Wednesday, February 12, 2025

Bab 8: Misteri Angin Penidur

 “Aku tidak ingin membantu kalian semua..” Robert menyilangkan kedua lengannya.

“Apa?! ..ta.. tapi..?”

Save tidak habis pikir bahwa Robert tidak bersedia membantu usaha yang selama ini dia dan teman-temannya telah susun dengan sangat baik.

“Kenapa?..”

Helena tidak mengerti mengapa laki-laki ini begitu takut untuk berontak, padahal dalam dirinya Helena bisa merasakan api dan amarah Robert yang terkubur dalam-dalam selama ini.

“Itu melanggar normalitas… kalian itu terkena halusinasi!!..” Ketus Robert.

“!!??... TAPI KAU SUDAH LIHAT KAN! yang terjadi pada Lim!..”

Rhyno naik darah, berdiri sambil menunjuk Lim.

“!!!?..”

Lim hanya terbelalak tentang pengalamannya kemarin petang.

“!!!” Robert tidak mengubah pikiran.

“APA LIM MENYENGAJA ITU!? APA ITU HALUSINASI?! APA MISTIK ITU HANYA ILUSI?” Rhyno menggebrak meja.

“Nona Rhyno!?..” Gia khawatir.

“Sekali tidak ya tidak! Kau jangan membahayakan nyawamu hanya untuk menuruti  keegoisan kalian!!..” Robert membentak Rhyno.

“Keegoisan!?..” Save mulai geram.

“Kau tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan ibu… kakek.. atau bahkan sahabat sejak kecil!..”

Save teringat kematian ibu dan kakek Key yang diperbincangkan Rhyno dengan Qio beberapa waktu lalu.

“Apa maksudmu!?..”

Robert tidak mengerti perasaan apa yang kini memenuhi hati teman-temannya karena jantungnya berdebar terlalu kencang, yang dirasakannya sekarang adalah kecemasan tinggi disertai syok dan syak wasangka.

Kini beramai-ramai rombongan Qio, Furen, Key dan  Rhyno berkumpul di taman kota, menjauhi CCTV yang terpasang di tiang lampu. Mereka berkumpul di bawah pepohonan.

“Robert.. apa kau keturunan asli dari kakekmu?..” Traven maju mendekati Robert.

“Apa maksudmu?!..” Robert berdiri menghadap pemuda bernama lengkap Casn Traven Chamazello dengan tegas.

“Kenapa kau mengelak untuk membantu kami? Apa kamu merasa tidak pantas? Kau pikir bisa menghindari ramalan yang akan terjadi?..” Traven memegang bahu Robert.

“Kau..” Entah mengapa jika Traven yang berbicara, Robert bersedia mendengarkan.

“Kita adalah kiamat bagi negara ini, Robert…” Casn tersenyum sinis.

“Hmhmhmh…”

Robert tersenyum kecil, menunduk lalu membuang muka dan melihati wajah semua orang satu persatu. Bahkan kini Martin pun terlibat.

“….”

Robert memandang Lim, gadis itu memandang Robert dengan mata dingin.

“Apa kau ingin bergabung dengan mereka semua?”

Robert menusuk mata Lim dengan tatapan dingin juga.

“….” Lim mengangguk pelan.

“Aku masih mengingat keterangan dari ayah kami mengenai cikal bakal negara ini…”

Traven mengedarkan pandangan, semua orang tenggelam dalam pemahamannya sendiri termasuk Qio yang menatap Traven dengan paling serius.

“Kakek Chamazello.. kakek Xavier.. Kakek Vinzel… Kakek Fordann.. kakek Mozart dan kakek Juliuz.. melakukan upacara… mereka berdiri di setiap sisi pentagram dan presiden kita berdiri di tengah… mereka memasukkan setan ke tubuh presiden… pintu keluar dan pintu masuknya adalah lewat kakek Chamazello.. sementara kakek Xavier yang bertugas menghancurkan gerbang masuk dan gerbang keluarnya agar setan itu terkurung selamanya.. gerbang itu juga berfungsi agar setan itu tidak bisa masuk lagi setelah dikeluarkan..”

Traven memiliki memori sangat kuat dan merincikan sedetail mungkin informasi Guarden dengan sangat tepat.

“Kakekku?.. Juliuz?...”

Robert memandang Lim sebagai cucu Mozart, Key yang merupakan cucu Fordann, Rhyno cucu Xavier, Furen yang jelas adalah cucu terkenal dari Chamazello.

“Siapa cucu Vinzel?...” Robert merujuk ke muka Traven.

“Pacar Key…” Traven berjalan mendekati Furen.

“Beep Beep!..” Ringing  ponsel Furen nyaring.

“Iya sayang…” Furen mengangkatnya, terdengar jelas pasti dari Gina.

“……” Furen terdiam.

“….” Semua orang menanti.

“Aku di taman Valagoun..”

Furen melirik Rhyno, Rhyno sudah melihatinya dengan tajam.

“Gina akan datang dengan Meran dan  Kimmy...”

Tutur Furen setelah beberapa saat menangkap ucapan tunangannya di telepon kemudian kembali menyimpan ponselnya.

“Baiklah.. akan semakin banyak yang bergabung dengan kita dan akan semakin sulit mengendalikan orang-orang…” Robert duduk di bebatuan.

“Gina tidak tahu apa-apa.. itu juga hal sama dengan Meran dan Kimmy.. lebih baik kita simpan mulut dulu..” Raick menuturkan dengan dingin.

“Kalian ingin menghancurkan negara ini…”

Qio menusuk mata Rhyno dengan sinis.

“….?!” Rhyno membuang muka.

Qio berjalan ke arah Rhyno dengan tegas.

“Kenapa kau membohongiku?..”

Qio mengambil bahu Rhyno, Traven melihati tingkahnya.

“Aku tidak pernah membohongimu Qio..”

Rhyno menoleh pada Qio dengan dingin.

“Aku hanya ingin membantumu, kita akan bisa melalui ini semua…”

Qio membuang kesedihan di matanya pada penglihatan Rhyno.

“Aku…”

Rhyno menatap mata Qio yang penuh dengan trauma dan kecemasan.

“Aku tidak bisa terus bersamamu…!”

Rhyno mencengkram lengan Qio dan mendorongnya menjauh sambil membuang muka.

“Kenapa?... aku mencintaimu…!”

Qio meraih lengan Rhyno.

“Cih!!!..” Desis Traven yang menyaksikannya.

“….?”

Savy memegang dada Save, mendekat karena cemas, gadis ini sangat dekat dengan kakak kembarannya karena suatu hal yang sangat suram semenjak SMP. Tetapi dia menjadi jauh dari abangnya itu karena Save menjadi pemuda kriminil, tetapi masalah ini berhasil membangunkan hatinya kembali untuk mempercayai abangnya.

“…Savy..?..”

Save memandangi reaksi Savy yang memeganginya, Savy mengamati Qio dan Rhyno dengan tatapan traumatis.

“….” Savy menoleh kepada Save.

“Kita bisa terus bersama kan.. kakak?...” Savy menatap sembab muka abangnya itu.

“….” Save mengangguk.

