.
“Ada apa, hey?!!...” Marti melihat wajah Lim menjadi pucat, dia memegangi bahunya sendiri.
“Ja..jangan menakuti aku?!! Aku jadi merinding nich!!!...” Martin menggantungkan kamera ke lehernya dan menghampiri Lim, memegang lengan remaja perempuan itu.
“Aku juga merinding… aku mencium atmosfer jahat…!!!...” Lim shocked.
“!!??...” Martin semakin merinding.
“Jadi itu tadi apa?!...” Martin panik.
“Ayo kita lari ke kelas!!....” Martin melihati wajah bengong Lim menjadi semakin takut.
“TAP! TAP! TAP!!.”
Suara kaki mereka memburu panjang tangga lalu berlari menyusuri koridor.
“Martin!!...” Lim tersengal lelah.
“Tadi itu apa!!!.. hantu!!!!...” Martin tidak asing dengan kata-kata yang sering diucapkan Ben dan Save jika memasuki bangunan tua di kota bawah untuk sembunyi-sembunyi melakukan pesta minuman keras.
“Ha… hantu?....” Lim masih asing dengan istilah itu.
“$#%&%!!!...” Martin mengumpat kata-kata jorok.
“AARGHH!..” Lim teriak menutupi kedua telinganya.
Sosok gadis itu kini tiba-tiba ada di hadapan mereka sambil menyengirkan senyuman tipis yang dingin.
“LIIM KABUUR LIIIIM!! AAARGH kentang goreeeng!!! Ibu!! Ada hantu!!!!.....” Martin menyeret tangan Lim dan berlari berbelok ke koridor arah kelas mereka.
Lim berusaha lari lebih kuat lagi tidak mau tertinggal.
“BRAKKK!!!...” Martin membuka pintu kelas dengan keras, semua anak memperhatikan.
“MA!... MAAFKAN KAM!!... Kami pikir sudah telat!!!..” Martin menutup pintu tergesa-gesa.
“Hey!! Kau ini kenapa sich?!” Nick agak sewot.
“Hehehe…” Martin berjalan ke bangkunya, duduk di samping Revo.
“Ada apa, Bro?!” Ben memperhatikan cowok yang duduk nomor dua paling kanan depan meja guru ini.
“Ada setan, bro.. sumpah dech.. aku sial banget!!...” Martin berkata lirih sambil menunjukkan layar review hasil taken-nya.
“Apa? mana?...” Revo menoyor belakang kepala Martin ke depan.
“Eh!! Sialan kau..!!..” Martin menjitak Revo.
“Ini!! Matamu lihat ini!...” Martin menunjuk ke monitor.
“Mana? Kau yang setan!!..” Revo mengumpat.
“#&!!!!! Astaga! Tadi ada disini dia berdiri disini! Gadis itu!!!...” Sosok itu hilang dari sana, Martin semakin merinding.
Dia pelan-pelan menoleh pada Lim yang sudah pucat memandanginya.
“Heee….”
Martin melambai pelan ke arah Lim dengan muka masam senyum tidak baik-baik saja, kemudian menunjuk-nunjuk monitor kameranya.
“!!!!...” Lim bangkit dari duduknya lalu berjalan menghampiri bangku Martin.
“Eh!!..” Raick agak kaget saat dilewati Lim barusan.
“Itu Lim kan.. cewek peka dengan energi ghaib… sepertinya begitu…” Kata Traven yang duduk di depan Raick.
“Ohh.. gitu yach.. dia jarang bergaul..” Raick melanjutkan membaca buku elektroniknya.
“Nama belakang dia apa?...” Furen tidak menoleh.
“Lim Margaretha.. kan..” Sahut Raick, meletakkan kepala di meja karena mengantuk.
“AH!! Tadi ada koq!!.. bisa hilang gitu!!!..” Lim menutup mulut dengan dua tangannya.
Furen memperhatikan Lim dengan sangat serius mimik ekspresi mulut Lim, Furen menduga-duga kata-kata yang dia ucapkan.
“Bu guru sudah datang!!!...” Reva mengabari lewat microphone.
(∪ ◡ ∪)
Akhirnya Furen berhasil meyakinkan ayahnya untuk menunda keberangkatannya untuk meneliti masalah mereka lebih lanjut, tetapi Furen hanya diberi waktu sepuluh hari oleh Guarden. Kini Rhyno sudah mengerti semua informasi yang Furen gali. Pada akhirnya Qio dkk terlibat masalah ini dan ikut mengetahui kelanjutan informasi mendalam soal itu.