“….” Tangan Savy meraih baju seragam Save dan memegangnya dengan erat.

“Jangan khawatir.. aku akan mengajarkanmu cara hidup di dunia liar.. kau sudah terbiasa hidup dimanja dan tidak tahu betapa luasnya dunia..” Save meletakkan tangannya di punggung tangan Savy.

“…!”

Savy mengangguk pelan, ada sisi penyesalan dari diri Savy yang pernah membenci Save karena malu memiliki kakak seorang berandalan selama ini. Baginya hidup di jalanan adalah hal yang paling menyedihkan dan rendahan. Tetapi setelah berjalan-jalan dengan Save  ke kota bawah beberapa waktu itu, hal itu membuatnya sadar bahwa kehidupan sesungguhnya begitu berat untuk dijalani.

“Aku percaya kepada kamu, kakak..”

Savy mendekapkan diri ke tubuh Save dengan guncangan emosi, dia hanya bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika negara ini sudah hancur oleh kenakalan remaja yang akan dilakukannya bersama teman-temannya ini.

“Aku sebenarnya tidak terlalu mengenal mereka…

Tapi inilah sensasi yang aku cari-cari selama ini, adrenalinku seperti dipacu dan aku benar-benar menikmati masa muda membara seperti ini.. melebihi sensasi saat balapan liar..”

Save nyengir kuda, memegang kepala adiknya.

“…” Savy mengangguk.

“Aku percaya kepada mereka!.. aku akan melakukan yang terbaik untuk membalas kematian ibu kita juga!..”  Save meraih dagu Savy dan mendongakkannya ke muka Save.

“….” Savy menangis.

“Jadi..

Kau jadilah kekuatanku, jangan jadi kelemahanku!!.. kau adalah jiwa keduaku!..” Save tersenyum percaya diri.

“…!” Savy tersenyum haru sambil mengangguk mantab.

“…..”

Robert melihati Save dan Savy sedari tadi. Lalu membuang muka dan menghela nafas.

“Aku minta maaf atas perasaan cintamu itu kepadaku.. tapi aku..” Rhyno menyaksikan Qio dengan rasa iba.

“.. Rhyno..” Qio meraih nafas sekuat tenaga dalam perihnya.

“Nona Rhyno…” Gia mendesis cemas.

“Aku hanya menginginkan hidup dengan tenang….” Rhyno meraih tangan Gia dengan lemas.

“!!?...”

Gia merasakan tarikan tangan Rhyno yang lemah.

Nona Rhyno…’ Gia semakin cemas dan menoleh ke Qio yang shocked dengan tingkah Rhyno.

“Dengan Gia… hanya dengan dia!..”

Rhyno menatap mata Qio dengan penuh emosi,  stres dan tatapan benci karena selalu merasa terpaksa harus mengalah pada kenyataan selama ini.

“Kau…” Qio tercengang.

“….” Traven mengalihkan pandangan.

“Nona Rhyno…”

Gia mengerjapkan mata ke arah  Rhyno, Gia mengetahui akhir-akhir ini dia sangat dekat dengan Traven, akhir-akhir ini Rhyno terlihat aneh jika ada di dekat Traven, mungkinkah karena dia menyukai Traven juga tapi karena Traven sendiri sudah bersama Meranda maka  Itu semua menjadi pukulan besar bagi Rhyno hingga dia memutuskan untuk terus bersama Gia saja yang jelas-jelas selalu ada untuknya. Karena Rhyno takut kehilangan Qio.

“Aku mencintai Gia!!..” Rhyno dengan tatapan kebencian menyerang Qio dengan tegas.

“!!!!..”

“&#%^!!!....”

Semua orang tercengang, termasuk Traven dan Furain.

“!!!?....” Gia pucat pasi, jantungnya berdebar-debar seketika.

“Iyah!!.. dia selalu ada untukku.. dia selalu mengharapkan kehadiranku.. dia selalu melayani apa pun yang aku inginkan.. dia selalu ada.. dia satu-satunya.. saat ini.. dan selamanya!!...”

Rhyno terus menyeringaikan mata yang bengis menghajar muka Qio yang sudah sembab dan  menyesali perbuatannya yang telah memaksa Rhyno untuk menerimanya. Kini hanya ada kebencian yang terlihat dari Rhyno kepada Qio.

“Kau tidak membantu pun!!.. tidak merubah kenyataan akan penghianatanku ini pada negara ini!!..” Rhyno menghempaskan tangannya yang bebas ke udara.

“!!...

Aku.. aku akan tetap menyelamatkanmu!!!..” Qio tersengal nafasnya yang memburu kencangnya degup  jantung.

“Aku!!.. aku akan tetap mencintaimu Rhyno!!!!..” Qio membentak dengan suara serak yang mengamuk.

“!!!?...” Rhyno shocked seketika mukanya menjadi pucat.

“Nona….” Gia merasakan tangan Rhyno melemahkan kekuatannya.

“……!!”

Traven menatap Qio dengan penuh rasa benci dan tidak mengurangi emosinya, tanpa sadar Furen sudah memandanginya bersama Raick. Jelas sekali muka Traven terus mengawasi Qio tanpa henti, Robert heran memperhatikan Traven yang seperti itu.

“Traven sangat menyukai Rhyno kan?..”

Vero berbisik pada Key yang sedang mengalungi pinggangnya dengan mesra. Key mengangguk pelan mengamati ekspresi Rhyno yang hanya meladeni tingkah Qio.

Helena kebingungan dengan masalah kakak-kakak seniornya itu. Lim dan Helena menghela nafas tidak paham sama sekali.

Martin dan Ben berpandangan tidak ada ide apapun yang harus mereka komentarkan.

“Kalau Revo sampai mengetahui masalah ini maka selesai sudah, dia naksir berat sama Gia…” Bisik Ben pada Martin.

“Itu yang bikin aku heran.. Revo tidak tahu masalah kita bertiga.. rasanya ngga adil meninggalkan Revo sendirian.. hanya dia di genk kita, anggota yang tidak tahu apa-apa..” Martin mengalungkan kameranya.

“Biarkan saja Revo..” Save menyela.

“Eh?!..” Ben melihat Save juga sedang memperhatikan Rhyno dan Qio.

“Dia itu lebih baik aman.. bisa-bisa satu kelas ini berisi siswa teroris…” Save tumben bijaksana.

“….” Ben mengangguk pelan bersama Martin.

(*´д`*)

“Sayang!!..”

Gina berjalan ke arah keramaian temannya yang duduk di bebatuan taman kota.

“!!!?..”

Semua orang mengamati Gina yang datang sambil berlari kecil dengan cantik.

“…”

Rhyno melihat kedatangan Gina dengan serius bersama tunangan Raick dan Traven. Dia belum tahu bahwa kini pertunangan Raick dan Traven hanya setingan tema publik.

“Aku sudah mencari informasi yang kamu maksud..” Gina berbicara sambil  melihati posisi Qio dan Rhyno, mereka berdua membubarkan diri, Qio berjalan ke arah Martin.

Martin menepuk bahu Qio pelan.

“Kau tidak bisa melakukan semuanya sendirian lagi, Bro..” Save menoleh pada Qio berbicara pelan.

“Aku tahu..” Qio menghela nafas.

“..Hum?” Save bergumam tanya.

“Kalau Revo tahu apa yang Rhyno katakan, hancur sudah..” Qio menutup mata dan menarik nafas.

“…..”

Save, Martin dan Ben, anak buah Qio pasang palm face. Mereka memang satu genk tetapi meskipun ada empat anak buah, Qio tidak pernah memerintah mereka, lebih tepatnya seperti teman biasa, tetapi keempat anggota lainnya selalu menganggap Qio adalah sosok paling dewasa yang harus dihormati anggota kelompok.

“Aku butuh solusi..”

Qio duduk di batu besar diantara Martin dan Save.

“Solusiku sih.. jangan banyak bicara lagi saja dari pada nanti selamanya ngga bisa lihat Rhyno..” Ben tersenyum tipis.

“….” Qio menoleh pada Ben.

“Bukan kah yang terpenting itu, supaya bisa tetap bersama Rhyno dan melihatnya bahagia.. meski pun.. bukan karena mencintai kita.. tetapi…”

Savy masih dekat dengan Save menyandarkan diri. Qio menoleh pada Savy, muka Savy trenyuh.

“Aku sangat mengerti perasaanmu…” Savy meletakkan kepalanya di dada Save.

“……?”

Qio melihati Save dan Savy, Save menatap mata Qio dengan tatapan serius dan seolah bicara ‘agak lah bersantai sedikit’.

“Jangan-jangan?.. ka.. ka.. kalian..” Qio tidak habis pikir.

“….” Savy mengangguk pelan sambil mengeratkan tangannya yang memegangi baju Save.

“Be.. benarkah kalian?...” Qio pucat pasi.

“Savy sangat mencintaiku.. tapi hubungan incest itu tidak menimbulkan efek baik….”

Save mengalihkan pandangan ke depan kembali dengan tatapan tega.

Savy menenggelamkan mukanya ke dada Save, bahunya terguncang. Save memegangi bahu Savy dan menepuk-nepuknya pelan.

“Jadi… hal semacam ini juga ada di hadapanku yach..” Qio menghela nafas tidak habis pikir.

“Apa Savy hamil?..” Martin mulai sadar dan cemas seketika.

“…..” Save menoleh pelan pada Martin.

“…..?” Muka Martin menjadi sangat cemas dan serius.

“Aku tidak akan melakukan itu.. dia adikku..” Save berkata dengan datar.

“Kau ini….” Martin, cowok berambut gondrong itu menggosok jidatnya.

Mereka kembali memperhatikan Gina dan Furen yang sedang bercakap-cakap.

“Savy!!…”

Gina melambai padanya, Savy mengangguk lalu menggandeng tangan Save agar mengikutinya dan mereka berdua kemudian berjalan menghampiri Gina.

“Ada Lim?.. kenapa?..”

Meran menyilangkan tangan di hadapan Traven, mengalihkan pandangan ke arah lain.

“Dia cucu Mozart..”

Traven menjawab pelan sambil meletakkan kedua tangan di pinggang Meran, gadis berambut golden brown itu lalu duduk di pangkuan Traven.

“Jangan membuatku jatuh cinta kepadamu, kau ingin meninggalkanku bukan? Jadi mengapa memperhatikanku?..”

Meran mendekatkan wajahnya kepada Traven dan berkata pelan.

“Aku hanya menikmati momen dengan tunanganku.. supaya seperti pasangan normal..” Traven tersenyum tipis.

“Kau tahu kan kita bukan pasangan, Traven?.. kau tidak pernah mencintaiku…” Meran menegaskan dengan mata hijau kebiruannya yang indah.

Rhyno melirik kemesraan Traven dengan Meranda lalu duduk di dekat Gia, Lim menghampiri Rhyno dan Gia. Rhyno  menunduk.

“Traven mencintaimu kan?... dia tidak akan mengecewakanmu..” Gia berbicara pelan sambil memperhatikan Rhyno.

“Traven mungkin saja kecewa kepadaku selama ini dan kini sudah melupakan ucapannya waktu itu..” Rhyno memandang kosong rerumputan.

“Tidak nona…” Gia meletakkan tangan di atas bahu Rhyno dengan lembut.

“Kau baik-baik saja?” Lim duduk di depan Rhyno.

“…” Rhyno mengangguk pelan.

“Rhyno.. lihat aku..”

Lim berbicara dengan nada tegas tapi emosi datar. Rhyno melirik Lim dengan malas.

“Aku percaya kau akan menemukan orang yang tepat untuk bisa mencintaimu, kau tenang saja.. aku tahu hubungan kalian berdua bukan sepasang lesbian..” Lim menegaskan pengamatannya mengenai Rhyno dan Gia.

“Iya.. terima kasih..” Rhyno menghela nafas.

Robert berjalan mendekati Furen dan Gina.

“Jangan-jangan kamu mau ninggalin aku yach?..” Kimmy bernada ceria.

“Hehe.. aku kan harus ikut Furen..” Raick menyibakan rambut Kimmy.

“Padahal aku baru tahu kalau kamu itu cowok yang lucu..” Kimmy mencubit pipi Raick manja.

“Hehehe.. kita lihat saja nanti, babe..”

Raick mencolek hidung Kimmy, melihat Robert mendekati Furen, Raick meletakkan tangan ke pinggang Kimmy dan memintanya mengalihkan perhatian pada Furen dan Gina. Semetara Traven dan Meran ikut memperhatikan, kini semua orang memperhatikan Gina.

“Jadi kalian semua butuh banget informasi ini yach?...” Gina tersenyum lembut menyadari kini semua orang memperhatikannya.

“Katakanlah..” Furen tersenyum tipis.

Gina menghela nafas, “Baiklah…”

Gina duduk di batu besar dekat Furen, memegangi lututnya. Taman yang mereka singgahi memiliki tempat duduk bebatuan besar yang berserakan.

“Begini..

Aku mulai memeriksa catatan artis yang ada di ruang produser bersama kak Vero beberapa waktu lalu.. dan Key ada disana..

Kalian semua juga pasti tahu kalau aku akan meneliti kematian-kematian artis yang misterius..

Katanya sih karena mereka memiliki penyakit yang mudah menular sehingga mereka harus diracun..” Gina dengan gaya khas manis para bintang.

“!!!?...”

“Diracun?!!...” Savy bingung.

“Hu-um… semua artis yang mau jadi terkenal harus menandatangani kontrak..

Semua artis..

Dan itu juga aku lakukan..

Kak Vero juga kan?...” Gina menoleh pada Vero yang kemudian mengangguk.

“Dan isi kontrakan itu adalah perjanjian..

Jika artis memiliki penyakit yang dinilai berbahaya dan mematikan maka harus bersedia bunuh diri..” Lanjut Gina.

“!!!???...” Save shocked terlebih Savy yang ingin menjadi artis.

“Itu semua demi kebaikan artis agar mereka tidak terlibat penyakit kelamin..

Dan pergaulan bebas.. juga demi menjaga kehormatan artis.. karena jika artis menulari penyakit ke masyarakat maka akan merendahkan harga diri mereka.. sehingga lebih baik berkorban.. itu reputasi tinggi…” Gina menyilangkan lengan serius.