Traven memberikan hasil fotonya saat study tour, ternyata pohon di atas batu itu ada di gedung departemen intuisi negara yang lama. Untuk menganggapi itu semua, maka Ben membantu terus agar mereka bisa bercakap dengan Yokyo dan Arman.
Mereka juga berlatih meditasi, itu karena Helena yang menjadi sering menenangkan diri saat mendadak stress saat diskusi. Ternyata selama ini solusi agar setan itu tidak menguasai diri Furen adalah dengan cara bermeditasi.
Yokyo dan Arman mengajari para remaja atheis itu cara bermeditasi.
Hingga semua masalah hampir selesai, Qio membantu mereka mencari informasi mengenai cucu para pahlawan yang selanjutnya dicari lewat pengecekkan data sipil yang ada di kantor polisi.
Sayangnya cucu kakek Vinzel, Mozart dan Juliuz justru belum ditemukan. Qio menduga jika mereka tidak tinggal di negara terkutuk itu. Sementara Traven menduga kalau Juliuz itu kini berubah nama menjadi Julio, dia akhirnya mencurigai status keluarga Robert Julio sang ketua kelas.
Meski agak menyebalkan, Traven dan Raick akhirnya meluangkan waktu untuk jalan-jalan sepulang sekolah dengan tunangan mereka, Meranda dan Kimmy. Seperti yang dua kakak beradik itu duga, Meranda dan Kimmy tidak menginginkan perjodohan. Mereka agak tertolong dan merasa lega dengan informasi ini sehingga bisa kembali meneliti. Atau bahkan jika meninggalkan mereka ke Peris bersama Furen.
Sampailah sudah ujung acara belajar anak-anak didik Prime Revolutioner High School hari ini…
“Sudah satu minggu Lim tidak sekolah.. bisakah kalian menanyai alasannya?..”
Bu guru agak cemas mengecek absen Lim, karena tidak ada keterangan apa-apa saat Lim tidak masuk sekolah dari pihak keluarga Lim.
“Iya, Bu.. kami akan mencari tahu..” Reva menyahut dengan sopan.
Bel berakhirnya sekolah pun berbunyi, tak lama kemudian para siswa keluar gedung sekolahan beramai-ramai ke gedung parkir bertingkat. Sangat ramai sehingga harus mengantre, karena itu anak-anak kelas satu A memutuskan asyik mengobrol dulu di kelas selagi kakak kelas mereka saling menyerobot cari jalan keluar sekolah untuk pulang. Itu lah sisi serunya sekolah, pihak sekolah membiarkan saja keramaian seperti itu untuk masa muda siswanya.
“Baiklah.. aku dan Robert akan ke rumah Lim, doakan kami sukses ya..!!..” Reva hendak beranjak pergi.
“Tunggu! Aku ikut woy!!..” Rhyno berdiri mengangkat tas kecilnya.
“Apa-apaan kau ini Rhyno!! Jangan sok jagoan disini.. ini tugas kami berdua selaku ketua dan wakil ketua siswa kelas ini…” Reva angkuh mempertahankan reputasinya yang dipercayakan OSIS kepadanya.
“Persetan dengan itu semua!!... Aku ikut juga!!” Martin menyela sambil berdiri.
“Kalau nona Rhyno ikut berarti aku ikut!” Furen berjalan menuju depan kelas.
“Furen!! Kau!..” Reva memandang bocah murah senyum itu dengan kesal.
“Ada apa sayang! Kenapa!?..” Gina menghadang Furen.
“Oh.. ya.. Gina!! Kemarilah!!..” Rhyno teringat sesuatu.
“Aku?!..”
Gina shocked karena tidak pernah merasa punya urusan dengan Rhyno.
“Iya cepat lah! Princess Chamazello!!..” Rhyno melambaikan tangan.
Gina berjalan menuju Rhyno.
“Coba cari tahu penyebab kematian ibu Save dan Savy.. Furen dan aku sedang menyelidiki itu..” Bisiknya pada Gina rapat-rapat.
“AAAH!!!!..” Gina shocked menutup mulut dengan tangannya, menoleh ke Furen dan mendapati anggukkan Furen.