“Dan aku juga mendengar ibu Savy meninggal karena bunuh diri, jatuh dari gedung lantai dua puluh.. di hotel Sun Golden.. itu bukan karena depresi.. itu karena penyakit…” Gina meraih dagunya.

“Jadi.. ibu juga punya Gravicwalken?!!...” Savy menoleh mantab ke Save dengan rasa kecewa dan sesal.

“….” Save mengangguk pelan.

“Setiap orang yang memiliki Gravicwalken harusmati?!..” Robert menyimpulkan dengan tatapan gamang pada Gina.

“Apa itu?...” Gina tidak paham.

“Sudah aku bilang.. Gina tidak tahu apa-apa!..” Raick gemas pada Robert, sontak berdiri.

“Lebih baik sekarang, kita ke kota bawah saja…” Qio mengangkat suara.

“Ke kota bawah?!..” Gina shocked.

“.. hihi kamu ngga ikut sayang.. kamu di rumah saja…” Furen memegangi bahu Gina dan memasang senyum tenang.

“Ta.. tapi.. sayang?..” Gina bingung harus apa.

“Sepertinya aku harus pergi dan menyingkir dari jalanmu kan?..” Meran tersenyum, meletakkan tangan di pipi Traven lalu berdiri, mencium pipi Traven dan pergi.

“…..” Traven hanya memberikan tatapan kosong.

“Dadah comel!!..” Kimmy mengecup bibir Raick lalu berlari menyusul Meran.

“….”

Muka Raick lesu. Baru saja dia senang bisa mengenal Kimmy yang berubah jadi perhatian kepadanya tetapi ada hal besar yang akan terjadi sehingga rencana mereka akan berpisah menjadi ada.

“Meran!! Kimmy!!...” Gina menoleh pada Meran dan Kimmy yang terus berjalan melewatinya.

“Sa.. sayang?!..” Gina menatap Furen lagi.

“….” Furen mengecup kening Gina lalu beranjak mendekati Raick dengan senyum tipis.

“…..” Gina melihati Furen dengan galau lalu berbalik badan dan berjalan menuju Meran dan Kimmy di parkiran dengan lemas.

“Furen.. kau?..”

Robert mengamati Furen yang tersenyum tipis, muka Raick lesu.

“Aku akan kehilangan orang yang mencintaiku.. itu yang aku lihat di masa depanku..” Furen menoleh pada Robert dengan tatapan percaya diri.

“Melihat .. masa depan…?” Robert tidak habis pikir dengan tatapan Furen yang baik-baik saja.

“Tapi aku tidak akan membiarkan kehilangan orang yang aku sayangi… yah! Begitu lah..!..” Furen tersenyum lebar melihat Rhyno.

“….?” Qio melihat ekspresi Furen berbeda saat mengamati Rhyno.

“Jangan-jangan Furen menyukai Rhyno…” Martin bergumam dan terdengar oleh Qio.

“Traven juga..” Ben menimpali.

“!!?..” Qio melihat Traven yang mengawasi Furen dengan tatapan dingin.

“Traven itu tidak bisa terima kalau ada cowok lain yang mengungkapkan perasaan pada Rhyno…

Dari mukanya…

Dari tadi…” Ben menghela nafas panjang.

“Cinta itu aneh dan rumit yah!..” Martin menghela nafas juga.

“Aku tidak tahu sebenarnya apakah Robert memang memiliki Gravicwalken..” Key setelah sekian lama diam akhirnya bersuara.

“….?!” Robert menoleh pada Key.

“Aku bahkan bisa membedakan ekspresi muka kalian semua yang memiliki Gravicwalken dan yang tidak.. terlihat jauh sekali.. di muka kalian.. level kecemasan akan masa depan… lebih besar dimiliki oleh orang yang tidak punya Gravicwalken…” Key menambahi.

“Ka.. kau benar…” Save nyengir.

“Aku?!....” Robert pun bingung dengan dirinya sendiri.

“Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sebagai cucu Juliuz!.. tapi aku pastikan.. bahwa aku adalah cucunya…” Robert memandang Key dengan cemas.

“…..” Key menggelengkan kepala pelan.

“Kau mungkin anak adopsi..” Key berkata pelan.

“!!!?...”

“Ti.. tidak mungkin…” Robert tercengang dengan kesimpulan Key.

“Yah!... kau terlihat sangat cemas.. berbeda dengan Lim.. dia antisosial sepertiku tetapi tidak memasalahkan jati dirinya.. kami semua siap… hanya kau yang tidak…” Key menunjuk Robert.

“Aku!!!?... a.. aku…” Robert lemas, mengalihkan muka ke Traven. Traven memandangnya dengan serius.

“Siapa kau? Apa kemampuanmu..?..” Traven menusukkan pertanyaan.

“Hsh….” Robert terduduk di batu besar dekatnya dan bernafas lelah.

“…..” Key terus mengamati Robert.

“Sudah banyak pengorbanan yang aku lakukan di keluarga Juliuz..” Robert menunduk.

“….?!” Semua orang mengamati.

“Tetapi jika ternyata aku cucu angkat.. lalu..” Robert menyesal.

“HRGH!!!....”

“!!??..”

Robert memegangi kepalanya dengan ekspresi kesakitan, badannya melemas dan jatuh ke tanah, dia terlihat sangat tersiksa dan meronta-ronta.

“Si.. Siapa yang menyayangiya!?.. siapa!?...” Rhyno berdiri panik melihat kondisi mendadak ini.

“…..” Key terus menganalisa.

“Bisa kumat karena emosi atau melihat vision?...” Vero menoleh pada Key.

“Aku tidak bisa memastikan..” Key datar.

“Aku juga tidak merasakan bahwa dia sedang melihat masa depan..” Vero kebingungan.

“Energinya berbeda…” Helena menambahi.

“Berhentilah berpura-pura!!..” Key berdiri membentak Robert.

“!!?...” Robert.

“Ugh!!!!...” Orang-orang.

“...!!!?”

“……?”

Robert terus saja meronta dan merumputi diri.

“Key!!” Furain tidak mengerti apa-apa dan melempar pertanyaan pada Key.

“Aku juga tidak merasakan getaran apapun dalam perasaanku.. aku tidak tahu apa yang terjadi pada anak ini!!..” Key terlihat serius tidak seperti biasanya.

“Sial!..” Rhyno mengepalkan tangan.

“Kita tidak tahu siapa yang menyayangi dia!! Masa si Reva!!!?..” Save unjuk suara.

“AAARGHHH!!...” Robert mengangkat perutnya sementara kaki dan kepalanya menekan ketanah, mata Robert terbelalak lalu.

“BUK!!!!...” Tubuhnya terbanting lemas ke tanah. Dan tidak sadarkan diri dengan mata terpejam.

“Ini lah yang terjadi jika tidak tertolong…” Raick menyimpulkan.

“Cih!!..” Martin, Ben, Qio, Save dan Savy terbelalak dan masih tidak percaya dengan kejadian tadi.

“Kalau kita bawa ke dokter, bisa saja mereka mencurigai Robert..” Ben membenahi kacamatanya.

“Lalu sekarang bagaimana?!..”

Lim shocked, dia masih tidak tahu siapa yang menyayanginya, dia tidak ingin bernasib sama dengan Robert.

“Kita ke kota bawah tanah.. kalian akan bisa aman di sana.. ikuti aku..”

Qio bicara datar dan berjalan, Ben dan Martin mengikuti.

“Dia tahu banyak disana.. ikuti saja…” Save menggandeng Savy pergi.

Key dan Traven mengangkat badan Robert lalu mengikuti Qio dan kawan-kawannya ke parkiran, dikawal teman-teman mereka.

“Aku tidak tahu siapa yang menyayangi aku, Rhyno…!!” Lim berjalan didekat Rhyno.

“Kau tenang saja!!!.. kita akan baik-baik saja!!..” Tegas Rhyno.

“Hhh!!!...” Lim ketakutan tetapi dia mencoba menyadarkan diri agar tidak terlarut dalam emosi aneh yang tumben bisa dirasakannya.

( ̄□ ̄)9

Mereka menuju kota bawah tanah, kota itu melewati beberapa kota tengah dan kemudian menuju ke terowongan yang menuju ke bawah tanah yang ada di dasar laut. Mereka sampai di sebuah kota yang gelap dan hanya diterangi lampu redup saja. Disana mereka berkenalan dengan kelompok hacker keluarga Ben dan beberapa tim mantan polisi yang kenal dengan Qio.

“AYAAH!!....”

Savy berlari setelah mendapati sosok yang selama ini dia cari dan rindukan bertahun-tahun.

“A.. ayah!!!!?..” Save dan Savy berlari memeluk ayah mereka.

Mereka tenggelam dalam pembicaraan pribadi dan sementara remaja lainnya fokus membahas dan mempedulikan Robert.

Kini Robert dibawa ke ruang medis. Disana Qio memperkenalkan teman-temannya kepada Kimery, doctor wanita berusia sekitar empat puluh tahun.

“Dia memiliki trauma sangat dalam sehingga hampir tidak pernah memiliki vision, saat kita membutuhkan otak untuk memproduksi vision, maka sisi emosional kita harus minim.. tetapi dia tidak bisa menahan emosinya..

Karena itulah dia jarang terkena efek Gravicwalken.. dia terlalu cemas.. dia punya sakit jiwa.. anxiety.. aku menduganya seperti itu..

Kata kalian.. dia lebih terlihat cemas dibanding kalian kan?..

Itu lah dampak anxiety..

Jika manusia memiliki vision, maka mereka akan jarang cemas karena merasa akan bisa baik-baik saja di masa depan.. kalian bisa baca isi buku ini..” Kimery menyodorkan buku tebal kajian Anxiety dan vision.

(˘ʃƪ˘)

Rhyno duduk di sofa, penat. Memikirkan Robert yang terbaring sementara sang presiden belum tertangkap. Qio mendekati Rhyno dan duduk di sebelahnya.

“!!!?” Rhyno memalingkan muka.

“Kau menyukai Traven?” Qio.

“!!!?” Rhyno terdecak.

“Sudah kuduga.” Qio tersenyum sinis.

“….” Rhyno kehabisan kata-kata.

“Tidak masalah, Rhyno..

Dan kau jangan bersedih, untuk menculik presiden itu hal mudah, dia kan masih anak kecil..” Qio.

“…….”

Rhyno mengosongkan pikirannya, menghempaskan dirinya ke punggung sofa dan menutup matanya dengan tangan.

“Kalau dipikir banyak juga yang terlibat, ya.” Ben tak habis fikir.

“Furen, Traven, Raick,

Rhyno, Gia,

Save, Savy,

Key, kak Vero, Helena,

Aku, kau, Qio..

Lim dan Robert.. limaa belas orang..” Martin menghitung.

“?...” Lim menunduk saja.

“Itu tidak akan menjadi masalah selama kalian sama cekatannya.” Kimery.

“Baiklah..” Ben berkacak pinggang sambil menggelengkan kepala.

“Furen!”

Rhyno memanggil tanpa menoleh, Furen mendekati Rhyno.

“Iya, nona?..” Furen.

“Qio, apa kau tahu siapa presiden kita sebenarnya?” Rhyno masih menutupi matanya.

Entah kenapa tiba-tiba Rhyno terpikir oleh kejadian di taman tadi saat Meran mendekati Traven, dia tak bisa melupakan reaksi perasaannya yang baginya asing.

“Ikut aku.. Furen..”

Qio bangkit dari duduknya, mengerti, pasti Rhyno ingin dia menunjukkannya kepada Furen selagi Rhyno loading. Qio pun berjalan menjauhinya dan Furen mengikuti Qio kemudian.

Di kejauhan, Raick, Key dan Helena mempelajari apa yang terjadi pada Robert bersama Kimery yang menerangkan beberapa hal.

“?...”

Traven menoleh kepada Rhyno. Dia melihat Rhyno seperti sedang stres. Traven berjalan mendekati Rhyno dan duduk di sebelah kirinya.

“!!?..” Rhyno tidak memperdulikan siapa yang datang.

“Rhyno? Kau baik saja?..” Traven pelan.

“!!?..

Mau apa kau ke sini!?.” Rhyno tidak membuka tangannya yang masih menutupi matanya.

“Apa kau marah padaku?...” Traven.

“…..” Rhyno menelan ludahnya, entah apa yang harus diucapkan.

“Aku dan Meran hanya berkawan, aku akan ke Paris bersama Furen dan dia tadi hanya mengucapkan terima kasih atas kejujuranku. Aku dan dia sama-sama tak menginginkan pertunangan.” Traven.

“….” Rhyno menurunkan tangannya dan matanya terbuka, menerawang atap.

Traven meraih tangan Rhyno.

“!!?” Rhyno menoleh kepada Casn.

Traven mencium tangan Rhyno.

“Karena aku mencintaimu, Rhyno.” Traven tersenyum.

“….!!!” Rhyno memang terkejut mendengarkan itu, tetapi kemudian dia memilih untuk memejamkan mata.

Traven meraih kepala Rhyno dan meletakkannya ke bahu.

“Aku tidak ingin kehilanganmu kedua kalinya.” Traven.

Rhyno ternyata lekas terlelap.

“Rhyno?!.” Traven, memeriksa Rhyno.

Dia tidur..’ Traven tersenyum tipis.

^^^

Semua orang kini ada di hadapan monitor, Robert pun sudah bangun setelah Key menyuntik vaksin yang dia buat bersama Raick dan Gia dulu. Roger, ayah Save dan Savy, ia berdiri di hadapan semua remaja yang berbaris di markas rahasia itu.

“Kalian akan aku beritahukan foto presiden kita yang sesungguhnya.” Roger.

“Presiden?!” Robert.

“Berhenti lah bertingkah aneh, Robert.” Lim menyikut Robert.

“B.. baik.” Robert menggosok tengkuknya.

Roger memperlihatkan foto sang presiden di monitor yang ada di hadapan mereka. Sosok anak kecil itu tidak asing di mata Martin dan Lim.

“Di.. dia!!!” Martin menunjuk monitor dengan gugup.