“Iya…” Gina menoleh pada Rhyno sambil mengangguk ketakutan.
“Karena itu kau akan dengan Veronica dan akan dikawal Key.. biarkan Furen dan aku meneliti hal lain dengan kawan-kawan.. yach!!..” Rhyno menepuk bahu Gina lalu berjalan menghampiri Reva.
“Tunggu aku ikut!!!...” Traven melambai dan bangkit dari tempat duduknya, menghampiri Robert.
“AARGH!!! Tambah banyak!!!..” Protes Reva.
“Biarkan Traven ikut!” Robert mengketus.
Dia suka berbicara dengan Traven apalagi rencananya akan membahas pelajaran di study tour yang akan diakhiri besok.
“Bolehkah aku ikut!! Aku dekat dengan Lim di luar sekolah.. ..” May tersipu meminta izin ke Robert.
“!!!?...” Reva merasa dicuekin May.
“Siapa saja bisa ikut!! Lim selama ini menyendiri.. jika kalian ikut dia akan senang!” Robert melangkah keluar pintu kelas.
“YEAAH!!!...” Martin terbelalak senang.
Akhirnya seisi ruangan kelas satu A berbondong-bondong melakukan konvoi ke rumah Lim.
“Seru sekali kalau bersama teman-teman begini!!..” Save merasakan sensasi tersendiri.
“Iya! Kompak begini rasanya seperti sehati!” Savy menyalakan musik.
Sementara itu di mobil Martin..
“Ah.. kenapa sich kau mau ikutan!!?..” Ben menggerutu disamping Martin yang sedang menyetir.
“Aku melihat hantu bersamanya.. besoknya dia tidak masuk sekolah! Jangan-jangan dia diculik hantu itu!!..” Martin tidak habis pikir.
“Jadi gara-gara hantu itu kau tadi malam bisa kalah balapan!!” Revo menjitak Martin.
“Dasar sialan kau!..” Umpat Martin ingin balas dendam saat turun dari mobil nanti.
“Sebenarnya hantu apaan sich!!?..” Qio sang ketua genk yang pendiam itu kini menjadi ikutan stress.
“Aku tidak tahu! Aaarghhh!!..” Martin merinding lagi.
“Kau jangan sebut-sebut istilah hantu, setan, iblis atau apa pun itu di depan orang-orang atau aku akan menendang bokongmu nanti yach!!..” Ben membentak.
“Iya!! Dasar kentang hangus!!!..” Martin menimpal.
Sementara itu di mobil Rolland..
“Kau kenapa May..?.” Trixie menoleh pada May yang duduk sendirian di jok belakang, Rolland memperhatikan jalan.
“Aku takut terjadi apa-apa.. aku tidak melihat Lim beberapa hari ini.. kamarnya tidak terang.. lampu kamarnya mati terus…” May memeluk dirinya sendiri.
“Kau tenang saja, May!..” Rolland ikut cemas.
“Masalahnya, SMS terakhir Lim padaku itu bunyinya aneh…” May menyodorkan Tabulet-nya pada Trixie.
“Ah!!!?..” Trixie terkaget.
“Apa bacaannya?!...” Rolland kepo.
“Tolong aku.. begitu katanya..” Trixie ketakutan.
“Aku jadi takuuut!!!..” May berteriak.
“AARGGH!! May hentikan itu!!!...” Keluh Rolland.
“Ma.. maaf!!!..” May memeluk seat Trixie.
“Aku juga cemas begini jadinya… Lim itu terlalu pendiam dan pemurung seperti Key..” Trixie kebingungan jadinya.
“Tapi mendingan Key.. serius dech!!..” Rolland membelokkan setirnya.
“Ah? Koq gitu?...” Trixie dan May terheran.
“Karena… Key punya anak buah dan di-backup Furen kan! Apa lagi?... sekarang dia dekat dengan Rhyno juga… dia itu bunglon sosial!...” Rolland tidak habis pikir.
Sementara itu di mobil Rhyno...
“Ada apa sich?...” Gia cemas.
“Aku mencium energi yang sama dengan Key dan Furen..” Rhyno menuruti instingnya.
“Ah?!...” Gia tertegun.
“Selama ini kita sudah kecolongan!!... Furen SMS aku…. tiga hari mendatang dia akan ke Perancis!! Aku sangat stress hari ini!!.. masalah kita belum terpecahkan!!.” Rhyno memukul-mukul keningnya pelan.