“!!!” Lim berbelalak.

“Ada apa?!" Roger.

Semua orang menoleh dan melihati Lim dan martin.

“Dia yang datang ke mimpiku!!.” Lim.

“Mimpi?” Rhyno.

“Dia itu!.. yang aku foto.. Lim melihat itu dan besoknya dia tidak masuk sekolah gara-gara lihat foto itu!!” Martin.

“?!!!" Orang-orang kaget.

“Masih ada fotonya?" Roger.

“?!..”

Martin meraih kamera yang terkalung di lehernya lalu memeriksa albumnya yang kini dipenuh gambar tertentu yang dibutuhkan teman-temannya.

“Tidak ada, gambar dia hilang.. dan fotonya jadi kosong.” Martin memeriksa foto yang dia maksud sekali lagi.

“Hilang?" Raick.

“Ajaib?..” Gia.

“Ih.. iya ajaib!”

Martin sudah menguasai beberapa kosa kata asing karena dikasih tahu Ben.

“Berikan saja kameramu supaya kita perjelas pixelnya di komputer..” Ben mengurut jidatnya.

“Baiklah, ini!!..” Martin melepaskan kameranya dan memberikan pada Ben.

Ben berjalan ke meja kerja para operator dan mencolokkan kabel penyambung untuk menampilkan album kamera Martin ke komputer.

“Dimana dia?..” Ben.

Martin berjalan mendekati Ben yang sedang duduk mengoperasikan komputer, menampilkan foto ke monitor besar.

“Ini dia..” Martin menunjuk satu foto halaman sekolah yang kosong.

Ben mengotak-atik pixel foto untuk beberapa menit. Dan akhirnya didapati adanya bayangan hitam di foto itu seperti foto blur manusia.

“Nah, tuh kan!" Martin menunjuk.

“Jadi kalian melihat presiden, ya?!.” Rhyno dengan mata lemas, berkacak pinggang.

“Um!” Lim mengangguk, memegangi dirinya dengan gugup.

“Kira-kira dimana kediamannya?..” Furen.

“Di komplek jalan Alpha.. kalian tahu kan itu adalah pusat peradaban dan jantung kota ini..” Roger serius, kemudian berjalan menggeser tampilan monitor ke foto rumah presiden.

“Tapi kenapa dia selalu datang ke mimpi ku setiap malam, setelah itu aku selalu kesusahan untuk bangun dan harus dibantu disadarkan…” Lim.

“Dia melakukan komunikasi denganmu..” Helena.

“Komunikasi?!” Lim menoleh kepada Helena dengan pucat.

“Dia membutuhkan jiwa dan ragamu.. aku rasa begitu..” Vero menimpali keseriusan.

“Sebaiknya kita berkumpul dan berdiskusi sekarang…” Traven berjalan, menuju sofa dan duduk dengan tenang.

“Hah… penatnya…” Rhyno berjalan menyusul Travenn dan duduk di sofa, disusul Gia. Yang lain perlahan ikut duduk.

Qio menyilangkan tangan dengan pasrah melihat Traven yang menjadi dekat lagi dengan Rhyno.

“Apa yang dilakukan oleh kakek Xavier dan Chamazello adalah berpasangan untuk memasukkan dan mengunci..

Lalu apa yang dilakukan kakek Vinzel dan kakek Mozart?

Apa yang dilakukan kakek Juliuz dan Fordann?..”

Traven menyilang lengan, mengedarkan pandangan pada muka teman-temannya.

“Memagari!…” Roger yang duduk di depan monitor besar menyahut.

“Memagari!?” Traven mengurut dagu.

“Yang penting kita selesaikan masalah penangkapan presiden dulu.” Qio tegas.

“Hahaha”

Furen terkekeh melihat Qio versus Traven, Raick melirik Furen yang ternyata ikut menyadari.

“Haduuh, gimana mau kompak kalau begini..” Savy menepok jidat, berkata pelan dekat kakaknya.

“Payah!” Save menimpali ucapan Savy.

“Presiden dua puluh empat jam dijaga ketat oleh badan keamanan, bagaimana bisa dia berada di Prime Revolutioner School?..” Roger.

“Ah..a.. aku dan Lim suatu pagi memotret pemandangan dan mendapati dia datang dengan berjalan kaki menuju sekolah begitu saja, sendirian tanpa siapapun..” Martin.

“Jangan-jangan itu jiwa dia, bukan tubuh dia yang asli..!!” Helena.

“!!?..” Orang-orang.

“Hiy… serem!!..” Martin dan Savy memegangi kepalanya, merinding.

“Satu-satunya cara adalah menggrebek langsung gedung pemerintah yang menyembunyikan presiden, kita semua kesana. Dan ada yang bertugas denganku menuju gedung institusi intuisi yang lama untuk mengamankan lokasi sebelum kita matikan tombol pemusnah manusia disini. Kita tidak membawa presiden pada segel tetapi membawakan presiden itu segel. Tubuh kita.” Traven.

“Itu terlalu beresiko dan berbahaya! Bisa saja dia sudah mencium aroma penghianatan, dia kan bisa melihat masa depan!” Qio menyerang opini Traven.

“Melihat.. masa depan?!” Roger.

“Cih!” Traven.

“Belum lagi adanya pertahanan negara dengan senjata dan pasukan militer!...” Vero cemas.

“…………” Key.

“Baiklah biarkan otak kita berpikir dulu..”

Roger berdiri lalu berjalan pelan meninggalkan ke para remaja di ruang monitor.

“Ayah sudah stress?.. cepat amat meninggalkan diskusi..” Savy memperhatikan Roger.

“Dia mungkin mencari bantuan, Savy!” Save mengernyit.

“Baiklah, ini mungkin riskan, tetapi jika ingin menyerah sekarang itu bukan kunci keberhasilan kita.” Traven serius.

“…..!!.” Orang-orang mengangguk menyetujui. Kecuali Qio.

“Qio!” Traven memandang Qio.

“!!?

Apa!?” Qio memicing.

“Kau akan menemani Rhyno dalam usahanya mematikan tombol pembunuh massal, dan aku akan pergi memburu presiden bersama Furen, Raick, Save, Key dan Robert. Setuju?!” Traven menusuk mata Qio dengan dingin.

Semua orang menoleh kepada Qio.

“Hh!..” Qio menghela nafas tak habis pikir.

“Traven.” Rhyno tak habis pikir juga mengenai usulan Traven ini.

“Baiklah! Aku anggap sejutu.

Selanjutnya kak Vero, Lim dan Savy mencari tabung jiwa para artis bersama Ben dan Martin.” Traven semakin serius.

“Baik!” Vero bersiap.

“Ah! Aku, kak?!!” Helena.

“Aku tidak akan melibatkanmu.” Traven melirik Helena dengan tajam melarang protes.

“!!!?..”

Melihat itu dari Traven, Helena menoleh pada Key yang kemudian mengangguk pelan sambil melihatinya dengan serius.

“Bagaimana jika kita menghubungi anak indigo lagi untuk bertanya bagaimana langkah aman selanjutnya?...” Ben.

“Itu tidak perlu..” Traven.

“Kau ini! Kita jangan anggap remeh, pemerintah itu bukan anak-anak!” Robert.

“Karena aku ingin membiarkan takdir berjalan sesuai alaminya. Resiko besar apapun yang akan terjadi nanti, kita lakukan yang terbaik saja sebelum menghadapi itu semua.” Traven mengedarkan pandangan pada semua temannya.

“Karena kita adalah takdir.” Traven.

“!!!...” Furen berdecak dengan kebijakan Traven ini.

“Semua keselamatan kita ada pada Rhyno.. karena dia yang mematikan tombol pembunuh masal itu..” Traven.

“Hah! Benar juga!!..” Save terperanggah.

“Karena itu kita harus berpencar. Dan aku tahu Qio lihai dalam mengamankan jejak, itu bagian forensik.” Traven melirik Qio.

Qio mulai menyadari bahwa Traven mulai tidak memperdulikan adu kekuatan antara mereka dalam memperebutkan Rhyno, dia mempercayai Qio pasti akan melindungi Rhyno sebaik mungkin.

“Bagaimana kalau setan itu menggunakan ilmu sihirnya?!

Kalian tahu tidak, sihir itu kekuatan yang ghaib, bisa membunuh kalian!” Ben.

“Furen akan mengatasinya.. dan dia hanyalah anak kecil yang tak bisa melarikan diri dari cengkraman pemuda berotot.” Mata Traven memicing, menerawang.

“!!?........” Furen merasakan atmosfer Traven berubah, dia mulai teringat dengan ucapan Arman yang mengatakan Traven akan membawa semua pada bahaya tetapi Furen menyelamatkan Traven dan lainnya, ternyata ini jadinya.

“Tapi! Key yang akan selamatkan Rhyno bukan?..

Jadi jangan pisahkan Key dengan Rhyno dalam misi ini!!..” Furen.

“Key akan datang!... pasti…” Travenn melirik Key dengan kuat.

“…..” Key mengangguk.

“Mungkin akan terjadi ledakan besar, itu prediksiku..” Traven.

Semua orang tenggelam dalam terkaannya masing-masing.

“Sebaiknya kita menyiapkannya, malam ini akan kita kerjakan bukan?...” Raick.

“Iya.” Traven.

“Kalian membutuhkan radio komunikasi, ini aku beri… benda istimewa yang aku beli dari Jepang..” Roger datang lagi, membawa sebuah box besar.

“Apa itu?..” Savy.

“Alat komunikasi jarak jauh..” Roger.

“Wah! Keren!..” Ben berjalan mendekati Roger.

“Aku tidak punya peralatan lain seperti senjata mesin.. masih hanya ini..” Roger menghela nafas.

“Apakah dalam gedung pemerintah yang menyembunyikan presiden dalam pengawasan pasukan bersenjata yang ketat?..” Furen.

“Sayangnya, sepertinya begitu..” Roger membagikan alat itu pada remaja yang bertamu.

“Aku tidak memiliki senjata bertarung, tapi aku punya alat lainnya!!..” Kimery datang.

“Kimery!?..” Ben.

“Kau ingat, Ben.. bom asap yang kalian temukan di bekas penggrebekan polisi di kota bawah yang kau kumpulkan bersama kawan-kawan kita dan menyimpannya di gudang?..”

Kimery menyinggung kejadian saat Ben dan timnya yang sudah tewas memunguti sisa bom yang digunakan polisi mentertibkan tawuran warga di kota bawah.

“Oh! Iya aku ingat!” Muka Ben cerah.

“Ambillah! Kita akan isi dengan racun.” Kimery.

“Ba! Baik!..” Ben berlari keluar ruangan monitor.

“Dahulu disini ada sekitar enam puluh orang, tetapi tinggal tiga puluh orang saja karena tewas terbunuh saat memata-matai pemerintah..

Dan peralatan kita masih tersisa sedikit.. aku harap kalian cukup gesit bergerak lari menjauhi granat gas racun supaya tidak ikut teracuni..” Roger.

“Baik.” Robert percaya diri.

“Aku.. aku tidak ikut kan?..” Gia cemas.

“Ada apa?..” Vero menoleh kepada Gia.

“Aku tidak pandai berlari, hehe..” Gia menggosok belakang kepalanya.

“…………” Palm faces.

“Kira-kira ada berapa lantai gedung pemerintah yang menyembunyikan presiden kita?” Traven menyandarkan di sofa, matanya menyinarkan kelelahan yang semakin memadamkan semangatnya.

Ben datang dengan box besar berisi alat-alat berbentuk bola steal berkerangka. Martin membantu temannya yang baru datang itu mengangkatnya dan meletakkan ke lantai.

“Ada sekitar dua puluh lantai.” Roger.

“Dua puluh bom beracun apakah kira-kira cukup?..” Traven.

“Oh.. maksudmu, kita akan meledakkan satu bom di setiap lantai gedung?..” Raick menyahut taktik Traven.

“Tapi kita harus kumpulkan pasukannya dulu.. jika bisa semuanya harus terpancing turun ke lantai bawah, supaya saat kita kembali dari lantai atas, asap racun sudah menipis. Juga untuk menghemat penggunaan” Traven.

“Kita harus berpikir taktis. Kita bagi tim jadi dua, satunya memancing perhatian di lantai satu, dan satunya lagi naik ke atas dengan menyelinap tanpa melakukan perlawanan, supaya presiden tidak keburu dikeluarkan dari gedung dengan helikopter saat mendapati ada keributan di lantai satu.” Qio.

“Ide bagus!” Traven menoleh pada Qio.

“……..” Rhyno memegangi jidat dengan kedua tangannya.

“Ada apa?” Traven menoleh pada Rhyno.

“Aku pikir, akan mudah bagiku meneliti penyakit ini.

Tapi kenapa berujung seperti ini…” Letih Rhyno.

“Sudah terlanjur, biarkan saja berjalan..” Save berdiri di dekat kursi yang diduduki Savy.

“Aku tidak mengerti. Jadi selama ini aku ini..” Robert mengurut jidatnya.

“Kau dan aku, kita semua hanya alat supaya negara ini bisa berjaya seperti sekarang. Dan kelak mungkin saja armada negara ini hendak menguasai dunia dan berjaya diatas segala bangsa di bumi ini..” Gia.

“……” Orang-orang terlarut dalam pikirannya.

“Gadis rambut hijau memang benar. Analisanya tepat sekali,

negara ini sejak dulu ditentang semua negara di dunia, tetapi selalu bisa menggerogoti berbagai bangsa dengan politik ularnya yang menyamar di balik nama-nama negara lain yang mereka bantu secara rahasia dengan kepentingan taktik politik…” Kimery.

“Kondisi kesenjangan negara ini dengan negara lainnya kini menjelaskan mengapa negara ini seharusnya tidak ada sejak awal..

Aku rasa banyak negara yang menyesal sudah membantu negara ini untuk berdiri..” Roger.

“Pasti negara ini bisa dihancurkan oleh berbagai bangsa sejak awal, tetapi kenapa, sampai sekarang tidak ada satu negara pun yang berani menyerang cuilan negara ini?” Ben menoleh pada Roger.