“Nona….” Gia menahan nafas sedikit sesekali karna khawatir pada kesehatan Rhyno.
(~ ̄▽ ̄)~
“Oh ini rumahnya….” Rhyno menuruni mobilnya.
“PLETAK!!!!!..” Martin menjitak Revo sangat keras.
“ARGHHH!!!.” Revo tak habis pikir kalau Martin pendendam, Martin tersenyum puas.
“Waaah jumlah kita banyak sekali!!...” Reva berkacak pinggang marah.
“Perwakilan saja!!..” Rhyno maju ke depan Reva.
“Siap!..” Furen menyusul.
“Aku!! Kali ini biarkan aku!!..” Martin maju, sebelum Revo menjitaknya lagi.
“M.. Martin!!!..” May menuju Martin.
“Ada apa?!!...” Martin terheran.
May menunjukkan monitor tabulet-nya sambil menghela nafas berat.
“!!?...” Martin tercengang.
“Apa!!?..” Rhyno menggeser bahu Martin, melongo ke tabulet May.
“Astaga!!?...” Rhyno menganga.
“Ada apa nona Rhyno?...” Furen merebut monitor May.
“Aw… kacau sekali…” Furen menunjukkan pada Robert.
“Bagaimana bisa?!!... Kita tidak bisa ikut campur.. serahkan saja pada polisi…” Robert bijak dengan ketus.
“Tidak.” Traven memegang pundak Robert dengan sigap.
Robert menoleh pada Traven dengan tatapa tajam.
“Anak muda yang lebih tahu masalah ini, mereka lambat..” Traven tersenyum nyengir.
“Hahaha…”
Robert tertawa kecil lalu menuju rumah Lim, sementara para remaja lain yang memarkirkan mobil di depan rumah Lim yang berada di pinggiran jalan itu bersedia menunggu dengan sabar dan mengobrol, menyimak ceita May soal sebelum hilangnya Lim.
(︶︹︺)
“Lhoh! Kupikir dia ke rumah keluarganya di jalan Versailess delapan..” Tutur bibi Lim yang duduk di sofa, menyambut kedatangan teman-teman Lim.
Rumahnya tidak terlalu besar dan tidak akan muat untuk menampung semua tamunya, dia senang jika Lim diperhatikan banyak orang.
“Ke rumah orang tuanya?...” Reva menoleh pada Rhyno yang berpikir.
“Jadi bibi tidak tahu kalau Lim selama ini tidak sekolah?...” Martin menyela.
“Tidak.. aku rasa dia di rumah orang tuanya dan diajak jalan-jalan seperti biasanya.. orang tua Lim itu.. agak suka berlibur di hari kerja.. atau melakukan perjalanan bisnis..” Bibi tua itu sudah bermata sipit.
“Baiklah Bi, kami akan menjenguk Lim ke sana.. terima kasih..” Rhyno menjabat bibi itu kemudian berdiri dan pergi.
“Terima kasih bibi..” Reva ramah, lalu menyusul Rhyno.
“Sama-sama..”
Bibi Lim keluar rumah dan melihat banyak anak remaja memarkirkan mobil hybrid di jalan depan rumahnya yang terletak hampir memasuki batas kota Prime Crown.
“Terima kasih sudah datang.. maaf rumahnya sempit yach…” Bibi Lim menghampiri kerumunan itu.
“Ah.. bibi tenang saja yach..” Save menyapa.
“Ayo kita ke St. Versailess 8!!!..” Lambai Rhyno sambil masuk mobilnya.
“Bibi kami pergi dulu yach!!...” Savy ramah.
“Iya… hati-hati ya…” Bibi itu melihati mobil melaju satu persatu menuju kembali ke Prime Crown City.
“Itu kan jalan komplek mansion pahlawan?... apa Lim anak orang kaya?...” Raick berfikir, kali ini Traven yang menyetir.
“Bukannya katamu anak Margaretha… siapa dia?...” Traven menyalahkan Raick yang tidak terlalu menguasai informasi.
“Coba tanya Kimmy atau Meranda… itu terdengar seperti nama-nama desainer… aku pernah baca di majalah saat menunggu Gina dandan dirumahnya hahaha!!...” Furen terkekeh.
“Iya!..” Sungut Raick, lalu menelfon tunangannya Kimmy.
“Ya.. honey sweety!!.. aku sedang di jalan nich..” Bete Kimmy terdengar.
“Hay cantik! Kamu kenal nama Margaretha tidak?!!..” Raick pun cemberut.
“Oh itu.. e… sebentar ya….” Kimmy sepertinya sibuk, mau tak mau Raick harus sabar menunggu.
“Euh.. kamu disitu babe?...” Kimmy bersuara lagi.
“Iya aku di sini!..” Raick agak tidak sabaran.
“Hahaha..” Traven mengejek.
“Margaretha itu orang yang viral loch.. dia desiner ternama dan pebisnis ulung.. istrinya pak gubernur kan?...” Kimmy.
“Wah!! Begitu ternyata!!.. lalu kenapa kau tidak dekat dengan Lim?! Dia kan anak orang keren!?..” Raick jadi kepo.
“Hahaha… Lim yang sombong kan… orang pikir dia culun karena pendiam… bajunya itu ngga ‘in’ banget.. biasa aja..” Kimmy.
“…” Raick mendengarkan.
“Tapi kalau di luar dan berpesta kau harus lihat, babe!! Dia super sombong!!.. ieuwh!!! Siapa yang mau berteman sama dia!! Mendingan Reva si tukang celoteh itu dech!..hahaha...” Kimmy tertawa centil khas cewek yang suka ke salon.
“Lalu kalau sombong kenapa menggembel di sekolah?..” Raick tidak habis pikir.
“Mana aku tahu, babe sweety-ku… muachh!.” Kimmy mematikan telfonnya langsung.
“Hey!! Dasar cewek aneh kau!!.” Raick mengumpati telfon yang sudah off.
“Hahaha mana mau dia jawab!! Kalau rekaman menjelekkan orang di telfon tersebar, maka akan merusak citranya.. telfon kita kan online.. diawasi admin server jahil..” Traven menyadari jika pembicaraannya pun diawasi pemerintah saat ini, di dalam mobil.
“Ah… aku jadi centil juga nich suka bergosip…!” Raick mengusap mukanya.
“Hahaha.. makanya jangan dekati cewek!..” Furen mengejek.
“Iya syantique!!...” Raick memajukan tubuhnya, menjilat telinga Furen.
“^$#%!!!...” Furen berbicara jorok sambil menoleh ke Raick.
“Hahaha!!!..” Raick bersandar agar tidak dijangkau Furen.
“Akan aku hajar kau nanti di rumah!!!.” Furen tersenyum licik.
“Hahahaha!..” Traven tertawa aneh karena tanpa intonasi suara yang pas.
“Astaga.. ini mansionnya?...” Traven menoleh ke kanan.
“Woah! Gila juga…” Raick terheran.
“Kau yakin dia Margaretha?... apa bedanya dengan Veroxane.. wanita selalu malas memakai nama ayahnya..” Traven berbelok ke kanan, gerbang sudah terbuka saat mobil Robert memencet tombol terlebih dulu.
“Aku rasa Kimmy tidak mau ikut melihat Lim karena persaingan sosialita yach?..” Raick menyimpulkan saat sudah turun dari mobil, dilihatnya Rhyno berjalan menghampiri Furen.
“Coba kau lihat… dia ini marganya Mozart kan.. ini rumah Blakus Mozart.. gubernur distrik ini kan?..” Rhyno tersenyum lebar.
“Aku rasa jika Robert cucu Juliuz.. maka benar ramalan itu.. kakek kita pasti akan menitiskan jiwa mereka dan mempertemukan kita agar mudah..” Traven menyandarkan diri ke mobil melihati teman-temannya masuk ke dalam mansion.
“Aku jadi berdebar…. Jika kakek menolong kita agar mudah bertemu.. itu tandanya mereka juga ingin kita agar cepat menghancurkan negara ini..” Furen tersenyum tipis.
“Memangnya ada yang seperti itu? Ayo kita masuk…” Gia tiba-tiba datang dari arah belakang Gia.
(ˇ▽ˇ)-c<ˇ_ˇ)
“HE~ARGHH!!!...”
“!!?....” Lim meronta-ronta, tangan dan kakinya diikat ke tempat tidur.