“Karena kini negara-negara yang bisa hancurkan negara ini sudah musnah ditelan perang dunia ketiga…” Roger.

“Huh!!!?...” Ben.

“Negara apa itu?...” Gia.

“?.... Negara-negara itu?...” Gia.

“Sudah dihancurkan, tetapi satu negara masih berdiri hingga sekarang ini, tapi tidak satu pun bagian negara ini berani untuk mendekati negara itu.. karena merasa malu dan merasa bersalah..” Roger.

“Paman!..” Ben berdiri.

“Apakah aku boleh menghubungi temanku, indigo dari Arab?!” Ben.

“Indigo?..” Roger terheran.

“Iya, paman! Itu benar!..” Helena menyambut dengan bersemangat.

“Ayah!! Ada ide cemerlang dari anak indigo yang bisa membantu kita mengalahkan pemerintah negeri ini, itu pasti!..” Save meyakinkan.

“Baiklah.. aku akan mengoperasikan server, sekarang kalian bantu Kimery menyiapkan racunnya.

Sementara itu Traven hanya terdiam saja sedangkan yang lain sibuk.

^^^

Roger sudah menghubungkan server dari Arab ke akunnya. Dan Ben mengerjakan perannya untuk mencari alamat akun temannya bernama Arman. Dan 30 menit kemudian terhubung dengan Arman.

“Hay!..” Arman di PC dengan muka cemas.

“Apa kau punya teman indigo dari Arab?!..” Ben.

Arman melihati background keberadaan Ben dan teman-temannya, dia merasa yakin bahwa Ben dkk akan bergerak.

“Ya, akan aku cari tahu dimana Adam berada, ok! Tunggu sebentar..”

Terlihat di monitor yang ter-slide dua frame, gambar Arman mencari alamat akun orang bernama Adam.

Semua orang menunggu dengan tegang, sementara hari sudah semakin petang menunjukkan pukul tujuh malam.

“Baiklah aku sudah tersambung dengan Adam, kalian bisa berbicara dengannya sekarang..” Arman.

Slide frame sebelah kanan tampilan Arman memberikan logo loading dan kemudian tampilan seorang pemuda Arab berkulit putih muncul.

“Wah! Tampannya!...” Savy terdecak.

“!?...” Helena seolah bisa melihat aura Adam sangat kuat dan terang.

“Assalamu alaikum..” Adam.

“???...” Orang-orang saling bertukar pandangan.

“Apa?...” Rhyno.

“Adam, mereka di negara Zion aduh si negara Saturna yang sekarang jadi negara ZyoS.." Arman terlihat gugup.

"Ya saudaraku, aku paham... Negara sensasional sepanjang masa itu.." Adam mengangguk kecil.

"Kau tahu, mereka ingin memberontak dan mematikan server negara itu untuk menyelamatkan ribuan nyawa yang akan terbunuh secara masal, maukah kau memberikan bantuan vision atau pun apapun yang Tuhan sarankan untuk mereka ini!?...” Arman memang semakin kerap chatting dengan Ben untuk bertukar pikiran semenjak Skyping pertama di rumah Vero, untuk itu dia sekarang lihai dalam menceritakan apa yang terjadi.

“Baik.. kalian bicara dengan bahasa Inggris ya?..” Adam memastikan.

“Apa itu Tuhan?..” Rhyno.

“Tuhan adalah penciptamu!” Adam menunjuk monitor.

“Oh….?...” Semua pemuda melihati diri masing-masing.

“Aku ada pesan untuk kalian, negara kalian itu akan hancur dengan takdir, akan datang pada kalian juru selamat yang sesungguhnya, dan kalian tidak perlu khawatir.. pemerintah kalian bukan lawan yang tepat bagi kalian..” Adam.

“Apa!?..” Rhyno maju ke depan kamera skype di atas monitor.

“Kami harus mematikan tombol yang bisa menghidupkan sistem pembunuh masal yang terhubung ke semua warga asing yang hidup disini.. kami berhak hidup!..” Vero.

“Tuhan berfirman! Setan tidak bisa melawan kekuatanNya maka gunakan izin dari Tuhan supaya kalian bisa melawan kejahatan di tempat kalian sekarang berada.” Adam serius.

“Bagaimana caranya?!..” Rhyno.

“Ikuti kata-kataku…” Adam.

Semua orang saling berpandangan dan bertukar pertanyaan.

“Ikuti saja.” Key.

"Dengan menyebut nama Tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang, kami berlindung dari setan yang terkutuk." Adam.

Setiap orang meyimak berusaha mengingat kalimat dari Adam.

“Tunggu, aku ada pertanyaan!!..” Furen menyela.

“Ya, saudaraku?” Adam.

“Negara ini ada setannya, dan aku harus memasukkannya ke tanganku sebelum kami bunuh.. dan ada pentagram untuk mengurung presiden supaya setannya tidak kemana-mana sebelum kami bunuh.. dan mantra apa yang bisa membunuh setan di tubuh presiden kami?!..” Furen.

“Aku pikir kau sudah tahu, Furen!" Traven terbelalak.

“Tentu saja tidak.. aku bahkan tidak tahu cara membunuh setan yang ada di telapak tanganku ini..” Furen menunjukkan telapak tangan kirinya ke depan Traven.

“!!!!..” Traven

.

“Coba aku lihat!” Adam.

“?....” Furen, menunjukkan telapak tangan kirinya yang memerah.

“……” Adam menggeleng pelang.

“!!?..

Ada apa?!" Furen.

“Setan tidak bisa dikurung lebih lama di tangan manusia..” Adam kemudian berdoa.

Ada yang aneh, semua orang mengamati tangan Furen  yang dengan pelan, rona merah peramnya memudar menjadi selayaknya kondisi telapak tangan normal sebelumnya, dan nyeri di tangan Furen menghilang.

“Ajaib…” Raick.

“Itu tadi cara membunuhnya.. lewat berdoa..” Adam.

“Ajarkan pada kami!!..” Rhyno panik.

“Ini sudah tidak ada waktu lagi Adam..

Semua mahluk sudah melihat tempat mereka memiliki titik-titik putih, mereka menuju markas temanku ini dan mereka akan diserang habis-habisan sekarang..” Arman tiba-tiba mendapat vision.

"Aaa!!!"

"?!!"

Setelah mendengar Arman berkata demikian tiba-tiba saja semua listrik padam seketika dan para gadis teriak kaget kecuali Rhyno yang waspada.

Ada sejenis gelombang elektromagnetik yang kuat sekali mengelilingi lokasi itu sekarang. Semua tubuh orang di ruangan itu terasa berat dan lemas. Sampai akhirnya mereka jatuh terkulai dalam hepasan angin penidur yang entah dari mana bisa datang ke tempat yang ada di bawah air laut itu.

Penglihatan Key memutih, tapi masih bisa ia rasakan tangannya menggandeng tangan Vero dengan kuat. Key menutup matanya dan jatuh dalam keheningan.

No comments:

Post a Comment

Bab 22: Tidak Banyak Bicara

 Rhyno akhirnya merenung setelah perkumpulan di kediaman Aman selesai. Semua pemuda Zyo S akhirnya berkumpul untuk merundingkan rencana. Mer...