Reva dan Rhyno bertukar pandangan. Hanya mereka berdua yang boleh masuk melihat ke kamar Lim sebagai perwakilan kelas. Kedua remaja itu keluar dari kamar Lim karena dipersilahkan pelayan.
“….” Ibu Lim diam saja dan terus menutup mulut dengan tangannya yang memegang tissue.
Rhyno dan Reva menuruni tangga lalu duduk di sofa depan ibu Lim, Rhyno duduk dekat Furen. Gia agak heran kenapa Rhyno tidak menghampirinya.
“!!!?...” Gia menoleh ke sisi kirinya karena tersenggol sesuatu, ternyata itu Revo.
“Hay..” Revo tersenyum ceria.
“Aneh!?” Gia memalingkan muka cepat-cepat.
“%$^&*!!...” Palm face Revo merasa Gia tolak.
“Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit?.. ada psikolog dan dokter.. sepertinya Lim menderita? Mulutnya dibungkam.. kenapa?...” Rhyno agak berani.
“!!?...” Teman-teman Rhyno tidak berani berkomentar, shocked mendengar ucapan Rhyno.
“Kalian semua.. benar-benar teman baik Lim?...” Ibu Lim bernama Margaretha Thona itu melihati muka-muka siswa kelas satu A, mereka mengangguk.
“Iya kami temannya..” May menyahut dengan cemas.
“Aku tidak tahu bahwa Lim punya teman sebanyak ini…” Ibu Lim tertegun.
“Ada apa?...” Rhyno menanyakan lagi.
“Kau siapa?...” Ibu Lim menyindir status kepentingan Rhyno kenapa harus dijawab.
“Aku Rhyno Xavier anak mendiang Herlix Xavier..” Rhyno memasang muka sok cemas.
“!!?...”
Teman-temannya shocked termasuk Robert, selama ini mereka tahunya Veroxane adalah nama belakang Rhyno.
“Ouh!!!?...”
Muka Ibu Lim agak berubah menunjukkan kepanikan medadak, hal itu terlihat jelas dan cukup aneh bagi teman-teman Lim.
“Tidak apa-apa…” Ibu Lim memalingkan muka.
“Aku…”
Rhyno bigung harus apa, akhirnya dia berbisik pada Raick agar membubarkan teman-temannya, kemudian Raick membubarkan mereka.
“Loh?!!!..”
Riff dan Nick heran melihat orang-orang keluar mansion leih cepat. Riff dan Nick sedari tadi mengobrol di halaman.
Kini di ruang tamu hanya ada Furen, Robert, Ben, Martin dan Rhyno.
“Kenapa masih ada empat orang.. satu orang saja sudah cukup…” Ibu Lim memberi isyarat.
“Aku dan Furen jelas tidak bisa terpisahkan dari Lim.. kami memiliki kewajiban yang sama… Dia keturunan Chamazello..” Rhyno.
“!!?... apa itu…” Margaretha memalingkan muka mengalihkan perhatiannya.
“Nyonya pasti tahu sejarah keluarga kita kan!!..”
Rhyno meyakinkan, kegigihan Rhyno itu dilihati Robert, dia sampai terheran dengan Rhyno yang terus berjuang.
“Iya!.. anda pasti tahu!” Robert ketus sambil menyilangkan lengan.
“!?...”
Furen dan Rhyno langsung menoleh pada Robert yang cuek itu, mereka bertanya-tanya benarkan dia cucu Juliuz.
“!!!?... ka.. kalian..” Margaretha menyerah.
“Baiklah ikut aku… tapi siapa mereka berdua..” Wanita glamor itu berbalik badan menunjuk ben dan Martin setelah berjalan beberapa langkah.
“Ben..” Rhyno menunjuk Ben, Ben menata kacamatanya.
“Dia informan! Dia sangat berbakat intelejen.. dan Martin tahu penyebab mengapa Lim bisa seperti itu..” Rhyno meyakinkan sambil bergantian menunjuk Martin.
“Baiklah…tapi jangan mengambil gambar apapun!” Margaretha membentak keras Martin yang mengalungkan kamera di lehernya, cowok itu mengangguk lalu wanita itu menaiki tangga menuju kamar Lim. Remaja-remaja itu mengekori. Lim masih saja meronta-ronta.
“Astaga!..” Ben shocked, Robert mengernyitkan kening menganalisa.
“Kacau sekali…” Furen mendekati Lim.
“Furen!!.. jangan!! Kau akan disakitinya!!..” Ibu Lim cemas.
“…” Furen mengangkat tangannya agar orang-orang tenang.
Furen dan Lim kini bertukar pandangan, mata Lim sangat liar dan penuh kebencian, bahkan Lim yang selalu takut memandang wajah Furen setiap kali berpas-pas-an di koridor kini justru menantang matanya dengan pandangan yang menghajar keberanian orang biasa.
“Kau bukan Lim!!.. siapa kau?..”
Furen berdiri menunjuk wajah Lim setelah agak lama mendekatkan mukanya ke muka Lim.
“!!?..” Ibu Lim pucat, menutup mulut dengan tangannya.
“Ada apa!!?..” Ibu Lim shocked.
“Furen!!?..” Robert menurunkan tangannya.
“..!!!” Rhyno mengangkat tangannya agar orang-orang tenang.
Ben yang melihatnya semakin gemetaran takut wajahnya menjadi pucat dan keringat dingin bercucuran.
“Aku rasa dia kerasukan setan, Furen!!...” Ben maju ke depan.
“Setan!!!?..” Furen menatap diri Lim yang semakin meronta-ronta.
“Jadi!...” Martin gemetaran.
“!!?...” Robert menatapi Lim, menyimak Martin.
“Hantu… aku benar-benar sudah melihat hantu dengan Lim beberapa hari lalu!! Aku!!... apakah aku akan mati!..” Martin merunduk ke lantai memegangi kepalanya, badannya gemetaran.
“!!?...” Ibu Lim semakin panik lalu pingsan.
“Bukkkk!!!!!!...”
Wanita itu jatuh ke lantai, para pelayan lalu datang menolongnya dan membawanya ke kamar.
Hal itu tidak dipedulikan tema-teman Lim.
“Furen!!! Kau ingat kan!! Kau harus menampung setan-setan itu..” Rhyno teringat.
“!!?...” Robert tidak memahami, dia menoleh ke muka Rhyno yang sesrius.
“Aku yakin setan ini lepas dari tempat kurungannya lalu masuk ke badan Lim karena dia cucu Mozart!!...” Ben menambahi.
“$@#!!! Kalian bicara apaan sich!!!...” Martin panik, ingus keluar dari hidungnya.
“Bodoh! Setan tidak akan mengganggumu! Kau bukan siapa-siapa!!..” Ben berbalik badan mengumpati muka Martin yang baginya menjijikkan karena ingus itu.
“Eh!!! Benarkah!...” Martin berusaha percaya lalu berdiri kembali.
“Furen kau harus bermeditasi!…” Ben mengingatkan Furen yang terus berfikir.
“Bukan!! Bukan meditasi!.. harusnya ada mantranya!! Setan ini khusus untuk negara ini saja.. kalau bermeditasi kan untuk hantu dan setan liar.. itu kata Yokyo bukan?...”
Furen berbalik menghadap Ben serius panik, muka Robert mendadak tegang. Istilah baru baginya sangat mengganggu, otaknya tidak bisa berfikir.
“Ucapkan saja perintah! Masukkan saja ke tangan kirimu atau kemana pun di bagian tubuhmu kan bisa!!...” Desak Rhyno.
Sementara itu badan Lim sudah lebih kejang menghebat sampai ranjangnya bergetar.
“Menakutkan sekali!..” Martin menghidupkan kamera di lehernya lalu merekam kejadian itu.
“Bagus Martin!!..” Rhyno bersemangat.
“Nona Rhyno harus hancurkan jalan masuk setan ini setelah dia masuk ke tubuhku ya!..”
Furen mengedepankan tangan kirinya ke muka Lim.
Semua orang berdebar-debar terutama Robert yang tidak tahu apa-apa.
Furen seperti menyentuh sesuatu.
“Ini kah plasma!!!?...” Furen langsung menempelkan tangannya di jidat Lim.
“!!?...”
“Aku merasakannya!!!! Plasmaaa!!!!...” Furen mencengkramnya.
“!!!...” Ben terbelalak.
Furen menjambaknya sekuat tenaga.
“MASUKLAH KAU SETAN KE DALAM TANGAN KIRIKU DAN TIDURLAH SELAMA KU PERINTAHKAN KAU!!... JANGAN BANGUN SEBELUM KU PERINTAHKAN!!!.” Furen memikirkan perintah terbaik untuk memenjarakan Setan itu dan agar tidak menguasainya setelah masuk ke badan Furen.
Badan Lim terangkat mengikuti tangan Furen.
‘AKU BISA MERASAKAN ENERGY PLASMA MASUK TANGANKU AAARGHHHH PANAS SEKALI AARGH!!!’ Muka Furen memicing.
Hingga semua energi plasma terasa sudah masuk semua ke tangan Furen, Rhyno menghampiri Furen dan menyentuh tangan Furen sambil mengheningkan jiwa.
“Aku merasakan tanganku mendingin…” Furen terdecak heran.
“Wuaah!! Ini keren!! Seperti yang kita lihat di situs itu!! Cara menangkap hantu!” Sorak Martin.
“Kau merekamnya!?..” Ben girang. Martin mengangguk keras.
“!!?.. APA-APAAN ITU TADI!?..” Robert datang tiba-tiba menjambak kerah baju Furen dengan tatapan panik.
Furen menatap mata Robert yang menunjukkan kondisi terancam lalu menelan ludah.
“Katakan!...” Furen, Robert menurunkan emosinya lalu meletakkan kerah Furen.
“Apa?!!..” Robert melihat Furen lekat.
“Apa kau cucu Juliuz?!” Tegas Furen.
“!!?..” Robert membuang muka. Semua orang melihati Robert.
“…” Robert pelan-pelan mengangguk.
“Baguslah kalau begitu!!!...” Rhyno menepuk bahu Robert yang besar dan lebih tinggi dari wajah Rhyno.
“Ergh?...” Robert masih tidak paham.
“Aku akan menjelaskan nanti…” Rhyno berjalan pada Lim.
Mereka kini memperhatikan kondisi Lim.
Rhyno meletakkan tangannya ke kening Lim dan gadis berambut nila itu tersadar pelan-pelan. Ben membuka kain yang ditalikan ke kepala Lim melingkar hingga membungkam mulut Lim.
“Kau baik-baik saja?...” Rhyno mencemaskan Lim.
Lim terengah-engah. Dan menyangka dirinya hampir mati.
“Kau tidak apa-apa kan?.. kau bisa dengar aku?..” Furen memegangi kedua bahu Lim.
Pelayan Lim menyuguhkan air mineral pada Lim.
“Lalu sekarang aku harus bagaimana?.....” Lim meneguk mineral itu.
“Kau bisa ikut kami besok… sekarang beristirahatlah…” Rhyno bingung harus mengatakan apa, sementara waktu Furen sudah tidak banyak lagi.
“Aku tidak bisa sendirian.. mereka akan datang lagi… setiap malam.. aku selalu seperti ini.. sejak kecil… aku merasa sangat tidak normal…”
Lim mencengkram kepalanya dan merasakan frustasi, tangisannya menyeruak dan benar-benar menunjukkan ketidak berdayaan melawan ini semua.
“Kau pasti bisa Lim!!!... aku mohon..!” Rhyno pun menjadi merasa tertekan, nafas Rhyno panas dan memburu degup jantungnya. Rhyno memegangi tangan Lim yang dingin.
“Kau harus percaya…!!!” Furen melihati tangan kirinya yang lebam berwarna merah padam seperti bekas tumpuan api sangat panas pada besi, lalu menunjukkannya ke hadapan mata Lim.
“!?... Furen!!....” Lim tercengang.
“Karena kini aku hidup dengan setan-setan itu… tapi aku percaya aku bisa lewati masa saat mereka akan menguasaiku kapan saja!!!.. aku tidak mau ketakutan lagi!!...”
Furen menekan rasa ragunya dan itu sangat menyiksa jantungnya. Dadanya terasa seperti sedang diperas habis-habisan oleh tangan mesin.
“…..” Lim mengangguk.
Rhyno dan Furen pergi keluar dari kamar menyusul Ben dan Martin yang sudah keluar duluan. Sementara itu Robert hanya diam dan berjalan paling depan mengekori Rhyno dan Furen.
“Kalian juga berhutang penjelasan padaku..” Robert melewati Furen dan langsung menuju mobilnya lalu pergi begitu saja, anak-anak yang lain melihati Robert.
“Kenapa dia?...” Revo agak tidak peduli tetapi heran.
No comments:
Post a Comment